Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Tersingkirkan


__ADS_3

"Sean~"


Yelena berjalan mendekat hendak meraih tangan Sean. Namun dengan terang-terangan Allesa menyerobot dan mengambil alih. Sean pun terlihat tak menolak dengan gandengan tangan Allesa.


"Ayo kita potong kue bersama! aku merindukan masa seperti ini.."


"Kamu sangat payah dalam memotong kue!" sahut Sean dengan senyum lembutnya.


Yelena terpaku di tempatnya berdiri. Tatapan dan senyuman yang tidak pernah dia dapatkan itu..


Tenang.


Dia masih mencoba untuk tenang. Teman masa kecilnya itu baru saja kembali setelah 4 tahun. Wajar jika dia lebih mengutamakan nya. Yelena terus mencoba untuk berpikir positif.


"Dimana-mana produk asli itu lebih berharga daripada produk tiruan!" lagi-lagi ucapan jahat itu. Ucapan Fiona benar-benar menusuk.


Yelena tak menghiraukannya, dia berjalan mengekor di belakang Sean dan Allesa seperti orang bodoh. Sean berhenti di depan meja dengan kue besar itu, didampingi dengan Allesa berdiri di sebelah kiri, dan Yelena di samping kanannya.


Sean meniup lilinnya. Wajahnya tampak berseri saat Allesa menyodorkan pisau kue padanya. Kedua orang itu saling tersenyum seperti layaknya seorang pasangan.


Kue pertama telah dipotong. Dia memotongnya bersama dengan Allesa. Jelas-jelas Yelena berada di sampingnya, dia bahkan tidak menyadari keberadaannya sama sekali.


"Kamu paling menyukai kue tart.."


Setelah itu dia masih harus menyaksikan adegan yang lain. Sean memberikan potongan kue pertamanya kepada Allesa.


Rasanya semakin berat. Dia tidak dapat menahannya lagi. Dengan tahu diri dia menyingkir dari kerumunan orang-orang asing itu. Dia duduk di pojok dengan sebuah minuman di tangannya.

__ADS_1


"Sayang?"


Yelena menoleh ke sumber suara itu. Gloria berdiri sedang menatapnya dengan rasa iba. Tidak menyangka badai akan datang secepat ini.


Gloria mengambil tempat di samping Yelena, lalu membelai lembut rambutnya.


"Kamu sudah pernah mendengar tentang wanita itu?" tanya Gloria.


Yelena mengangguk pelan.


"Vivian bilang, dia adalah teman masa kecil Sean."


Gloria tersenyum pahit. Sebagai seorang Ibu dia benar-benar tidak tahu apa yang harus di lakukan.


"Dia putri sahabat Tante..mereka semua tumbuh besar bersama, hubungan mereka sudah seperti saudara. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.." ucap Gloria menenangkan Yelena.


Yelena satu-satunya yang ditinggalkan, bahkan tidak ada satu orangpun yang menyapanya. Tidak ada yang mengenalnya, begitupun juga dengannya.


Hari semakin malam dan acara sudah hampir selesai. Selama acara itu Sean benar-benar melupakannya. Yelena masih duduk sendiri di tempatnya duduk tadi. Angin malam yang berhembus membuat tubuhnya bergidik dingin.


"Kamu dingin?" terdengar suara itu dari sebelah sana.


Yelena menoleh dengan perasaan senang. Dia pikir Sean mencemaskan nya. Namun ternyata tidak. Pertanyaan itu bukan untuknya. Terlihat Sean melepas jas nya dan memakaikannya kepada Allesa.


"Pakai ini.." ujar Aiden memberikan jas miliknya kepada Yelena.


"Aku tidak apa.." tolaknya.

__ADS_1


Yelena bangkit dari duduknya, dia ingin pulang. Dia sudah tidak tahan berada di sana. Dia berjalan menghampiri Gloria yang tampak menjamu tamu yang akan pergi.


"Permisi..Tante, Yelena pamit dulu.." ujarnya.


Gloria mengerutkan keningnya, lalu menatap putra nya yang tengah asik berdua dengan wanita itu. Gloria kembali menatap Yelena, lalu tersenyum hangat.


"Aiden, tolong antar Yelena.." pintanya pada Aiden.


Tanpa pamit pada Sean, Yelena pergi terlebih dahulu. Gloria tampak gusar. Dia mengepalkan tangannya. Lalu hendak melangkahkan kakinya menuju Sean dan Allesa.


"Tante.." Vivian menghentikannya.


"Tante yang tenang ya..jangan sampai semuanya makin runyam," tutur Vivian.


Gloria tersenyum tipis, lalu mengusap tangan Vivian.


"Tante akan berhati-hati.." ujarnya lalu pergi menghampiri putranya.


Seperti orang tak bersalah, Allesa meraih tangan Gloria. Gloria yang tampak tak suka itu terang-terangan menepis tangannya. Dia menyilangkan tangannya di dada, lalu menatap tajam kearah Sean.


"Dimana pasangan mu?" ujarnya dengan tegas.


Sean seperti orang yang terbangun daei hipnotis. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh venue. Dia tidak menemukan Yelena.


"Mama sudah ingatkan kamu sebelumnya! jangan pernah melupakan apa yang telah Mama katakan!"


"Dan kamu! beraninya kamu datang ke sini!? atas izin siapa kamu berani menapakkan kakimu di sini!? wanita tidak tau malu!"

__ADS_1


Ujar terakhir Gloria sebelum pergi dari hadapan kedua orang itu.


__ADS_2