Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
53 menjaganya


__ADS_3

"Ehemmm"


"acara pelukannya belum selesai?"


ucap Eza dengan pandangan ke arah lain, pasalnya Zahra dan ibunya tidak melepaskan pelukan mereka.


ucapan Eza membuat Zahra segera melepaskan pelukannya.


sementara Sinta hanya terkikik geli melihat putranya.


"kakak cemburu yah"


Zahra meledek Eza, matanya yang sembab seakan hendak terkatup.


"ihhh ! ga yah siapa yang cemburu"


Eza menepis ucapan Zahra.


"hallahh kakak, cemburu aja bilang Zahra di sayang sama ibu"


Zahra semakin menjahili Eza.


Sampai saat ini Zahra sudah menganggap Sinta sebagai ibunya sendiri, bahkan ia tak sungkan bila bermanja dengan Sinta.


"sudah-sudah, sekarang kita makan dulu yuk, ibu sudah masakan makanan kesukaan Zahra"


bahkan sampai makanan kesukaan Zahra pun Sinta sudah hapal.


"lah ibu, makanan kesukaan Zahra doank? kesukaan Eza ga di masakin"


Eza protes dengan wajah di buat se kesal mungkin.


"kamu kan makan apa aja juga suka"


"udah yuk"


Sinta beranjak dari duduknya menuju meja makan.


"ngalah donk sama adik,"


"Wekkkk"


Zahra menjulurkan lidahnya meledek Eza.


sambil berlari ke dapur


"Uhh dasar kamu"


Eza pun beranjak menyusul Ibunya dan Zahra.


Selesai makan Eza memutuskan untuk duduk di teras rumah, menikmati sejuknya angin malam.


Sementara Zahra masih mencuci piring kotor.


Eza memijat keningnya yang berasa sakit. sebenarnya ia sangat lelah, sebab hari ini ia harus bolak balik dari kantor pusat ke kantor cabang hanya untuk mengantar berkas perusahaan.


Zahra yang baru selesai mencuci piring pun menghampiri Eza yang sedang berada di teras.


Zahra berjalan mengendap-endap hendak mengejutkan Eza.


ia mengangkat kedua tangannya saat hendak mendekati Eza .


"Mau ngapain Ra"


Eza sudah mengetahui Zahra akan mengerjainya.


membuat Zahra mencebikkan bibirnya.


"ih kakak kok tahu sih? "


Zahra kemudian duduk di samping Eza.


"dari bau kamu udah kecium"


ucap Eza asal membuat Zahra langsung mengendus aroma tubuhnya.


"Zahra ga bau kok kak"


"kakak tuh yang bau"


Protes Zahra sebal.


Eza hanya tertawa.


sesaat keheningan menyelimuti , hanya desiran angin yang terdengar.


"Ra"


panggil Eza membuat Zahra menoleh ke arahnya.


"kenapa kak? "


tanya Zahra


"aku boleh nanya sesuatu ga? "


Eza mengubah posisi duduknya menghadap ke Zahra.


"boleh kak"


"Ehmm hubungan kamu sama Bagas gimana? "


tanya Eza penasaran.


membuat Zahra menaikkan kedua alisnya.


"yah udah baikan sih kak, soalnya kak Bagas juga udah minta maaf ke Zahra , cuma yah kita ga sedekat dulu"


Zahra memandang ke depan.


"kenapa? "


Eza menopang dagunya.


"yah karena Zahra belum bisa move on dari rasa kecewa Zahra"


jawab Zahra dengan pandangan tak beralih sedikit pun.


Eza sudah mengetahui hubungan Zahra dan Bagas bahkan permasalahan yang terselip di antara keduanya.


"mau sampai kapan kamu kecewa, jangan di cuekkin lah. dia kan sudah minta maaf"


"Lagian yah mau sampai kapan kamu bohongin perasaan kamu sendiri"


Eza mengubah posisi duduknya jadi menghadap ke jalanan.


"maksud kakak? "


Zahra menatap Wajah Eza


"yah kamu itu masih cinta sama Bagas dan masih sayang, cuma rasa kecewa kamu yang terlalu besar jadi kamu berusaha nutupin perasaan kamu yang sebenarnya "


"Lagian yah, Bagas itu beneran sayang sama kamu kok"


ucap Eza.

__ADS_1


membuat Zahra terheran.


"kakak tahu dari mana? "


Zahra menggaruk kepalamya yang gatal.


"sewaktu kamu di rumah sakit dan tinggal di rumah aku, Bagas itu selalu cariin kamu."


" bahkan semua karyawan di kantor di tanya soal keberadaan kamu termasuk aku"


Zahra menatap wajah Eza penuh selidik mencari ekspresi ke bohongan di wajah Eza.


"aku ga bohong Ra. Suwer deh"


Eza mengacungkan dua jarinya membentuk huruf v.


"jadi sewaktu Bagas nanya soal keberadaan aku, kakak jawab apa? "


tanya Zahra penasaran


"yah kakak jawab ga tahu lah, kan kamu yang minta untuk tidak memberi tahu siapa-siapa soal keberadaan kamu dimana"


Eza benar, Zahra baru ingat bahkan ia sendiri yang memintanya.


