Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Dia Bersama Allesa


__ADS_3

Sakit kepala kembali menyerangnya. Dia sudah meminum obat yang dia bawa setelah dia selesai makan. Namun rasa itu belum juga menghilang.


Dia menyangga kepalanya di atas meja. Mungkin efek obatnya belum bekerja.


Sesekali dia menengadahkan kepalanya dan tersenyum menatap ketiga orang yang tengah bercanda gurau itu.


"Jadi, apakah dulu Yelena adalah gadis yang bandel?" ujar Aiden tiba-tiba yang membuat Yelena mengangkat kepalanya dengan bingung.


Yelena tidak mengikuti pembicaraan mereka, dia tidak tahu apa yang sebelumnya mereka bertiga bicarakan. Lalu tiba-tiba pertanyaan itu muncul.


Yohan tertawa ringan menyaksikan wajah kebingungan Yelena.


"Dia adalah gadis yang cerewet, dia suka mengaturku. Mengatakan ini dan itu. Dia benar-benar mengalahkan Ibuku.." ujar Yohan.


Yelena hanya terdiam tak bereaksi mendengar hal itu. Dia tidak ingat apapun. Melihat kenyataan pahit itu membuat hati Yohan terasa sakit.


"Tidak apa jika kamu tidak mengingatnya.." ujar Yohan dengan kecewa.


"Maaf~" ucap Yelena.


Suasana kembali canggung. Hening. Kedua orang itu sama-sama menunduk. Sedangkan Vivian dan Aiden saling menatap kebingungan.


"Ini sudah hampir sore, apakah sebaiknya kita pulang saja?" ujar Aiden memecah keheningan.


"Sebentar.."


Yelena bangkit dari duduknya dan menyingkir kebelakang sana sebentar. Dia membuka ponselnya dan membuat panggilan.


Mungkin petang nanti mereka baru akan sampai di rumah. Yelena mencoba menghubungi Sean untuk menanyakan makan malam.


'Halo?' nada yang terdengar dingin itu muncul dari dalam ponsel sana.


Yelena menjauhkan ponselnya sejenak dan menarik napas panjang.


'Kamu pulang jam berapa? aku sedang makan di luar bersama Aiden dan Vivian. Kamu ingin makan malam apa? mungkin aku nanti terlambat untuk sampai rum~'

__ADS_1


'Aku tidak pulang malam ini.'


Sean menyela ucapan Yelena. Dia belum menyelesaikan ucapannya, dan kalimat selaan Sean cukup untuk membuatnya terdiam tanpa bisa mengatakan apapun lagi.


'Oh, baiklah. Jangan lupa untuk mak~'


tuuttt~


Panggilan terputus. Sean menutup panggilannya sebelum Yelena selesai bicara. Tubuh Yelena terpaku dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.


Kenapa seperti ini lagi? batinnya.


"Hei~ ayo kita pulang!!" sampai akhirnya suara Vivian membangunkannya.


Yelena tersenyum kearah mereka, lalu berjalan mendekat. Dia berusaha untuk tetap berpikir jernih. Mungkin Sean sedang sibuk, jadi terburu-buru untuk mematikan ponselnya.


"Aku akan berpisah di sini. Oh ya Yelena..apa aku boleh meminta nomor telepon mu?" ujar Yohan sembari menyodorkan ponselnya ke tangan Yelena.


Yelena mengangguk pelan, lalu menerima ponsel itu dan menuliskan nomornya.


...****************...


Seperti dugaan, mereka kembali saat langit telah petang. Yelena keluar dari mobil Aiden.


"Kalian gak mampir dulu?" tawar Yelena.


"Tidak, kami masih harus kembali ke perusahaan. Ibu Presdir pasti akan mengomel.." ujar Aiden.


Yelena tersenyum tipis.


"Terima kasih. Titip salam untuk Tante Gloria ya.."


Bruk~


Sudah tidak tahan lagi. Dia sudah menahannya cukup lama sejak tadi. Yelena tidak ingin membuat Vivian dan Aiden khawatir. Dia sudah menghubungi Dokternya tadi untuk janji temu. Namun dia tidak memberitahukannya pada keduanya orang itu.

__ADS_1


Tubuhnya terlimbung di atas tanah setelah mobil Aiden pergi. Sakit kepalanya benar-benar sangat menyiksa. Dia membuka ponselnya dan mulai memesan taxi online. Beruntung tumpangan pesanannya itu segera datang.


Di dalam taxi dia menatap lama ponselnya. Menatap lama pada kontak Sean. Dia tidak ingin mengganggu Sean dengan panggilannya. Tapi..


Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan mulai memejamkan matanya.


...****************...


Yelena menyandarkan kepalanya di tubuh lift. Gerakan naik lift membuat kepalanya seperti diguncang. Dan saat pintu lift terbuka, dia melihat punggung yang tampak tak asing.


"Kenapa dia di rumah sakit? apa dia sedang sakit?" gumam Yelena.


Pria itu membawa segelas air di tangannya. Yelena mencoba untuk mengejar langkah lebar pria itu. Hingga pada sebuah sudut ruangan dia berhenti. Yelena berdiri tak jauh dari sana. Dia tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang sedang bersama pria itu.


"Se~" dia menghentikan niatnya dan membalikkan badan saat seorang wanita muncul tepat di hadapan pria itu.


Perlahan Yelena kembali berbalik untuk memastikan pengelihatannya.


Sean menyodorkan gelas di tangannya pada wanita itu, pada Allesa. Juga senyum lembut dan tatapan hangat yang menyertai aksinya.


Rumah sakit itu..Yelena melihat ke sekelilingnya. Banyak orang yang datang dan pergi dengan di temani keluarga atau orang yang dicintainya.


Dan dua orang di depan sana, mereka terlihat seperti pasangan. Ya, Allesa tampak seperti seorang wanita yang di khawatirkan oleh kekasihnya.


"Jadi saat dia mengatakan tidak akan pulang tadi, ternyata dia bersama Allesa.." gumam Yelena.


Yelena berjalan pergi. Dia tidak berani untuk mendekat. Dia tidak berani untuk menyapa ataupun bertanya kepada Sean mengapa dia berada di sini.


Dia takut.


Dia takut akan mendapat jawaban yang tidak ingin dia dengar. Lebih baik dia pura-pura tidak melihat apapun dan kembali menipu dirinya sendiri.


"Yelean?"


Terlambat. Terlambat baginya untuk pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2