
Sholat berjamaah di mushola pun usai . Yuda dan Hendri berjalan bersama pulang ke rumah Ria . Di sepanjang perjalanan mereka hanya membicarakan tentang pekerjaan yang mereka tinggalkan . Hendri memberi laporan kepada Yuda .
" Yud , kita tidak bisa lama - lama di sini . Banyak meeting dengan klien dan kepala divisi yang tertunda . Aku sudah tidak bisa menjadwal ulang beberapa meeting karena sudah beberapa kali kamu batalkan . Aku masih bisa menjadwal ulang beberapa meeting maksimal 3 hari dari sekarang jadi sebelum 3 hari kita harus sudah pulang ke kota " ucap Hendri .
" Iya aku tahu Hen , tapi bagaimana dengan Ria ? apa dia mau ikut pulang bersamaku ? apa lagi kondisinya masih begini . Aku bingung Hen harus bagaimana ?" balas Yuda .
" Ya kamu bicara saja apa adanya . Kalau perlu ajak orang tuamu untuk berbicara dengan Ria dan keluarganya . Aku rasa sih mereka akan paham . Randi sudah siap kok kalau harus menjaga ibu dan Dinda seorang diri . Aku sudah banyak menasehatinya " ujar Hendri .
Yuda menghembuskan nafasnya , " baiklah akan aku coba bicarakan ini berdua terlebih dahulu dengan Ria . Semoga dia sudah mau menerimaku " ucap Yuda sambil tersenyum tipis .
Tanpa Yuda sadari Hendri melihat senyuman tipis Yuda itu . " Sepertinya ada sesuatu yang engga kamu ceritain denganku ya Yud ? kayaknya pagi ini terjadi sesuatu yang bikin kamu senyam sneyum begitu " goda Hendri .
" Eh . . . engga ada apa - apa kok Hen " jawab Yuda yang menahan malu . " Sudah yuk cepetan aku sudah lapar sekali " kilah Yuda sambil berjalan lebih cepat meninggalkan Hendri di belakang .
" Pasti terjadi sesuatu . Tapi sudah lah biarkan saja semoga ini awal yang indah buatmu Yud " lirih Hendri sambil memandangi Yuda yang berjalan menjauh .
" Ayo Hen , cepetan lama sekali " teriak Yuda membuyarkan lamunan Hendri yang memandang sendu sahabatnya itu .
" Iya - iya " Hendri pun berlari menghampiri Yuda .
Sesampainya di rumah , mereka pun sudah di tunggu oleh keluarga Ria untuk sarapan bersama .
" Assalamualaikum " ucap salam Yuda dan Hendri bersama .
" Waalaikumsalam , sini nak Yuda dan nak Hendri sarapan dulu . Makanannya sudah siap nih " ucap Bu Dewi .
" Iya bu terimakasih kami ganti baju dulu sebentar . Silahkan kalau mau duluan " balas Yuda .
" Baiklah " ucap Bu Dewi lagi .
Yuda dan Hendri pun masuk ke kamar mereka masing - masing untuk mengganti pakaiannya . Yuda mengganti pakaian yang lebih santai . Ia memakai kaos berkerah merk P**o dan memakai celana jeans pendek . Begitupun Hendri sama memakai pakaian yang lebih kasual . Sedangkan di ruang tengah , Randi terlebih dahulu mengambil makanan karena ke buru untuk berangkat ke sekolah . Dinda masih belum ikut kumpul karena masih merasa lemah . Ibu dan Ria menyiapkan minuman untuk Yuda dan Hendri . Keluarga yang lain yang menginap di situ pun ikut berkumpul untuk sarapan bersama .
Setelah selesai ganti pakaian Yuda dan Hendri pun keluar dan duduk bersama dengan keluarga Ria . Mereka duduk bersila beralaskan tikar menambah kehangatan keluarga ini .
Hendri mengambil makanannya sendiri sedangkan Yuda sudah di ambilkan oleh Ria yang di paksa oleh ibu untuk mengambilkan .
Mereka semua menikmati sarapannya dengan obrolan - obrolan ringan antar keluarga .
Yuda dan Ria yang duduk bersebelahan pun hanya saling diam dengan pikiran mereka masing - masing . Yuda masih merasa canggung atas kejadian tadi . Tapi untuk misi meraih hati Ria , Yuda pun berusaha mengajak berbicara Ria .
" Ri , maaf atas kejadian tadi . Aku benar - benar tidak sengaja dan aku tidak sadar . Maafkan aku ya " ucap lirih Yuda kepada Ria sambil melihat ke arah Ria .