"sewaktu kamu pingsan dan belum sadar ,handphone kamu berdering terus. di layar handphone kamu terlihat Bagas yang menelpon. cuma yah aku ga berani lancang untuk mengangkatnya"


Ternyata Eza benar bahkan banyak notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan di handphonenya Zahra.


dan semua itu dari Bagas.


"Ra, perjuangin cinta kamu sama Bagas. aku yakin Bagas orang yang baik buat kamu. kasih kesempatan yah buat siapapun yang ingin berubah"


"aku juga tahu kamu bahagia jika dekat dengan Bagas, ekspresi wajah kamu ga bisa bohong Ra "


Zahra tertunduk apa yang di katakan Eza benar.


"jika ada permasalahan di dalam suatu hubungan, seharusnya permasalahan itu yang di selesaikan bukan hubungannya. Mulai lah semua dari awal Ra , aku ingin lihat adik aku bahagia"


Eza mengelus lembut kepala Zahra.


membuat Zahra tertegun oleh ucapan Eza.


sebegitu sayangnya Eza dengan dirinya.


"Zahra akan perbaiki semuanya kak"


Zahra memeluk Eza.


Eza membalas pelukan Zahra. ia sungguh menganggap Zahra itu adalah Arindi.


"Zahra sayang sama kakak"


ucap Zahra di dalam pelukan Eza.


"aku juga sayang sama adik aku yang jahil ini"


Eza mengusak rambut Zahra.


...……………………………...


kini Mentari pagi sudah menampakkan sinarnya. suasana pagi ini terlihat sangat cerah.


Eza pagi ini menjemput Zahra ke kostnya untuk mengantarnya bekerja.


malam tadi Zahra meminta untuk di antar pulang dan enggan untuk menginap. membuat Eza pagi ini harus kembali menjemputnya.


Sementara pagi ini Bagas sudah berada di ruangannya. hatinya berkecamuk bahkan malam tadi ia sukar untuk tidur.


mengingat kedekatan Zahra dengan Eza yang ia lihat kemarin sore di depan Caffe tempat Zahra bekerja.


Bagas bergumam, ia memijat keningnya yang berdenyut sakit.


"tok…tok…tok"


suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


"masuk"


teriak Bagas dari dalam.


ternyata Mora yang datang, ia membawa berkas begitu banyak di tangannya.


"permisi pak, saya mau meminta tanda tangan bapak"


Mora menyerahkan berkas tersebut pada Bagas.


Mora membungkukan tubuhnya serendah mungkin , potongan leher pada baju yang di kenakannya sangat rendah sehingga terlihat jelas bagian dadanya.


Bagas tak menggubris hal itu, bahkan sedikit pun ia tak melirik.


Mora hanya mencebikkan bibirnya serasa di acuhkan.


"kamu silah kan keluar, nanti kamu ambil kembali berkas ini setelah selesai saya tanda tangani"


mata Bagas tak beralih dari berkas-berkas tersebut.


"Ouh iyah sekalian kamu panggilkan Eza kesini"


Mora yang mendengar perintah Bagas hanya menurut tanpa protes.


"baik pak"


ia melangkah keluar dari ruangan Bagas.


tak beberapa lama terdengar kembali ketukan pintu.


"tok…tok…tok"


"masuk"


ucap Bagas terlihat Eza melangkah masuk dan kembali menutup pintu.


"ada apa yah pak"


ucap Eza pada Bagas yang masih sibuk dengan tumpukan berkas di depannya.


"Silah kan duduk Za, saya masih menanda tangani berkas ini"


Bagas mempersilahkan Eza untuk duduk di sebuah sofa yang berada di ruangannya.


Bagas kemudian menyusun kembali berkas yang sudah di tanda tanganinya dan menghampiri Eza.


"ada yang ingin saya bicarakan sama kamu"


Bagas duduk di sofa. posisinya berhadapan dengan Eza.


"soal apa yah pak? "


Eza menatap wajah Bagas seolah mencari jawaban.


"Zahra"


sebut Bagas, membuat Eza mengernyitkan keningnya.


"kenapa dengan Zahra pak? "

__ADS_1


tanya Eza.


"apa kamu memiliki hubungan dengannya,? "


Bagas to the point menyampaikan hal itu.


"hubungan? "


"saya tidak memiliki hubungan apapun dengan Zahra pak"


Eza mengerti maksud dari pertanyaan bosnya tersebut.


tersirat rasa cemburu yang tergambar jelas di wajah Bagas.


"kalau hanya sebatas teman, mengapa bisa sedekat itu dengannya? "


Bagas menunjukkan ekspresi kesalnya.


membuat Eza menarik sudut bibirnya dan tersenyum sinis.


"apa bapak cemburu? "


pancing Eza pada Bagas.


"asal kamu tahu saya ini pa…"


"Pacarnya Zahra kan pak? "


Eza memotong ucapan Bagas.


membuat Bagas menaikkan sebelah alisnya.


