Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
23 Malu


__ADS_3

Hay Guys...terimakasih buat yang masih setia menanti Zahra dan Bagas.


jangan lupa like dan Votenya yah 😊😊😊


Happy Reading


*************


Zahra memilih tempat duduk lesehan di sudut, berdampingan dengan dua pelanggan laki-laki di meja sebelahnya.


sepertinya dua laki-laki itu sudah selesai makan terlihat dari piringnya yang sudah kosong. semua tempat duduk sudah terisi penuh.


Zahra melihat ke arah Bagas yang sedang serius menelepon di dekat parkiran mobil.


jika di lihat-lihat bossnya kalau lagi berbicara serius, tampannya melebihi batas maksimal.


"isss pemikiran apa yang ada di pikiranku"


Zahra menggelengkan kepalanya merasa aneh.


setelah mengangkat telepon, Bagas masuk ke dalam warung dan ikut duduk di samping Zahra.


"udah kamu pesan menunya? "


"udah kok kak,aman pokoknya"


Zahra tersenyum dan melanjutkan kegiatannya membalas chat teman-temannya yang mempertanyakan mengapa ia tidak masuk hari ini.


Bagas menyandarkan tubuhnya di dinding sembari meluruskan kaki. namun mata Bagas tak sengaja melihat salah satu lelaki yang berada di meja sebelah sedang memandangi Zahra dengan tatapan aneh.


mungkin usia lelaki itu tak beda jauh dengan Bagas.


Bagas melihat Zahra sekilas, namun Zahra tak membalas pandangan lelaki itu juga. ia sedang asyik berkutat dengan gawainya.


Bagas kembali melihat laki-laki itu tatapannya tetap sama tak beralih sedikitpun. Bagas pun mengikuti arah pandangan mata laki-laki itu.


ternyata ia sedang memandangi bagian dada Zahra.


Zahra mengenakan stelan kemeja biru tapi dua kancing bagian atas kemejanya terbuka sehingga memperlihatkan bagian dadanya serta branya yang berwarna pink.


sepertinya Zahra sama sekali tak menyadari hal itu.


Sontak saja Bagas membuka kemejanya dan menutupi bagian dada Zahra.


Zahra yang tiba-tiba di perlakukan seperti itu pun terkejut.


"kenapa kak? "


Zahra heran melihat hal yang dilakukan Bagas, tapi Bagas tak menjawab.


Bagas kembali menatap laki-laki itu dengan tatapan mengancam membuat laki-laki itu merasa gugup dan tak berani beradu pandangan dengan Bagas.


Bagas terus menatap lelaki itu dan tak menghiraukan pertanyaan Zahra dan membuat orang yang di tatap akhirnya pergi.


"Kak Bagass, kakk"


Zahra mengkrucutkan bibirnya karena kesal tak di tanggapi oleh Bagas.


"Iyah Ra, kenapa? "


setelah laki-laki itu pergi barulah pandangan Bagas beralih ke Zahra.


"kakak kenapa sih ini bajunya di pakein ke Zahra, panas tau kak"

__ADS_1


Zahra terlihat kesal


"udah biarin aja gitu jangan di lepas"


"ihh kak tapi panas, emang kenapa sih? "


Zahra mengkerutkan keningnya


"Kamu mau tau? "


Bagas melirik ke Zahra yang masih mamanyunkan bibir mungilnya.


membuat Zahra mengangguk.


Bagas mendekatkan bibirnya ke telinga Zahra dan sedikit berbisik.


"Baju kamu kebuka, terekspos sempurna tuh yang pink"


Sontak saja Zahra membulatkan matanya dan membalikan badan ke arah sudut. dengan cepat ia mengancingkan bajunya.


"kakak kok ga bilang sih"


Zahra cemberut wajahnya memerah menahan malu.


"tadi sih aku mau ngomong ke kamu. cuma keburu mas-mas di meja sebelah tadi ngeliatin terus, yaudah aku tutup aja pake baju aku"


dengan nada santai Bagas menjawab seakan tak terjadi apa-apa .