" Tidak apa - apa ini salahku juga jadi tuan tidak perlu merasa bersalah " balas Ria tanpa melihat ke arah wajah Yuda . Ria menundukkan kepalanya karena merasa sedikit pusing . Dia mencoba menyembunyikan rasa sakitnya dihadapan sang suami .
" Kalau boleh setelah sarapan ini ada sesuatu yang mau aku bicarakan denganmu . Kamu mau kan meluangkan waktumu sebentar " pinta Yuda memelas .
" Mau bicara tentang apa ? aku tidak mau kalau hanya berdua saja . Apa lagi kalau bicara sesuatu yang tidak penting , aku tidak mau " ketus Ria lagi .
" Ini penting Ri , aku ingin berbicara berdua dulu nanti setelah aku mendengar jawabanmu baru aku akan bicara dengan ibu dan yang lainnya . Aku mohon sekali ini saja ikuti kemauanku ya Ri " Yuda memohon kepada Ria .
" Ya sudah nanti kita bicara setelah aku selesai mengerjakan pekerjaan rumah . Tapi aku tidak mau bicaranya di kamar " ucap Ria dingin sambil mencoba melihat ke arah Yuda .
" Iya nanti kita bicara di teras belakang saja . Beri tahu aku kalau kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu karena aku harus menyelesaikan pekerjaanku juga " Yuda sedikit merasa lega karena Ria sudah mau merespon dia . Yuda tidak menyadari dengan perubahan wajah Ria yang menjadi pucat karena tertutup rasa senang atas respon Ria kepadanya .
" Semoga ini awal yang baik untuk hubunganku dengan Ria " gumam Yuda dalam hati .
Mereka pun melanjutkan sarapannya . Setelah selesai sarapan , ibu dan Ria merapikan bekas sarapan mereka di bantu dengan keluarga wanita yang lain . Keluarga yang laki - laki sudah keluar ke teras depan untuk menikmati suasana pagi di pedesaan itu . Sedangkan Randi pamit untuk berangkat ke sekolah .
Hendri menawarkan untuk mengantar Randi ke sekolah memakai mobil tapi Randi menolaknya karena dia mau memakai sepeda saja . Akhirnya Hendri pun mengalah .
__ADS_1
Daripada tidak ada kegiatan Yuda mengajak Hendri untuk memeriksa pekerjaannya . Mereka memilih duduk bersama beralaskan tikar di ruang tengah rumah itu .
Hendri membuka laptopnya begitu juga Yuda . Ada beberapa email yang masuk dari bawahan mereka melaporkan kondisi kantor .
Sambil melihat ke arah laptopnya , Yuda juga memeriksa beberapa berkas yang di bawa Hendri kemarin . Saat bekerja begini Yuda lebih senang memakai kacamata . Sudah agak lama dia sedikit bermasalah dengan matanya kalau sedang membaca berkas . Mungkin pengaruh usia juga . Dengan memakai kacamata ketampanan Yuda tidak berkurang sedikitpun malah bertambah . Dia lebih terlihat dewasa dan bijaksana .
Mereka berdua sangat fokus dengan pekerjaannya . Sampai Sella sahabat Ria datangpun mereka tidak menyadarinya .
" Assalamualaikum " ucap Sella memberi salam .
Saat datang tadi dia sudah di persilahkan masuk oleh keluarga Ria yang berada di teras depan .
" Waalaikumsalam , Eh nak Sella sini masuk " balas Bu Dewi sambil membawa nampan di tangannya .
" Terimakasih Bi , apa kabar Bi ? " tanya Sella sambil mencium punggung tangan Bu Dewi .
" Alhamdulillah Bibi baik nak . Itu Ria ada di belakang masuk saja . Bibi mau mengantar sarapan dulu untuk Dinda ya " ucap Bu Dewi .
" Iya Bi terimakasih " jawab Sella sambil melihat ke arah Yuda dan Hendri yang sibuk dengan laptopnya masing - masing .
" Mas Hendri ganteng sekali kalau lagi bekerja seperti itu . Ah aku padamu mas " gumam Sella dalam hati yang terpesona oleh ketampanan Hendri . Bu Dewi yang melihat Sella melamun pun memberi tahu Sella .
" Mereka sedang bekerja , maaf ya kalau mereka tidak menyapamu mungkin baru fokus jadi tidak tahu sekeliling mereka " Bu Dewi memberitahu Sella yang sedang Hendri dan Yuda kerjakan .
" Eh iya tidak apa - apa . Aku ke Ria dulu ya Bi " pamit Sella .
" Iya sana " ucap Bu Dewi .
