Aku Menikahi Pria Dewasa

Aku Menikahi Pria Dewasa
Permintaan Sang Ayah


__ADS_3

Setelah mengendarai beberapa saat mereka memilih beristirahat terlebih dahulu . Hendri sudah menggantikan Yuda menyetir dari satu jam lalu . Mereka beristirahat sambil mengisi bahan bakar mobilnya .


" Ini kita sudah masuk daerah di alamat ini . Tinggal beberapa kilo lagi kita akan sampai di tujuan kita . Kira - kira kita perlu tidak membawa buah tangan untuk keluarga Ria di sana ? " tanya Hendri membuka pembicaraan .


" Ya kalau menurutku kita lebih baik sih membawa . Masak kita mau bertamu dengan tangan kosong . Tapi kita harus beli apa ya untuk keluarga Ria ? " balas Yuda sambil bertanya balik .


" Coba deh nanti kita cari toko oleh - oleh di jalan yang akan kita lewati " jawab Hendri sambil meminum kopi yang ia sudah beli di minimarket . Yuda hanya membalas dengan anggukan kepalanya sambil meminum kopi kesukaannya yang ia beli tadi juga .


" Ya sudah ayo kita lanjutkan lagi perjalanan ini . Aku sudah merasa cukup istirahatnya " ajak Yuda smabil beranjak dari duduknya .


" Ya sudah ayo " Hendri pun mengiyakan kemauan sahabatnya itu .


Mereka lalu berjalan menuju mobilnya yang sudah terisi penuh bahan bakarnya . Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Ria .


Di tengah perjalanan Hendri melihat ada toko kue yang agak modern . Dia pun menghentikan mobilnya di depan toko kue itu .


" Kita bawakan kue saja ya , daripada nanti di depan tidak ada toko lagi " Hendri menawarkan kepada Yuda , dan Yuda pun setuju . Hendri lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam toko . Yuda memilih menunggu di dalam mobil saja .


Setelah beberapa menit berlalu , Hendri pun keluar dari toko sambil membawa dua kotak kue dan roti yang ia beli tadi . Hendri masuk ke dalam mobil dan meletakkan kotak kue itu di jok tengah mobil itu .


" Kamu beli apa saja kok seperti terlihat besar kotak itu ? " tanya Yuda yang melihat Hendri masuk dan bersiap untuk mengendarai mobilnya lagi .


" Hanya beberapa macam kue dan jajanan pasar saja . Soalnya aku bingung harus beli apa" jawab Hendri sambil pandangannya fokus ke depan . Yuda pun hanya mengangguk lemah .


Setelah hampir satu jam mereka memasuki kawasan pedesaan . Mereka bingung harus ke arah mana lagi untuk mencapai alamat Ria itu . Masalahnya ponsel mereka tidak ada sinyal dan mereka tidak bisa memakai aplikasi peta lagi .


" Ini kita harus kemana ya lurus , belok ke kanan atau ke kiri ? ponselku tidak ada sinyal sama sekali jadi map ku tidak mau jalan . Gimana nih Yud ?" tanya Hendri yang bingung di sebuah perempatan dia harus belok ke mana . Hendri menengok ke kanan dan ke kiri saking bingungnya . Yuda pun tak kalah bingung juga .


" Aku juga tidak tahu harus belok kemana . Ponselku pun sama tidak ada sinyal sama sekali " jawab Yuda .


" Atau kalau tidak aku lurus saja dulu dan kita berhenti di pinggir jalan untuk bertanya kepada warga sekitar sini . Siapa tahu ada yang tahu alamat ini " Hendri pun menjalankan mobilnya lagi lurus ke depan dan mencari tempat yang sedikit luas di pinggir jalan agar mereka bisa parkir dan tidak mengganggu pengguna jalan yang lain . Yuda hanya pasrah dengan pengaturan yang Hendri buat .


Setelah mobil berhenti Hendri pun ingin keluar dari mobil tapi di cegah oleh Yuda .


" Sudah kamu tunggu di sini saja biar aku saja yang keluar untuk bertanya alamat ini " ucap Yuda .


" Oke terserah kamu saja " Hendri pun menyetujuinya . Yuda mengambil selembar kertas lalu dia keluar dari mobilnya itu . Yuda mencari seseorang yang bisa ia mintai pertolongan .


