Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
49 maaf


__ADS_3

Zahra kembali ke Caffe setelah di rasa acara meetingnya telah berakhir.


ia tak ingin bertemu Bagas maupun Bramantio.


"dari mana kamu Ra? "


tanya Elsa teman kerjanya.


"Dari Minimarket El"


jawab Zahra asal.


"itu ruangan yang buat Meeting tadi kamu bersihin yah aku mau anter pesanan pelanggan di depan"


"Oh iyah El"


Zahra melangkah menuju ruangan yang tadinya di gunakan untuk meeting.


sudah tidak ada siapapun Disana, membuat Zahra bernafas legah.


"Ehh bocil, kenapa kamu tadi kabur"


Zahra terkejut Rendra tiba-tiba datang dari belakang.


"Iss bisa ga sih kalau nanya itu jangan tiba-tiba "


Zahra kesal sebab ia terkejut


"hahaha"


"maaf Ra, Abisnya penasaran"


Rendra tertawa nyengir.


"aku ga kabur, cuma lagi kebelet mau ke toilet"


jawab Zahra tanpa melihat Rendra, tangan Zahra sibuk mengelap meja yang berukuran besar tersebut.


Rendra hanya mengangguk mendengarnya.


...……………...


Zahra pulang dengan berjalan kaki, sebab jarak Caffe dan kostnya tidak lah terlalu jauh.


Kondisi cuaca sore ini terlihat mendung bahkan matahari sudah tidak memperlihatkan sinarnya. karena tertutup gumpalan awan hitam.


Zahra mempercepat langkahnya agar sampai di kost sebelum hujan turun.


Ketika kaki Zahra melangkah memasuki pintu gerbang kost. ia melihat seorang laki-laki mengenakan stelan formal duduk di depan kamarnya.


Serta motor yang terparkir di depan kamar kostnya.


Perlahan Zahra mendekat, ia seperti kenal siapa laki-laki ini.


"Zahra? "


Bagas mengangkat pandangannya.


membuat Zahra terkejut.


Bagas menghampiri Zahra.


"Ra please kasih aku kesempatan"


Kalimat itu terus terulang dari bibir Bagas berharap hati Zahra luluh.


"Sudah aku bilang, aku tidak mencintaimu lagi"


Zahra melewati Bagas, ia segera mencari kunci di tasnya.


"Ra aku mohon, sampai saat ini perasaan ku ke kamu masih sama Ra"


"Aku siap meninggalkan jabatan serta aset yang aku punya Ra, asal kamu mau memaafkan ku.


Tangan Zahra yang hendak membuka pintu kamar pun terhenti ia menatap Bagas.


"aku tidak pernah memintamu untuk melakukan hal bodoh semacam itu"


"Sudah aku katakan aku mencintai orang lain"


Lagi-lagi kalimat bohong itu keluar dari bibir Zahra.


Zahra pun membuka pintunya dan melangkah masuk.


"aku ga perduli Ra jika kamu mencintai orang lain, aku bakal perjuangin kamu Ra"


Bagas tetap yakin Zahra berbohong.


Zahra tidak perduli dengan perkataan Bagas.


"pulang lah"


Zahra kemudian menutup pintu kamarnya


"aku ga akan pulang Ra sebelum kamu memaafkan aku"


teriak Bagas dari luar, namun Zahra tetap tidak perduli.

__ADS_1


malam harinya selesai Zahra membersihkan wajahnya ia pun hendak tertidur, di liriknya jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam.


keadaan di luar hujan lebat , angin berembus kencang.


Zahra yang hendak tertidur pun kembali beranjak dari tempat tidurnya untuk sekedar melihat situasi di luar.


Zahra menyibakkan kain jendela.


mata Zahra membulat saat ia melihat Bagas masih duduk di bangku yang terdapat di depan kamarnya.


"ia benar tidak pulang "


gumam Zahra, membuat Zahra dengan cepat menutup kain jendelanya dan kembali ke tempat tidurnya.


Zahra merebahkan tubuhnya hendak tertidur. ia berusaha memejamkan mata namun pikirannya masih memikirkan Bagas.


Zahra tetaplah manusia ia tidak tega jika membiarkan Bagas duduk ke dinginan di depan.


Zahra mengusap wajahnya kasar, ia pun kembali bangkit dan beranjak hendak keluar.


Sementara Bagas memejamkan matanya, dingin yang menusuk kulitnya seakan tak di hiraukannya.


yang ada di pikiran Bagas hanya lah maaf dari Zahra.


"kenapa masih disini"


Suara seseorang mengejutkan Bagas membuat ia membuka matanya.


ternyata Zahra sudah berdiri di sampingnya.


"Zahra"


Bagas pun bangkit dari duduknya


"aku ga akan pulang sebelum kamu maafin aku Ra "


sudah berulang kali kalimat maaf keluar dari bibirnya.


Zahra sebenarnya masih memiliki perasaan yang sama dengan Bagas.


ia juga manusia yang pastinya juga pernah melakukan kesalahan.


