Aku Menikahi Pria Dewasa

Aku Menikahi Pria Dewasa
Panik 2


__ADS_3

Setelah berjalan pelan -pelan mereka bertiga pun sampai di gang tempat mobil online itu menunggu . Arin pun membuka pintu mobil dan memasukkan Ria kedalamnya .


" Maaf ya pak nunggunya agak lama , soalnya bawa orang sakit nih " ucap mbak Sari tidak enak .


" Iya neng gapapa saya maklumi kok " jawab supir mobil online itu .


" Makasih mbak , maaf ya merepotkan " ucap Arin .


" Sama - sama mbak Arin , semoga mbak Ria cepet sembuh ya " balas mbak Sari .


Arin dan Ria pun hanya mengangguk . Dan mobil pun mulai melaju memecah kepadatan kota kecil itu .


Di dalam mobil , Arin memberi kabar ke bu Kartika kalau dia tidak bisa datang lagi ke toko , " Assalamualaikum , bu Kartika maaf saya ijin ga bisa datang lagi ke toko . Ini saya mau mengantar Ria ke Rumah Sakit dulu bu . Tadi saya sampai kosan , Ria sudah dalam kondisi pingsan . Saya takut kenapa - kenapa akhirnya saya ajak periksa saja ke RS " Tulis Arin dalam pesan nya ke bu Kartika .


Tak selang berapa lama balasan dari bu Kartika pun masuk ,


" Walaikumsalam iya Rin gapapa yang penting sekarang kesehatan Ria dulu . Salam buat Ria semoga cepat sembuh " balasan pesan dari bu Kartika .


" Iya bu terimakasih , salam balik dari Ria ini bu" balas pesan Arin lagi .


Setengah jam berlalu , merekapun sampai ke tujuan . Arin turun terlebih dahulu dari mobil online untuk mengambil kursi roda pasien di dalam UGD . Dengan mendorong kursi roda Arin menghampiri Ria yang masih menunggu di dalam mobil sambil bersandar . Ria pun turun perlahan - lahan lalu mendudukan dirinya di kursi roda itu . Arin menutup pintu sambil membayar ongkos nya . " Terimakasih ya pak sudah mengantarkan kami " ucap Arin .


" Sama - sama neng semoga temannya cepat sembuh ya " balas supir mobil onlin itu .


" Aamiin " balas Arin singkat .


Arinpun mendorong kursi roda yang di duduki Ria masuk ke dalam ruang IGD .


" Selamat sore mbak , bisa saya bantu ?" sapa satpam RS ramah .


" Ini pak teman saya sedang sakit " Arin membalas sapaan security itu sambil menunjukan Ria yang sedang menyangga kepalanya yang terasa pusing sekali .


" Silahkan di ajak masuk mbak , di dalam ada perawat yang bertugas menerima pasien " satpam itupun mempersilahkan masuk


" Terimakasih pak " ucap Arin .


Saat masuk ada seorang perawat yang menghampiri kami . Perawat itu menggantikan Arin mendorong kursi roda yang digunakan Ria . Ria di bawa ke dalam bilik pemeriksaan untuk di periksa lebih lanjut . Arin hanya berjalan mengekor di belakang perawat itu . Ria pun dibantu perawat itu untuk berbaring di tempat tidur pasien , sambil menunggu dokter datang memeriksa .


" Rin , perutku kok ga enak gini ya " keluh Ria sambil meringis kesakitan dan memegangi perutnya .


Arin yang melihatpun khawatir , "sebentar ya Ri , aku panggilin perawat nya dulu" .


Arin pun keluar mencari perawat atau dokter yang bisa memeriksa temannya itu .


" Maaf sus , teman saya itu kesakitan di dalam tolong sus , cepat di panggilkan dokternya " panik Arin .

__ADS_1


" Sebentar mbak saya panggilkan dokternya dulu " perawat itupun berlari memanggil dokter yang sedang memeriksa pasien yang di bilik pojok ruangan IGD itu .


Arin pun berlari menghampiri Ria lagi yang masih meringis kesakitan . " Sabar ya Ri , sudah di panggilkan dokternya " hibur Arin sambil mengusap - usap lengan sahabatnya itu . Ria hanya mengangguk lemah .


" Selamat sore nona - nona semua . Saya periksa dulu " dokter menyapa Arin dan Ria .


