Aku Menikahi Pria Dewasa

Aku Menikahi Pria Dewasa
Kegundahan Hati Ria


__ADS_3

Malam semakin larut , rumah sederhana itu sudah terasa sepi . Orang - orang sudah masuk ke kamar mereka masing - masing dan ada juga beberapa keluarga yang tidur bersama di ruang tengah . Tuan Hanan dan Bu Lina sudah pulang ke hotel . Hendri sudah tertidur di dalam kamar Randi . Ibu Dewi memilih tidur di kamar Dinda . Dan Ria sudah terlelap beberapa saat setelah di tinggal Yuda keluar dari kamar .


Tinggallah Yuda sendiri yang masih duduk termenung di depan teras rumah . Kegundahan hatinya tidak membiarkan matanya bisa terpejam sedetikpun . Yuda masih memikirkan jawaban apa yang akan keluar dari mulut Ria .


Ada rasa takut jika sampai Ria menolak pulang ke kota bersamanya . Tapi dia sendiri sudah berjanji tidak akan memaksakan kehendaknya sendiri . Yuda merasa serba salah . Sampai tengah malam pun dia masih belum bisa memejamkan matanya .


" Aku harus menyiapkan hati dan mentalku jika nanti jawaban yang Ria ucapkan tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan . Aku akan berusaha sabar untuk menghadapi ini semua . Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri dan ayah Ria . Aku akan berjuang memenangkan hati Ria . Lebih baik sekarang aku mengalah dulu . Ya . . . . aku harus mengalah demi kebahagiaan di masa depan . Aku akan sabar menanti itu semua . Semangat Yud , kamu pasti bisa " Yuda masih berkata - kata dalam hatinya untuk menyemangati dirinya sendiri .


Jam sudah menunjukkan jam 2 pagi dan Yuda masih bertahan duduk termenung di teras depan .


" Apa lebih baik aku sholat tahajud ya agar hatiku sedikit tenang . Baiklah mending aku sholat tahajud saja " gumam Yuda dalam hati lalu beranjak masuk ke dalam rumah .


Yuda pun berjalan menuju ke belakang rumah untuk mengambil air wudhu . Bu Dewi juga terbangun karena ingin sholat tahajud juga . Bu Dewi pun keluar dari kamar Dinda dan menuju tempat untuk wudhu .


Ia merasa heran karena mendengar kemericik air dari arah belakang .


" Siapa yang jam segini main air ? " gumam Bu Dewi dalam hati . Ia pun mendekati ke arah sumber suara itu .


Sebelum Bu Dewi sampai Yuda sudah selesai wudhu . Tanpa Yuda sadari Bu Dewi berada di balik tembok membuatnya sedikit terkejut .


" Astagfirullah Ibu . . . " kejut Yuda sambil mengelus dadanya .


" Eh nak Yuda sudah bangun ? mau sholat tahajud juga ? " tanya Bu Dewi kikuk .


" Iya Bu , permisi ya bu Yuda duluan " pamit Yuda sopan .


" Iya nak silahkan " jawab Bu Dewi . Yuda pun beranjak pergi dan berjalan menuju kamarnya dan Ria .


Satu jam kemudian , Yuda pun selesai sholat tahajud dan dzikir . Ia lalu merapikan kembali perlengkapan ibadahnya . Yuda pun mulai merasa mengantuk . Apalagi sekarang sudah jam 3 pagi .


Yuda pun mengambil tikar di ruang tengah dan membukanya di samping bawah ranjang Ria untuk alasnya tidur . Sampai sekarang Yuda memilih tidur terpisah dengan Ria agar Ria nyaman .


Yuda pun membaringkan tubuhnya di alas tikar dengan 1 bantal yang ia pinjam dari ranjang Ria . Dengan berselimut kain sarung yang ia bawa sendiri , Yuda pun mencoba memejamkan matanya . Tak menunggu lama Yuda pun terlelap .


Kumandang adzan subuh pun terdengar , Ria yang sudah terbiasa bangun pagi segera membuka matanya . Duduk sebentar di atas ranjang nya dengan merentangkan tubuhnya . Pagi ini tubuhnya sudah sedikit membaik . Kepalanya sudah tidak terasa pusing lagi . Setelah seharian kemarin beristirahat , badan Ria terasa lebih segar .


Ria pun beranjak turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar . Sebelum keluar kamar , dia melihat ke arah sang suami yang masih terlelap dengan nyenyaknya .