Yuda berjalan kaki dan menengok ke arah kanan dan ke kiri . Terlihat ada seseorang yang sedang berada di bawah pohon . Sepertinya seorang petani yang sedang beristirahat sejenak dan berteduh di bawah pohon itu . Yuda pun menghampiri petani tersebut .


" Selamat siang pak , permisi saya mau numpang tanya . Apa bapak tahu alamat ini ? " tanya Yuda dengan sopan dan dia pun berjongkok untuk mensejajarkan posisinya dengan bapak petani itu .


" Alamat opo tho Le ? ( alamat apa sih nak ? )" tanya balik si petani .


" Waduh si bapak pakai bahasa lokal sini . Mati aku mana ngerti aku dengan bahasa jawa " Yuda bergumam dalam hati .


" Ini pak alamat ini " Yuda memperlihatkan kertas alamat yang ia pegang .


" Dingapuro Le aku ora iso moco , kowe golek o wong liyo wae . Nek ora kae tak celukke anakku sik iso moco . Sik tunggu o neng kene tak celukke anakku sik . " ( "Maaf Nak aku tidak bisa membaca , kamu cari saja orang lain . Kalau tidak aku panggilkan anakku yang bisa membaca . Sebentar tunggu disini dulu aku panggilkan anakku dulu" . ) petani itu beranjak berdiri dan pergi meninggalkan Yuda yang sedang terdiam karena bingung dengan apa yang bapak itu katakan .


" Maksud bapak tadi apa ya ? aku sama sekali tidak paham dengan apa yang di bicarakan bapak itu " lirih Yuda sambil berdiri dan memandang bapak tani itu yang pergi ke ladangnya lagi .


" Tapi tadi ada kata "Sik tunggu o " apa aku di suruh menunggunya ya ? " gumam Yuda lagi yang sedang kebingungan dengan bahasa lokal bapak petani tersebut .


" Ah mending aku tunggu saja beberapa saat . Kalau dia tidak kembali aku akan pergi " Yuda memilih menunggu dan duduk di tempat bapak tani itu duduk tadi .


Tak berselang lama bapak tani itu kembali dengan membawa seorang anak laki- laki kira - kira umurnya sekitar 12 tahunan . Bapak itu mendekati Yuda lagi . Yuda yang melihat bapak tani itu kembali pun langsung berdiri dan tersenyum .

__ADS_1


" Iki lho Le wong sik bapak ceritake mau . Cobo kono tulungono ." ( " Ini lho nak orang yang bapak ceritakan tadi . Coba sana kamu bantu .") Si bapak tani menyuruh anaknya untuk membantu Yuda .


" Geh pak kulo bantune " (" Iya pak saya bantunya ") jawab si anak .


Anak itu pun menghampiri Yuda .


" Siang mas , kata bapak tadi njenengan minta tolong . Kira - kira apa yang bisa saya bantu ? " tanya si anak petani itu .


" Siang juga dik , maaf sudah mengganggu pekerjaannya . Tadi saya hanya ingin menanyakan alamat ini ke bapak tapi maaf saya tidak paham dengan bahasa yang bapak ucapkan . Saya mohon maaf ya . Saya mau tanya kalau ke alamat ini saya harus ke arah mana ya ? " ucap Yuda sambil menyodorkan selembar kertas yang di pegangnya .


Si anak petani pun meraih kertas itu dan membacanya , " Ooo kalau alamat ini mas nya silahkan lurus saja nanti kalau ada masjid di kanan jalan mas nya belok ke kanan terus ketemu pertigaan masnya langsung belok kiri saja sudah sampai di alamat ini mas " jelas si anak petani itu .


" Terimakasih banyak dik atas bantuannya . Sekali lagi saya minta maaf sudah mengganggu istirahat bapak dan pekerjaanmu . Saya permisi dulu ingin melanjutkan perjalanan lagi " ucap Yuda sopan .


" Sama - sama mas . Tidak apa - apa mas selama kami bisa membantu kami akan membantu kok . Silahkan kalau mau jalan lagi " balas anak petani itu .


" Sekali lagi terimakasih ya , permisi dulu " Yuda pun berbalik dan berjalan ke arah mobilnya .


Setelah sampai di mobil , Yuda lalu masuk dan langsung di todong pertanyaan oleh Hendri .