Dokter sedang fokus memeriksa , dan tak berselang lama dokter mengatakan diagnosanya . " Enaknya saya panggil mbak aja ya , begini mbak Ria saya mau tanya terakhir mbak Ria makan apa ? " tanya dokter cantik itu .


" Saya terakhir makan jagung bakar dan wedang sekoteng bu dokter " jawab Ria .


" Belinya di pinggir jalan ? " tanya dokter lagi . Ria pun hanya mengangguk saja .


" Nah ini mungkin menjadi pemicu mbak Ria kena tipes . Jadi diagnosa saya sementara ini mbak Ria kena gejala tipes . Untuk memastikannya nanti mbak Ria diambil darahnya dan di tes di laboratorium dulu . Selagi menunggu hasil tes keluar saya menyarankan mbak Ria beristirahat dulu dan sementara ini saya infus dulu supaya mbak Ria tidak dehidrasi lagi " dokter menjelaskan kepada Ria dan Arin .


" Lakukan apa aja dok , yang penting sahabat saya ini bisa cepat sembuh " pinta Arin . Dokterpun mengangguk dan pergi untuk menulis prosedur tindakan apa saja yang harus dilakukan .


Arin pun diminta perawat untuk mendaftarkan Ria agar bisa di tindka lanjuti . Setelah selesai mendaftar , Arin pun menghampiri Ria yang sudah terlebih dahulu selesai diambil tindakan yaitu pemasangan infus dan pengambilan sample darah .


" Rin , gimana nih kalau biayanya besar . Perawat tadi juga bilang sama aku kalau hasil tesnya memang positif tipes , aku disarankan untuk di rawat . Gimana dong Rin ?" ucap Ria bingung .


" Udah Ri , kamu ga usah memikirkan soal biaya perawatanmu di sini . Ini semua sudah tanggung jawabku , yang penting sekarang kamu fokus untuk kesembuhanmu saja . Yang lain biar aku yang memikirkan " Arin mencoba menghibur dan meneangkan sahabatnya itu .


" Tapi Rin - "


" Udah Ri , ga usah kamu pikirin " ucap Arin memotong perkataan Ria .


" Ish kamu itu kebiasaan banget , suka telat makan . Ya udah aku cariin makan dulu sama minum ya , haus juga nih aku dari tadi lari - larian kesana kemari " ucap Arin .


" Jangan lama - lama ya Rin " pinta Ria .


Arin pun hanya mengangguk . Arin keluar bilik dan menitipkan sahabatnya itu pada perawat . Perawat itupun mengiyakan permintaan Arin dan memberi pesan ke Arin kalau mau membelikan makanan untuk Ria sementara cari makanan yang lunak - lunak dulu agar perutnya tidak terasa sakit lagi . Arin pun mendengarkan pesan dari perawat itu .


Setengah jam berlalu , Arin pun sudah kembali ke bilik tempat Ria di rawat . Saat mau masuk kedalam terdengar suara orang lain . Dalam pikiran Arin yang sedang berbicara adalah dokter cantik itu . Alangkah terkejutnya ternyata yang ada di dalam bilik Ria adalah ibu Lina .


" Bu Lina ? sudah lama bu ? " tanya Arin sopan . Walaupun dalam hatinya masih ada rasa kesal atas apa yang terjadi di rumah Hanandi . Tapi Arin sama sekali tidak ada rasa kesal terhadap bu Lina . Karena bu Lina sudah membela Ria disana .


" Belum lama kok . Kamu darimana Arin ? " tanya Lina pada Arin .


" Saya dari kantin bu , beli makanan sama minuman buat Ria " jawab Arin


" Ibu tau dari siapa kami ada disini ?" tanya Arin .


" Jeng Kartika yang memberi kabar ke saya , diagnosa dokter apa Rin ? " tanya Lina .


" Diagnosa sementara ini sih gejala tipes bu , ini kita masih nunggu hasil laboratorium dulu . Kata dokter sih pemicunya Ria makan makanan yang kotor di pinggir jalan " jawab Arin sambil melirik Ria yang sedang menatap tajam pada sahabatnya itu . Ria bermaksud untuk mencegah Arin agar tidak menyampaikan itu pada ibu Lina tapi Arin keceplosan mengatakan itu .

__ADS_1


" Makan di pinggir jalan ? apa waktu kamu diajak jalan sama Hendri makan sesuatu di pinggir jalan ? tanya bu Lina pada Ria .


