Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
52 Nasehat


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 5 sore, sudah waktunya para karyawan Caffe bergantian shift.


Zahra bergegas hendak pulang. tiba-tiba ponsel Zahra berdering.


"kak Eza"


Zahra melihat nama yang tertera di layar handphonenya.


"halo kak"


Zahra mengangkat telepon dari Eza


"Halo Ra"


"kamu sudah pulang? "


"sudah kak"


jawab Zahra.


"kamu jadi kerumah ku kan, kemarin udah janji mau main kerumah. "


Zahra baru ingat ia kemarin berjanji pada buk Sinta sepulang kerja akan mampir ke rumah Eza.


"Ouh iyah kak, jadi kok. kakak jemput Zahra yah. Hehehehee "


Zahra tertawa ia sudah tidak merasa canggung dengan Eza.


Zahra sudah menganggap Eza sebagai kakaknya.


"yasudah. tunggu aku di depan Caffe yah, sebentar lagi aku kesana"


Ucapa Eza dari seberang telepon.


"iyah kak"


Zahra pun menunggu Eza di depan Caffe.


tak berapa lama Eza pun datang.


"lama gak? "


tanya Eza sambil merapikan. rambutnya yang berantakan terkena angin.


"gak kok kak"


"Oh iyah. anterin aku dulu yah kak"


Zahra memasang wajah gemas.


"kemana? "


Eza mengerutkan dahinya.


"entar Zahra beri tahu, asal kakak mau anterin Zahra"


Zahra sedikit memaksa.


"Ehmm, Ya udah yuk"


ucap Eza pasrah.


Zahra dan Eza pun pergi. sementara dari kejauhan ada seseorang yang sedang mengamati Zahra dan Eza.


...………………………...


Motor Eza pun memasuki kawasan komplek dan berhenti di depan gerbang rumah mewah.


"ini rumah siapa Ra? "


Eza mengamati rumah megah tersebut.


"udah yuk ikut aja"


Eza pun segera turun sebab tangannya sudah di gandeng oleh Zahra.


"maaf neng cari siapa? "


sapa Satpam yang sedang duduk di pos dekat gerbang.


"saya mau ketemu pak Bramantio pak"


ucap Zahra, membuat Eza mengangguk paham bahwa ini rumah Pak Bramantio.


tetapi Eza tidak menanyakan maksud dan tujuan Zahra mengajaknya ke rumah pak Bramantio.


"Ouh kalau begitu sebentar yah neng, saya panggil bapak dulu "


satpam tersebut pun masuk ke dalam rumah megah tersebut.


"kamu ngapain ajak aku kesini? "


Eza tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"aku mau balik in uang"


ucap Zahra tanpa melihat Eza.


Eza kemudian terdiam tak bertanya lagi.


"Zahra"


ucap Bramantio , ia merasa senang ketika Zahra datang ke rumahnya.


"kamu datang nak? "


mata Bramantio berbinar.


"maaf pak, ke datangan saya ke sini cuma mau kembalikan uang ini"

__ADS_1


Zahra menyerahkan amplop cokelat yang berisi uang.


"itu uang bapak kan? "


"yang bapak titipkan kepada pak Budi? "


Zahra bertanya dengan manik matanya menatap Bramantio.


"kenapa kamu kembalikan .?ini untuk kamu "


Bramantio terlihat bingung.


"maaf pak saya ga bisa terima uang itu, itu bukan hak saya"


Eza yang melihat hal itu pun semakin bingung.


"Zahra ini beneran buat kamu nak? "


wajah Bramantio terlihat sendu membuat hati Zahra melemah, namun ia teguh dengan pendiriannya.


"saya ga bisa terima sepeser pun uang dari bapak. saya tidak membutuhkan belas kasihan dari bapak"


"saya permisi pak"


ucap Zahra ketus


"yuk kak ,kita pulang"


Zahra menarik tangan Eza.


