Aku Menikahi Pria Dewasa

Aku Menikahi Pria Dewasa
Kekesalan Hati Lina


__ADS_3

Setelah dokter selesai memeriksa kondisi Ria , ia pun mengatakan kalau Ria hanya kelelahan dan tekanan darahnya sedikit rendah . Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi . Semua orang yang mendengarkan ucapan sang dokter pun merasa lega . Orang - orang pun memilih keluar dari kamar Ria . Sedangkan dokter di antar Yuda dan Hendri ke kamar Dinda untuk memeriksa kondisi Dinda sekalian .


Di dalam kamar , Ibu Dewi pun lalu mendekati sang putri yang masih terbaring lemah diatas ranjangnya . Beliau memeluk hangat sang putri .


" Ri , ikhlaskan ayahmu nak . Kasihan dia kalau melihat anak - anaknya sakit seperti ini . Belajarlah ikhlas nak mulai sekarang , Ya !!! " bu Dewi mencoba membujuk Ria dengan lembut .


" Ria merasa bersalah ibu . Saat ayah sakit Ria malah tidak ada di sampingnya . Ria egois karena mementingkan diri Ria sendiri " Ria membalas dengan menangis lirih di pelukan ibunya .


" Tidak perlu merasa begitu nak . Ayah tidak mengabarimu karena dia tidak mau membebanimu . Itu kemauan ayahmu sendiri Ri . Jadi tidak perlu kamu merasa bersalah seperti ini . Ini semua sudah kehendak yang diatas jadi kita harus ikhlas menjalaninya nak " nasihat bu Dewi membuat air mata Ria semakin deras . Ria tidak membalas ucapan sang ibu , dia hanya menganggukan kepalanya lemah .


Bu Dewi pun mengelus rambut Ria untuk menenangkan sang putri . Tanpa sepengetahuan anaknya , dia pun juga meneteskan air matanya . Bu Dewi tidak ingin memperlihatkan air matanya di depan anak - anaknya agar tidak semakin membuat anak - anaknya kepikiran .


Setelah selesai urusannya dengan dokter , Yuda pun meminta Hendri mengantarkan sang dokter itu . Lalu dia beranjak ke dapur dan membuatkan Ria segelas teh hangat dan sepiring makanan untuk Ria .


Yuda pun membawa nampannya ke kamar . Saat masuk ke kamar dia melihat jika bu Dewi dan Ria sedang berpelukan . Bu Dewi yang mendengar pintu di buka pun mengurai pelukannya dan melihat sang menantu masuk .


" Eh , nak Yuda . Itu untuk Ria ? " tanya Bu Dewi sambil melihat ke arah nampan yang ada di tangan Yuda .


" Iya bu , saya sudah buatkan Ria teh hangat dan ini makanan . Tadi Ria sarapannya sedikit sekali jadi saya bawakan makanan lagi agar bisa meminum obat ini " Yuda membalas perkataan snag mertua dan menunjukan apa saja yang di bawanya .


" Ibu aku tidak mau makan " tolak Ria .


Yuda hanya memandang lembut sang istri . Dia masih memahami jika istrinya belum menerimanya sepenuh hati .


" Kamu harus makan Ri , kamu harus minum obat agar tidak sakit lagi " ucap sang ibu .


" Tapi bu Ria tidak nafsu makan " tolak Ria lagi .


" Harus kamu paksakan Ri " ujar ibunya lagi .


" Baiklah aku mau makan tapi ibu harus menyuapiku " ucap Ria .


Bu Dewi yang bingung menjawab sang putri hanya melihat ke arah Yuda . Yuda yang mengerti kegundahan sang mertua pun hanya bisa menganggukkan kepalanya dan menyerahkan nampan makanannya itu kepada sang mertua .

__ADS_1


" Ini bu makanannya , ibu saja yang menyuapi . Tadi saya meninggalkan pekerjaan dan masih ada pekerjaan sedikit yang harus saya selesaikan sekarang . Saya ijin keluar dulu ya bu , makan yang banyak ya Ri saya tinggal keluar dulu " ucap Yuda dan di balas anggukan oleh bu Dewi . Sedangkan Ria tidak membalasnya sama sekali .