Zahra terlihat menunduk menahan malu. Bagaimana bisa ia tak menyadari hal itu.


"udah Ra ayo makan jangan nunduk ajah entar kamu tidur"


Bagas menyenggol lengan Zahra.


"iyah kak"


mereka berdua menyantap makanan yang di pesan akan tetapi tak ada pembicaraan di antara mereka hanya suara benturan sendok ke piring dan riuhnya suasana warung yang terdengar.


sampai akhirnya mereka selesai makan dan kembali masuk ke mobil baik Zahra maupun Bagas hanya terdiam.


"kamu kenapa Ra kok diem aja"


Bagas heran melihat Zahra yang hanya terdiam tak bersuara.


"Kakakkkk. Zahra Malu"


Zahra merengek dan menelangkupkan kedua tangannya di wajah.


Bagas tahu apa yang dimaksud Zahra, ia meraih tangan Zahra yang masih menutupi wajahnya.


"udah yah, kan kamu juga gak tau,.lain kali di lihat-lihat "


"He'em"


Zahra mengangguk sambil mencebikkan bibirnya seperti anak kecil membuat Bagas gemas.


"aku juga ga terima kamu di lihatin kayak gitu. Huhhh kan sayang banget yah kalau kebuka gitu"


Bagas memainkan alisnya menggoda Zahra


"kakak liat? "


"yah liat lah. malahan dengan jarak dekat"

__ADS_1


Lagi-lagi Bagas tersenyum menggoda membuat Zahra kesal dan memukul lengan bagas.


Bagas juga laki-laki normal melihat pemandangan semacam itu membuat jantungnya berdesir.


namun ada yang aneh, bahkan selama ini jika di kantor Bagas sering mendapati pemandangan seperti ini namun bukan Zahra objeknya melainkan Mora sekretarisnya.


Mora selalu memakai pakaian ketat dengan belahan baju yang sangat rendah, apalagi jika Mora meminta tanda tangan berkas pada Bagas.


ia dengan sengaja membungkukkan tubuhnya lebih rendah. sehingga terlihat sangat jelas belahan dadanya.


entah apa maksud dan tujuannya namun jantung bagas tak berdesir hebat seperti ia melihat bagian dada zahra walaupun sekilas.


Bagas melamun memikirkan hal itu.


"kak?"


"Ehh iyah Ra"


Bagas yang sedang melamun terkejut karena panggilan Zahra.


"kakak kok melamun? "


tanya Zahra keheranan


"enggak kok Ra"


"kakak jangn mikir mesum yah"


wajah Zahra kembali cemberut.


"aku gak lagi mikir mesum kok. udah donk jangan cemberut lagi. kita jadi lanjutin perjalanan gak nih"


"jadi kak"


"yaudah senyum jangan cemberut"


bujuk Bagas pada Zahra. membuat Zahra tersenyum.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Zahra.


Sekitar 1 jam Mobil Bagas memasuki sebuah pemukiman, akhirnya sampailah mereka di rumah orang tua Zahra.


"ini rumah Zahra kak"


Zahra menunjuk sebuah rumah dengan pagar berwarna putih di depannya.


Keadaan rumahnya tak berubah masih sama seperti dulu bahkan warna catnya juga masih berwarna hijau muda yang di kombinasikan dengan cat berwarna putih di bagian pintu dan jendela.


di depan rumah itu terdapat sebuah pohon mangga yang rindang. dan sebuah ayunan besi di bawahnya.


Dahulu Zahra sering duduk bersantai dengan sang nenek di bawah pohon mangga itu. bahkan saat pohon mangga itu berbuah maka Zahra lah yang paling bersemangat memanjatnya.


Zahra kemudian turun dari mobil dan menggeser pagar,agar mobil Bagas bisa masuk ke halaman.


"yuk kak"


Zahra mengajak Bagas.


"tok... tok... tok. Assalamualaikum"


Zahra mengetuk pintu rumahnya dengan perlahan .


"tok, tok, tok"

__ADS_1


"walaikum salam.. iyah sebentar"


terdengar suara seorang wanita dari dalam .perlahan pintu pun terbuka.


__ADS_2