Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Dimana Yelena?


__ADS_3

Sakit kepala yang sangat menyengat, menyerang kepala Sean saat dia bangun. Dia hampir tidak dapat membuka matanya yang berat itu. Entah berapa botol beer yang telah dia minum semalam.


Dia menatap heran langit-langit rumah itu dengan mata yang masih buram. Dia merasa ada yang aneh.


"Ini bukan kamar ku, dimana ini?" gumamnya.


Dia menatap sekelilingnya juga tempat dia berbaring saat ini. Baru saat itu dia sadar jika dia tidur di ruang tamu. Dia bangkit dari tidurnya sembari memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Sial! kenapa kepala ku sangat sakit.." decaknya.


Rumah itu tampak sepi. Tempat dimana Yelena berdiri saat pagi hari pun tampak kosong. Dapur.


Sean bangun dari duduknya dengan terhuyung-huyung. Dia menuju kulkas untuk mengambil air dingin. Ternyata Yelena benar-benar tidak ada di dapur. Dia naik ke lantai dua setelah meneguk minumannya. Dia berjalan ke kamar Yelena.


"Kenapa pintunya terbuka?" gumamnya.


Segera dia masuk untuk memastikan keadaan Yelena. Namun zonk, tidak ada seorang pun dalam kamar itu. Pintu balkon juga terbuka. Sean berjalan ke balkon dan menatap ke bawah.


"Yelena!?" panggilnya.

__ADS_1


Tidak ada sahutan. Dia membuka semua pintu yang ada di kamar Yelena. Di walk-in closet, di kamar mandi, namun tidak ada sosok Yelena di sana.


Sean keluar kamar Yelena dengan panik. Dia memasuki semua ruangan yang ada di dalam rumah itu untuk mencari keberadaan Yelena.


"Yelena!" teriaknya pada setiap sudut rumah yang di lewatinya.


Tiba-tiba dia mengingat ucapan Jeremy sebelum dia benar-benar mabuk kemarin. Bahwa seorang wanita akan memberontak dan pergi saat dia terlalu di kekang. Sean sangat tahu bagaimana tindakannya, dia tidak pernah mengizinkan Yelena keluar kecuali untuk berbelanja bahan makanan.


"Sial!" decaknya.


Dia meraba-raba tubuhnya untuk mencari ponsel yang seingatnya ada di saku bajunya. Namun benda yang di carinya itu tidak ada. Dia kembali ke ruang tamu, dan ternyata benda yang di carinya itu tergeletak di atas meja.


Dia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dan menyanggah kepala dengan sebelah tangannya. Dia menghubungi Yelena dengan perasaan panik.


Dia terus menghubungi nya, namun suara itu yang terus terdengar.


Sean menyiah rambutnya dengan gusar. Kesabarannya sudah mulai menipis. Dia semakin frustasi.


'Kenapa aku seperti ini?' batinnya sembari memijat pangkal hidungnya.

__ADS_1


'Baguslah jika dia pergi, aku tidak perlu repot mengurusnya lagi.. lagipula dia bukan siapa-siapa!'


Meskipun hal itu yang ada di pikirannya, namun tetap saja hatinya tidak bisa berbohong. Hatinya tidak tenang.


Dia bangkit dari duduknya hendak melangkahkan kakinya menuju kamar Bi April dulu, barangkali dia berada di sana. Namun rasa sakit semakin menyerang kepalanya, membuat tubuhnya terhuyung. Dia kehilangan keseimbangannya dan akhirnya amburk ke lantai.


"Sean!?"


Sean menengadahkan kepalanya pada suara yang datang dari depan sana. Sosok wanita itu membuat jantungnya tiba-tiba berdegup begitu cepat.


Dengan setengah berlari, Yelena menghampiri Sean. Dia menyentuh pundak Sean dan bertanya,


"Sean, apa kamu baik-baik saja?"


Mata Sean terpaku pada sosok di hadapannya. Sedangkan Yelena yang merasa khawatir itu terus mengguncang pundak Sean. Sayangnya dia tidak bergeming dan tak melepas tatapannya.


Tanpa kata dia meraih tubuh Yelena dan mendekapnya dalam pelukannya.


Yelena membelalakkan matanya kaget. Jantungnya berdegup sangat kencang, darahnya mengalir begitu deras. Hal itu terasa seperti mimpi. Dia berada di dekapan Sean saat ini.

__ADS_1


Sean memeluk Yelena dengan erat sembari membelai rambutnya. Hatinya kembali tenang saat ini.


'Nyaman, rasanya tidak buruk juga..' batin Sean.


__ADS_2