
Zahra meremas jari jemarinya kini ia sedang duduk di bangku yang terletak di depan ruangan dimana Zahira sedang di periksa.
Bagas mengelus pundak Zahra seakan ia mengatakan "semua akan baik-baik saja "
Banyak pertanyaan yang muncul di kepala Zahra. ia masih membayangkan keadaan Zahira .
"kak"
"apa sebaiknya kita kabari ayah? "
ucap Zahra
"iyah sebaiknya kamu kabari ayah, sebab dia harus tahu"
tutur Bagas.
Zahra pun mengambil ponsel miliknya di dalam tas yang ia sandang.
ia pun mencoba menelepon sang ayah.
"Assalamualaikum ayah"
"yah Zahra sekarang ada di kota B. dan ,dan Zahra sedang berada di rumah sakit Bintang Harapan. "
"Zahra ga apa-apa ayah, Zahra bakal jelasin kalau ayah sudah disini. biar Zahra telepon kak Eza buat anterin ayah kesini "
"iyah ayah. ayah hati-hati "
Zahra pun menutup sambungan teleponnya.
"bagaimana? "
tanya Bagas yang kini berdiri di samping Zahra.
"Zahra coba hubungi kak Eza buat anterin ayah"
Zahra masih berkutat dengan ponselnya.
sekitar 20 menit berlalu dokter yang menangani Zahira akhirnya keluar dari kamar, dimana Zahira di rawat.
Zahra sontak beranjak dari duduknya
"bagaimana kakak saya dok? "
"kakak kamu mengalami pendarahan, kondisinya masih lemah dan pasien belum sadarkan diri"
ucap dokter cantik yang menangani Zahira
"boleh saya masuk dok? "
tanya Zahra dengan ekspresi gusar.
"boleh, silahkan "
Zahra pun bergegas masuk, terlihat Zahira sedang terbaring dengan selang infus menghiasi tangannya.
wajahnya terlihat pucat. Zahra tak hentinya memandangi perut Zahira yang membesar.
"apa yang terjadi sama kamu kak? "
ucap Zahra lirih.
Bagas hanya memperhatikan Zahra tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Zahra duduk di samping tempat tidur Zahira, tangannya perlahan mengelus tangan Zahira.
ada rasa khawatir, marah, sedih bercampur menjadi satu di dalam diri Zahra. sampai ia tak tahu harus bagaimana mengekspresikan perasaan yang sudah tercampur itu.
…
Jam menunjukkan pukul 9 malam Bramantio baru saja kembali dari kantor dengan wajah lesu. langkahnya memasuki rumah megahnya.
"baru pulang mas? "
sapa Sinta
"iyah mah"
"Zahra hari ini datang kesini ga mah? "
Tanya Bramantio penasaran sebab ponsel Zahra susah untuk di hubungi bahkan saat Bramantio ke resto, Zahra tak terdapat disana.
"Zahra ga ada kesini pah? "
"emang kenapa pah? "
Sinta memperhatikan suaminya
"papah ga dengar kabar Zahra seminggu ini, tadi papah ke resto Zahra juga ga ada mah"
"iyah ya pah, mamah juga mikirnya begitu"
__ADS_1
Saat keduanya sedang memikirkan Zahra tiba-tiba ponsel milik Bramantio berdering
tertera di layar ponselnya nama Eza.
"halo Za"
"Hah dirumah sakit? "
"pak Adam bagaimana? "
"iyah-iyah papah sama mamah akan segera kesana"
Sinta yang mendengar percakapan suaminya pun turut penasaran.
"ada apa pah? "
"Zahira masuk rumah sakit ia pendarahan. "
tutur Bramantio
"Zahira? "
Sinta keheranan mendengar nama tersebut
"iyah Zahira, Eza bilang Zahra bertemu dengan Zahira sekarang Zahira di rumah sakit di kota B"
ucap Bramantio
"berarti Zahra berada di kota B? "
"iyah mah, sudah ayo kita bersiap-siap kesana papah khawatir sama Zahra"
Bramantio pun segera bersiap-siap untuk pergi sementara Sinta hanya mengikutinya
…
"Sayang, kamu ga lapar?"
"kamu belum makan malam loh"
ucap Bagas.
"Zahra ga lapar kak, "
Zahra tidak menoleh
"kamu harus makan, entar kamu sakit"
"Yaudah kamu tunggu disini kakak cari makanan yah"
Bagas berusaha membujuk Zahra namun Zahra hanya mengangguk.
Bagas pun meninggalkan Zahra di dalam kamar bersama Zahira.
Sementara Zahra pikirannya berkecamuk memikirkan tentang Zahira. ia masih bingung dan khawatir akan keadaan Zahira.
tiba-tiba jari telunjuk milik Zahira perlahan bergerak.
