
Matahari masih bersinar dengan semangat, sembari di iringi dengan tiupan angin sepoi-sepoi membuat dedaunan seakan melambai ria.
Siang ini,Zahra baru saja pulang dari kampus ia terlihat tidak bersemangat.terlihat dari raut wajahnya yang seakan layu.
Dengan kecepatan lamban ia memacu sepeda motornya.
sesekali ia melihat arloji mungil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.
tak lama akhirnya Zahra sampai di depan rumahnya. ia memarkirkan motornya dan segera beranjak untuk masuk.
Adam yang sedang menonton televisi melihat Zahra yang melangkah masuk
"Assalamualaikum "
ucap Zahra dengan nada memelas
"Walaikum salam "
"anak ayah udah pulang?"
sambut Adam
"iyah yah,"
Zahra menyalami tangan Adam kemudian duduk di depan Adam sambil menghela nafas.
"kenapa? "
Adam memperhatikan raut wajah putrinya.
"ga tahu yah. berasa ga semangat aja gitu"
ucap Zahra
"yaudah kamu mandi sana, entar kita makan di luar "
ajak Adam untuk mengembalikan rasa semangat Zahra
"beneran yah? "
Zahra menegakkan posisi duduknya
"iyah beneran, ayah traktir deh. kali ini ayah yang boncengi pakai motor"
"Yesssss. oke yah Zahra langsung mandi"
Zahra pun beranjak dan langsung berlari kegirangan.wajah Zahra yang tadinya layu kini berubah menjadi ceria, membuat Adam tersenyum geli.
Sekitar pukul 4 sore Zahra dan Adam pun bergegas pergi jalan-jalan . mereka berdua mengendarai sepeda motor .
Zahra merasa bahagia walau dengan cara sesederhana ini. ia baru merasakan kebersamaan bersama Adam seperti ini setelah puluhan tahun lamanya.
Zahra tak segan memeluk sang ayah ia menyandarkan dagunya di bahu Adam.
"kita mau makan dimana yah? "
tanya Zahra sambil celingukan membaca plang restoran serta aneka gerobak penjual makanan berjajar rapi.
"kamu maunya makan dimana? "
Adam memperhatikan Zahra melalui kaca spion.
"kita cobain jajanan kaki lima yuk yah"
ajak Zahra setelah ia merasa tergiur dengan berbagai macam aneka makanan yang di lihatnya di sepanjang jalan kota.
pedagang kaki lima mulai membuka warung kecilnya pada sore hari hingga malam hari. jadi tidak heran jika jam segini sudah terlihat ramai para pedagang menjajakan dagangannya.
"yaudah ayuk, kita cari parkiran dulu"
ucap Adam.
setelah mereka memarkirkan sepeda motor, ayah dan anak tersebut menyusuri jalanan kota.
terlihat Zahra mulai mendatangi penjual makanan .
tak butuh waktu lama aneka makanan serta camilan sudah di tenteng Zahra.
"banyak banget"
Adam memperhatikan jajanan yang di bawa Zahra
"Hehehe mumpung lagi di traktir sama ayah"
sahutnya sambil nyengir-nyengir.
Adam hanya tertawa. mereka pun berjalan kaki menuju taman kota yang letaknya tidak jauh dari parkiran.
Adam memilih tempat duduk yang terdapat di bawah pohon Ceri kersen. tempat duduk batu sekaligus meja tersebut sengaja di buat oleh pihak penata taman.
"kita duduk disini aja ya, Adem soalnya"
ucap Adam sambil duduk
"iya yah. oke nih tempatnya"
Zahra meletakkan jajananya di meja kecil tersebut.
"kamu beli apa aja? "
selidik Adam sambil memperhatikan jajanan yang di bawa Zahra.
"ni Zahra beli es jagung, Siomay, cireng, beserta keluarga besar jajanan lainnya"
sebut Zahra sambil memperhatikan jajanan tersebut.
Adam dan Zahra mulai menikmati jajanan tersebut.
"anak orang kaya kok Sukanya jajanan beginian"
ledek Adam sambil menikmati es jagung.
