Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
96 menjadi kepikiran


__ADS_3

Hari ini Zahra dan Eza sedang berada di salah satu butiq langganan Bramantio.


Zahra sedang mencoba gaun yang akan di kenakan besok di acara pernikahan Bramantio.


Sebab esok hari adalah hari pernikahan Bramantio dan juga Sinta, setelah 1 minggu persiapan.


"kakak tampan ga? "


tanya Eza sambil mencoba baju kemeja yang bermotif batik yang nemiliki warna putih dengan kombinasi biru.


"ga, biasa aja !"


sahut Zahra datar


"kamu itu kalau ga ada maunya ga pernah mau muji"


sahut Eza


"Lagian kakak kepedean banget"


Zahra baru saja melepaskan gaun yang memiliki warna senada dengan baju kemeja milik Eza yaitu putih biru.


"harus lah. kita itu harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi"


Sahut Eza lantang


"yah Tapi ga ketinggian juga kali kak. entar jatuhnya jadi kayak ga punya malu"


Zahra tertawa lepas, Eza hanya melirik horor ke arahnya.


"eh kak? "


tanya Zahra


"apaan? "


Eza menatap Zahra malas


"biasa aja ih liatinnya"


"Zahra mau cerita nih ke kakak"


Eza pun mendekati Zahra yang kini duduk di sofa.


Sementara Bramantio dan Sinta tengah membeli sesuatu yang menurut penuturan mereka untuk acara esok.


"cerita apaan? "


Eza mengernyitkan keningnya


"kakak ingat kan sama kakaknya Zahra? "


tanya Zahra


"Ehmm si Zah…Zahara bukan? "


"Is Zahira kak"


protes Zahra


"nah itu Zahira"


"yah kakak ingat lah, emang kenapa? "


tanya Eza antusias, sepertinya Eza adalah tipikal cowok yang seru jika di ajak ghibah bersama.


"Bantuin Zahra cari dia yuk kak"


ajak Zahra


"mau cari kemana Zahra, dia aja kabur ke luar negri. masalahnya negri mana yang di kunjungi sama dia "


Zahra terdiam mendengar penuturan Eza


Eza benar bahkan tidak ada yang mengetahui dimana Zahira pergi.


"emang kenapa kamu mau cari dia?"


tanya Eza sambil menatap lekat wajah Zahra


"Ehmm gak kak. ga kenapa-kenapa "


"udah yuk, keburu papah datang"


Zahra beranjak dari duduknya, ia enggan menceritakan lebih lanjut apa yang sebenarnya ia pikirkan.


Eza hanya diam melihat Zahra. ia merasa jika Zahra sedang memikirkan sesuatu.



kini Zahra sudah berada di sebuah gedung yang di sewa Bramantio untuk acara esok.


menurut penuturan Bramantio acara ini adalah acara sederhana, namun menurut Zahra ini sangat mewah.


wajar saja hal sederhana bagi Bramantio sudah termasuk hal mewah bagi seseorang seperti Zahra.


Bramantio sedang memandangi Zahra yang sedang duduk sendirian di pojokan gedung.


putrinya sejak tadi terus melamun. Zahra yang terbiasa selalu heboh kini berubah menjadi pendiam.


bahkan ia enggan berbaur dengan Eza dan Rianda.


perasaan Zahra kini merasa hambar, entahlah apa yang membuatnya menjadi seperti ini.


suasana di gedung ini masih terasa sepi walaupun sudah banyak yang hadir.