"saya sudah tahu pak, kalau bapak Pacarnya Zahra. sebelum bapak menjelaskan lebih jauh saya juga tahu bapak cemburu melihat ke dekatan saya dengan Zahra"


tutur Eza santai.


"lalu, kenapa kamu tidak berusaha menjaga jarak dengan pacar orang"


Bagas sedikit kesal namun ia mengontrol emosinya.


"bapak tidak perlu khawatir saya tidak berniatan untuk merebut Zahra dari bapak, saya juga tahu Zahra hanya mencintai bapak"


ucap Eza tenang, jujur saja Eza tidak memiliki sedikitpun niatan untuk mendapatkan Zahra.


ia tak memiliki perasaan cinta layaknya seorang pasangan , Eza memang menyayangi Zahra namun dalam konteks sayang seorang kakak pada adiknya.


"dari mana kamu tahu? "


Bagas menatap wajah Eza.


"Zahra telah menceritakan semuanya pada saya pak"


Bagas semakin terheran ,mengapa Zahra bisa begitu terbuka dengan Eza.


Eza paham Bagas masih bingung dengan ucapannya.


"pak, dari awal saya mendekati Zahra bukan karena rasa cinta pak, saya mendekati Zahra hanya karena ingin mengobati rasa rindu pada adik saya yang telah tiada"


Eza pun menceritakan semuanya pada Bagas, ia juga tak ingin Bagas menjadi salah paham padanya.


"semenjak kepergian adik saya pak, saya tidak pernah melihat ibu saya ceria kembali, bahkan beliau sering melamun. tapi setelah kehadiran Zahra yang memiliki kemiripan dengan adik saya. hal itu yang buat ibu saya ceria lagi pak"


"saya sudah menganggap Zahra sebagai Arindi pak. adik kandung saya begitupun ibu saya ia sangat menyayangi Zahra layaknya anak kandungnya"


tutur Eza, sementara Bagas hanya terdiam mendengarkan penjelasan Eza.


"pada saat Zahra di rumah sakit, ibu saya bahkan enggan untuk pulang ia senantiasa ada di samping Zahra."


mata Bagas membulat mendengarkan hal itu.


"Zahra masuk rumah sakit? "


tanya Bagas dengan raut wajah terkejut.


Eza menganggukkan kepala.


"sewaktu kejadian di rumah pak Bramantio, Zahra pulang dalam ke adaan hujan lebat pak ia bahkan pingsan di pinggir jalan. untung saja Angga anak produksi di kantor ini yang menemukan Zahra, Angga menghubungi saya sebab ia tak mengetahui dimana alamat Zahra. "


Bagas baru ingat, pantas saja ia mencari Zahra namun tak menemukan Zahra.


"saya tahu pak semua permasalahan Zahra bahkan saya tahu cerita hidupnya, ia telah menceritakan semuanya pada saya dan ibu saya"


Eza tersenyum


"saya sama sekali tidak memiliki pikiran untuk mengambil Zahra dari bapak. saya hanya ingin dekat dengannya sebagai seorang kakak. saya tahu persis Zahra pak, sampai saat ini dia hanya mencintai bapak, "


Bagas mengangkat pandangannya


"terimakasih Za kamu telah menjaga Zahra, maaf aku sudah salah paham denganmu"


Ucap Bagas dengan ekspresi rasa bersalahnya.


"tidak apa-apa pak, saya juga akan melakukan hal yang sama jika ada seseorang yang mendekati pacar saya"


Eza tersenyum menampakkan gigi putihnya.


Bagas pun membalas senyumannya.


"saya bisa minta tolong sama bapak"


ucap Eza


"minta tolong apa? "


Bagas menegakkan posisi duduknya.


"saya minta tolong pak, jangan sakiti adik saya Zahra. kalau Zahra bersedih ibu saya ikut turut sedih. bahagiakan Zahra pak karena saya menyayangi Zahra seperti saya menyayangi Arindi. saya tidak ingin melihat Zahra selalu bersedih pak"


Wajah Eza penuh harap.


Bagas bangkit dari duduknya dan mendekati Eza ia menepuk pundak Eza


"saya janji sama kamu tidak akan menyakiti Zahra lagi. saya akan membahagiakannya. terimakasih Eza kamu sudah membantu saya menjaga Zahra"


Bagas menepuk-nepuk pundak Eza.


"sama-sama pak, saya akan terus menjaga Zahra pak seperti saya menjaga adik saya. "


Eza yakin Bagas adalah orang yang tepat untuk Zahra. ia tak akan rela jika Zahra kembali menangis dan bersedih.


"jika bapak menyakiti Zahra, bapak akan berurusan dengan saya"


Eza mengancam Bagas, Bagas hanya tersenyum mendengarnya.


"saya janji tidak akan menyakiti adik ke sayanganmu "


kalimat Bagas membuat hati Eza sedikit legah.


……………


Terimakasih yang masih setia dan memaksa Author untuk terus up.


jangan lupa like dan votenya.


salam manis Author

__ADS_1


~EtyRamadhii


__ADS_2