
Bagas malam ini mengantarkan Zahra pulang ke rumah.
Zahra yang duduk di bangku belakang terus menggenggam tangan sang ayah.
"ayah lelah? "
tanya Zahra pada Adam yang kini sedang menyandarkan tubuhnya.
"tidak, "
Adam mengulas senyum.
Zahra malam ini merasa bahagia karena ayah dan papanya sudah berbaikan. yang lebih membahagiakan lagi papanya akan segera membiayai perobatan kaki Adam.
Zahra sungguh bahagia sebab ia sangat berharap ayahnya bisa berjalan seperti sedia kala.
kini mobil yang di kendarai Bagas sudah sampai di halaman rumah Zahra.
Bagas membuka kan pintu mobil, ia segera mengambil kursi roda milik Adam dan membantu Adam untuk turun.
"kakak mampir dulu kan? "
tanya Zahra yang kini berdiri di samping Adam.
"iyah Ra"
ucap Bagas.
Zahra pun mendorong kursi roda milik Adam untuk masuk ke dalam rumah yang di ikuti oleh Bagas.
perlahan pintu terbuka.
"nak Bagas, bapak istirahat terlebih dahulu yah"
uca Adam pada Bagas
"Oh iyah pak silahkan"
"terimakasih sudah mengantar kami pulang"
Adam tersenyum
"iyah pak sama-sama , terimakasih juga bapak sudah turut hadir memeriahkan ulang tahun Kiran"
Bagas sudah tidak merasa canggung dengan Adam.
"iyah nak saya juga turut senang"
"kalau begitu mari nak Bagas"
Bagas mengangguk sambil tersenyum
"kakak silah kan duduk dulu, Zahra mau anterin ayah ke kamar buat istirahat "
ucap Zahra
"iya Ra"
Bagas pun duduk di sofa ruang tamu.
sementara Zahra mengantar Adam ke kamar.
"ayah, ga apa-apa Zahra tinggal ke depan? "
tanya Zahra
"ga apa-apa nak, ayah bisa ke kamar mandi sendiri kok"
"kalau ayah merasa kesulitan panggil Zahra ya"
ucap Zahra
"iyah nak"
Zahra pun tersenyum dan melangkah keluar serta menutup pintu kamar Adam.
terlihat Bagas sedang berkutat dengan ponselnya.
"hayooo! "
Zahra mengejuti Bagas, namun hanya Ekspresi datar yang di tampilkan Bagas.
"Hehehe ga kaget yah? "
Zahra turut duduk di samping Bagas.
"ga lah masak gitu doang kaget"
Bagas memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.
sementara Zahra menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.
"kenapa?. capek ya?"
Bagas mengelus lembut pipi Zahra membuat Zahra merasa nyaman
"ga kok kak"
Zahra memejamkan mata
sesaat kemudian ponsel Zahra berdering
"loh mana ponsel Zahra? "
Zahra meraba saku celananya serta membuka tas kecil yang masih menyelempang di bahunya.
"loh ada suaranya . tapi kok ga ada ponselnya"
Zahra ke bingungan.
"ini ponsel kamu dari tadi sama aku"
Bagas menyodorkan kan ponsel Zahra yang sedari tadi ia masuk kan ke dalam saku celananya.
Bagas belum mengembalikan ponsel Zahra sewaktu ia mengambilnya dari Zahra ketika Zahra hendak memesan taksi online.
"Papa? "
Zahra mengernyit kan kening saat Bramantio menelponnya
"hallo pah"
Zahra mengangkat telepon dengan kepalanya kembali di sadarkan ke bahu Bagas
"halo sayang, maaf papa ganggu. ada hal penting yang mau papa sampaikan"
"hal penting apa pa? "
Zahra menegakkan posisi duduknya
"Kamu mau kan kuliah ?"
