Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
80 Dendam


__ADS_3

Bagas yang baru saja menerima telepon dari Eza langsung mengendarai mobilnya menuju tempat dimana Eza sedang bersama Zahra.


pikirannya kalut saat mendengar Zahra terkena luka tusuk.


bahkan supir Bagas kali ini hanya diam saat Bagas mengambil alih kemudinya.


tanpa berpikir panjang Bagas langsung menuju lokasi yang di sebut Eza. Bagas tidak memikirkan keselamatan dirinya bahkan tak menghiraukan teguran sang supir yang duduk ketakutan di sampingnya.


karena Bagas mengendarai mobil


dengan kecepatan tinggi.


tak butuh waktu lama Bagas sampai di lokasi, terlihat Eza sedang memangku tubuh Zahra.


Bagas buru-buru keluar dari mobilnya.


"apa yang sebenarnya terjadi? "


tanya Bagas terlihat panik


"jangan bertanya apa yang terjadi cepat lah angkat tubuh Zahra dan segera bawa kerumah sakit"


perintah Eza.


"kenapa kau bertelanjang dada? "


karena rasa paniknya Bagas mengajukan pertanyaan yang konyol


"Ck, aku habis berenang di jalan raya"


sahut Eza kesal melihat Bagas yang masih sempat mengomentarinya.


"lihatlah baju ku membalut pinggangnya agar darahnya tidak mengalir"


tunjuk Eza, Bagas pun segera mengangkat tubuh Zahra ke dalam mobil.


"Za, cepatlah masuk"


ucap Bagas, meminta Eza masuk ke dalam mobilnya.


"bagaimana dengan motorku? "


sahut Eza


"motor Zahra dan motormu biar di urus sama supirku, cepatlah segera masuk"


Eza pun segera masuk. ia memilih untuk mengemudi sementara Bagas memangku tubuh Zahra.


"pakailah ini "


Bagas melemparkan kaos kepada Eza yang kini sudah masuk ke dalam mobil.


"baju siapa ini? "


tanya Eza sambil memperhatikan kaos yang di pegangnya


"itu bajuku, cepatlah pakai agar kau tidak terlalu sexy"


ucap Bagas


"ckkk… Berapa hari baju ini tidak kau cuci"


protes Eza sambil memakai kaos tersebut.


"maafkan aku. sudah 2 hari aku tidak mencuci kaos itu"


Eza yang mendengar hanya menggerutu kesal. ia pun segera memacu mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.



Bramantio berlari menyusuri koridor rumah sakit. ia bersama Adam mencari kamar dimana Zahra di rawat.


Adam kini sudah bisa berjalan normal tanpa mengenakan alat bantu. bahkan kakinya sudah sembuh.


kedua orang tua ini sangat panik ketika Eza memberi kabar bahwa Zahra mengalami luka tusuk yang di sebabkan oleh perampok .


Eza tidak mengetahui siapa lelaki yang menusuk Zahra ia menyimpulkan bahwa Zahra adalah korban perampokan.


terlihat Eza dan Bagas sudah berada di depan ruangan.


"ba…bagaimana keadaan putriku? "tanya Adam sembari mendekati Eza.


"Zahra belum sadar pak"


sahut Eza dengan wajah tak kalah khawatir


"apa dia terluka parah? "


timpal Bramantio


"tidak pak , untung saja Eza segera mengikat luka tusukan di pinggang Zahra dengan bajunya. sehingga Zahra tidak mengeluarkan banyak darah"


ucap Bagas


"terimakasih Za"


ucap Bramantio menepuk pundak Eza


"iyah pak, justru saya minta maaf tidak bisa sepenuhnya menjaga Zahra"


Eza menunduk. ia merasa bersalah, mungkin Sinta akan memarahinya perihal kejadian ini.


"sudah lah jangan menyalahkan dirimu sendiri, musibah tidak ada yang tahu"


ucap Adam .

__ADS_1


mereka pun menunggu di depan kamar dimana Zahra sedang di rawat.


"apa boleh kita masuk sus?"


tanya Adam pada perawat yang baru saja keluar dari kamar Zahra.


"boleh pak, silahkan"


Ke empat lelaki itu pun masuk.


terlihat Zahra masih terbaring belum sadar, namun wajahnya sudah tidak sepucat tadi.


"tok…tok"


tiba-tiba terdengar suara ketika pintu membuat mereka yang ada di dalam menoleh ke arah pintu.


ternyata Sinta dan Hera , mereka datang karena mendapat kabar dari Eza dan Bagas atas apa yang terjadi dengan Zahra.


"ibu"


panggil Eza dengan raut wajah khawatir.


"bagaimana ini bisa terjadi Za,? "


"ceritanya panjang bu"


"yang Eza lihat Zahra sudah terjatuh dengan kondisi pinggang sudah tertusuk"


ucap Eza


sementara Sinta mendekati ranjang dimana Zahra sedang terbaring, diikuti oleh Hera.


"apa kamu melihat nomor plat mobilnya Za? "


tanya Bramantio, Eza menggelengkan kepalanya


"maaf pak Bram, Saya panik sehingga tidak sempat melihat nomor plat mobilnya"


"yang saya tahu perampok itu berjumlah 3 orang lelaki. bahkan Zahra sempat melawan"


Eza menjelaskan apa yang ia lihat.


