
" SAH ? "
" SAH !!! " seru semua orang yang berada di dalam ruang ayah Ria .
Ria yang tidak menginginkan pernikahan ini hanya bisa tertunduk diam sambil air matanya terus keluar mengalir membasahi pipinya . Dia merasa bimbang dengan pernikahan yang ia jalani ini . Di dalam hatinya dia hanya melakukan pernikahan ini hanya untuk memenuhi keinginan sang ayah .
Yuda yang menyadari jika Ria hanya terpaksa menikah dengannya pun hanya bisa memandangi Ria dalam diam .
" Aku akan membahagiakanmu dan menjagamu dan keluargamu . Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta kepadaku . Ini adalah sumpahku " gumam Yuda dalam hati .
Hendri yang juga menyaksikan kedua sahabatnya itu pun ikut bahagia . Ada rasa lega di dalam hatinya . Dan ada rasa kasian juga yang ia rasakan melihat Ria dengan terpaksa harus menikah dengan Yuda . Tapi Hendri yakin jika sahabatnya itu akan membahagiakan Ria .
Ibu dan kedua adik Ria pun bahagia melihat pernikahan Ria tersebut . Walau dengan derai air mata karena pernikahan terjadi dengan keadaan sang suami dan ayah yang tidaklah baik .
" Sekarang kalian sah menjadi pasangan suami istri . Pesan saya segera daftarkan pernikahan kalian ini agar tercatat di negara juga . Silahkan nak Ria boleh cium tangan suaminya " ucap sang penghulu . Ria yang mendengar pun sedikit tersentak . Dengan berat hati akhirnya Ria menuruti permintaan sang penghulu itu . Dengan ragu ia meraih tangan Yuda dan mencium punggung tangannya . Membuat semua orang yang berada di ruangan itu tersenyum bahagia . Yuda pun membalasnya dengan mencium kening Ria dengan lembut .
Tit Tit Tit Tiiiiiiit
Terdengar bunyi monitor alat detak jantung yang melekat di tubuh ayah Ria berbunyi dengan irama yang sangat cepat .
Dokter yang berada di ruangan itupun terkejut dan segera menangani ayah Ria yang tiba - tiba kondisinya memburuk .
Semua orang yang berada di dalam ruangan itupun ikut terkejut . Perawat yang mendampingi dokter lalu meminta semua orang yang ada di dalam ruangan itu untuk keluar sebentar .
" Ayah . . . ayah kenapa ? " teriak Ria histeris . Tangisnya pecah melihat kondisi sang ayah yang memburuk . Dia enggan untuk meninggalkan ruangan itu . Tapi dokter meminta untuk semua orang keluar agar ia bisa berkonsentrasi mennagani ayah Ria . Akhirnya Yuda memegang kedua bahu Ria dan memaksa mengajak Ria untuk keluar ruangan .
Ibu dan adik - adik Ria sudah di bantu Hendri berjalan keluar ruangan . Mereka tidak berhenti menangis . Mereka sangat takut kehilangan orang yang mereka sayangi itu .
" Bu , ayah kenapa bu ? kenapa kondisi ayah tiba - tiba memburuk Bu ? Dinda takut bu kalau ayah meninggalkan Dinda Bu " tanya sang putri bungsu kepada sang ibu dengan tangis tiada hentinya . Sang ibu hanya bisa memeluk hangat sang putri dan terdiam , hatinya terasa sesak dan ia tak kuasa melihat putra putrinya . Ibu mencoba untuk tegar dan kuat demi anak - anaknya . Beliau hanya diam dengan tatapan kosong . Di dalam diamnya ibu hanya melantunkan doa yang tak henti untuk sang suami tercinta .
Hendri yang duduk di samping mereka merasa pilu . Di sampingnya ada Randi adik laki - laki Ria yang terlihat menangis . Hendri mencoba untuk menyemangati Randi .