" Tidur jam berapa dia tadi malam ? aku sampai melupakannya " gumam Ria dalam hati . Ia pun keluar dari kamar untuk mengambil wudhu dan masuk ke kamar lagi untuk melaksanakan sholat subuh .


Setelah selesai sholat dan berdzikir sebentar , Ria pun memilih keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk semua keluarganya yang ada di rumah itu .


Pagi ini Ria berencana memasak sayur sop , ayam goreng dan tempe goreng . Ria pun menyiapkan bahan - bahan yang ia perlukan .


Ibu Dewi yang sudah bangun dari tadi jam 2 pun keluar dari kamar Dinda dan berjalan ke arah dapur .


" Sudah bangun Ri ? " tanya Bu Dewi yang melihat Ria sedang mengupas wortel .


" Sudah Bu " jawab Ria singkat .


" Suami kamu mana ? sudah subuh lho ini " tanya Bu Dewi sambil masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya .


" Masih tidur bu " jawab Ria singkat lagi .

__ADS_1


" Suami kamu kayaknya baru tidur ya Ri ? soalnya jam 2 tadi ibu melihat dia ambil air wudhu . Katanya mau sholat tahajud . Tapi waktu ibu lihat matanya terlihat sangat lelah sekali seperti kurang tidur " ucap Bu Dewi yang keluar dari kamar mandi .


" Ria engga tahu bu . Setelah di tinggal keluar kamar tadi , Ria langsung tidur . Habis itu Ria engga denger apa - apa di dalam kamar . Mungkin dia begadang karena lagi banyak kerjaan bu " jawab Ria .


" Apa engga kamu bangunkan saja kasihan kalau terlambat sholat subuh ? " tanya ibu Dewi lagi .


" Biarkan saja bu , kasihan " balas Ria .


Tak berselang lama terdengar langkah kaki mendekat ke arah dapur . Terlihat wajah kucel Hendri yang sedang bangun tidur .


" Mas Hendri sudah bangun ? " sapa Ria .


" Pagi Ri , pagi Bu " jawab Hendri sambil berjalan menuju kamar mandi .


" Pagi nak Hendri " balas Bu Dewi yang sedang membantu Ria .


Setelah selesai Hendri pun keluar dari kamar mandi , " Yuda mana Ri ? dia engga ikut sholat di mushola ? " tanya Hendri .


" Masih tidur mas , kayaknya habis begadang deh . Kerjaannya banyak ya mas sampai harus begadang gitu ? Mas Hendri tadi malam tidur jam berapa ? " tanya Ria heran .


" Memang banyak kerjaan sih Ri , tapi sudah kami selesaikan sore tadi sebelum acara tahlilan . Sekarang belum ada lagi tuh kerjaan semua sudah beres . Aku tadi malam tidur sekitar jam 11 setelah Yuda pamit keluar kamar" balas Hendri .


" Kalau kerjaannya sudah selesai dari sore , kenapa tadi ninggalin aku dengan alasan untuk menyelesaikan kerjaan ? dan untuk apa dia sekarang begadang sampai malam kalau memang bukan untuk kerjaan ? " tanya Ria dalam hatinya .


" Tadi sore pamit sama aku mau nyelesaiin kerjaan sama Mas Hendri ? kenapa dia bohong ? " tanya Ria .


" Dia engga bohong Ri , tapi dia itu lagi galau karena kamu tidak segera memberi jawaban kepadanya soal kepulangan kita ke kota " jawab Hendri .


" Kalian sudah mau pulang ya nak Hendri ? " tanya Bu Dewi sedikit terkejut .


" Belum nak , mungkin nak Yuda lupa karena sedang sibuk banyak pekerjaan " jawab Bu Dewi sekenanya .


" Maafkan Yuda ya bu , dia emang suka begitu . Ini kalau boleh saya wakilkan saja ya , begini bu kami berencana mau pulang ke kota paling antara nanti malam setelah tahlilan atau besok pagi setelah subuh . Karena Yuda harus menghadiri meeting dengan rekan bisnisnya yang sudah beberapa kali di batalkan . Kali ini tidak bisa di batalkan lagi , kalau kami batalkan lagi mereka akan memeutus kontrak dengan perusahaan kami . Jadi dengan berat hati Yuda harus eegera pulang untuk menghadiri pertemuan itu . Maaf ya bu kami mendadak memberitahunya karena saya juga baru dapat kabarnya kemarin pagi dari bawahan saya " jelas Hendri kepada Bu Dewi .


