Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Pemakaman


__ADS_3

"Sean~ aku bawakan makanan kesukaan mu!" seru seorang wanita yang baru saja masuk ke ruangan Sean.


Allesa. Dia datang dengan dua kantung makanan di tangannya.


"Sean?"


Dia menghampiri Sean yang duduk dengan menenggelamkan wajahnya di atas meja kerjanya, tanpa menggubris atau menyambut kedatangannya.


"Sean?"


Sekali lagi dia memanggilnya sembari mengusap lembut punggungnya.


Sean mengangkat kepalanya dengan malas.


"Hm?" sahutnya.


"Kau tak apa?"


"Aku dengar wanita itu telah meninggal, apa itu benar?"


Sean tak menjawabnya. Dia hanya mengusap wajahnya kemudian menyibak rambutnya keatas.


Tanpa rasa malu Allesa mendekat, lalu mengambil tempat untuk duduk di pangkuan Sean. Dia pikir semuanya masih sama seperti dulu.


Sean tetap diam di tempatnya dengan menatap kosong ke arah pintu. Sedangkan Allesa sudah mulai meletakkan tangannya di dada Sean dan bersandar di sana.


"Jadi, kamu tidak perlu repot-repot menjelaskan padanya.." ujar Allesa.


"Dan tentang hubungan kita, aku mau kita mulai dari awal lagi. Ok?" lanjutnya dengan percaya diri.


"Setelah kamu meninggalkan pertunangan kita?"


"Aku sudah menjelaskannya padamu. Tahun itu aku pergi ke luar negeri untuk mendapatkan donor ginjal. Hal itu sangat mendesak, Sean.." ucapnya membela diri.


"Kamu tau? setiap kali rasa sakit ini datang, hal itu selalu mengingatkan ku padamu. Aku juga sakit, aku juga sedih karena tidak dapat melakukan pertunangan itu," lanjutnya.

__ADS_1


Dia membekap wajah Sean, dan perlahan mulai mendekatkan wajahnya.


"Kita mulai dari awal lagi, Ok?"


"Ummp~" Sean membungkam bibir Allesa seraya memalingkan wajahnya.


"Turun!" ujarnya dengan dingin.


"Tapi, Sea~"


Sean menatapnya dengan tajam. Kemudian dengan paksa mendorong tubuh Allesa.


"Iya..iya!" seru Allesa.


Sean bangkit dari kursinya setelah wanita itu turun. Kemudian meraih jas yang tergantung bahu kursinya.


"Kamu mau kemana?" tanya Allesa.


Namun Sean tak menggubrisnya dan meninggalkan dia sendiri di sana dengan perasaan kesal. Allesa meremas ujung rok nya dengan erat.


...****************...


Di sana, di bawah pohon besar, dari kejauhan dia melihat. Dia menatap beberapa orang yang berdiri di depan batu nisan hitam di depan sana.


Di dalam sana, pemilik nisan itu, hanya dua orang yang mengantar kepergiannya.


Meskipun sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri, dia masih tak percaya. Dia masih tak percaya jika wanita yang selalu tersenyum padanya itu kini berbaring di dalam sana.


Entah karena angin yang berhembus kencang, atau karena debu kecil yang melintasinya. Sebuah bulir bening melintasi pipinya. Atau mungkin ungkapan isi hatinya yang sesungguhnya.


"Sudah seperti ini, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


Suara yang tiba-tiba muncul dari belakangnya itu membuat dia mengusap wajahnya dengan segera, lalu berbalik.


Wanita dengan pakaian serba hitamnya, juga payung hitam yang ada di genggamannya.

__ADS_1


"Kenapa kamu berdiri di sini, dan bukannya berlutut di depan nisannya?" ujar Gloria sembari berjalan mendekat.


"Untuk apa aku berlutut di makam orang lain? aku yakin itu bukan Yelena!"


Gloria tersenyum pahit, kemudian melepas kaca mata hitamnya.


"Apa kamu belum membuka map yang di berikan Aiden? Mama menyesal mengatakan ini, tapi dia memang Yelena. Yelena telah tiada."


"Tidak menyangka dengan cara seperti ini dia melarikan diri dari genggaman mu.. padahal dia sudah mengatakan kepada Aiden dan Vivian jika dia akan bertahan sampai kamu mengakhiri permainan mu."


"Apa maksud Mama?"


"Ingatannya telah pulih sebelum kamu kembali."


Sean tercengang, dia mulai mengingat kembali hari saat dia kembali ke rumah dan mendapati ada yang aneh dengan sikap Yelena.


Sean memijat keningnya sambil tertawa kecil.


"Kamu harus menerima kepergiannya! dia telah pergi, untuk selamanya.." ujar Gloria sembari berjalan melewati Sean.


"Tidak!" gumam Sean yang menghentikan langkah Ibunya.


"Wanita itu masih hidup! dia tidak mati! dia hanya bersembunyi dari ku!" teriaknya.


Plak!


Gloria berbalik lalu menampar putra itu untuk menyadarkannya.


"Seharusnya kamu sadar!"


"Jika hari itu kamu tidak sibuk berduaan dengan wanita licik itu, mana mungkin hal ini terjadi pada Yelena!?"


"Tidak. Sejak awal. Sejak awal, jika kamu tidak mempermainkan gadis itu, tidak mengurungnya, tidak membohongi nya..mana mungkin dia akan berakhir menyedihkan seperti ini? Bahkan di hari pemakamannya tidak ada orang terdekatnya, tidak ada orang yang mengantar kepergiannya. Lihat! hanya ada Vivian dan Aiden di sana!" bentak Gloria.


"Kamu tidak hanya menghancurkannya, tapi juga membuatnya lenyap! Mama tidak tau harus berbuat apa padamu..Mama telah kehabisan kata-kata untuk putra Mama sendiri!"

__ADS_1


"Jangan bilang Mama tidak pernah memperingatkan mu. Kini, tanggung semua penyesalan itu sendiri..seumur hidup mu!"


__ADS_2