Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Pagi Dengan Harapan


__ADS_3

Huufftt~


Yelena menelentang kan tubuhnya di atas ranjang. Seperti tak ada bosan-bosannya dia menatap langit-langit kamar yang selalu sama itu. Ya, langit-langit kamar itu tidak pernah berubah. Tidak seperti tuan rumahnya.


Dua hari berturut-turut kejadian buruk terus terjadi. Pemandangan menyakitkan terus terulang. Dan tokoh nya pun tetap sama. Allesa dan Sean.


Yelena bangkit, seperti biasa dia membuka pintu balkon dan berdiri menatap bintang diluar sana. Hanya hal itu yang dapat membuat hatinya kembali tenang.


Namun tak lama dia berdiri di sana, sebuah cahaya yang sangat terang memasuki halaman rumah yang tampak gelap itu.


Dengan refleks Yelena menundukkan tubuhnya untuk berjongkok. Entah reaksi macam apa itu, namun yang pasti Yelena tidak ingin terlihat oleh Sean.


Dia kembali ke kamarnya lalu mengunci pintunya. Dia tidak akan membiarkan Sean masuk malam ini. Untuk saat ini dia tidak ingin melihat wajah pria itu.


tok tok~


"Yelena?"


"Buka pintunya, aku ingin bicara.." ucapnya di balik pintu sana dengan nada rendah.


Namun Yelena tetap kukuh. Tidak untuk malam ini. Dia benar-benar sudah membuat keputusan, dan keputusannya sudah bulat.


...****************...

__ADS_1


Ya, hanya untuk malam tadi. Pagi ini Yelena kembali seperti biasanya. Bangun pagi dan memasak untuk Sean.


Pagi ini dia bangun dengan harapan. Semoga hari ini tidak seperti hari kemarin. Semoga tidak melihat atau mendengar hal yang menyakitkan lagi hari ini. Semoga hari ini akan baik-baik saja.


Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga. Yelena telah menyiapkan segalanya di meja makan. Dengan senyum terbaiknya dia menghampiri Sean dan memeluknya.


"Selamat pagi! sarapan sudah siap~"


Tubuh Sean membeku, tidak biasanya hal seperti itu Yelena lakukan. Sean menghela napas pasrah, kemudian mengangkat sebelah tangannya untuk membelai rambut Yelena, kemudian mengecup ubun-ubun nya.


"Hmm~ selamat pagi.." sahutnya setelah beberapa saat.


Yelena melepas pelukannya, kemudian menarik Sean ke meja makan untuk sarapan.


Menu hari itu adalah nasi goreng. Seperti saat itu. Masakan pertama Yelena yang Sean makan adalah nasi goreng.


'Sebentar lagi..tinggal menunggu waktu yang tepat, lalu aku akan menghancurkan semuanya,' batin Sean.


Klang~


Sean meletakkan sendok nya sedikit lebih keras. Tidak, sebenarnya dia tidak bermaksud untuk membuat suara nyaring itu.


Yelena menatapnya kaget, senyum di wajahnya perlahan mulai memudar. Namun dengan segera dia memancarkan kembali senyum itu. Dia tidak ingin menghancurkan pagi itu.

__ADS_1


Sean bangkit dari duduknya setelah meneguk segelas airnya. Yelena menghampirinya dan menghadang di depannya.


Dia tersenyum tipis kemudian meraih kerah baju Sean. Dia membenarkan kerah kemeja Sean yang terlipat dengan tidak benar itu.


"Apa kamu pulang terlambat malam ini?" tanya Yelena di sela kegiatannya.


"Hmm~ aku mau mengantar Allesa untuk menebus resep obat yang belum diambil kemarin.."


Yelena mengehentikan pergerakan tangannya, lalu menatap bola mata Sean dalam-dalam. Sean memalingkan wajahnya, lalu memundurkan langkahnya.


"Aku pergi.." ucapnya meninggalkan Yelena yang masih terdiam.


"Apakah harus kamu yang mengantarnya?" tanya Yelena menghentikan langkah Sean.


Sean mengusap rambutnya dengan gusar, kemudian berbalik dan menatap Yelena.


"Dia tidak memiliki siapa-siapa disini.." ujar Sean.


"Tapi.."


"Aku akan tetap mengantarnya. Aku harap kamu mengerti!"


Gagal.

__ADS_1


Hancur.


Pagi yang dia bangun dengan keyakinan akan baik-baik saja itu hancur. Dia sudah berusaha untuk berhati-hati, namun gagal. Tidak, bukan gagal. Tapi memang tidak bisa.


__ADS_2