" Ooo begitu , ibu sih tidak masalah nak . Malah ibu yang jadi tidak enak karena membuat banyak pekerjaan nak Yuda dan nak Hendri terhambat " bala Bu Dewi .


" Engga bu , memang kemauan kami sendiri kesini jadi konsekuensinya ya begini numpuk pekerjaannya " jawab Hendri sambil tersenyum .


" Berarti kamu harus ikut pulang juga Ri , kamu kan sudah jadi istri nak Yuda jadi kamu wajib ikut kemana pun suami kamu pergi " ucap Bu Dewi kepada Ria .


" Tapi Bu , Ria ingin - " ucapan Ria terpotong oleh Bu Dewi .


" Engga pakai tapi - tapian kamu harus mengikuti kemana pun suami kamu pergi . Kamu mau kan jadi istri yang sholehah . Jadi sekali ini dengarkan perkataan ibu " titah Bu Dewi . Hendri hanya terdiam melihat ibu dan anak itu beradu mulut .


" Tapi bu Ria kan masih mau di sini menemani ibu dan adik - adik . Apalagi ayah baru saja pergi meninggalkan kita masak Ria harus pergi juga " bantah Ria .


" Kamu ini susah sekali di nasihatinya . Ri , istri yang mau menurut dengan suaminya itu bisa mendapatkan pahala yang besar lho . Apalagi kamu mau dengan senang hati mengikuti kemana pun suamimu berada ganjarannya surga Ri . Kamu tidak mau kan ayah mu tidak tenang karena kamu membantah suamimu ? " ujar Bu Dewi lagi .


" Ibu jangan paksa aku , sekali ini Ria mohon ibu mau mendengarkan keinginan Ria " Ria yang kesal pun pergi meninggalkan sang ibu dan Hendri di dapur . Ria pun memilih masuk ke dalam kamar Dinda untuk menenangkan hatinya .


" Anak itu keras kepala sekali " keluh Bu Dewi .


" Sudah Bu tidak perlu di paksa , Tadi malam Yuda juga sudah berbicara dengan Ria secara langsung . Tapi sepertinya memang Ria belum mau ikut pulang dengan kami jadi jangan di paksa bu . Yuda sudah bersiap legowo kalau Ria menolak pulang dengan kami " ucap Hendri menenangkan Bu Dewi .

__ADS_1


" Tidak bisa begitu nak , ibu harus menasihati Ria . Walaupun nak Yuda tidak mempermasalahkan tapi yang namanya istri harus ikut dengan suaminya , harus melayani suaminya dan menjalankan kewajibannya sebagai istri kepada suaminya . Agar perjalanan ayah Ria di alam sana tidak berat nak " jawab Bu Dewi menerawang .


" Iya bu , Hendri paham . Tapi lebih baik untuk saat ini biarkan dulu bu . Jika nanti hati Ria sudah terbuka dia akan bisa memikirkannya dengan kepala dingin " balas Hendri lagi . Bu Dewi pun hanya menghela nafasnya dan ia hembuskan lagi dengan kasar .


" Sudah ya bu saya pergi ke mushola dulu takut sudah terlambat " pamit Hendri .


" Iya nak " jawab Bu Dewi singkat sambil tangannya masih mengupas bawang untuk bumbu .


Hendri pun pergi keluar rumah dan berjalan menuju mushola . Sedangkan Ria di kamar Dinda hanya diam termenung memikirkan semua perkataan sang ibu dan perkataan suaminya malam tadi .


" Mbak kenapa ? " tanya Dinda yang terbangun karena kepalanya di belai lembut oleh Ria .


" Kamu sudah bangun , bagaimana kondisi kamu ? " tanya Ria lembut .


" Aku sudah mendingan mbak setelah di periksa kemarin . Mbak Ria kenapa kok seperti yang lagi banyak pikiran ? " tanya Dinda heran .


" Ah , engga ada apa - apa . Mbak cuma mikirin kamu aja " kilah Ria .


" Mbak Ria engga usah khawatir aku sudah baik kok . Ini aku bangun juga mau ambil air wudhu buat sholat subuh " ucap Dinda sambil bangun dari rebahannya .


" Eh . . . kamu mau ngapain ? emang bener udah kuat ? jangan dipaksain kalau belum kuat Din " ucap Ria .


