Aku Hanya Boneka Pengganti

Aku Hanya Boneka Pengganti
Malam Yang Gelap


__ADS_3

"Sial!"


Sean memukul stang mobilnya dengan keras. Dia masih enggan untuk menjalankan mobilnya. Pikirannya masih sangat kacau.


Dia membenamkan kepalanya di atas stang mobilnya. Ingatan kejadian yang baru saja terjadi melintasi pikirannya seperti kereta api yang melewati jalurnya.


"Semuanya gara-gara anak sialan itu!" ucapnya geram.


Sean merogoh sakunya, mengambil ponsel dari dalam sana. Kemudian membuat panggilan.


'Cari informasi tentang Yohan Audika, artis yang 4 tahun lalu hengkang dari perusahaan.'


Dia kembali membenamkan kepala di atas stang mobilnya saat panggilan nya terputus. Pikirannya semakin kacau. Namun jika terus seperti itu, dia tidak akan pernah membaik. Sean mulai menyalakan mobilnya dan melajukannya. Saat ini hal yang dapat dia lakukan hanyalah berlembur. Kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi, untuk menyelesaikannya juga mengalihkan pikirannya.


Sedangkan Yelena yang sedari tadi mengamatinya dari balkon, kini terjatuh lemas. Dia menggenggam erat selimut yang membalut tubuhnya. Air matanya tak kunjung berhenti.


Dia tahu jika statusnya saat ini adalah tunangannya, yang artinya juga calon istrinya. Tapi hatinya tetap saja terasa mengganjal. Meskipun belum melakukan apa-apa, namun dia merasa tubuhnya sangat kotor saat ini.


Gelap.


Lampu taman yang biasanya menyala kini gelap gulita. Hari telah berganti malam. Sudah saatnya lampu-lampu di nyalakan. Namun untuk menyalakan lampu kamarnya saja dia tidak punya tenaga, apalagi untuk turun ke bawah sana dan menyalakan lampu dari setiap sudut ruangan.


Dia takut dengan kegelapan. Namun yang lebih menakutkan lagi adalah saat dia melihat betapa kacaunya dia saat ini. Maka dari itu, lebih baik dia tidak menyalakan lampunya.


Seseorang..

__ADS_1


Dia membutuhkan seseorang untuk meluapkan ketakutannya saat ini. Dengan tangannya yang gemetar, dia meraih ponselnya.


turut.. tuutt..


Nada itu terus berbunyi karena seseorang di ujung sana tak kunjung mengangkatnya. Yelena mencoba kembali untuk yang ke sekian kalinya. Tidak ada jawaban. Dia semakin frustasi. Dia membutuhkan seseorang untuk menenangkannya saat ini. Dia membutuhkan Aiden.


Untuk yang terakhir kalinya dia mencoba kembali. Yelena berharap banyak pada panggilan terakhir yang akan di lakukan nya itu.


'Halo?'


'Maaf, aku baru saja selesai rapat.'


'Aiden..' panggil Yelena dengan suara yang gemetar menahan tangis.


Aiden sedang bersama dengan Vivian saat ini. Setelah rapat Aiden selesai, Vivian menjemputnya untuk kembali ke hotel. Namun panggilan Yelena masuk.


Vivian ikut khawatir mendengar suara Yelena yang saat itu terdengar karena Aiden menyalakan loud speaker nya.


Vivian menekan tombol panggilan video. Dia merasa tidak tenang, karena dia sendiri tahu bagaimana sifat Sean.


'Yelena angkat video nya!' ujar Vivian.


Namun Yelena tidak mengangkatnya dan malah mematikan teleponnya. Panggilan terputus.


'Halo? Yelena?'

__ADS_1


"Aishh..gadis sialan ini! dia membuatku sangat frustasi!" umpat Vivian karena kesal.


Dia mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Kemudian menatap Aiden dengan tatapan kegelisahan.


"Ini akan menjadi hari terakhir kita disini.." ujar Vivian.


"Tapi bagaimana dengan liburannya? bukankah kamu sudah membuat schedule berlibur setelah pekerjaan ku disini berakhir hari ini?" Aiden menyeringai.


"Kita masih punya banyak waktu untuk melakukan hal itu lain kali.."


Aiden menyembunyikan senyumnya mendengar jawaban yang bijaksana dari kekasihnya itu.


Ya, hari itu adalah hari terakhir Aiden melakukan business trip nya. Dan setelah hari itu dia ingin mengambil beberapa hari untuk cuti dan berlibur di sana bersama Vivian.


Namun apa yang di dengarnya saat ini membuatnya sedikit bangga. Vivian adalah gadis yang sedikit egois jika itu menyangkut kesenangannya bersama Aiden. Dan saat ini dia sedang merelakan kebersamaannya dengan Aiden demi Yelena.


Aiden tersenyum bangga. Dia mengulurkan tangannya dan membelai rambut Vivian.


"Entah mengapa hari ini kamu terlihat sangat cantik," ujarnya.


"Berarti biasanya aku jelek?" tanya Vivian kesal.


"Sudahlah, aku tidak ada waktu untuk menanggapi mu! ayo segera kembali ke hotel dan bersiap untuk pulang.."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2