
"Zahra? "
Zahira terkejut akan kedatangan Zahra.
"kakak? "
sapa Zahra dan tersenyum saat melihat Zahira yang membukakan pintu
"untuk apa kamu kembali pulang? "
ketus Zahira saat mendapati adiknya kembali kerumah ini
"Zahra mau liat ibu kak, gimana kondisi ibu kak? "
"apa pedulinya kamu sama ibu? "
Zahira menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan memandang Zahra dengan sinis
"Zahra cuma pengen tahu kondisi ibu kak"
"ibu tak perlu di jenguk sama kamu"
Zahira sangat jengah melihat Zahra, sedari dulu ia memang tak begitu perduli dan dekat dengan adiknya di tambah lagi sekarang dia tahu soal Zahra.
Ayahnya sudah menceritakan semua padanya tanpa terkecuali, sehingga kebencian yang di rasakan ayahnya turut tumbuh di hati Zahira.
Bagas yang melihat hal tersebut pun kesal, bagaimana bisa ada seorang kakak yang bersikap demikian kepada adiknya.
"pokoknya Zahra mau liat ibu kak,"
"Ayo Kak Bagas"
Zahra menyelonong masuk dengan menggandeng Bagas melewati Zahira yang masih berdiri di ambang pintu.
Tubuh Zahira sedikit bergeser bahunya bersenggolan dengan bahu Zahra.
"iss menyebalkan ! "
Zahira hanya menampilkan wajah kesalnya, sementara Zahra jalan menuju kamar ibunya dengan tangan masih menggandeng Bagas.
Bagas hanya menurut dan mengikuti langkah Zahra.
kamar ibunya sedikit terbuka, terlihat dari luar ibu sedang berbaring di temani ayah di sampingnya.
"Ibu"
Suara Zahra bergetar menahan tangis
"Zahra"
Venti ibunya Zahra yang tadinya berbaring berusaha bangkit memastikan bahwa itu Zahra.
Grepp
Zahra memeluk ibunya dan di sambut pelukan hangat dari Venti sang ibu.
__ADS_1
Tak pernah Venti memeluk Zahra seerat ini rasa rindunya selama ini tertumpahkan, air mata ibu dan anak ini tak terbendung lagi.
Bagas hanya berdiri di ambang pintu kamar menyaksikan Zahra yang menumpahkan kerinduan pada ibunya.
berbeda dengan Adam ayahnya Zahra wajahnya memerah karena kesal, setiap kali ia melihat Zahra amarahnya selalu tak bisa di bendung.
hingga kini ia masih tak bisa menerima Zahra di tengah keluarganya. walaupun ia menyadari bahwa Zahra tak bersalah bahkan Zahra sama sekali tak mengerti soal kejadian itu.
tapi kebencian seakan mendarah daging di dirinya sehingga Zahra menjadi tumpuan kemarahannya.
"untuk apa kamu datang lagi? "
Suara Adam meninggi membuat Zahra melepaskan pelukannya
"Ayah, Zahra pengen liat ibu"
Zahra berusaha berbicara lembut agar tak menambah kemarahan pada diri ayahnya
"ibu kamu tak butuh kamu"
"kamu lupa? kamu pergi ninggalin rumah begitu saja dan sekarang kamu kembali membawa laki-laki kerumah ini"
Adam melirik Bagas yang masih berdiri di ambang pintu
"bisakah ayah sedikit saja lembut pada Zahra. Zahra pergi hanya ingin membuktikan ke ayah kalau Zahra bisa mandiri yah"
Zahra berusaha menjelaskan apa maksud dari kepergiannya
"Yah bukan kah ayah yang bilang ke Zahra, kalau Zahra ini tak seperti kak Zahira. itu sebabnya Zahra pergi yah cari uang, supaya Zahra juga ngerasain gimana rasanya di sayang dan di banggakan oleh ayah seperti halnya kak Zahira "
Bahkan dahulu sewaktu Zahra masih duduk di bangku sekolah dasar ia harus bersekolah dengan berjualan es mambo.
Setiap pagi ia harus kerumah buk Elin tetangganya untuk mengambil es dan kemudian di jual pada teman-teman sekolahnya. uang hasil penjualan es akan di bagi dua dengan buk Elin.
dengan uang hasil ia berjualan itu lah ia sering menabung dan membeli barang ke inginannya.