Eza pun mengangguk ke arah pak Bramantio .


"mari pak"


ucap Eza.


Bramantio berdiri mematung menyaksikan kepergian Zahra.


Eza dan Zahra pun berlalu pergi.


"apa luka itu terlalu dalam nak sampai seperti ini kamu membenci papa"


air mata Bramantio pun berderai tak kuasa menahan tangis akan perlakuan Zahra.


tangannya meremas amplop yang di kembalikan oleh Zahra tadi.


Sementara Zahra ia juga ikut menangis ketika di bonceng motor oleh Eza.


jujur saja ia tidak tega berlaku demikian, tapi rasa sakit hatinya yang mendorong ia untuk setega itu.


Eza melirik kaca spion motornya terlihat air mata Zahra mengalir deras.


"kenapa dia menangis? "


Gumam hati Eza tapi ia tak berani mempertanyakan hal itu secara langsung.


Sampai akhirnya motor Eza berhenti di depan rumahnya.


"Ehh kalian udah pulang"


sapa Sinta saat ia membuka pintu.


"iyah bu"


Eza pun menyalami ibunya yang di ikuti oleh Zahra.


Sinta melihat mata Zahra sembab Sinta yakin Zahra habis menangis.


"kamu kenapa nak? "


Sinta menangkup wajah Zahra dengan kedua tangannya.


Zahra hanya menggelengkan kepalanya.


"Za kamu apain Zahra, apa kalian terjatuh? "


tanya Sinta menatap tajam ke arah Eza.


"Eza juga ga tahu bu, dari tadi di motor Zahra terus menangis"


tutur Eza yang merasa di intimidasi oleh ibunya.


"yuk masuk dulu"


Sinta menuntun Zahra mengajaknya duduk di sofa, yang diikuti oleh Eza.


"kamu ada masalah? "


tanya Sinta sambil menggenggam lembut tangan Zahra.


jawaban Zahra tetap sama hanya sebuah gelengan kepala.


"Zahra, cerita sama ibu kamu kenapa?. jangan buat ibu sama kak Eza khawatir "


Sinta mengelus kepala Zahra.


Eza melihat ibunya memperlakukan Zahra dengan lembut .


"ibu sudah menganggap Zahra sebagai anak ibu. begitupun kak Eza, dia sudah menganggap kamu sebagai adiknya. "


"Jika kamu memiliki masalah kamu cerita ke ibu atau kak Eza, jangan di pendam sendiri. ibu ga mau kamu drop lagi seperti kemarin karena terlalu banyak beban pikiran"


Sinta mengelus surai rambut Zahra.


"Grepp"


Zahra memeluk tubuh Sinta dan menangis sejadi-jadinya, membuat Eza semakin bingung.


Sinta membiarkan Zahra menuntaskan tangisnya ia hanya mengelus lembut punggung Zahra.

__ADS_1


saat Zahra merasa sudah sedikit legah ia pun melepaskan pelukannya.


isakannya jelas terdengar, matanya memerah karena tangis.


Eza berinisiatif untuk mengambil air minum.


ia beranjak pergi ke dapur untuk mengambil air minum untuk Zahra.


"nih di minum dulu"


Eza menyodorkan segelas air pada Zahra.


Zahra pun menerimanya dan meneguk air tersebut.


Sinta pun kembali mencoba menanyakan pada Zahra apa yang sebenarnya terjadi.


Akhirnya Zahra menjawab pertanyaan Sinta. ia bahkan menceritakan semuanya tanpa terkecuali tidak ada lagi yang ia sembunyikan dari Eza dan Sinta.


Eza membuka mulutnya tak percaya ternyata Zahra anak pak Bramantio.


"buk ,kak, kalian ga akan menjauhi Zahra kan setelah mengetahui semuanya"


ucap Zahra dengan bibir bergetar.


Eza bahkan tak menyangka jika Zahra berpikir ia akan menjauhinya.