"Ibu "
ucapnya perlahan bahkan nyaris tak terdengar.
"Kakak"
ucap Zahra ia pun perlahan bangkit dari dudukny saat sayup terdengar suara Zahira memanggil ibu.
"Zahra, aku dimana? "
tanya Zahira saat ia melihat Zahra dengan pandangan sedikit kabur, namun ia yakin itu adalah Zahra walau penglihatannya belum jelas.
Zahira kembali mengerjapkan matanya.
"Kakak di rumah sakit, tadi kakak pingsan"
ujar Zahra
"pingsan? "
Zahira mencoba mengingat kejadian itu.
"iyah kak"
"Ra, ibu sama ayah dimana? "
seketika Zahira menanyakan kedua org tuanya, tangannya menggenggam tangan Zahra.
ada rasa marah di hati Zahra saat melihat Zahira menanyakan perihal sang ibu. namun, ia juga sedih saat ia tahu Zahira belum mengetahui jika ibu mereka sudah tiada.
"ayah sekarang tinggal bersama ku kak di Kota A, dan ib…ibu"
kalimat dari bibir Zahra terhenti ia tak sanggup mengatakan kebenaran itu.
__ADS_1
"ibu kemana Ra? "
Zahira mengguncang tangan Zahra
"ib…ibu sudah tiada kak, ibu sudah pergi meninggalkan kita"
ucap Zahra pelan tanpa menatap Zahira.
"ibu sudah meninggal Ra? "
"ga mungkin kan Ra, kamu bohongin aku kan Ra"
"serius Zahra ibu kemana? "
Zahira tak percaya dengan apa yang di ucapkan Zahra.
"Aku ga bohong ka, aku ga mungkin bercanda soal ibu. ibu meninggal karena kecelakaan. "
Zahra meninggikan nada suaranya,ia kesal Zahira tidak percaya padanya.
"kecelakaan? "
"ba…bagaimana bisa Ra? "
air mata Zahira tumpah saat mendengar kabar itu.
"bisa kak. ibu meninggal di dalam perjalanan menuju bandara. malam itu ibu dan ayah mengejarmu …"
Zahra menceritakan semua kejadian di malam itu. air matanya tumpah saat pikirannya memflashback kejadian itu.
Pilu, sudah pasti. Siapapun akan merasakan hancur saat seseorang yang sangat berharga bagi kita, pergi meninggalkan kita untuk selamanya.
bahkan kerinduan yang paling menyakitkan adalah rindu kepada seseorang yang sudah meninggalkan dunia ini.
bahkan Zahra tidak memikirkan kondisi Zahira yang baru sadar ia terus menceritakan semuanya pada Zahira.
mungkin hal yang terjadi pada ibunya itu sudah takdir namun bagaimanapun juga hal itu terjadi karena ke egoisan Zahira.
"Ra… aku yang bunuh ibu Ra"
"aku yang buat ibu meninggal Ra"
Zahira berteriak histeris airmatanya membasahi wajah putihnya
"Aku ga maafin diriku sendiri Ra"
"ibuuuu"
"Zahira minta maaf bu, Zahira jahat sama ibuuu"
teriaknya tanpa henti.
Zahra menarik Zahira kepelukannya .
"Cukup kak Cukup! "
"bahkan kakak berteriak hingga suara kakak hilangpun, itu ga bisa mengubah keadaan"
Zahra menenangkan Zahira airmatanya juga tak dapat di bendung.
"Ra, aku sudah membunuh org yang sudah mempertaruhkan nyawanya demi aku Ra"
"Tuhan ga akan memaafkan aku Ra"
perlahan suara Zahira melemah, namun suara isakannya masih terdengar bahkan lebih pilu.
"aku jahat Ra"
Zahira tak hentinya mengutuk dirinya sendiri.
Sementara Bagas, ia melihat hal itu namun ia memilih tetap berdiri di ambang pintu.
ia tak ingin mengganggu kedua kakak beradik itu. tanpa ia sadari air matanya pun menetes.
"Lantas kakak akan melakukan apa? "
teriak Zahra saat Zahira tak berhenti meratapi hidupnya.
"Menyesal juga ga akan berguna kak"
"Aku juga marah sama kakak, kalau bukan karena ayah aku juga ga akan mau mencari kakak"
Zahra justru menangis ia bahkan tak tahu harus bagaimana menumpahkan rasa sakit hatinya .
bersyukur saja Zahra masih memiliki iman dan mengingat sang ayah yang terus bersedih bahkan hampir setiap malam memanggil nama Zahira dalam tidurnya.
hal itu membuat Zahra harus berbesar hati mencari Zahira.
tubuh Zahira perlahan kembali lemas. Zahira kembali tak sadarkan diri di dalam pelukan Zahra.
………………
__ADS_1