" soalnya kemarin papa cari kampus terdekat di sini. awalnya papa mau kuliahin kamu ke luar negri cuma papa ga mungkin misahin kamu dari Adam"
Zahra merasa senang mendengar hal itu , impian terbesarnya adalah ia bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Namun Zahra merasa tidak enak hati, ketika Bramantio harus membiayainya
"Zahra mau si pah, cuma Zahra ga enak kalau mesti papa juga yang bayarin. Ehmm gimana kalau Zahra kuliahnya nunggu ayah sembuh dulu ya pa, kan Zahra bisa sambil kerja part time. "
__ADS_1
ucap Zahra
"sayang sudah berapa kali papa bilang kamu itu anak papah, kamu itu tanggung jawab papa. sebelum kamu menikah semua biaya hidup kamu papa yang nanggung"
"apa kamu ga nganggap papa ini papa kamu. makanya kamu selalu menolak apapun yang papa beri? "
Bramantio sebenarnya sudah mengetahui sifat putrinya yang tidak ingin menyusahkan siapapun.
namun Bramantio hanya mencoba membuat Zahra menurut.
"papa kok gitu sih, papa itu ya papa Zahra. orang tua Zahra"
"Zahra cuma pengen pah bisa sekolah pakai uang Zahra sendiri"
ucap Zahra sedih ketika Bramantio mengatakan hal itu
"tapi papa ga ingin kamu kerja lagi sayang, papa cuma ingin kamu sekarang fokus buat kuliah"
"apa kamu ga mau kuliah? apa kamu mau menikah saja? "
Bramantio memancing Zahra
"Hah !"
"menikah? "
Zahra melirik Bagas yang berada di sampingnya
"eh.. enggak lah pah Zahra belum mau menikah. "
"iyah Zahra mau kuliah cuma ya itu tadi pa Zahra ingin kuliah pakai uang Zahra sendiri "
Zahra menegaskan pada papanya
"yasudah nanti papa pikirkan lagi ya, pokoknya kamu harus kuliah masalah kamu ingin mandiri nanti papa pikirkan "
ucap Bramantio
"iya pa"
"Oh iyah besok pagi kamu papa jemput kita mau bawa ayah kamu buat perobatan kakinya"
"iya pa"
"yasudah kalau begitu, sampai jumpa besok yah sayang, "
Bramantio memutuskan sambungan teleponnya.
"papa kamu? "
tanya Bagas yang sedari tadi memandangi wajah Zahra
Zahra hanya mengangguk
"terus kenapa belum mau nikah? "
Bagas menyangga dagunya
"Zahra belum siap kak, Zahra juga masih pengen kuliah"
Zahra meletakkan ponselnya di meja.
"nikah enak loh bisa bobok bareng aku"
Bagas menaik turunkan alisnya menggoda Zahra.
"Issh kakak apaan sih"
Zahra kesal
"emangnya kamu ga mau bobok sama aku? "
Bagas semakin jahil
Zahra menarik telinga Bagas karena kesal.
"ah...awwwhh"
"sakit sayang"
Bagas meringis memegangi telinganya yang tampak merah akibat jeweran dari Zahra.
"Abisnya mikirnya aneh-aneh"
"nih ya kak, nikah itu bukan cuma bobok bareng, makan bareng. nikah itu tanggung jawabnya gede, Lagian Zahra belum siap kak. kudu siapin mental lah biar ga perang panci terus sama kakak"
ucap Zahra
"iyah-iyah, aku cuma bercanda"
jawab Bagas
"terus kenapa kamu nolak buat kuliah? "
Bagas membenarkan posisi duduknya dan menyandarkan tubuhnya di sofa.
"ya Zahra ga pengen nyusahin papa terus, Zahra cuma pengen mandiri "
"Oh gitu"
Bagas tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi terlihat dari raut wajah Zahra saat ini, ia sepertinya masih enggan membahas hal itu.
Bagas menarik tangan Zahra hingga Zahra terjerembab dan berada di dada bidang Bagas.
Zahra tidak menolak, ia juga merasa nyaman rasa lelah di pikirannya seakan sedikit terobati.
"terimakasih yah"
ucap Bagas sambil mengelus kepala Zahra yang kini berada di dadanya.
"buat apa kak? "
"terimakasih , masih mau bertahan sejauh ini "
ucapan Bagas seakan mendalam.
"iyah kak sama-sama, terimakasih juga sudah selalu ada buat Zahra"
Zahra juga turut mengucapkan terimakasih.