" Randi , kamu adalah anak laki - laki satu - satunya di keluargamu . Kalau Mas Hendri boleh memberi saran jadilah laki - laki yang kuat untuk keluargamu . Belajarlah untuk tegar menghadapi masalah dan cobaan hidupmu . Kamu harus bisa menjaga , melindungi dan membela keluargamu setelah ayahmu . Mas tidak melarangmu menangis tapi belajarlah untuk menyembunyikannya dari keluargamu . Sekarang kita adalah saudara , mas siap membantumu jika memang kamu membutuhkannya . Kau mengertikan ? " ucap Hendri kepada Randi sambil menepuk bahunya . Randi hanya mengangguk dan menghapus air matanya .
" Iya Mas terimakasih , aku akan belajar kuat demi ibu , mbak Ria dan Dinda " Randi pun mendengarkan nasihat dari Hendri sambil memandangi Hendri . Dia pun menghapus air matanya dan mencoba tersenyum .
Sedangkan Ria masih menangis tersedu - sedu di pelukan Yuda . Ria tidak sadar jika ia tengah di peluk hangat oleh Yuda . Dia merasa nyaman akan pelukan itu apalagi disaat hatinya tengah gelisah memikirkan kondisi sang ayah .
__ADS_1
Tak berselang lama dokter yang menangani ayah Ria pun keluar dari ruangan . Dengan wajah murung dan kepalanya sedikit tertunduk . Ria dan Yuda yang sedang berdiri di dekat ruangan itupun mendekati sang dokter .
" Bagaimana kondisi ayah mertua saya dok ? " tanya Yuda . Ria masih enggan membuka mulutnya karena masih syok . Ibu dan adik - adik Ria pun menyusul mendekat ke arah dokter itu .
" Maaf kan kami tuan , kami sudah berusaha semaksimal mungkin . Tapi sepertinya Allah berkehendak lain " ucap dokter itu lirih tapi masih bisa di dengar oleh semua orang yang ada di hadapannya itu .
" Maksud dokter ? " tanya Ria terkejut .
Dengan memandang sedih ke semua orang di hadapannya dokter pun menjawab , " ayah nona . . . kami nyatakan meninggal karena gagal nafas yang beliau alami . Maaf kan kami , kami sudah semaksimal mungkin menyelamatkan ayah anda . Kami turut berduka cita " .
JEEEDDDEEERRRR
Bagai di sambar petir semua keluarga terkejut dan terdiam mendengar penjelasan dari dokter itu .
" AYAH . . . . . ! ! ! " teriak Ria tiba - tiba dia langsung terkulai pingsan . Dengan sigap Yuda langsung menangkap tubuh Ria yang dengan tiba - tiba terjatuh pingsan . Yuda langsung menggendongnya dan membawanya ke ruangan yang kosong .
" Ayah . . . . !!!!" Dinda langsung lari masuk ke dlaam ruangan sang ayah . Di ikuti oleh Randi dan sang ibu . Hendri menemani keluarga Ria di dalam ruangan itu .
" Ayah . . . ayah bangun ayah . Ayah jangan tinggalin Dinda ayah . Dinda engga mau di tinggal ayah sendirian . Ayah bangun ayah " dengan derai air mata Dinda mengguncang - guncang tubuh ayahnya untuk mencoba membangunkannya . Sang ibu hanya bisa memandangi wajah pucat sang suami yang sudah ia temani separuh hidupnya itu dengan tatapan kosong . Randi pun memeluk tubuh ayahnya dengan air mata yang mengalir . Hendri mencoba menenangkan Randi dengan menepuk lembut punggung Randi .
Di ruangan lain Yuda sedang menemani Ria yang belum sadar dari pingsannya . Dokter masih memeriksanya .
" Bagaimana kondisi istri saya dok ? " tanya Yuda kepada dokter yang memeriksa .
" Nona Ria tidak apa - apa tuan . Dia sepertinya hanya syok saja dan sepertinya dia belum makan sesuatu jadi asam lambungnya naik tuan " jawab dokter .
" Iya dok , dari tadi pagi dia belum makan apa - apa " jawab Yuda .
" Ini saya infus tuan agar nona tidak terlalu lemah " ucap dokter lagi .
" Terserah dok , saya ikut pengaturan dokter saja " balas Yuda .
Saat perawat sedang memasangkan infus di tangan kiri Ria . Terdengar lirih suara Ria .
" Ayah . . . ayah . . . " lirih Ria saat sadar dari pingsannya .
