Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
113.Aku yang salah


__ADS_3

Bagas perlahan melangkah pergi, ia tak mengindahkan panggilan Zahra.


Bukan ia tak memperdulikan Zahra, lelah rasanya jika hubungan tanpa kemajuan. Zahra terlalu memikirkan kehidupan orang lain sehingga melupakan jalan hidupnya.


Bagas memilih untuk menghindar, agar Zahra dapat peka dengan hubungan mereka.


Hubungan Bagas dan Zahra sangat jarang terjadi pertengkaran, paling hanya sekedar debat biasa.


bukan Bagas ingin menghadirkan pertengkaran di antara mereka, Bagas hanya ingin Zahra memprioritaskan hubungan ini.


Selama ini Bagas berusaha untuk mengerti, namun ia lelah jika setiap hari Hera selalu menanyakan kapan ia dan Zahra akan menikah.


Puncak kesabaran Bagas tiba saat pagi tadi Hera menanyakan hal yang sama.


Flasbackoff


Pagi ini Bagas baru saja tiba di rumah, badannya terasa sangat pegal karena lamanya perjalanan.


Langkah kakinya memasuki rumah milik orang tuanya.


"Assalamualaikum "


ucap Bagas


"Walaikum salam "


suara sahutan terdengar dari ruang makan. Sudah dapat di pastikan keluarganya tengah sarapan pagi.


Bagas mempercepat langkahnya menuju ruang makan sebab perutnya juga lapar dan belum terisi sesuap nasi.


"Yeee kakak sudah pulang"


Suara cempreng milik Kiran memenuhi ruangan.


Terlihat ia tengah sarapan mungkin ia akan segera berangkat sekolah sebab ia mengenakan pakaian sekolah.


"Wuihhh bawa oleh-oleh nih"


Kiran melirik ransel Bagas yang di tenteng.


"kakak ga bawak oleh-oleh Kiran"


Bagas menghampiri Hera dan Wijaya lalu menyalami keduanya.


"Is kakak jauh-jauh dri luar negri ga bawa oleh-oleh, Kiran saja kalau pergi ingat kakak"


Kiran mencebikkan bibirnya


"Ah kamu, kakak kamu pulang dengan selamat saja sudah bersyukur. ini malah sibuk oleh-oleh "


ucap Hera


"maaf deh yah kakak buru-buru ga sempat deh"


Bagas mengelus kepala adiknya


"iyah-iyah di maafin"


Kiran kembali menyuapkan nasi goreng kemulutnya.


"mamah ambilin nasi yah buat kamu, pasti laparkan? "


"boleh deh mah, Bagas juga lagi lapar"


Bagas memegangi perutnya


Bagas beralih ke wastafel untuk mencuci tangan. Dan kembali ke meja makan untuk sarapan.


"mah Kiran sudah, Kiran mau berangkat"


ucap Kiran setelah meneguk segelas susu.


"kamu ngambek yah ,masa kakak baru mau sarapan kamu pergi"


Bagas memperhatikan Kiran


"bukan kak, hari ini Kiran dapat tugas buat muat puisi di mading sekolah ,jadi harus perginya pagi"


ucap Kiran sambil meraih ranselnya


"yasudah Kiran berangkat kak"


Kiran menyalami kedua orang tuanya tak lupa juga kakak kesayangannya.


Sementara Bagas melanjutkan sarapannya.


"gimana apa laki-laki itu ketemu? "


Selidik Wijaya


"sudah pah, cuma orang tuanya meminta tes DNA agar jelas. "


"asal papah tau si Alex itu anak pak Tristan teman papah"


tutur Bagas sambil tangannya terulur meraih ayam goreng.


"masa sih? "


"papah ga pernah tahu kalau dia punya anak laki-laki "


"Alex menetap di Itali menjalankan bisnis kuliner dan jarang sekali ke Indonesia "


Bagas kembali menyuapkan nasi goreng


"Sudah jelas sih jika keluarga Tristan meminta tes DNA, ga bisa sembarangan banget sama keluarga mereka"


ujar Wijaya mengingat keluarga Tristan bukan dari kalangan biasa.


"itu yang mamah takutkan"


sahut Hera


"kenapa mah?"


Bagas mengalihkan pandangannya ke Hera

__ADS_1


"Iyah kejadian seperti itu"


"Iyah Bagas papah juga khawatir,"


"apa kamu tidak ada berniatan untuk menikahi Zahra? "


tanya Wijaya sambil menyeruput kopi miliknya.


"Haaa, Bagas mau pah tapi Zahra yang belum siap"


"kenapa belum siap, ia sudah selesai kuliah lalu apa lagi? "


tanya Hera


"iya awalnya Zahra meminta Bagas untuk menunggu dia selesai kuliah dan sekarang Zahra bilang keadaan keluarganya masih ribet mah"


tutur Bagas


"Kamu sebagai laki-laki harus tegas dong Bagas, jangan menurut saja. papah dan mamah khawatir "


"kamu dan Zahra sudah sering bersama bahkan keluar negri bersama. kamu lelaki normal bagaimana jika terjadi seperti Zahira? "


tanya Wijaya


Bagas terdiam, apa yang di katakan Wijaya benar bagaimana jika ia tidak bisa mengendalikan diri.


"jangan buat malu keluarga Bagas, bukan cuma keluarga kita yang tercoreng jika terjadi hal demikian tapi keluarga Bramantio juga"


ucap Hera mengingatkan putranya


"mamah dan papah tidak mendoa kan hal buruk, kami hanya memberi nasihat kepada kamu"


"tapi mah, bukan Bagas tidak berniatan untuk menikahi Zahra. Zahra selalu menolak mah"


Bagas meneguk air minum di depannya.