"mengapa kamu bisa bersama Zahra? "


tanya Bagas


"aku tadi ke kantor cabang, tidak sengaja melihat Zahra melintas. aku mengikutinya tanpa sepengetahuan Zahra, namun aku berhenti mengisi bensin motorku"


"jika aku tidak berhenti di tempat pengisian bahan bakar mungkin Zahra tidak akan seperti ini "


entah mengapa Eza merasa sangat bersalah, ia sangat khawatir akan keadaan Zahra. ia tidak bisa menepati janjinya pada ibunya untuk menjaga Zahra layaknya adik kandungnya.


"jangan merasa bersalah, justru kau yang menyelamatkan Zahra kalau bukan karena tindakanmu yang cepat mungkin Zahra akan kehilangan banyak darah"


"terimakasih ya, "


Eza hanya mengangguk.


"lihat lah"


ucap Sinta saat melihat jari Zahra perlahan bergerak.


"Zahra"


ucap Sinta berusaha menyadarkan Zahra.


Zahra kini berusaha mengumpulkan kesadaran dan berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.


"ibu"


panggil Zahra lirih.


"iya sayang, ibu disini"


ucap Sinta


"Zahra dimana bu? "


Zahra terlihat heran saat pandangannya mendapati ruangan serba putih dan semua berkumpul di dalam ruangan ini.


"kamu di rumah sakit nak, kamu terluka"


ucap Bramantio


Zahra berusaha mengingat kejadian itu, perlahan ia mengingatnya namun setelah perutnya terasa nyeri serta sakit ia tidak mengingat apa-apa.


"apa yang sebenarnya terjadi nak? "


tanya Adam, Zahra hanya terdiam berusaha mencerna kejadian itu.


"biar Zahra sadar sepenuhnya dulu pak, baru Pelan-pelan kita tanya apa yang sebenarnya terjadi "


Bagas memberi pengertian pada Adam.


"Zahra ga tahu yah siapa ke tiga lelaki itu, mereka berusaha membawa Zahra ke dalam mobil"


"Zahra mencoba melawan namun karena mereka panik salah satu dari mereka menusuk Zahra dengan belati"


tutur Zahra


"apa kamu mengingat wajah orang itu atau apapun yang bersangkutan dengannya? "


tanya Hera


"Zahra ingat plat nomor mobil yang di kendarai mereka bu, serta…"

__ADS_1


Zahra menghentikan kalimatnya.


"serta apa nak? "


tanya Bramantio penasaran


"me…mereka menyebut nama Vera pah"


Zahra berbicara lirih


"Vera? "


ulang Bramantio


Zahra hanya mengangguk dengan ekspresi wajah ragu.


"aku yakin ini pasti ulahnya"


gerutu Bramantio , ia mengepalkan tangannya.


Bramantio langsung beranjak keluar .


"papah mau kemana? "


tanya Zahra saat melihat Bramantio melangkah pergi.


"kamu istirahat nak, biar papa urus semua ini"


ucap Bramantio ia melanjutkan langkahnya dan keluar dari ruangan tersebut.


"papah"


"pah, dengarin Zahra dulu pah"


panggilan Zahra tidak di dengar oleh Bramantio, ia terus melangkah pergi.


perasaannya sudah terlalu emosi ia tidak terima melihat putrinya di lukai seperti itu.


"ayah, tolong cegah papah yah"


ucap Zahra pada Adam


"biar semua di urus sama papa kamu Ra"


Adam berusaha memberi pengertian, ia juga turut tidak terima ketika Zahra di sakiti.


"yah, tolong yah. Zahra takut papa akan melakukan hal kasar pada Vera"


"kak Eza, kak Bagas tolong hentikan papah"


Zahra menangis ia takut jika Bramantio akan berbuat kejam pada Vera. Zahra tahu sikap papanya .


Bramantio akan melakukan apa saja demi Zahra.


"tapi Ra, biar pak Bramantio mencari siapa pelakunya"


ucap Eza


"tapi Zahra khawatir kak, Zahra ga mau terjadi apa-apa sama papah ataupun Vera"


"tolong kak"


Zahra terus memohon


"Bagas, cepat kejar pak Bramantio. pastikan ia tidak bertindak di luar batas"


ujar Hera, membuat Bagas dan Eza bergegas pergi menyusul Bramantio.


"bu, ba…bagaimana ini? "


rengek Zahra pada Sinta, ia takut Bramantio akan bertindak kejam pada Vera.


walaupun Zahra yakin sepenuhnya, bahwa Vera lah dalang dari semua ini.


........


Sementara Vera ia merasa kesal saat mendengar lelaki suruhannya gagal membawa Zahra ke hadapannya.


"Sial! "


"mereka gagal, bagaimana bisa mereka kalah dengan 1 orang wanita"


gerutu Vera


"tapi ga apa-apa, setidaknya Vera sudah terluka, walau belum sepenuhnya musnah"


Vera tersenyum menyeringai. ia sudah terlampau dendam dengan Zahra.


karena kehadirannya, keluarga Vera menjadi terpecah belah.


bahkan kini Yura masih berada di rumah sakit setelah Yura mengalami Stroke.


hal itu membuat Vera semakin membenci Zahra.


"kau bahagia di atas penderitaan aku dan mami. ku pastikan kau hancur Zahra"


Vera melemparkan vas bunga yang terbuat dari kaca ke dinding kamarnya. untuk meluapkan rasa kesalnya.


"aku akan menghancurkan mu Zahra! "


teriak Vera.


……


semoga masih setia yah guys 😊

__ADS_1


__ADS_2