Sella pun berjalan ke arah dapur dan Bu Dewi pun masuk ke dalam kamar Dinda . Di dapur sedang banyak pekerjaan untuk persiapan tahlilan nanti malam , terlihat Ria sedang mencuci piring bekas sarapan mereka . Sedangkan keluarga wanita yang lain sedang menyiapkan bahan - bahan untuk di masak nanti buat acara .
" Assalamualaikum " sapa Sella .
" Waalaikumsalam " jawab orang - orang yang ada di dapur bersama .
" Aku ijin Ri , aku mau bantuin kamu buat acara nanti malam " ucap Sella yang berjalan mendekati Ria .
" Ah tidak usah repot - repot , banyak kok yang bantuin di sini . Ada bibi - bibi di sini sebentar lagi juga ibu - ibu tetangga juga akan datang . Kamu duduk saja yang manis di situ " ucap Ria yang masih mengerjakan pekerjaannya sambil menahan pusing di kepalanya .
" Kamu engga seneng nih aku bantuin . Ya udah aku pulang saja daripada di sini cuma duduk - duduk aja buat apa " Sella pura - pura merajuk .
" Jangan marah aku bukannya engga seneng kamu bantuin tapi pekerjaannya tidak banyak kok apalagi yang bantuin juga sudah banyak jadi kamu santai saja di situ " ucap Ria lemah sambil melihat ke arah sahabatnya itu .
" Iya iya aku tahu kok santai aja . Eh Ri , kok muka kamu pucet banget kamu belum sarapan ? " Sella khawatir melihat wajah sahabatnya itu pucat .
" Ah masak , aku sudah sarapan kok Sel . Tadi bareng sama keluarga yang lain " ucap Ria sambil mengalihkan wajahnya ke arah yang lain .
" Bohong tuh nak Sella . Ria memang tadi sarapan bareng kita tapi makannya cuma sedikit sekali . Padahal dari pagi tadi dia belum istirahat . Sudah bibi suruh istirahat tapi dia keras kepala sekali " ucap seorang wanita kepada Sella .
" Jangan dengerin Bibi . Aku sudah sarapan kok , tadi juga cuma masak aja jadi engga capek sama sekali jadi kamu engga usah khawatir ya" hibur Ria kepada Sella sambil dia meneruskan pekerjaannya dan menahan sakit kepalanya yang bertambah sakit .
" Kamu jangan bohong Ri , aku tahu bener sifat kamu . Sudah taruh kerjaan kamu ini , sekarang kamu istirahat nanti biar nanti aku teruskan " pinta Sella .
" Aku tidak apa - apa Sel , kamu tidak perlu khawatir " ucap Ria sambil melihat ke arah Sella . Dan tiba - tiba pandangannya pun menjadi gelap dan badannya pun terkulai di lantai . GROMPYANG . . . penggorengan yang sedang di pegang Ria pun terjatuh ke lantai .
" RIA . . . RIA . . . Bi tolong Bi tolong . . . " teriak Sella yang terkejut dan reflek menahan badan Ria agar tidak terbentur apa - apa .
" Astaghfirullah . . . neng Ria neng . . . kenapa neng Ria ? " para wanita yang ada di dapur itupun berlari mendekat ke arah Sella dan Ria .
" Engga tahu Bi . . . tolong bantu aku angkat ke kamarnya " ucap Sella .
__ADS_1
Yuda dan Hendri yang mendengar keributan dari arah dapur pun kaget .
" Suara apa itu Hen ? " tanya Yuda pada Hendri .
" Engga tahu Yud , kita lihat dulu " ajak Hendri .
Mereka pun langsung berlari ke arah dapur . Dan mereka melihat para ibu - ibu itu sedang mengerumuni Ria .
" Ada apa ini ? Hah Ri . . . Ria . . . kenapa dia ? " Yuda terkejut karena melihat Ria yang terkulai lemah di lantai dengan kepalanya di sangga oleh lengan Sella .
" Kami engga tahu Mas , tadi tiba - tiba Ria pingsan . Tolong mas angkat ke kamar dulu kasihan di sini dingin sekali " ucap Sella panik .
Yuda pun mengangkat tubuh mungil Ria sendirian dan dia membawanya ke dalam kamarnya .
" Ri . . . Ria bangun Ri . . . Hen tolong carikan dokter " Yuda panik melihat sang istri yang terlihat pucat sekali . Hendri pun segera keluar untuk mencari dokter .
Ibu yang sedang di kamar Dinda pun keluar karena mendengar keributan . Ibu melihat ke arah kamar Ria yang banyak orang .