" Kenapa lama sekali menanyakan alamat saja ?" tanya Hendri .


" Jangan banyak tanya deh Hen , bapak yang aku tanyai dia memakai bahasa lokal sini dan aku mana paham dengan bahasa lokal begitu akhirnya mau tidak mau aku harus menunggu si bapak memanggil anaknya dulu untuk membantu . Sudahlah sekarang aku sudah tahu kita harus kemana . Ini kita lurus saja nanti kalau ada masjid di kanan jalan nanti kita belok ke kanan setelah itu ada pertigaan kita belok ke kiri nah kata anak itu di situ alamatnya " Yuda menjelaskan kepada sahabatnya itu . Hendri yang mendengarnya pun menahan tawa melihat raut wajah Yuda yang menurutnya lucu karena kesal dengan si bapak petani .


" Ya sudah kita lanjutkan jalannya . Dan rubah mimik wajahmu itu bikin aku geli tahu " goda Hendri .


" Diamlah aku masih sedikit kesal dan malu tahu " ujar Yuda . Membuat Hendri tidak bisa menahan tawanya lagi .


" Hahaha . . . Aku bisa membayangkan raut wajahmu tadi " tawa Hendri menggelegar di dalam mobil .


" Diamlah jangan memancingku lagi . Fokus aja sama jalan di depan " keluh Yuda lagi . Hendri hanya bisa menutup mulutnya dengan terpaksa .


" Itu masjidnya , sekarang kita cari gang masuk ke kanannya " ucap Yuda .


" Itu gangnya " Hendri pun membalas ucapan Yuda sambil membelokkan stir mobilnya ke arah kanan .


Mereka sudah masuk di sebuah perkampungan yang asri dan enak di pandang . Tak berselang lama ada pertigaan seperti yang di bilang anak petani tadi . Hendri pun menyalakan lampu sein kiri karena mau belok kiri .


" Kampung ini sepi sekali , dari tadi aku lihat tidak ada seorang pun yang berjalan atau mengendarai kendaraannya " ucap Yuda heran .


" Iya ya dari tadi juga kita jarang sekali berpapasan dengan kendaraan lain . Ini setelah belok ke kiri kita kemana lagi Yud ? " tanya Hendri bingung .


" Kata si anak tadi kalau sudah belok ke kiri berarti kita sudah sampai . Itu banyak orang di sana coba kamu berhenti di dekat situ aku akan mencoba bertanya lagi " ucap Yuda .


Hendri pun menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang sedang ramai orang . Setelah mobil berhenti , Yuda pun turun dan berjalan menuju teras rumah sederhana itu .


Ada beberapa orang yang sedang duduk di teras itu . Yuda pun mendekati orang - orang itu .


" Assalamualaikum selamat siang , permisi bapak dan ibu saya mau numpang tanya apa boleh ? " tanya Yuda .


" Waalaikumsalam walah ana cah bagus seko endi iki ? dandanan e iki lho koyo cah kutho wae " (" Waalaikumsalam ya ampun ada anak tampan dari mana ini ? penampilannya itu lho kayak anak kota saja " ) seru seorang ibu yang kagum oleh penampilan Yuda . Yuda memang terlihat sangat tampan dengan pakaian yang ia kenakan sekarang . Yuda memilih memakai pakaian santai untuk perjalanan ini . Ia memakai celana jeans panjang dengan kaos polos bermerek P*l* dengan topi yang menutupi kepalanya serta kacamata hitam yang ia kenakan serta sepatu kets putih menambah ketampanan seorang Yuda .


" Ealah Surti . . . Surti ora iso ndelok wong lanang bagus mesti kie lho heboh " (" Ealah Surti . . . Surti tidak bisa lihat laki - laki tampan selalu saja heboh ") seru ibu - ibu yang lain .


" Yo wes ben tho mumpung ndelok kui ijih gratis " (" Ya biarin dong mumpung lihat itu masih gratis ") balas ibu Surti itu lagi .


" Wes . . . wes mesti wong wedok loro iki lho senengane gelut wae . Kui lho mas e selak suwe nunggu . Kene mas tak ndelok alamat e " (" Sudah . . . sudah selalu saja dua wanita ini sukanya bertengkar saja . Itu lho mas nya sudah lama menunggu . Sini mas saya lihat alamatnya " ) pinta seorang bapak - bapak yang berada di situ . Yuda yang berdiri dari tadi hanya terdiam melihat percakapan orang - orang yang berada di depannya itu .

