Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
76.membuatnya berharga


__ADS_3

Rianda memilih kembali ke kantor padahal perasaannya sedang kacau ingin rasanya ia merebahkan tubuhnya di kasur dan menumpahkan air matanya.


namun sayang, pekerjaannya belum selesai. ia harus bisa profesional dalam bekerja.


ia menghempaskan bokongnya di tempat duduknya.


ia memandang wajahnya pada layar monitor yang sedang mati. ia menyeringai di sela tetesan air matanya.


"Rianda…Rianda. lelaki mana yang mau menerimamu. kau itu kotor"


ucap dirinya sendiri, seketika ia menelangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.


bahunya bergetar, ia menangis.


"ayah ,bunda .Rianda rindu "


Di saat hatinya rapuh hanya dirinya sendiri yang berusaha untuk menguatkannya.


tak mudah jalan terjal yang di lalui Rianda ia harus bangkit sendiri.


"Seharusnya aku bisa mengontrol perasaan, agar tak sesakit ini"


gumamnya lirih.


memang bukan hanya Eza, laki-laki yang sudah mengutarakan perasaannya pada Rianda. sebelum Eza, sudah ada beberapa lelaki yang mendekati Rianda.


namun Rianda menolaknya, dengan alasan masih ingin sendiri.Ria da tak bisa mengatakan jujur tentang masalalunya pada laki-laki yang di tolaknya. Rianda hanya berani jujur pada Eza.


namun, entah mengapa saat menolak Eza hatinya seakan di hujam rasa sakit.


mungkin karena Rianda memiliki perasaan yang sama pada lelaki itu.


jujur saja, Rianda merasa nyaman tatkala di dekat Eza. semenjak ke hadiran Eza, Rianda merasa dirinya tidak lagi sendirian.


Di mata Rianda, Eza lelaki yang baik bahkan penyayang serta lembut ketika memperlakukan wanita. itu sebabnya Rianda menolaknya karena menurutnya Eza tidak pantas jika bersanding dengan wanita sepertinya.


Jemari Rianda menghapus air mata di pipinya. ia menghela nafas berat, berusaha menahan rasa sakitnya.


ia kemudian menyalakan komputer kerjanya.


"waktunya kerja bukan bersedih"


Rianda menyemangati dirinya sendiri.ia pun memulai kembali mengerjakan pekerjaannya.



Sementara Eza kini memilih kembali pulang ke rumah. ia bahkan tidak kembali ke kantor.


perasaannya sulit untuk di tenangkan. ia tak menyangka atas apa yang terjadi pada Rianda.


di satu sisi ia bahagia karena mengetahui secara langsung bahwa Rianda memiliki perasaan yang sama dengannya.


di sisi lain entah mengapa hatinya tidak bisa menerima Rianda karena masa lalunya.


Kini Eza duduk di teras rumahnya menyandarkan tubuhnya di kursi panjang yang berada di teras rumahnya.


Wajah Rianda yang di penuhi tetesan air mata ketika menatapnya terus membayangi pikiran Eza.


Sinta yang baru selesai makan siang melihat putranya yang kini duduk di teras.


"kenapa dia sudah pulang? "


Gumam Sinta sambil melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 1 siang.


Sinta menghampiri putranya yang terlihat sangat kacau, bahkan dasi yang di kenakan Eza sudah tidak tentu arah.


"kamu sudah pulang Za? "


tanya Sinta yang memilih duduk di samping Eza.


"eh ibu…iyah bu, Eza izin pulang lebih awal"


ucap Eza dengan ekspresi lesu.


"kamu sakit? "

__ADS_1


Sinta menempelkan telapak tangannya ke kening Eza


"ah tidak bu"


"lalu? "


Sinta masih menatap wajah Eza


"Eza cuma pengen istirahat"


Eza ragu untuk bercerita pada Sinta


"kamu punya masalah apa? "


tanya Sinta. naluri seorang ibu tak dapat di bohongi. hanya dengan melihat raut wajah Eza , Sinta sudah tahu putranya sedang nemiliki masalah.


"ga ada kok bu"


Eza berusaha tersenyum


"jadi sekarang udah ga mau cerita sama ibu lagi. hmm"


Eza terdiam ia sedikit menunduk, ia bingung harus memulai dari mana.


"yasudah kalau tidak mau bercerita"


Sinta beranjak dari duduknya untuk pergi masuk.


"soal Rianda bu"


ucap Eza membuat Sinta mengurungkan langkahnya dan kembali duduk di samping Eza.