" Ada apa ini kok ramai - ramai di sini ? " Bu Dewi belum melihat kondisi Ria . Ia pun masuk ke dalam kamar Ria dan melihat Ria terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang . Bu Dewi pun mendekati Yuda yang duduk di ranjang smaping Ria .
" Ria kenapa nak Yuda ? " panik Bu Dewi .
" Yuda juga tidak tahu bu . Tadi tiba - tiba pingsan di dapur " ucap Yuda takut .
" Tadi engga kenapa - kenapa kok kelihatannya " ucap Bu Dewi .
" Iya bu , saya juga bingung dan takut . Ada minyak kayu putih atau aroma terapi tidak ya ?" tanya Yuda . Wajah Yuda sangat ketakutan , dia khawatir dengan kondisi istrinya itu .
" Sebentar Bibi ambilkan " ucap salah seorang wanita .
Yuda mencoba menggosok - gosok telapak tangan Ria .
" Ri bangun Ri . . . jangan bikin takut kami Ri . . . Ria bangun . . . " ucap Yuda sendu .
Sella yang masih terkejut hanya bisa menangis melihat kondisi sahabatnya itu . Bu Dewi yang melihat kondisi putrinya pun terlihat lesu . Ia duduk di samping ranjang Ria memandangi wajah pucat putrinya .
" Ini nak Yuda minyaknya " seorang wanita menyodorkan minyak kayu putih kepada Yuda .
" Terimakasih Bi " Yuda pun mengambil minyak itu dari tangan wanita tersebut lalu segera mengoleskannya di bawah hidung Ria dan telapak tangan dan kaki Ria .
" Ri . . . Ria bangun sayang . . . Ria please bangun . . . jangan buat aku takut begini " ucap Yuda khawatir . Semua orang yang mendengar ucapan Yuda merasa senang . Bu Dewi pun tanpa sadar meneteskan air matanya mendengar ucapan tulus dari sang menantu .
" Ayah . . . ayah . . . " ucap lirih Ria yang tersadar dari pingsannya .
" Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang " tanpa sadar Yuda langsung memeluk Ria dan mengucapkan kata - kata manis di depan banyak orang .
Ria yang belum sadar penuh tidak menolak perlakuan Yuda kepadanya .
" Aku senang kamu sudah sadar . Apa yang sakit ? Kenapa kamu sembunyikan rasa sakitmu ? jangan bikin aku takut lagi sayang " ucap Yuda yang masih belum sadar banyak orang dan masih memeluk lembut istrinya itu .
Hendri yang baru selesai mencari dokter pun masuk bersama dokternya dan melihat Yuda sedang memeluk Ria dan dilihat oleh banyak orang . Orang - orang yang melihat adegan Yuda pun tersenyum .
" Ehem . . . ehem Yud . . . " Hendri berdehem memberi isyarat pada sahabatnya itu .
Yuda pun sadar dan melihat ke semua orang yang sedang melihatnya . Yuda pun merasa malu , lalu ia meletakkan badan Ria lagi dengan hati - hati . Dokter pun segera memeriksa kondisi Ria . Yuda berdiri dan menunduk malu disampingnya terlihat Bu Dewi tersenyum melihat tingkah menantunya . Bu Dewi pun memeluk Yuda dan berkata ,
" Terimakasih banyak nak sudah mau mencintai anak ibu dengan tulus . Ibu sekarang lega karena Ria sudah menemukan orang yang pantas untuknya . Terimakasih ya nak . . . terimakasih " ucap Bu Dewi sambil berurai air mata di dekapan Yuda .
" Yuda yang seharusnya berterimakasih bu . Karena ibu sudah melahirkan wanita secantik dan sebaik Ria untukku . Terimakasih juga ibu sudah percaya denganku . Selalu doakan aku ya bu agar Ria sepenuhnya bisa menerimaku " balas Yuda sambil membalas memeluk sang ibu mertua dengan hangat .
__ADS_1
" Pasti nak ibu akan selalu mendoakanmu dan Ria . Tolong jagalah dia sampai kapanpun . Bersabarlah dengan segala sifat kerasnya . Ibu percaya kamu pasti sanggup nak " ucap Bu Dewi lagi masih menangis .
" Iya bu pasti . Sekarang ibu tidak boleh menangis lagi . Ibu harus selalu bahagia karena sebentar lagi anak ibu juga akan hidup bahagia bersamaku itu janjiku padamu bu " ucap Yuda sambil melepas pelukannya dan menghapus air mata sang mertua dengan tangannya . Bu Dewi pun tersenyum dengan perlakuan Yuda kepadanya .