"anak papah kenapa disini, hmm"


Bramantio duduk di samping Zahra


"papah. Zahra cuma duduk pah"


Zahra tersenyum seperti di paksa

__ADS_1


"kamu sakit? "


Bramantio menempelkan punggung tangannya di kening Zahra


"tidak pah, Zahra cuma sedikit lelah"


"apa kamu ga bahagia papa akan menikah? "


pertanyaan Bramantio membuat Zahra seketika menoleh


"bukan pah, kenapa papah mikirnya begitu? "


"soalnya papah liat sejak dari butiq sampai ke gedung kamu lebih banyak diam dan melamun"


"papa rasa kamu tidak bahagia"


wajah Bramantio berubah menjadi sendu


"papah, Zahra bahagia banget. "


"Zahra cuma sedikit lelah pah"


ucap Zahra meyakinkan Bramantio


"apa yang kamu pikirkan? "


tanya Bramantio


"Zahra tidak memikirkan apapun pah."


"yasudah kalau ada masalah kamu cerita ke papah yah, papah tinggal dulu soalnya masih banyak yang harus papah urus"


Bramantio mengelus surai rambut Zahra.


"iyah pah"


……………


Suasana pagi yang sangat cerah dengan iringan kicauan burung.


sinar mentari yang menghangatkan seisi bumi serta di sambut lambaian dedaunan karena tiupan angin.


Zahra berdiri di dekat jendela kamarnya yang menghadap langsung ke timur.


matanya sedikit mengantuk karena malam tadi sukar untuk di bawa tidur. selain ia belum terbiasa dengan kamar barunya ia juga memikirkan keberadaan Zahira.


sejak malam tadi Zahra menginap di rumah Bramantio. di rumah Bramantio juga tersedia kamar khusus untuk Zahra.


namun Zahra belum pernah menempatinya bahkan baru malam tadi ia masuk ke dalam kamar ini. kamar dengan nuansa pink yang terdapat hiasan boneka besar di sudutnya menambah kesan ceria di dalam kamar ini.


Zahra tak pernah tahu papannya menyiapkan kamar ini untuknya.


Kini Zahra sudah bersiap untuk acara hari ini. ia mengenakan gaun yang kemarin ia ambil dari butiq bersama Eza.


karena hari ini adalah hari resepsi pernikahan Bramantio dan Sinta.


ia sangat anggun mengenakan gaun itu. gaun panjang berwarna putih biru, hingga ujung gaunnya bisa menyapu lantai bahkan Zahra harus mengangkat ujung gaun tersebut jika hendak berjalan.


hiasan kalung berinisial Z yang di berikan Bagas untuknya melingkar sempurna di leher jenjangnya yang putih. serta tatanan rambut yang di gulung namun menyisakan beberapa helai di depannya yang di padukan dengan hiasan make up yang soft membuat dirinya tampak elegant.


Zahra berjalan keluar kamarnya, terlihat di ruang keluarga sudah banyak saudara papah yang sudah hadir.


tentu saja semua keluarga Bramantio sudah tahu siapa Zahra. namun Zahra sendiri belum terlalu hapal dengan keluarga papanya.


"Wah Zahra, kamu cantik sekali "


Puji tante Mike istri dari Om Yuda adik kandungnya papah


"terimakasih tante"


Zahra tersenyum


"tante kapan datang? "


Zahra menghampiri tantenya dan memeluknya.kemarin tantenya ini belum ada d isini.


"jam 4 subuh tadi "


"kamu masih tidur jadi ga tahu deh"


ujar Mike


"Ahahaha iyah tante Zahra sampai ga tahu kalau tante datang"


Zahra nyengir kuda


"ah iya ga apa-apa "


"kamu cari siapa?"


tanya Mike


"cari papah tante. papah dimana yah?"


"papah kamu masih di kamar "


Mike tersenyum, ia merasa senang memiliki keponakan seramah Zahra tidak seperti Vera dahulu yang sombong .


"Oh. Zahra mau ketemu papah dulu yah tante"


Zahra pamit hendak menemui Bramantio.


ia menaiki anak tangga menuju kamar Bramantio, dengan hati-hati Zahra menaiki satu persatu anak tangga. ia takut gaun yang ia kenakan akan terinjak dan bisa membuatnya terjatuh.