Zahra menghela nafasnya


"iyah aku maafin kamu"


ucap Zahra membuat Bagas mengangkat pandangannya.


"bener Ra? "


Terulas senyum di bibir Bagas, senyum yang sudah lama tak pernah di lihat Zahra.


Hati Zahra merasa dingin ketika Bagas tersenyum seperti ini.


"Ra, bisakah kita mulai semuanya dari awal? "


Bagas meraih tangan Zahra, ia menatap manik cokelat milik Zahra.


Jantung Zahra seketika melemah seakan terhipnotis dengan Bagas.


"Ra, perasaanku masih sama untuk kamu. aku janji bakal perjuangin kamu kasih aku kesempatan Ra untuk membuktikan semuanya. "


Zahra tahu Bagas sedang tidak berbohong.


"kak"


Akhirnya sebutan itu keluar dari bibir mungil Zahra.


"Zahra cuma pengen bahagia kak, Zahra cuma pengen ngerasain kasih sayang kak, Zahra cuma mau di anggap berharga "


"Hati Zahra ga bisa bohong kak, Zahra juga memiliki perasaan yang sama untuk kakak"


"Greep"


Bagas memeluk erat tubuh Zahra.


Bagas berjanji dalam hatinya ia tak akan mengulangi kesalahan lagi.


"aku akan jagain kamu Ra seperti janji ku pada ibumu, maaf aku sudah menyakiti mu"


Bagas mengeratkan pelukannya, mendekap tubuh kecil milik Zahra.


Zahra merasakan kenyamanan yang sempat hilang.


Guyuran hujan menjadi saksi ucapan janji dari hati Bagas.


Beberapa saat lamanya mereka berpelukan di iringi dengan lebatnya hujan yang tak kunjung reda.


"kak"


panggil Zahra dalam pelukan Bagas


"Hmm"


Bagas berdehem dengan keadaan masih menutup mata.


"hujan kak"

__ADS_1


Ucap Zahra .


Bagas pun melepaskan pelukannya.


"dari tadi juga hujan Ra"


Zahra nyengir memperlihatkan gigi ginsulnya.


"Ra aku rindu kamu yang ceria kaya gini, aku ingin lihat kamu tersenyum."


Gumam Bagas dalam hati.


"Yaudah yuk kak masuk, di luar dingin masih hujan"


Zahra menggandeng tangan Bagas menngajak masuk ke dalam kamarnya.


Bagas duduk mengamati kamar kost Zahra. terlihat rapi harum ruangan ini sangat khas dengan harum yang selalu melekat pada diri Zahra.


Zahra membuatkan segelas teh untuk Bagas.


"nih kak di minum"


Zahra menyodorkan teh untuk Bagas.


"kenapa sih masih tetap nungguin Zahra"


ucap Zahra memandangi Bagas yang sedang menikmati teh hangat


"kan belum dapat maaf dari kamu"


"aku kan udah bilang ga akan pergi sebelum kamu maafin aku"


Bagas menatap Zahra.


"sekarang kan udah Zahra maafin"


"Oh jadi kamu ngusir aku yah, Yaudah aku pulang deh"


Bagas bangkit dari duduknya


"Ehh jangan, masih hujan kak"


Zahra menarik tangan Bagas agar duduk lagi.


"kakak ih"


Zahra mencebikkan bibirnya.


membuat Bagas gemas melihatnya, perasaan Bagas sangat legah bisa melihat senyuman dan sifat ceria Zahra lagi.


"kamu ajak kakak masuk ke kamar kamu, emang ga takut"


Bagas menaikkan sebelah Alisnya.


"Yaudah deh kakak di luar ajah"


Zahra kesal di Jahilin Bagas.


"Hahaha ngambek ih"


Bagas mencubit pipi Zahra gemas.


"kalau ke tahuan Bukde Erin bisa-bisa dikira aku macem-macemin kamu lagi"


Bagas menyandarkan tubuhnya ke dinding.


"ya ga lah kak, kan hujan di luar Lagian kakak bawa motor gimana mau balik"


"yah Zahra yakin sih kakak ga bakal macem-macem sama Zahra"


Zahra tahu Bagas tidak mungkin melakukan hal di luar nalar, Zahra percaya Bagas laki-laki yang baik.


"Yah kaka ga bisa menjamin sih, keadaan cuaca hujan, dingin lagi. "


Bagas menarik turunkan alisnya menggoda Zahra.


"kakak "


Zahra membulatkan matanya tanda protes pada Bagas.


Sementara Bagas tertawa melihat ekspresi Zahra. ia pun tidak akan mungkin merusak seseorang yang sangat berharga baginya.


ia tak akan mengingkari janjinya untuk menjaga Zahra.


..............


Jangan lupa like serta Vote yah.


jangan lupa juga mampir ke karya Author yang judulnya 'Jebakan Hidup berujung Cinta'


follow juga ig Author :EtyRamadhi17 Serta akun Facebook Author : Ety Ramadhi


🙄🙄malah promosi akun Sosmed 😂😂


dasar Author 😁


oke deh, terimakasih all 🤗

__ADS_1


__ADS_2