Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Gloria


__ADS_3

"Wah..apa kita sedang mengadakan reuni?"


Akhirnya Yelena dapat menghela napas lega. Dua orang yang sangat dikenalnya itu menampakkan wajahnya. Vivian dan Aiden.


Vivian menghampiri Yelena yang memainkan sendok nya di meja makan. Makanan di piringnya masih belum tersentuh sama sekali.


"Jadi ini perkumpulan para menantu atau apa?" bisik Vivian pada Yelena.


Mereka berdua mulai bercanda gurau. Sedangkan Aiden tampak tak tenang. Wajahnya terlihat gusar. Pasti dia telah menduga hal yang pasti.


Terlihat Gloria yang ada di atas tangga sana menatap Aiden. Alisnya berkerut menunjukkan kesedihannya. Aiden yang merasa khawatir itu segera menghampiri Ibunya.


"Ma?" lirihnya sembari meraih tangan Ibunya.


"Kamu tau semuanya?"


"Apa yang sudah di lakukan kakakmu, kamu tau semuanya kan?" tanya Gloria menahan air matanya.


Aiden memalingkan wajahnya.


"Jawab Mama, Aiden!"


"Iya Ma, aku tau.."


Gloria memijat keningnya. Dia merasa gagal menjadi seorang Ibu. Gagal mendidik para putranya menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab.


"Semua ini memang salah Mama. Mama yang tidak becus mendidik kalian.."


"Tidak Ma jangan katakan itu! maafkan aku, aku terpaksa ikut andil dalam sandiwara ini," Aiden merasa sangat bersalah.


"Kenapa? dia mengancam mu menggunakan Vivian?"

__ADS_1


Aiden tidak tahu harus menunjukkan reaksi seperti apa pada tebakan Ibunya yang benar itu. Gloria membuang muka dan memijat pangkal hidungnya dengan perasaan kacaunya.


"Mama tidak tau harus bagaimana lagi, Aiden.."


Gloria berjalan menuruni tangga dan meninggalkan Aiden. Wanita paruh baya itu benar-benar hancur.


"Tante~" panggil Yelena menghampiri Gloria yang akan keluar.


"Apa ada masalah di perusahaan? Tante tidak terlihat baik-baik saja.." tanya Yelena khawatir setelah melihat wajah Gloria yang tampak gusar.


Gloria tak menjawab, hanya menatap dalam diam gadis polos di hadapannya. Dia tersenyum kecil, kemudian meraih tangan Yelena dan menariknya keluar.


Gloria menggenggam tangan Yelena dan menuntunnya menuju jembatan kolam ikan samping rumah, lalu duduk di gazebo yang ada di sana.


Gloria mengusap lembut tangan Yelena dengan kedua tangannya. Rasa bersalah yang sungguh besar sangat menyiksa hatinya.


"Maafkan Tante ya.."


"Jadi tadi Yelena tidak salah dengar? sebenarnya ada apa?"


"Kamu gadis yang baik, Yelena. Jika Sean telah melakukan banyak kesalahan padamu, tolong maafkan dia ya.."


"Apapun yang akan terjadi nanti, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu. Kapanpun kamu merasa sedih atau kesepian, kamu bisa menemui Tante."


Yelena menatap heran Gloria. Tiga kali dia mendengar ucapan seperti itu. Pertama Aiden, Bibi April, dan saat ini Gloria, Ibu kandung Sean sendiri. Memangnya apa yang akan terjadi?


Yelena hanya mengangguk mengiyakan tanpa mempertanyakan pertanyaan yang sangat mengganjal di hatinya.


"3 hari lagi adalah ulang tahun Sean.. kamu ingat kan?" mau tidak mau Gloria ikut masuk kedalam kekacauan itu.


"3 hari lagi?"

__ADS_1


"Iya. Kami akan mengadakan pesta besar untuknya nanti. Kamu mau berpartisipasi untuk menyiapkan nya bersama Tante kan? Vivian dan Aiden juga ada untuk membantu.."


"Iya Tante.."


Gloria tersenyum pahit. Dia benar-benar tidak salah menilai. Yelena adalah gadis yang baik. Dan putra nya sudah menghancurkan masa depan gadis yang tidak tahu apa-apa itu.


"Apa Sean banyak menyulitkan mu?" tanya Gloria.


Yelena terlihat berpikir keras. Dia tidak tahu harus menjawabnya dengan jujur atau tidak.


"Kamu boleh menjawabnya dengan jujur, Tante tau bagaimana sifat anak-anak Tante.."


Yelena terkekeh pelan.


"Awalnya memang sulit untuk Yelena, apalagi Yelena tidak mengingat apapun.." Yelena tersenyum kecut.


"Aiden..dia banyak membantu Yelena, dia juga selalu ada saat Sean membuat Yelena kesusahan.."


"Aiden?" tanya Gloria yang dijawab anggukan oleh Yelena.


"Ya, sejak dulu dia menginginkan kakak perempuan.."


"Aiden menceritakan hal itu juga pada Yelena,"


"Anak itu menceritakannya padamu? benar-benar di luar dugaan. Meskipun tampilan seperti anak yang ceria, tapi Aiden adalah anak yang sedikit tertutup,"


Perbincangan diantara mereka berdua berjalan dengan mulus. Keduanya merasa nyaman. Bahkan Gloria yang tak banyak bicara itu kini tertawa bersama Yelena.


Kedua orang yang menatap pemandangan itu dari depan pintu sana juga ikut tersenyum. Aiden dan Vivian. Mereka sangat lega karena Gloria menerima Yelena dengan baik.


"Apa yang kalian lihat?"

__ADS_1


Sean muncul dari belakang Aiden dan Vivian. Lalu tercengang saat melihat perdamaian di depan sana. Dia tidak menyangka Ibunya menerima Yelena sebaik itu. Sangat berbeda dengan penerimaannya terhadap Allesa.


"Apa Mama benar-benar menyukai gadis itu?" gumamnya.


__ADS_2