" Hehehe iya bu , aku diajak makan jagung bakar sama minum wedang sekoteng di alun -alun kota sana itu . Tapi menurut saya bukan karena itu sih bu , saya saja yang kurang memperhatikan makanan yang saya makan . Jadi ya begini lah konsekuensinya " jawab Ria sambil tersenyum . Ibu Lina pun masih tidak percaya . Ria pun melirik Arin dan Arin memahami maksud sahabatnya itu .


" Ini Ri makanan buat kamu , mau aku suapi atau bisa makan sendiri ?" Arin mencoba mengalihkan pembicaraan bu Lina .


" Aku makan sendiri saja , kamu beli makanan apa Rin? " tanya Ria


" Aku membelikanmu bubur sumsum sama susu kedelai . Tadi sebelum keluar beli , perawat tadi memberi saran ke aku untuk membelikanmu makanan yang lembek2 dulu supaya perut kamu ga sakit lagi " jelas Arin


" Gapapa Rin , ini aja udah alhamdulillah " ucap Ria sambil menyuap bubur sumsum yang sudah dia pegang .


Ibu Lina hanya diam menyaksikan interaksi antara Ria dan Arin . Ibu Lina sangat terkesan dengan persahabatan antara Ria dan Arin . Dalam keadaan suka maupun duka mereka saling bahu membahu menolong satu sama lain . Tak terasa mata ibu Lina pun terasa panas karena berkaca - kaca . " Semoga hubungan kalian ini abadi untuk selamanya " .


Ria pun selesai menghabiskan makanannya . Arin pun lalu menyodorkan susu kedelai yang ia beli tadi , " ini diminum biar tambah energi mu " .


" Bentar Rin , masih kenyang nih . Nanti deh aku habiskan " tolak Ria .


" Ayo diminum Ri biar cepet pulih tenagamu " bujuk bu Lina .


" Tuh dengerin karo orang tua ngomong " ucap Arin .


"Iya iya " Ria pun menuruti permintaan kedua orang yang menungguinya itu .


Saat selesai minum pun dokter masuk ke dalam bilik Mauria . " Selamat petang semuanya , saya mau membacakan hasil laboratorium mbak Ria " .


" Hasilnya apa dok ? " tanya bu Lina tak sabar . Arin dan Ria pun sama tak sabarnya . Mereka saling berpegangan tangan menunggu dokter membacakan hasil laboratorium itu .


" Dari hasil laboratorium ini kalau mbak Mauria positif tipes bu . Dan kalau saya lihat ada infeksi juga di pencernaan mbak Mauria . Jadi di sini saya sarankan mbak Mauria untuk dirawat inap untuk memulihkan kondisinya " ucap dokter cantik itu .


" Apa dok dirawat ? bisa ga kalau saya rawat jalan saja . Saya harus bekerja dok , ga bisa ninggalin kerjaan begitu saja . Apalagi saya baru aja kerja di tempat saya kerja itu " tolak Ria agak keras . Ria enggan dirawat inap karena dipikirannya uang darimana untuk membayar semua biaya rumah sakit nanti . Arin yang masih terpaku pun mulai tersadar karena Ria berbicara agak keras kepada dokter .


" Kenapa bicaramu kencang sekali Ri , gapapa Ri kalau kamu harus dirawat inap . Nanti kerjaanmu bisa aku kerjakan sekaligus " bujuk Arin .


" Tapi Rin , uang darimana aku untuk membayar semua biaya rawat inap itu . Kamu tau sendirikan kondisi keluargaku . Ga mungkin aku minta ke mereka " jawab Ria lirih kepada Arin .


" Tapi Ri , kalau kamu ga dirawat bisa berbahaya lho . Kondisimu akan memburuk " bujuk Arin lagi .


" Iya Ria , kamu di rawat saja ya " bujuk bu Lina yang masih ada di dalam bilik itu .


" Tapi bu - "


" Sudah kamu ga usah mikirin kerjaan kamu . Kan disana ada Arina sama jeng Kartika yang ngehandle " bujuk Lina lagi sambil memotong perkataan dari Ria .


" Mbak Mauria bukannya saya memaksa , tapi kalau mbak Mauria tidak mau dirawat saya takut infeksi yang ada di saluran pencernaan anda akan menyebar ke organ lain dan membahayakan keselamatan anda juga " kata dokter menjelaskan .

__ADS_1


" Ya sudah dok , siapkan saja ruang rawatnya . Saya yang akan bertanggung jawab atas semuanya " ucap bu Lina yang membuat terkejut Ria dan Arin .


__ADS_2