Yuda pun keluar dari kamar , terlihat Hendri sudah ada di dalam ruang tengah dan sedang menatap laptopnya . Yuda pun menghampiri Hendri .


" Sudah kamu antarkan dokter tadi Hen ? " tanya Yuda .


" Sudah , rumahnya ternyata dekat jadi aku bisa cepat pulangnya . Bagaimana kondisi Ria ? " tanya Hendri .


" Sudah mau berbicara , dan tuh lagi makan sama ibu " ucap Yuda sambil menarik nafasnya kasar . " Obat buat Dinda sudah kamu bawa ?" tanya Yuda mengalihkan pembicaraan .


" Sudah dan sudah aku berikan ke Randi biar dia nanti yang memberikannya " balas Hendri .


" Ya sudah syukurlah " balas Yuda sambil membuka laptopnya lagi .


" Yud , apa kamu jadi mau berbicara tentang kepulangan kita kepada Ria ? " tanya Hendri lirih sambil mendekatkan wajahnya ke arah Yuda .


" Tidak tahu Hen , aku ragu mau bicara dengannya . Tapi kalau tidak berbicara bagaimana , kita harus tetap pulang jadi dilema aku Hen " ucap Yuda lagi sambil menarik nafas panjang lagi dan menyenderkan kepalanya di tembok .


" Kalau menurutku tetap kamu bicarakan Yud , daripada nanti kamu memaksa dia ikut kita pulang tanpa bicara terlebih dahulu nanti hubunganmu dengan Ria tambah buruk Yud " Hendri memberi saran sang sahabat .


" Terserah kamu saja " balas Hendri lalu kembali menatap laptopnya lagi dan memulai perkerjaannya lagi .


Yuda pun menghela nafasnya dan lalu mengalihkan pikirannya kembali ke pekerjaannya .


Hari menjelang sore , Tuan Hanan dan Bu Lina pun datang ke rumah Ria . Sedangkan Hendri dan Yyda masih sibuk menyelesaikan tumpukan pekerjaan yang mereka tinggal beberapa hari ini .


Yuda dan Hendri belum menyadari kedatangan kedua orang tua Yuda itu . Sampai Pak Hanan dan Bu Lina pun menghampiri mereka dan mengagetkan kedua laki - laki itu .


" Kalian sedang apa sih , kok fokus sekali ?" tanay Bu Lina tiba - tiba dengan wajah sumringah sambil duduk dan menepuk bahu Yuda sedikit keras .


" Astaghfirullah Mama ih datang - datang kok mengagetkan saja " seru Yuda sambil mengusap dadanya yang terkejut dengan kehadiran Lina yang tiba - tiba . Hendri pun ikut sedikit terlonjak karena teriakan Yuda .


Tuan Hanan pun hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang sedang menjahili sang putra .

__ADS_1


" Siapa juga yang mengagetkanmu ? Dari tadi Mama sama Papa sudah mengucapkan salam . Tapi karena kalian terlalu fokus dengan apa yang kalian kerjakan jadi kalian tidak sadar kan kalau kami datang . Jadi jangan salahkan Mama kalau kamu terkejut " ucap Lina sambil tersenyum .


" Tapi kan tidak perlu berbicara keras seperti itu dan memukul bahuku ini , sakit tahu " keluh Yuda sambil mengelus bahunya yang masih terasa panas .


" Hehehe sakit ya . . . . maaf deh , Mama sengaja " ucap Bu Lina sambil terkekeh sedangkan Yuda melotot tidka percaya dengan tingkah sang ibu . Hendri dan Tuan Hanan ikut tersenyum melihat interaksi ibu dan anak itu .


" Ish . . . Mama nyebelin banget " ketus Yuda .


" Terserah , kalian lagi apa sih ? Menantuku dan yang lain pada kemana kok rumah sepi begini ?" tanya Bu Lina acuh .