Keluarga Zahra termasuk keluarga yang berada, bukan tak mampu kedua orang tua Zahra membelikan apa yang di inginkan Zahra.
Hanya saja kedua orang tua Zahra termasuk ayahnya selalu memarahinya jika ia meminta suatu barang yang harganya terbilang murah.
pernah suatu pagi ia meminta uang pada sang ayah untuk membeli buku cerita yang di inginkan.
bukan uang yang di dapat melainkan amarah sang ayah dan kata-kata kasar. bahkan kata-kata itu masih ia ingat sampai sekarang. semenjak kejadian itu ia tak pernah meminta sesuatu apapun dari orang tuanya.
Beruntung saja Zahra memiliki nenek yang sangat menyayanginya , nenek lah yang selalu memberikan apapun yang di inginkan Zahra.
Berbeda dengan sang kakak Zahira, ia di perlakukan dengan sangat lembut.
Bahkan apapun yang Zahira minta ayahnya selalu memenuhi permintaannya walaupun yang ia minta barang mahal sekalipun.
Tapi entah mengapa Zahra sama sekali tak menyimpan rasa benci terhadap ayahnya maupun ibunya.
Ia berprinsip bagaimanapun sikap ayahnya ia tetap pahlawan baginya walaupun kalimat itu nyatanya berbanding terbalik dengan apa yang di rasakan Zahra.
"sampai kapanpun kami tak akan bisa menyayangimu sama seperti kami menyayangi Zahira ! "
__ADS_1
sakit tapi itulah kalimat yang keluar dari mulut Adam ayahnya Zahra.
"kenapa yah? Zahra juga anak ayah sama ibu, Zahra juga berhak atas kasih sayang kalian"
air mata Zahra perlahan kembali jatuh. sepahit inikah hidupnya, seakan terbuang dari keluarga nya sendiri.
"dengar Zahra kau bukan anakku ! "
Kalimat itu akhirnya ia ucapkan selama bertahun-tahun ia tahan.
"apa maksud ayah? "
Zahra perlahan mendekati ayahnya meminta penjelasan atas ucapannya.
"iyah kau bukan anakku. kau anak si b*djing*n
itu"
Sekasar itu kalimat yang di keluarkan Adam bahkan tak pantas di ucapkan.
Bagas yang menyaksikan hal itu memilih keluar karena merasa tak enak hati. menyaksikan keributan di keluarga ini, di tambah lagi perkataan ayah Zahra yang terkesan kasar membuatnya tak betah berlama-lama
disini.
sebenarnya hati Bagas tak tega melihat Zahra tapi ia sadar dirinya bukan siapa-siapa bahkan tak tahu apa-apa soal keluarga ini. maka ia memilih keluar dan tak ikut campur.
"Cukup mass..Cukup. !"
Venti menangis ia tak tahan jika Zahra anaknya di hina oleh suaminya sendiri.
"selama ini aku mengikuti permintaanmu, untuk tak menyayangi Zahra melebihi sayangku ke Zahira. tapi bagaimana pun juga aku seorang ibu mass. aku yang melahirkan Zahra bagaimana bisa aku melihat anakku kau perlakukan demikian"
Venti meluapkan kekesalannya tak kalah emosi dengan Adam, sementara Zahra tak mengerti apa maksud kedua orang tuanya.
"aku tak meminta kejadian itu terjadi mas bahkan Zahra, dia tak tahu apa-apa "
tubuh Venti bergetar karena tangisnya.
sudah cukup selama ini dirinya menahan sakit hati atas perlakuan Adam kepada Zahra namun dia tahan agar Zahra tak di kirim ke panti asuhan.
"Arggghhhhhhhhh"
"aku benci semua ini"
Adam mengacak rambutnya prustasi, ia pergi melangkah keluar kamar meninggalkan Venti dan Zahra yang masih bingung dengan maksud pembahasan kedua orang tuanya.
******
Huy guys sebenarnya Author lagi sedih. ðŸ˜ðŸ˜ kalian pada pelit kasih Vote dan like buat Zahra. ðŸ˜ðŸ˜
tapi gak apa-apa hari ini author sedikit baik moodnya karena habis menang lotre lima ratusan jadi author tetep up hari ini. 😆😆
pokoknya setia terus sama Zahra dan Bagas yah
salam Manis Author
__ADS_1
~EtyRamadhii