"cobalah kamu lebih tegas, tanya baik-baik padanya jika jawabannya masih sama menjauhlah untuk sementara "


ucap Hera


"dan jika lebih sibuk dengan dunianya dan tidak mencarimu mungkin dia tidak serius denganmu"


Tutur Hera, bukan ia hendak menghasut tapi ini demi kebaikan Zahra dan Bagas.


Hubungan mereka sudah lama, lantas jika sampai sekarang tidak ada kemajuan untuk apa di pertahanan.


Setiap hubungan pasti memiliki satu tujuan bukan hanya sekedar untuk bersenda gurau.


"Bagaimana jika Zahra ngambek? "


Bagas mengkerutkan keningnya


"Hahaha kamu terlalu lembut bahkan takut dia ngambek, coba sesekali kamu yang ngambek"


Ledek Wijaya sekaligus memberi usul


"Baik lah mah pah akan Bagas coba”


“Bagas juga sudah lelah menjalani hubungan seperti ini terus”


 


“tapi ingat jangan pakai emosi,  tetap jaga kata-kata  kamu”


Hera mengacungkan garpu


“Iyah mah”


“nanti bakal Bagas coba”


Bagas melahap nasi goreng miliknya, kebetulan pagi ini Hera memasak nasi goreng.


Atas permintaan Kiran tentunya,  sebab Hera juga tidak mengetahui Bagas akan pulang pagi ini


 


 


“oh iyah kamu mulai lusa ada tugas buat ngawasin proyek perumahan”


Ucap Wijaya


“perumahan yang mana yah pah? “


Bagas mengerutkan keningnya


“perumahan yang di dekat pabrik  biskuit”


 


“loh bukannya kemarin Eza yang awasi pah? “


 


Tanya Bagas terheran


“loh kamu ga tahu,  Eza sudah pulang kemarin ia kan bakal nikah minggu depan jadi ga bisa mengawasi sampai lusa”


Tutur Wijaya membuat Bagas terkejut


“nikah? “


 


“emang Eza ga cerita ke kamu? “


Hera memperhatikan ekspresi anaknya yang terkejut


“ga ada mah, “


“jadi kalau Bagas awasi proyek,  Bagas ga bisa hadir di pernikahan Eza dong pah”


Protes Bagas


 

__ADS_1


“yah mau bagaimana lagi,  siapa lagi coba yang bisa di percaya selain kamu dan juga Eza. “


“ga mungkin pak Bram kan? “


Wijaya menaikan kedua alisnya


 


“Iyah juga sih”


Ucap Bagas


Seketika ia mendapat ide cemerlang,  mungkin ini kesempatan baginya untuk menghindar sejenak dari Zahra.


 


Ia juga ingin melihat reaksi Zahra, Apakah Zahra akan khawatir atau justru akan sibuk sendiri dengan pernikahan Eza tanpa perduli dengan Bagas


 


Flashback on


 


Bagas pergi meninggalkan Zahra,  ia sengaja tidak menoleh ke arah Zahra saat Zahra memanggilnya.


Bagas menuju parkiran  untuk mengambil mobilnya.


 


Sementara Zahra menggigit bibir bawahnya ada rasa sakit di relung hatinya, tak biasanya Bagas seperti ini.


Air matanya menetes,  ia baru sadar selama ini tidak memperdulikan  hubungannya. 


Mungkin karena jarang terjadi pertengkaran di antara mereka membuat Zahra bersantai.


Namun ia lupa bahwa Bagas juga manusia punya batas kesabaran.


 


“hiks..... Hiksss”


“aku yang salah”


Ucap Zahra lirih menyalahkan dirinya sendiri.


Zahra berjalan gontai menuju parkiran ia memutuskan untuk pulang kerumahnya. Berharap malam nanti Bagas akan menghubunginya dan menjelaskan semua perkataan yang ia ucap tadi.


 


 


 


--


Zahra memasukkan sepeda motornya ke dalam garasi ia berjalan masuk.  Terlihat Zahira tengah duduk di ruang tamu bersama Adam.


 


“kok baru pulang,  dari mana? “


Tanya Adam  pada Zahra


“iyah banyak kerjaan di resto yah”


Jawab Zahra sambil berlalu dengan wajah di tekuk bahkan ia tak menyapa Zahira


“Zahra tunggu”


Panggil Zahira membuat ia menghentikan langkahnya


 


“ada apa? “


Tanya Zahra dengan malas


 


“minggu depan tolong yah anterin aku ke rumah sakit buat ambil tes DNAnya. Sekalian buat bertemu Alex”


Ucap Zahira membuat Zahra kesal


 


“bukan kah aku sudah cukup membantu? “


“bisakah kau mengurus sendiri urusanmu jangan bebani aku lagi,  aku lelah”


Zahra berbalik badan dan masuk kamar.


 


“Ra? “


Panggil Zahira saat ia menyadari bahwa Zahra terlihat berbeda


 


“sudah,  biarkan adikmu istirahat mungkin dia kelelahan dan banyak kerjaan di resto”


“biar ayah saja yang akan mengantarmu”


Adam berusaha memberi pengertian pada Zahira.


Ia juga sebenarnya  terkejut mendengar ucapan Zahra.  Tak seperti biasanya,  Zahra jika di minta pertolongan tidak pernah menolak apalagi dengan nada bicara yang sedikit ketus.


 


Adam merasa bahwa Zahra tidak baik-baik  saja.


“baiklah yah,  kalau gitu Zahira mau ke kamar dulu kasihan si baby”


Zahira bangkit meninggalkan Adam yang masih memikirkan Zahra.

__ADS_1


--


__ADS_2