__ADS_1


" Ya ampun mereka itu membicarakan tentang apa ya ? aku sama sekali tidak paham dengan yang mereka ucapkan . Hen tolong aku " Yuda bergumam di dalam hatinya dan menengok ke arah mobilnya berniat memberi kode kepada sahabatnya itu . Sedangkan Hendri yang melihat raut wajah Yuda bisa menebak apa yang sedang sahabatnya itu alami . Hendri hanya tersenyum bahagia diatas penderitaan Yuda yang seperti sapi ompong di depan banyak orang itu .


" Hehehe . . . kasihan sekali sahabatku itu . Dia seorang CEO muda tapi melihatnya seperti itu tidak ada wibawanya seorang CEO . Dia seperti anak sapi yang kehilangan induknya . Lumayan hiburan gratis , kapan lagi lihat Yuda seperti orang bodoh seperti itu " Hendri berbicara sendiri di dalam mobil itu .


Yuda yang melihat Hendri tersenyum meledeknya bertambah kesal dengan sahabatnya itu , " beraninya dia menertawakanku awas kamu ya Hen , habis kamu " gumam Yuda dalam hati menahan kesal . Bapak - bapak itu menghampiri Yuda dan merehut kertas yang Yuda pegang , karena Yuda sudah terlalu lama diam . Yuda pun sedikit terkejut dengan ulah si bapak itu .


" Oalah mas alamat iki kan yo omah iki , kowe kui golek i sopo ? " (" Oalah mas alamat ini kan rumah ini , kamu itu mencari siapa ? " ) tanya bapak yang membaca alamat itu .


" Maaf pak bisa tidak memakai bahasa Indonesia saja . Maaf saya tidak paham dengan yang bapak ucapkan . Sekali lagi saya minta maaf saya bukan orang Jawa jadi maaf saya tidak mengerti bahasa jawa " ucap Yuda .


" Oalah cah kutho . Ya wes tak baleni . Alamat ini itu ya rumah ini kamu ke sini sedang mencari siapa ? " ( " Oalaha anak kota . Ya sudah aku ulangi . ) tanya bapak itu lagi .


" Maaf ya pak sudah merepotkan . Jadi alamat ini itu rumah ini ? saya kesini mau mencari Ria pak " ujar Yuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal karena menahan malu . Yuda juga sedikit terkejut karena alamat yang ia cari ternyata rumah sederhana yang ia singgahi untuk bertanya itu .


" Iya ini alamat rumah ini . Kamu temannya Ria dari kota ? Ria baru tadi malam sampai dari kota " tanya bapak itu lagi .


" Iya saya temannya pak , berarti Ria ada ya pak di dalam ? " tanya Yuda sungkan .


" Ria ada di dalam dengan keluarganya . Anak mau ketemu dengan Ria ? coba saya panggilkan Ria nya " ucap bapak itu lagi .


" Jangan dulu pak sebentar saya beri tahu teman saya dulu biar kami bisa bersama - sama ketemu Ria nya " Yuda mencegah si bapak untuk memanggil Ria . Yuda ingin memberi kejutan untuk wanita pujaan hatinya itu . Yuda pun berbalik dan bergegas memberi tahu Hendri . Yuda begitu bahagia mendengar kalau Ria ada di rumah itu .


" Hen , kita sudah sampai itu rumahnya Ria . Ayo cepat turun dan jangan lupa kue yang tadi kita beli tadi " Yuda mengajak Hendri untuk turun . Senyum bahagia Yuda terus mengembang . Hatinya kini mulai terasa ringan . Beban yang dari tadi ia pikirkan terasa lepas begitu saja . Hendri pun mengikuti keinginan Yuda . Hendri tersenyum melihat sahabatnya itu sudah tersenyum lagi .


" Aku senang melihatmu sudah tersenyum lagi seperti ini semoga kamu selalu bahagia bersama Ria " gumam Hendri dalam hati . Hendri pun turun dari mobil dan berjalan beriringan dengan Yuda .


