
'Halo?'
Sean menjawab teleponnya di tengah aktivitasnya yang sedang sibuk menandatangani berkas.
'Bos, Nona bersama dengan seorang pria. Sepertinya pria itu teman masa kecilnya,' ucap seseorang di sambungan telepon itu.
Mendengar hal itu Sean langsung meletakkan pulpennya. Kemudian menyambar jasnya yang di sampirkan di bahu kursi.
'Secepatnya kirim alamatnya padaku!'
Sean bergegas pergi dan meninggalkan setumpuk berkasnya yang perlu di tandatangani. Sedangkan sekretaris nya, Pak Wahyu hanya dapat menatap pasrah atasannya itu. Beliau tidak berani mencegahnya, karena dengan karakternya Sean tidak akan menurut begitu saja.
......................
"Yohan Audika?"
"Teman masa kecil?"
"Panti?"
Yelena menggumamkan satu persatu kata yang membuatnya bingung. Satu hal pun dia tidak dapat mengingatnya.
Dia berbalik menghadap Yohan.
"Maaf, aku tidak mengingat mu.."
Yohan mulai putus asa. Dia menghela napas panjang dan kemudian mendekat menghampiri Yelena. Dia meraih tangan kiri Yelena. Yelena sempat kaget dengan aksinya itu. Genggamannya yang kuat membuat Yelena tidak dapat berkutik selain menurutinya.
Jari telunjuk Yohan mengikuti garis bekas luka lama di tangan Yelena.
__ADS_1
"Lihat, ini adalah bekas luka yang kamu dapatkan setelah menolong ku dari kebodohan," jelasnya.
Yelena menarik tangannya kembali. Kemudian menatap heran pria asing di depannya. Bekas luka yang selalu di pertanyakan nya, yang bahkan Sean pun tidak tahu daei mana luka itu berasal. Saat ini, tiba-tiba ada pria asing yang mengaku sebagai temannya dan bisa menjawab pertanyaan yang selama ini mencari jawabannya itu.
Yelena tidak langsung percaya begitu saja. Mungkin bisa saja pria itu sedang membual. Tanpa pikir panjang lagi Yelena melarikan diri. Dia berlari sekencang mungkin meninggalkan Yohan.
"Hei! dasar bodoh!" teriak Yohan memanggil Yelena yang meninggalkan nya.
Tidak menyerah, Yohan pun mengejarnya. Meskipun telah tertinggal jauh, Yohan bisa menyusulnya. Kini dia telah sejajar dengan Yelena.
"Kita kaya lagi lari bareng gak sih?" goda Yohan.
"Pergi kamu! aku tidak mengenalmu!" pekik Yelena.
Yohan melambatkan gerakan kakinya. Tidak memiliki sisa kesabaran lagi dia menarik lengan Yelena. Yelena pun terhuyung kehilangan keseimbangan. Yohan menariknya kedalam pelukannya. Dia memeluknya erat.
"Aku sangat merindukanmu, Yelena."
"Tidak bisakah sebentar saja kamu diam?"
Yohan membenamkan kepala Yelena ke dadanya. Pukulan-pukulan yang tidak berarti itu berhenti dia layangkan. Nyaman. Perasaan itu yang kini Yelena rasakan. Berbeda rasanya saat Sean memeluknya.
Yohan melepas pelukannya. Kemudian membekap wajah Yelena.
"Bocah, kamu benar-benar tidak mengingat ku?"
"A- aku kehilangan ingatan ku."
Petir seakan menyambar tubuhnya. Tangannya terlepas dari wajah Yelena, senyumnya pun juga memudar.
__ADS_1
"Tidak, tolong jangan membuatku lelucon seperti itu!" lirihnya.
"Setahun yang lalu aku mengalami kecelakaan.." ujar Yelena.
Hembusan angin menyibakkan rambut Yelena, luka lamanya yang tertutup poni itu pun terlihat. Yohan melihat bekas luka sepanjang jari kelingking itu. Hatinya terasa sakit.
Kerutan mulai terlihat di keningnya. Dalam hati dia menyalahkan dirinya. Andai saja dia kembali lebih awal, pasti kejadian seperti itu tidak akan pernah terjadi.
Yohan mengulurkan tangannya, mengusap pelan bekas luka itu.
"Maafkan aku Yelena.." ucapnya menyesal.
"Apa yang kamu bicarakan tadi benar? kamu adalah temanku?" tanya Yelena.
"Aku punya foto masa kecil kita," ujar Yohan.
"Mana?" tanya Yelena tak percaya.
"Aku tidak membawanya saat ini.."
"Berarti kamu bohong!"
Yohan menghela napas pasrah. Jika dia dalam posisi itu, dia pasti juga tidak akan mempercayainya. Dia mencari-cari cara untuk membuktikan jika ucapannya adalah benar.
Dia melirik kalung yang Yelena kenakan.
"Kalung itu!"
Yelena mengerutkan keningnya. Kemudian menggenggam erat kalungnya.
__ADS_1
"Di balik liontin nya terukir nama mu, Yelena Xu."