Sinta pun ikut tersenyum mendengar apa yang di tuturkan oleh Zahra.


"aku dan ibu ga akan menjauhi kamu Ra, kami udah menganggap kamu itu seperti Arindi"


Arindi adalah almarhumah adik Eza.


Eza mencoba meyakinkan Zahra.


"apa yang di katakan kak Eza benar nak"


Sinta tersenyum.


Zahra hanya terdiam.


"Zahra ga boleh bersikap demikian sama pak Bramantio "


"ga baik nak. bagaimanapun juga Pak Bramantio itu ayah kandung kamu. di dalam tubuh kamu ada darah pak Bramantio yang mengalir"


Sinta memberikan pengertian pada Zahra.


"tapi buk, karena dia Zahra di benci ayah. karena dia hidup Zahra begini"


mata Zahra berkaca-kaca


"dengerin ibu nak, semua itu sudah takdir kita tidak bisa merubahnya. jangan memvonis seseorang karena kesalahannya di masa lalu. semua orang pernah melakukan kesalahan .semua orang wajib meminta maaf atas kesalahannya dan begitu sebaliknya kita juga wajib memaafkan kesalahan orang tersebut "


"ingat nak balas dendam itu tidak akan membuat diri kita menang. jangan jadikan rasa dendam itu menjadi alasan kita membenci nya. lihat lah pak Bramantio, dia berusaha meminta maaf dan menebus kesalahannya padamu, kenapa Zahra tidak memberikan kesempatan untuknya".


Sinta menatap lekat-lekat wajah Zahra.


Zahra menundukkan pandangannya ia merasa bersalah karena sudah tega menyakiti perasaan pak Bramantio.


"coba lah nak berusaha memaafkannya, beri dia kesempatan untuk menebus segala kesalahannya. bukan kah semua orang juga berhak untuk berubah? "


tanya Sinta, Zahra pun mengangguk.


"jangan sampai kamu menyesal nak, selagi ia masih ada beri dia kesempatan dekat denganmu, merawat mu. Zahra juga pasti ingin kan merasakan kasih sayang seorang ayah? "


bu Sinta benar bahkan hal itu yang ia impikan sejak dahulu.


"Zahra ingin buk merasakan kasih sayang seorang ayah"


Zahra akhirnya bersuara.


"maka dari itu maafkan dia yah, hapus dendam di hati kamu. bahkan ia juga sudah mendapatkan balasan dari perbuatannya. bukan kah anak yang di rawatnya juga bukan anak kandungnya.?"


"lalu untuk apa kamu bersikukuh untuk membalas dendam nak, lunak kan hati kamu , memaafkan kesalahan seseorang itu bukanlah hal yang hina. "


Zahra tertegun mendengar nasihat bu Sinta.


"lalu apa yang harus Zahra lakukan buk. Zahra sudah keterlaluan pada pak Bramantio "


sekarang Zahra bingung apa yang harus ia perbuat.


"hapuskan dendam itu, temui dia minta maaflah padanya. ibu yakin itu akan membuat mu tenang, dan tidak ada lagi beban berat yang kamu rasakan"


Eza yang mendengar kan percakapan ibunya dan Zahra hanya menopang dagunya.


"tapi Zahra malu bu"


Zahra merasa malu atas perbuatannya.


"tidak perlu malu itu perbuatan baik bukan hal yang memalukan"


"ibu akan menemani kamu untuk menemuinya"


ucap Sinta


"ibu yakin? "


tanya Zahra tak percaya


dan di jawab dengan anggukan oleh Sinta.


"terimakasih bu"


Zahra kembali memeluk tubuh Sinta.


Sinta membalas pelukan Zahra, Eza yang melihat hal itu pun sedikit legah .


.......


Jangan lupa mampir ke karya Author yang kedua yah judulnya 'jebakan hidup berujung cinta '

__ADS_1


jangan lupa like and votenya


terimakasih 😊😊


__ADS_2