"Zahra kan anak ayah berarti ayah dong yang kaya. karena ini yang beliin ayah berarti jajanan ini mahal"
__ADS_1
oceh Zahra sambil melahap siomay.
"kamu bisa aja ngelesnya"
sahut Adam sambil tersenyum.
"Zahra? "
panggil Adam
"Hmm, iya yah"
sahut Zahra yang kini sudah beralih menikmati rujak buah.
"Ehmm kamu kenapa ga pernah tinggal di rumah papa kamu? "
tanya Adam penasaran, baru kali ini Adam memberanikan diri untuk bertanya .
Zahra sejenak menghentikan aktivitas mengunyahnya.
"Zahra kurang nyaman yah kalau nginep di sana"
jawabnya sambil kembali menusuk buah jambu di rujaknya.
"loh kenapa gitu Ra? "
Adam merasa heran dengan jawaban Zahra
"yah, Zahra kan anak perempuan sementara papa Bramantio tinggal di rumah itu sendirian. Zahra merasa ga nyaman aja"
jawab Zahra
"tapi kan kamu anak kandungnya "
"iya yah, tapi kan Zahra ga dari kecil ikut papa. makanya Zahra agak canggung gitu "
Adam terdiam mendengar jawaban Zahra, ternyata itu alasan mengapa Zahra enggan menginap di sana.
"Lagian Zahra kan biasa tinggal sama ayah. kalau nanti papa Bram menikah baru Zahra mau sering-sering tinggal disana"
"yasudah terserah gimana nyamannya kamu aja"
sahut Adam
"ayah ga mau bakso? "
ucap Zahra
"mau dong"
"cobain deh yah, enak baksonya"
Zahra menyuapi Adam, betapa sweetnya moment kebersamaan mereka.
Adam merasakan bahagia ia bahkan tidak pernah merasakan hal ini walau pun dengan Zahira.
"enak kan yah"
timpal Zahra yang memperhatikan Adam sedang menikmati bakso yang baru saja ia suapkan
Adam mengacungkan jempolnya membuat Zahra terkikik geli.
"Ayah kok tahu tempat ini? "
tanya Zahra penasaran pasalnya ia belum pernah mengajak Adam ke daerah ini.
"Eza yang ajak ayah sewaktu kamu di rumah sakit. "
"ayah jalan-jalan sama kak Eza? "
Zahra mengerutkan keningnya
"bukan sayang. ayah sama Eza waktu itu mau cari makan malam. kata Eza disini banyak menjual berbagai macam kuliner jadi sekalian deh lihat-lihat tempat ini"
tutur Adam menjelaskan.
di tengah-tengah obrolan Zahra dan Adam tiba-tiba ponsel Zahra berdering.
"sebentar ya yah, ada yang nelpon"
Zahra membuka tas kecilnya dan terlihat Bagas menelepon . dengan cepat ia menggeser layar ponselnya dan mengangkat telepon dari Bagas.
"hallo kak"
jawab Zahra
"kamu dimana sayang? "
tanya Bagas dari seberang sana
"Zahra di taman kota kak sama ayah lagi cari jajanan"
ucap Zahra sambil memasukkan bakso ke mulutnya.
"Ouh gitu. Oh iyah entar malam kakak ajak kamu keluar mau ga? "
tanya Bagas
"kemana kak? "
Zahra penasaran
"ada deh pokoknya kamu harus mau. jam 7 kakak jemput"
jika Bagas yang meminta sulit bagi Zahra untuk menolak
"Ehmm oke kak"
"Yasudah sampai nanti. salam sama calon ayah mertua"
"iyah-iyah "
Bagas pun mematikan sambungan teleponnya.
"siapa nak? "
__ADS_1
tanya Adam
"kak Bagas yah. entar malam mau ajak Zahra keluar"
"boleh kan yah? "
pinta Zahra
"boleh kok asal jangan larut malam pulangnya "
Adam tidak ingin terlalu mengekang pergaulan sang putri ia percaya Bagas lelaki yang baik. Adam yakin Bagas bisa menjaga Zahra.
"iyah yah"
Zahra kembali menyeruput es jagung miliknya.