" Ya ampun koncone wae yo ganteng e " ("Ya ampun temannya saja sama gantengnya ") ujar bu Surti lagi . Orang - orang yang mendengarkan celotehan bu Surti itu pun hanya menggelengkan kepalanya .


Hendri memang terlihat tidak seperti biasanya . Saat beristirahat tadi dia memilih berganti pakaian agar terlihat sopan . Walau tetap santai tapi Hendri mengganti celana pendeknya dengan celana jeans panjang dengan kaos polos dan ia tutupi dengan jaket denim . Tak lupa kacamata hitam kesayangannya . Dia juga memakai sepatu kets agar terlihat santai . Membuat penampilannya begitu kerennya .


Yuda dan Hendri pun sudah berdiri di depan pintu masuk . Mereka melepaskan sepatu dan di antar masuk oleh bapak - bapak yang memberi tahu tadi .


" Maaf ya nak kalau bisa jangan berisik ya , soalnya bapaknya Ria sedang sakit parah dan kayaknya waktunya sudah tidak lama lagi . Makanya kami para tetangga menunggu di luar sedangkan keluarganya semua menunggu di dalam kamar orang tua Ria " bisik si bapak kepada Yuda dan Hendri . Yuda dan Hendri pun sedikit terkejut dan saling pandang seakan tahu isi kepala mereka .


Bapak itu membukakan pintu kamar orang tua Ria . Hendri dan Yuda tidak ada yang bersuara . Di dalam terlihat seorang laki - laki sedang terbaring lemah dengan di kelilingi 3 orang wanita dan seorang anak laki - laki . Mereka semua sedang membacakan doa untuk ayah Ria . Yuda dan Hendri termenung diam melihat suasana di dalam kamar . Bapak yang mengantar mereka pun pergi meninggalkan mereka berdua .


Terlihat Ria berada di samping ayahnya yang membelakangi pintu sedang menangis dengan menggenggam tangan sang ayah .


" Ayah Ria mohon bangun ayah , Ria belum siap di tinggal ayah sendirian . Bangun ayah . . . Kalau ayah pergi nanti kami dengan siapa ? Siapa yang akan melindungi kami ayah " ucap lirih Ria . Yuda yang mendengarnya pun merasa pilu begitu juga Hendri .


" Ayah Ria mohon bangun ayah . . . kita ke rumah sakit yuk . . . Ria mohon turuti kemauan Ria , bangun ayah " ucap lirih Ria sambil dia menghapus air matanya yang tidak berhenti .


Tangan Ria merasakan gerakan dari sang ayah . Membuat Ria pun segera bangkit mendekati wajah ayahnya . Yang lain pun juga mendekat ke arah ayah Ria semua .


" Ayah sudah bangun . . . sekarang kita ke rumah sakit ya . . . " ucap Ria mencoba membujuk .


" Ri - Ria ka - kamu a - ada di - disini ? A - ayah ti - tidak apa - apa nak . A - ayah ha-hanya sakit ri - ringan saja ja - jadi ti - tidak per- lu ke ru - mah sa - kit " tolak sang ayah .


" Ria di sini akan menemani ayah dan merawat ayah . Ria tidak tega melihat kondisi ayah yang seperti ini " ujar Ria lagi .


" A - ayah hanya me- menginginkan se - sesuatu da- darimu nak . Da - dari du - dulu a- ayah selalu me-memimpikan bisa me - melihatmu menikah sayang . Sekarang waktu ayah tidak banyak nak . Kamu mau kan menikah sebelum ayah tiada ? " ucap sang ayah lemah .


" Ayah jangan berbicara seperti itu . Ayah akan segera sembuh . Dan ayah akan menyaksikan aku menikah nanti . Jadi sekarang ayah mau ya ke rumah sakit " ucap Ria lagi .


" Ti - tidak nak wa-waktu a-ayah sudah tidak banyak lagi . Ayah ingin melihatmu menikah agar ada yang menjagamu jika ayah tiada . Kabulkan permintaan ayah ya nak " ucap ayah Ria lagi .


" Ria akan mengabulkan permintaan ayah tapi bagaimana Ria akan bisa menikah ayah kalau laki - lakinya saja Ria tidak punya " jawab Ria .

__ADS_1


" AKU YANG AKAN MENIKAHIMU RIA "


__ADS_2