Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Siapa Itu Allesa?


__ADS_3

Mobil telah sampai di depan rumah. Yelena menenggelamkan wajahnya di atas stang mobil. Dadanya masih berdegup kencang karena perasaan tegangnya saat menyetir.


Berulang kali dia membuang napas untuk merendahkan perasaan gugupnya yang masih menempel.


Yelena menoleh menatap Sean. Dia mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah Sean dengan jelas. Wajah pria itu sangat sempurna di matanya.


"Hmm.." Sean menggeliat.


Dengan segera Yelena menjauhkan wajahnya dan berdehem pelan seolah tak terjadi apa-apa.


"Sean, bangun! kita sudah sampai.." ujar Yelena sembari mengguncangkan lengan Sean.


Sekali lagi Yelena mencoba untuk mengguncang tubuhnya lebih keras. Namun nihil, hal itu hanya membuang energinya saja.


Sean masih memejamkan matanya tak bergeming. Terpaksa Yelena harus menuntunnya untuk turun dari mobil dan masuk. Yelena keluar dari mobil, kemudian membuka pintu tempat Sean duduk.


Dia menghela napas panjang sebelum menarik tubuh Sean untuk keluar. Dengan susah payah dia membantu Sean keluar dari mobil. Setelah itu dia masih harus menuntunnya untuk masuk.


Sangat sulit untuk menuntunnya karena tinggi mereka yang berbeda jauh. Namun tetap Yelena mengalungkan tangan Sean di pundaknya dan merengkuh pinggangnya.


"Kenapa kamu sangat berat!?" gerutunya sembari membuka pintu rumah.

__ADS_1


Yelena menghentikan langkahnya dan mendongak menatap anak tangga yang begitu banyak di hadapannya.


"Maafkan aku Sean, malam ini kamu harus tidur di ruang tamu.." gumamnya bicara pada orang yang sedang tak sadarkan diri itu.


Dia hendak melepas tubuh Sean begitu saja ke sofa. Namun kaki Sean malah menabrak kaki Yelena dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Dan akhir yang sudah dapat di tebak terjadi. Ya, Yelena ikut terjatuh menimpa tubuh Sean.


Dengan segera dia bangkit, namun gagal saat Sean menahan pinggangnya. Yelena kembali terjatuh di atas Sean.


Sean memeluknya erat, tak memberikan sela bagi Yelena untuk kabur. Dengan sekuat tenaga Yelena mencoba melepaskan diri dan memukuli tubuh Sean. Namun Sean malah semakin erat memeluknya.


"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Tetaplah di sisiku, Allesa.." gumam Sean.


Yelena mengehentikan tangannya yang sedari tadi memberontak. Dia seolah kehilangan tenaga setelah mendengar Sean menyebut nama wanita lain.


"Aku sangat merindukanmu.."


"Jangan tinggalkan aku!"


"Kembalilah.."


Sean terus menggumamkan kalimat yang Yelena tidak mengerti. Hatinya mulai merasa tak nyaman mendengar kalimat itu keluar dari mulut Sean. Kalimat yang bukan untuknya.

__ADS_1


"Lepaskan aku!" bentak Yelena.


Seolah mendengar ucapan Yelena, Sean melonggarkan pelukannya. Baru saat itu Yelena bisa melarikan diri.


Dia menatap Sean yang tengah terlelap itu. Pikiran macam-macam mulai menyerangnya. Dan kebiasaannya pun mulai muncul, menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran buruk itu.


Dia berjalan ke depan untuk mengambil tasnya yang masih di dalam mobil sekalian menghirup udara segar dini hari itu. Udara dingin menyambutnya, membuat dia memeluk dirinya karena kedinginan.


"Perasaan tadi tidak sedingin ini.." gumamnya.


Dia segera masuk ke dalam mobil dan menetap sedikit lebih lama di dalam sana. Kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


Sebuah notifikasi muncul saat dia mengetuk layar ponselnya untuk menyala. Pesan dari Vivian. Yelena tersenyum tipis, kemudian dengan penasaran dia membuka pesan itu.


'Aku tidak bisa tidur..'


'Ayo besok kita jalan-jalan ke mall untuk menghabiskan uang Sean!'


'Kau harus memanfaatkan setidaknya uangnya untuk bersenang-senang!'


Yelena tertawa kecil setelah membaca pesan dari Vivian itu. Kemudian membalasnya dengan pesan yang singkat.

__ADS_1


'Baiklah^^'


__ADS_2