" Sudah kuat kok mbak . Aku sudah engga pusing lagi . Obat dari dokter kemarin manjur sekali ya mbak " balas Dinda sambil tersenyum .


" Ya sudah kamu hati - hati jalannya , apa perlu mbak temenin ? " tanya Ria khawatir .


" Tidak perlu mbak Dinda bisa sendiri " jawab Dinda sambil berdiri .


Dinda pun berjalan keluar kamar dan menuju ke kamar mandi . Ria masih diam membeku di atas ranjang Dinda memikirkan jawaban untuk pertanyaan suaminya itu .


" Ya Allah aku harus jawab apa ? apa yang aku harus lakukan . Satu sisi aku masih ingin berkumpul dengan keluargaku yang masih berduka ini tapi satu sisi aku juga tidak boleh membantah suamiku . Ya Allah tolong beri petunjukmu " gumam Ria dalam hati .


Dinda yang sudah selesai ambil wudhu pun masuk ke kamarnya lagi dna melaksanakan sholat subuh . Setelah selesai Dinda memilih merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang .


" Mbak Ria sedang mikirin apa sih ?" tanya Dinda .


" Engga mikirin apa - apa kok Din " jawab Ria .


" Mas Yuda mana mbak ? apa ikut ke mushola ?" tanya Dinda saat di dapur tadi sudah tanya ibu dan ibu sudah menjawabnya .


" Masih tidur Din , tadi malam begadang karena nyelesaiin pekerjaannya " jawab Ria bohong .


" Mas Yuda baik ya mbak . Kemarin waktu aku sakit , dia sering banget nengok ke sini dan selalu tanya kebutuhanku . Kayak Dinda kamu sudah makan ? Dinda kamu sudah minum obat ? Kamu butuh sesuatu engga Din , kalau butuh sesuatu panggil mas saja ya . Baik ya mbak mas Yuda . Perhatian sekali dengan kita " ucap Dinda . Ria hanya mengangguk lemah .


" Dinda sekarang yakin banget deh mbak kalau mas Yuda bisa membahagiakan mbak Ria dan menjaga keluarga kita . Seumpama nanti mbak Ria di bawa pergi dengan mas Yuda , Dinda engga keberatan . Dinda malah tenang sekarang kalau mas Yuda membawa mbak Ria . Mbak Ria jadi ada yang menjaga . Dinda , Ibu dan Mas Randi bisa kok hidup bertiga saja . Jadi kalau kapan mas Yuda mengajak mbak Ria pulang ke kota ikut saja mbak . Susah lho mbak dapet suami yang baik kayak mas Yuda . Apalagi orang tuanya juga baik sama kita dan sayang sama mbak Ria wah itu mah nilai plus " Dinda bercerita dengan sang kakak . Dia begitu senang dengan hubungan Ria dan Yuda .


" Kamu itu kalau sudah sembuh , cerewetnya kambuh lagi " jawab Ria gemas .


" Hehehe . . . sekarangkan Dinda sudah tidak sakit lagi . Kemarin juga mas Randi cerita kalau mas Hendri menasehati mas Randi agar Mas Randi siap menjadi kepala rumah tangga pengganti ayah . Kata Mas Randi , Mas Hendri siap membatu kalau mas Randi kesulitan . Dan sekarang mas Randi di suruh fokus belajar dan sekolah nanti setelah lulus Mas Randi di suruh ke kota untuk mencari pekerjaan , mas Hendri dan mas Yuda akan membantunya . Baik ya mbak mereka " ujar Dinda lagi .


" Iya mereka memang baik . Sudah ya ceritanya sekarang istirahatlah . Mbak mau nerusin masak sarapannya . Kamu istirahat saja ya , mbak tinggal dulu " balas Ria . Dinda pun mengangguk dan mendengarkan sang kakak .


Ria pun keluar dari kamar Dinda . Saat melewati pintu kamarnya dia berdiri diam termenung sambil memandangi pintu kamarnya itu .

__ADS_1


" Kenapa sikapmu sekarang berbeda dengan yang dulu ? Kenapa sekarang kamu baik sekali dengan keluargaku ? Kenapa sekarang jadi aku yang terlihat buruk ? Ya Allah engkau memang Maha membolak balikkan hati manusia . Apa aku ikut pulang ke kota saja ya ? Tapi keluargaku bagaimana ? " gumam Ria dalam hati .


__ADS_2