Yuda yang kesal dengan tingkah ibunya pun hanya bisa cemberut dan membalas ucapan ibunya , " kita itu lagi nyelesaiin pekerjaan kita yang setumpuk ini . Sepi gimana sih Ma , itu di dapur suaranya aja ramai begitu . Ria sedang di kamar istirahat tadi tiba - tiba pingsan dan sekarang lagi di temani ibu mertua . Sedangkan Dinda ada di kamarnya masih engga enak badan dan sedang di temani Randi " ucap Yuda sambil mengalihkan pandangannya ke arah laptop lagi . Hendri pun sudah fokus kembali ke laptopnya juga .


" Hah apa Ria pingsan ? kenapa kamu tidak mengabari Mama dan Papa ? Ish dasar anak ini ya . . . " seru bu Lina sambil memukul bahu Yuda lagi dan beralih menjewer telinga Yuda . Tuan Hanan pun juga ikut terkejut . Hendri yang sedang fokus dengan kerjaannya pun ikut terkejut karena ucapan bu Lina yang keras .


" Aduh . . . aduh Mama sakit ih . Mama kenapa sih mukul dan jewer Yuda . Aduh . . . aduh sakit Ma . . . " Yuda hanya bisa mengaduh dan memegangi telinganya yang di jewer oleh Bu Lina .


" Rasain kamu , jadi anak begini amat . Kemarin menikah dadakan mengabari kami , ayah mertuamu meninggal juga dadakan mengabari kami dan sekarang menantu Mama sakit kamu tidak mengabari Mama padahal Mama ada di sini keterlaluan ya kamu Yuda . . . Kesel Mama ih sama kamu " ucap Bu Lina kesal dengan tangannya yang masih menjewer telinga anaknya itu . Tuan Hanan yang melihat sang putra pun merasa kasihan dan mencoba menenangkan sang istri .


" Sudah Ma . . . sudah . . . mungkin Yuda engga kepikiran ngabarin kita karena mungkin dia sedang panik jadi lupa segala . Sudah lepasin itu telinga anakmu nanti putus lagi " ucap Tuan Hanan sambil memegang bahu sang istri . Bu Lina pun melepaskan tangannya dari telinga Yuda .


" Iya Ma , Yuda tidak sengaja . Yuda sama sekali tidak kepikiran itu karena waktu itu Yuda panik sekali dan pikiran Yuda kemana - mana jadi maaf deh Ma kalau Yuda lupa mengabari Mama dan Papa " ucap Yuda sambil memegang telinganya yang terasa sangat panas .


" Setelah itu kan kamu bisa ngabarin Mama Yud" kesal Lina .


" Iya Ma maaf , setelah itu belum kepikiran ngabarin Mama karena Yuda langsung ngelanjutin pekerjaan Yuda lagi . Maaf deh Ma . . . beneran Yuda tidak sengaja , Yuda beneran lupa Ma . Tanya deh Hendri " ucap Yuda membela diri .


Hendri yang di pandangi Yuda dan bu Lina pun membalas , " I-iya tante apa yang dikatakan Yuda bener , kami benar - benar lupa . Soalnya tadi panik semua jadi kami ikutan panik juga " jawab Hendri terbata .


" Ish kalian ini kebiasaan kalau sudah kerja pasti lupa segalanya . Sudah lah Mama mau lihat kondisi menantu Mama dulu " ucap Lina acuh lalu beranjak berdiri dan berjalan ke arah kamar Ria .


Yuda , Hendri dan Tuan Hanan hanya terhenyak dengan kelakuan Bu Lina . Mereka tenggelam dengan pikiran mereka masing - masing .


" Setelah menyakitiku Mama pergi begitu saja . Ish dasar Mama sukanya KDRT denganku . Sebenarnya aku ini anaknya bukan sih " gumam Yuda dalam hati sambil tangannya masih mengelus telinganya yang panas dan melihat ke arah punggung Lina .

__ADS_1


" Istriku itu kalau sudah marah lupa kalau putranya sudah dewasa . Selalu saja memperlakukan Yuda seperti anak kecil saja . Tapi itu manis bagiku . I Love You Sarlinku " gumam Tuan Hanan dalam hati sambil melihat kagum ke arah istrinya .


" Hiii . . . Tante Lina kalau lagi marah serem juga main jewer . Kasihan sekali nasib sahabatku ini " gumam Hendri dalam hati sambil terkekeh geli melihat ke arah Yuda .


__ADS_2