Sinta tahu siapa itu Rianda. sebab Eza selalu menceritakan gadis itu padanya


"kenapa dengan Rianda? "


tanya Sinta


"Rianda, menolak Eza"


Eza adalah tipikal laki-laki yang selalu curhat dengan sang ibu. apapun permasalahan dan rencana hidupnya pasti selalu ia ceritakan pada Sinta.


termasuk soal dirinya mengutarakan perasaan pada Rianda.


"kok bisa? "


"apa dia sudah memiliki kekasih"


tanya Sinta. Eza hanya menggelengkan kepalanya.


"apa dia tidak mencintaimu? "


Eza kembali menggelengkan kepalanya.


"lalu kenapa?"


Sinta terus menghujani Eza dengan pertanyaan .


Eza menarik nafasnya


"Rianda bilang ia tak pantas untuk Eza bu, sebab Rianda…"


kalimat Eza terhenti, membuat Sinta semakin penasaran.


"sebab apa? "


Sinta mengernyitkan keningnya


"Sebab…Ri…Rianda sudah tidak suci lagi bu, dahulu ia pernah menjadi korban pemerkosaan "


Eza meremas ujung dasinya


Sinta yang mendengar hal itu pun mengerti perasaan Eza.


"karena itu kamu bersedih"

__ADS_1


Tanya Sinta dengan nada santai membuat Eza mengangkat pandangannya.


"iyah bu"


jawab Eza tak bersemangat


"sekarang ibu tanya apa kamu mencintainya? "


tanya Sinta


Eza mengangguk


"apa Rianda juga memiliki perasaan yang sama dengan mu? "


Sinta kembali bertanya


"Rianda tadi juga bilang ia memiliki perasaan yang sama dengan Eza, hanya saja ia berkata kalau ia sadar diri bahwa dia tak pantas untuk Eza"


terdengar Eza selalu menghela nafas berat.


"apa kamu memberi suatu penjelasan pada Rianda? "


Eza menggelengkan kepalanya


"dia pergi begitu saja bu setelah memberitahukan hal itu"


"kamu tidak mengejarnya? "


Sinta terus memberi Eza pertanyaan


"tidak bu"


Eza menunduk.


Sinta pun tersenyum


"kalau kamu mencintainya, seharusnya kamu bisa terima dia apa adanya. lagi pula dia sudah baik mengatakan dengan jujur padamu"


Sinta mengusak rambut Eza


"Sucinya wanita tidak di ukur dari hal itu Za, lagipula Rianda juga korban. kamu membiarkan dia pergi tanpa mencegahnya, itu salah nak. hal itu semakin membuat Rianda terpuruk, ia pasti yakin bahwa kamu tidak menerimanya. ia akan kehilangan rasa percaya dirinya"


ucap Sinta


"lalu Eza harus bagaimana bu? "


Eza terlihat bingung


"kalau kamu benar mencintainya seharusnya kamu bisa terima masalalunya. ibu yakin Rianda gadis yang baik, terbukti dia berani mengatakan hal itu secara jujur bahkan secara langsung. karena dia ga mau buat kamu kecewa di akhir nanti"


"Saran ibu, jika kamu benar-benar mencintai Rianda maka terima apapun yang ada pada dirinya termasuk masalalunya. buat lah Rianda merasa berharga. jangan jadi laki-laki yang pecundang hanya karena hal itu kamu menghapus perasaanmu"


Eza terdiam sejenak, apa yang di katakan sang ibu benar. seharusnya jika ia mencintai Rianda ia tak perduli bagaimana masalalunya.


Rianda bisa jujur mengatakan hal itu, lalu kenapa dirinya tidak bisa menerima Rianda.


"ibu benar. seharusnya Eza mencegahnya untuk tidak pergi. Rianda berani dengan tegas berkata jujur pada Eza. lantas mengapa Eza tidak berani menerimanya "


ucap Eza menegakkan posisi duduknya.


"kejar lah nak, ibu yakin Rianda gadis yang baik"


Sinta memberi semangat pada Eza.


"baik bu, Eza akan menemuinya malam nanti"


wajah Eza terlihat sumringah membuat Sinta sedikit legah.


………


Quotes by Author :


Lelaki yang bijak adalah lelaki yang bisa menetapkan 1 pilihan dan menerima semua konsekuensi yang ada pada pilihannya.


Semangat for today

__ADS_1


jangan lupa like and votenya. terimakasih 😊


__ADS_2