" Ri , kamu sudah sadar ? " tanya Yuda sambil menggenggam tangan Ria .
__ADS_1
" Ayah saya dimana Tuan , kenapa saya ada di sini ? bagaimana kondisi ayah saya ? " Ria belum sadar penuh dia melupakan kondisi ayahnya .
Yuda yang tidak tega melihat kondisi Ria , dia hanya diam dan tertunduk saja .
" Tuan kenapa anda diam saja , bagaimana ayah saya ? " tanya Ria tidak sabar .
" Ayah . . . ayah . . . ayah sudah tidak ada Ri . Ayah sudah meninggal " jawab Yuda lirih sambil memandang sendu wajah istrinya .
" Anda berbohongkan tuan , ayah saya baik - baik sajakan ? saya mau melihatnya " balas Ria tidak percaya .
" Tidak Ri , saya tidak berbohong . Ayah sudah meninggal " jawab Yuda lagi .
" Anda bohong tuan . . . Anda bohong !!! " teriak Ria tidak terima .
" Saya mau menemui ayah saya !!!! " teriak Ria lagi .
" Jangan dulu Ri , infus kamu belum habis . Dan kondisi kamu belum stabil . Aku mohon dengarkan aku " cegah Yuda sambil menahan Ria yang memberontak mencoba melepas infus yang ada di tangannya .
" Lepaskan saya tuan , saya mau melihat ayah saya . Lepaskan !!!! " teriak Ria lagi .
" Ria aku mohon dengarkan aku . Aku akan membantumu tapi dengan satu syarat kamu harus mematuhiku " balas Yuda sambil memegang kedua bahu Ria dan menatap wajah Ria dengan serius . Ria yang merasa di pandangi membalas menatap mata Yuda sambil berurai air mata .
" Dengarkan aku , sekarang aku adalah suamimu . Kamu harus patuh kepadaku . Aku tidak melarangmu menemui ayahmu . Sekarang kondisi kamu kurang stabil , aku akan membantumu menemui ayahmu . Tapi aku mohon tenangkan dulu hati kamu dan pikiran kamu . Kamu mengerti ? " ucap Yuda tegas . Ria hanya menganggukan kepalanya .
Yuda pun keluar mencari kursi roda untuk membawa Ria menemui ayahnya . Setelah mendapatkannya Yuda segera membawanya dan menemui Ria .
Yuda membantu menggendong Ria dan meletakkan Ria di kursi roda dengan hati - hati . Ria yang masih merasakan lemas tidak memiliki energi lagi untuk membantah kemauan Yuda kepada dirinya .
Setelah semua sudah siap , Yuda mendorong kursi roda Ria dengan hati - hati menuju ke ruangan dimana jasad ayah Ria terbaring .
Saat mendekati ruangan Ria sudah mendengar tangisan dari keluarganya . Di ambang ruangan itu Ria bisa melihat jasad ayahnya yang tertutup dengan kain putih dan ada kedua adiknya menangis memeluk jasad sang ayah . Ria tanpa sadar meraih tangan Yuda untuk ia genggam . Yuda sedikit tersentak tapi dia menerima perlakuan Ria itu . Yuda tahu jika saat ini Ria sangat membutuhkan seseorang yang bisa menguatkan dirinya .
" Ayah . . . . . . . . . . " lirih Ria sambil tertunduk menangis . Dia merasa sangat kehilangan cinta pertamanya dalam hidupnya . Dunia Ria terasa runtuh .
# Halo reader terkasih semua . Kali ini mak author menyapa kalian . Mohon maaf ya reader terkasih , mak baru update karena padat dan sibuknya kehidupan nyata mak author . Mak minta maaf karena mak baru selesai punya hajat untuk anak - anak Mak . Semoga reader semua masih setia menunggu karya mak ini karena cerita YuRi belum selesai . Mak ga bisa janji bisa update setiap hari . Karena untuk menulis cerita YuRi ini , emak harus dalam kondisi godmood . Jadi dukung emak terus agar mood emak bagus dan bisa menulis kelanjutan cerita YuRi untuk kalian semua . Terimakasih kepada reader semua yang masih setia menunggu karya emak ya . . .
Salam terkasih Emak untuk reader semua
__ADS_1
ANDINI KP