Bagas pun merogoh saku celananya, dan memberikan kotak kecil kepada Zahra.
"buat kamu"
ucap Bagas menyodorkan kotak tersebut ke hadapan Zahra
"apa ini kak? "
Zahra bangkit dari sandarannya,ia menatap kotak kecil yang berada di tangan Bagas.
"buka aja, ini buat kamu"
Bagas tersenyum manis
Zahra pun mengambil kotak kecil tersebut, perlahan ia menarik pita berwarna pink.
Mata Zahra membulat saat di lihat kalung yang ia lihat di mall tadi kini berada di tangannya.
"kak, ini? "
__ADS_1
Zahra menatap Bagas seakan ia tak percaya
"iyah itu buat kamu, suka kan? "
Bagas mengelus lembut pipi Zahra.
"serius kak?"
Zahra masih membulatkan matanya, ia sama sekali belum percaya.
"iyah sayang"
Bagas menepuk pelan pipi Zahra menggunakan jarinya.
"tapi kak"
Zahra beralih menatap kalung tersebut
"ini mahal banget kak. Zahra tadi lihat harganya"
ucap Zahra
"Ssstttt"
Bagas menempelkan jarinya di depan bibir Zahra.
"jangan pikirkan soal harga, bagi aku kebahagiaan kamu yang mahal harganya"
Bagas tersenyum, ia mengambil kalung tersebut
"hadap sana"
tunjuk Bagas membuat Zahra menurut
Bagas memakaikan kalian tersebut, sementara Zahra ia sibuk memegangi liontin yang berinisial huruf Z
"balik sini"
ucap Bagas.
"nah cakep "
Bagas tersenyum ketika Zahra sudah berbalik badan ke arahnya.
"ini beneran kak? "
Zahra masih tak percaya
"Cupp! "
Bagas mencium kening Zahra
"jangan bertanya lagi, jaga baik-baik kalung ini yah seperti kamu jaga hati kamu buat aku"
Mata Zahra berbinar saat manik mata milik Bagas menatap lekat matanya.
"terimakasih kak"
"Grepp"
Zahra memeluk Bagas erat, ia sangat senang akan hadiah yang di berikan Bagas.
"iyah sayang"
"aduh kamu kekencangan meluknya sesak nih "
protes Bagas saat Zahra dengan sangat erat memeluknya.
Zahra yang di protespun melepaskan pelukannya
"Hehehe maaf kak, Zahra seneng banget soalnya"
Zahra nyengir kuda.
"suka kan? "
tanya Bagas lagi
"suka banget kak, terimakasih "
Zahra berulang kali mengucapkan terimakasih pada Bagas
"terimakasih doang nih? "
ucap Bagas
"terus? "
"apa Zahra di suruh buat cicil kalungnya? "
ekspresi Zahra terlihat lucu dengan mulut terbuka memperhatikan Bagas..
"ya gak lah sayang"
"masak ucapan terimakasih doang. sesekali dong"
Bagas menunjuk pipinya, Zahra yang paham akan hal itu pun tersenyum malu.
"Cupp"
Ciuman pertama dari Zahra mendarat di pipi Bagas
anehnya pipi Bagas yang di cium namun pipi Zahra yang bersemu merah.
"gitu dong"
Bagas mengelus pipi Zahra.
"kak? "
panggil Zahra pandangannya masih memperhatikan liotin kalung tersebut.
"iya"
"bisa ga kalau lagi ngomong sama Zahra jangan pakai kata aku "
pinta Zahra pada Bagas
"jadi pakai kata apa? "
Bagas tak hentinya mengelus pipi Zahra
"pakai kata kakak dong"
"mau yah"
Zahra mengerjapkan matanya
"iyah sayang kakak gak pakai kata aku lagi"
Bagas kembali menarik Zahra ke dalam pelukannya.
Mungkin saat ini Bagas bisa di katakan budak cinta namun bagi Bagas itu hal biasa ketika menemukan seseorang yang bisa membuat hidupnya penuh warna.
......
nge bucin dulu kita yah guys 😂😂 biar ga nge mewek terus
😁😁😁
__ADS_1
jangan lupa like dan votenya yah, biar Author ga karatan upnya 😄😄
terimakasih