"tok…tok…tok"


"papah"


panggil Zahra


"masuk lah sayang"


suara Bramantio terdengar

__ADS_1


"papah sudah siap? "


Zahra melangkah masuk,terlihat Bramantio sudah mengenakan baju akad yang bernuansa putih.


"sudah sayang"


"anak papah cantik banget"


puji Bramantio


"ah papah bisa ajah"


Zahra tersipu malu atas pujian sang papah.


"iyah kamu itu cantik banget sama seperti ibumu"


ucap Bramantio memandangi Zahra


"yah papah malah sebut ibu, Zahra kan jadi kangen"


Zahra mencebikkan bibirnya, kini ia duduk di sofa tepat di samping Bramantio.


"maafin papah, Abisnya kamu mirip banget sama ibu kamu"


Bramantio tersenyum


"iyadeh pah"


Zahra menatap lekat wajah Bramantio. banyak yang bilang wajah Zahra sangat mirip dengan wajah Bramantio.


"papah bahagia kan? "


tanya Zahra tiba-tiba


"papah sangat bahagia sayang. apa kamu bahagia papah akan menikah? "


Bramantio membalikkan pertanyaan Zahra.


"Zahra bahagia kok pah, sangat bahagia"


"Zahra harap papah selalu bahagia selamanya dan semoga mamah Sinta bisa menjadi sumber semangat papah"


"mamah? "


ulang Bramantio


"iyah pah, mulai sekarang bu Sinta kan mamahnya Zahra "


Bramantio yang mendengar hal itu pun tak hentinya tersenyum.


"papah juga berharap kamu bisa bahagia nak, "


"papah juga berharap kamu selalu terbuka sama papah atas masalah yang kamu hadapi "


Bramantio sengaja mengatakan hal itu karena ia tahu Zahra sedang memikirkan sesuatu.


sebab sejak kemarin ia terlihat termenung bahkan tidak ceria. Zahra lebih banyak menyendiri.


"Ehmm. Aaa Zahra bakal terbuka kok pah"


Zahra sedikit gugup saat Bramantio menatapnya.


"jangan berbohong sayang, papah tahu kamu sedang ada masalah. kamu boleh cerita ke papah"


"tapi pah, ini sudah waktunya kita berangkat ke gedung"


Zahra berusaha mengalihkan pembicaraan


"papah tidak akan pergi sebelum kamu cerita ke papah apa yang sedang kamu pikirkan"


"papah ga bisa melewati hari bahagia papah sementara anak kesayangan papah ini selalu merenung "


Zahra mengangkat pandangannya ia menatap manik mata pria yang ia sayangi itu.


"Zahra hanya kangen ibu"


ucap Zahra lirih


"apa kamu yakin hanya itu? "


tanya Bramantio


"Ehmmm Zahra juga ingin cari kakak pah, kak Zahira. kasihan ayah ia sedang merindukan kakak"


wajah Zahra terlihat sendu. ia menceritakan apa yang mengganjal di hatinya tanpa ada yang terlewatkan dan di tutupi.


Bramantio mendengarkan setiap keluh kesah Zahra.


"kenapa kamu ga minta bantuan papah? "


tanya Bramantio


"Zahra hanya ingin berusaha sendiri pah, tanpa merepotkan papah lagi"


"awalnya Zahra sudah ingin meminta bantuan ke papah tapi Zahra juga tahu papah sedang repot mengurus pernikahan papah jadi Zahra memilih diam"


Zahra tertunduk


"papah ini orang tua kamu Ra kalau kamu ada masalah kamu bisa cerita ke papah . papah bakal bantu kamu buat cari Zahira"


Bramantio menggenggam tangan Zahra


"terimakasih pah"


Zahra tersenyum


"yasudah secepatnya papah akan urus itu"


"sekarang kita keluar yuk, yang lain sudah menunggu "


ajak Bramantio


"ayo pah"

__ADS_1


Zahra menggandeng tangan Bramantio. kini hatinya sedikit legah saat beban pikirannya sudah ia curahkan dan ceritakan pada papahnya.


__ADS_2