"kenapa kamu ga nikah sama Bagas? "
"Uhuk -uhuk"
Zahra tersedak saat Adam menanyakan hal itu secara tiba-tiba
"Pelan-pelan minumnya Zahra"
seru Adam
"ayah sih nanya nya begitu buat kaget aja"
rengek Zahra membuat Adam tersenyum
"kan ayah cuma nanya"
"nih ya ayah, kan Zahra udah bilang ke ayah Zahra belum mau menikah, Zahra masih pengen kuliah masih pengen abisin waktu sama ayah sama papa"
tutur Zahra dengan sedikit mencebikkan bibirnya karena kesal di tanya soal menikah.
"kalau sudah menikah kan kamu tetap bisa abisin waktu bareng ayah"
sahut Adam
"beda dong yah, kalau sudah menikah itu otomatis lebih sering habisin waktu sama suaminya. Zahra ga mau itu, ya pokoknya Zahra belum mau menikah yah"
"kenapa ga ayah aja yang menikah?"
Zahra balik bertanya. membuat Adam membulatkan matanya
"pertanyaan kamu nak-nak ada-ada saja"
Adam menggelengkan kepalanya
"loh kan ga salah yah"
protes Zahra
"apa yang kamu bilang memang ga ada salahnya. cuma ayah ga pengen cari pengganti ibu kamu. bagi ayah ga ada yang bisa gantiin ibu kamu di hati ayah. "
"biarlah ayah sendiri sampai nanti ayah akan bertemu lagi dengan ibu mu. ayah sudah tidak ada kpikiran untuk menikah lagi, ayah cuma mau bahagia sama anak-anak ayah"
Zahra yang mendengar penuturan ayahnya merasa kagum dengan sosok lelaki di depannya.
"ibu beruntung ya punya ayah. ayah setia banget sama ibu, Zahra janji ke ayah untuk selalu ada buat ayah. terimakasih ya yah sudah menjaga cinta ibu dengan baik"
Zahra menggenggam tangan Adam.
"itu sudah sepantasnya ayah lakukan karena ayah tidak akan mengingkari janji ayah ke ibumu"
"semoga kelak Zahra dapat berjodoh dengan laki-laki seperti ayah yang mencintai 1 wanita tanpa mampu menggantikan posisi wanita itu di hatinya"
Zahra tersenyum lembut
"Amiiiinnn"
ucap Adam di balas senyuman oleh Zahra.
"Oh iya kira-kira sekarang Zahira ada dimana yah"
tanya Adam sambil memandang ke depan
"ayah rindu kakak ya? "
tanya Zahra, ia merasa iri saat Adam menyebut nama Zahira namun bagaimanapun juga Zahira tetaplah kakaknya.
"iyah nak. ayah berharap dia baik-baik saja"
Adam menghela nafas berat.
Zahra mengeratkan genggaman tangannya.
"Yah, ayah tenang aja ya. Zahra bakal berusaha cari informasi dimana keberadaan kakak"
Zahra mengulas senyum pada Adam seakan memberikan semangat
"apa kamu tidak membencinya?. karena kepergiannya kamu jadi kehilangan ibumu? "
ucap Adam lirih. bagaimanapun juga Zahira tetap anaknya. sesalah apapun dia tetap saja, Adam khawatir .
"Sssttt… ayah ga boleh ngomong gitu. semua yang terjadi itu sudah takdir yah. kita ga bisa menyalahkan siapapun "
"Zahra ga pernah benci sama kak Zahira, bagaimanapun dia Zahra tetap sayang sama kakak. Zahra janji ke ayah Zahra bakal berusaha nemuin kakak dan bawa dia pulang"
ucap Zahra semangat
"terimakasih yah nak, kamu anak yang baik. wajar saja banyak yang sayang padamu"
Adam mengelus rambut Zahra dengan lembut.
dan Zahra berharap bisa berkumpul kembali dengan Zahira.
Zahra ingin melihat ayahnya bahagia karena bisa berkumpul bersama anak-anaknya.
……………
Bukan cuma Zahra yang radak emosi ketika di tanya kapan Nikah. 😂😂😂
jangan lupa likenya guys
__ADS_1