Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Hancur


__ADS_3

Dia telah hancur berkali-kali. Sangat hancur. Tubuhnya seakan tak berdaya untuk berdiri. Dia menyandarkan tubuhnya yang lemas itu di bahu lift.


Dia menatap pantulan dirinya di pintu lift. Terlihat sangat kacau. Dia seperti orang gila. Seperti orang bodoh. Saat keluar dari lift pun dia berjalan seperti orang mabuk.


"Kau sudah bertemu dengan Mama?" tanya Aiden yang berpapasan dengannya di lobi perusahaan.


Namun Sean hanya melewatinya tanpa melirik sedikit pun. Dia seperti dalam dunianya sendiri. Dia tidak mendengar sesuatu yang berlalu lalang di sekitarnya.


"Kak!?" panggil Aiden sekali lagi.


Tetap saja Sean tidak mendengarnya dan terus melanjutkan langkahnya. Aiden yang merasa khawatir dengan keadaan kakak nya itu pun menyusulnya.


"Kak!" panggilnya sekali lagi sambil menarik pundaknya. Namun Sean menghempas tangan Aiden dengan kasar.


"Kau mau pergi kemana dengan keadaanmu yang terlihat sangat buruk itu!?" teriak Aiden.


"Ck!" decaknya.


Dia bergegas naik ke ruangan Gloria untuk memastikan apa yang baru saja terjadi. Dan mengapa kakak nya terlihat begitu kacau.


......................


Sean melajukan mobilnya seperti orang gila. Seolah tak peduli apa yang akan terjadi padanya jika dia mengemudikannya seperti itu. Dia terus menginjak gas nya tanpa henti. Beberapa lampu pemberhentian pun dia terobos.


Saat sampai di depan halaman apartemen Allesa, Sean memarkir kan mobilnya dengan sembarangan. Kemudian dengan bergegas dia keluar dan membanting pintu mobilnya.


"Allesa! buka pintunya!"


Teriak Sean di depan kamar apartemen Allesa sembari menggedor pintunya.

__ADS_1


Merasa senang mendengar suara Sean, segera Allesa membuka pintunya. Dia hendak melempar tubuhnya ke pelukan Sean. Namun di luar perkiraannya, Sean menarik rambutnya dan menyeretnya masuk sebelum dia menutup kembali pintunya.


"Aw~ Sean..apa kamu sudah gila!? lepaskan, itu sangat sakit!" rintih Allesa.


Sean menghempas tubuh Allesa ke sofa. Dia kemudian berbalik dan mengusap wajahnya dengan frustasi.


"Argghh!" teriaknya untuk mengurangi emosi yang di pendam nya sedari tadi.


Sontak Allesa menundukkan kepalanya dengan kaget. Selama dia mengenal Sean dia tidak pernah melihat sisinya yang seperti itu. Dia sangat kaget.


"Kamu jangan membuatku takut, Sean.." ujarnya dengan lemah.


"Hah~" Sean menyeringai.


Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Allesa. Kemudian meraih dagunya dan mencubitnya.


"Apa maksudmu? aku tidak mengerti," jawab Allesa.


Sean semakin memperkuat cubitannya yang membuat Allesa merintih kesakitan. Kemudian dengan kasar dia melempar map yang di berikan Gloria tadi ke wajah Allesa. Lalu melepaskannya.


"Jelaskan padaku!" bentaknya.


Allesa sangat kaget melihat isi map itu. Rahasia yang di sembunyikan selama ini semudah itu terbongkar. Namun dia tidak akan menyerah. Dia tidak ingin melepas Sean. Allesa tahu Sean sangat lemah terhadap air matanya.


Seperti yang Aiden bilang, Sean sangat menghormati wasiat terakhir mendiang Rudianto Grey, Ayah dari Allesa.


"Kau juga percaya pada rumor ini?" ujarnya yang mulai mengeluarkan air mata sandiwara nya.


"Ini semua fitnah! kau tau? saat terberat ku adalah saat rumor ini beredar. Dan yang ada di dalam foto itu bukan aku..itu hanya settingan!" ujar Allesa dengan terisak.

__ADS_1


"Kau pikir aku buta!?" bentak Sean.


Allesa membelalakkan matanya, dalam hatinya dia bergumam, 'Ada apa dengannya!? kenapa tidak mempan?'.


"Yelena.." Sean menggantung ucapan nya.


"Kau telah membunuh Yelena!" lanjutnya dengan suara gemetar nya.


Allesa benar-benar tercengang kali ini. Dia tidak dapat berkata-kata. Hanya terdiam sambil meremas map di tangan.


"Ti- tidak. Aku tidak melakukannya.." ucap Allesa tergagap.


"Mantan supir mu itu ada di tanganku saat ini. Orang yang telah kau suruh untuk membunuh Yelena.."


"Kenapa? kenapa kau lakukan itu!?" teriak Sean.


"Aku benar-benar tidak melakukannya, Sean.."


Sean sudah mulai kehilangan akal dan kesabarannya. Dia meraih leher Allesa dan mencekiknya. Seperti orang kerasukan, matanya memerah karena menahan emosi dan air matanya. Urat tangannya juga mulai muncul semua. Entah seberapa kuat Sean mencekiknya.


"Se~an...le~pas~kann.." Allesa mulai kehabisan napasnya.


Prang!


Tubuhnya terhuyung. Matanya mulai buram oleh tetesan darah segar yang melewati matanya. Dia menggelengkan kepalanya untuk menjaga kesadarannya.


Namun semakin dia mempertahankan kesadarannya, semakin kepalanya terasa sakit. Akhirnya dia pun tumbang. Saat kesadarannya masih tersisa, dia melihat Allesa di bawah pergi oleh seseorang.


Ya, seseorang telah menyelamatkan Allesa dari genggaman Sean. Orang itu memukul kepala Sean dengan vas bunga, hingga vas itu berkeping-keping.

__ADS_1


__ADS_2