
Di kediaman Bramantio kini berasa sepi, sebab Yura kembali ke rumah orang tuanya.
mereka kini masih mengurus berkas perceraian.
Bramantio sudah bulat dengan keputusannya untuk menceraikan Yura.
ia benar-benar kecewa rahasia sebesar ini bahkan di sembunyikan Yura darinya.
terlebih Yura tidak ingin jujur hanya demi harta. ia mementingkan harta warisan untuk Vera.
Seandainya saja Yura jujur, mungkin Bramantio bisa menerima mereka dan masih mempertahankan rumah tangganya.
Yura dan Vera tidak keluar dengan tangan kosong Bramantio sudah membelikan sebuah rumah untuk mereka tinggal.
bahkan Bramantio juga mengurus bagian harta untuk Yura ia juga tetap memberi sebagian hartanya pada Vera.
ia tidak sekejam itu mengusir Yura dan Vera tanpa memberikan sepeser harta.
Kini Yura memilih tinggal sementara di rumah orang tuanya.
Bramantio merebahkan tubuhnya di sofa, yang dahulu ia gunakan u tik berkumpul dengan Yura dan Vera.
ada rasa sedih dengan keputusannya namun rasa sedih itu terkalahkan dengan rasa kecewa yang mendalam.
Pikiran Bramantio kembali melayang tentang Zahra.
Zahra bahkan enggan melihat wajahnya. tidak ada lagi senyuman ramah di wajah Zahra seperti dahulu pertama kali ia bertemu.
Bramantio menoreh kan luka yang begitu dalam di hidup Zahra.
ia sangat merasa bersalah ketika mengetahui Zahra bahkan di perlakukan dengan tidak baik dengan suami Venti.
Bramantio mengetahui hal itu dari Bagas, sebab Bagas pernah ikut Zahra ke rumah orang tuanya.
"maafkan papah nak. papah janji akan menebus semua kesalahan papah. izin kan papah. menyembuhkan luka di hatimu"
air mata Bramantio mengalir ,seketika ia mengingat Zahra.
"Terimakasih Venti kau telah menjaga anakku, bahkan kini ia tumbuh menjadi gadis cantik, baik dan kuat walau beban yang di tanggungnya begitu berat"
Bramantio memegang gelang yang sama dengan gelang milik Zahra.
ia bergumam sendiri.
seketika ia memiliki ide.
mungkin ia harus membantu Zahra tanpa sepengetahuannya.
ia mengembil ponselnya dan mengetik pesan untuk di kirimkan pada seseorang.
...……………………...
Pagi ini Zahra kembali bekerja dengan keadaan mata yang sedikit mengantuk.
mengingat malam tadi Bagas baru bisa pulang pukul 1 makan setelah hujan reda.
hal itu membuat Zahra terpaksa bergadang menemani Bagas.
Zahra meletakkan tas kecilnya di lemari dapur.
"Hooaaaaammm"
Zahra terus menguap hingga matanya memerah.
"Ehh bocah, muka mu kenapa kusut gitu"
Rendra teman setia Zahra yang selalu meledek Zahra setiap hari datang menghampiri.
ia datang membawa sayuran segar di tangannya.
"aku kurang tidur Ndra"
Zahra menopang dagunya.
"lah kenapa? kamu ngeronda tari malam? "
Rendra meletakkan sayuran yang ia bawa ke dalam kulkas.
"tadi malam lagi paduan suara sama nyamuk sampe tengah malam"
Zahra menjawab asal.
tidak mungkin ia mengatakan menemani Bagas di kamar kostnya.
__ADS_1
bisa jadi pikiran Rendra berpetualang ke berbagai negara.
padahal Bagas dan Zahra hanya sekedar mengobrol tidak lebih.
"kebiasaan banget kalau di tanya becanda"
Rendra kembali sambil membawa kain lap dan tusuk gigi di tangannya.
"nih kamu lap tuh meja yang di depan sama ini nih aku kasih tusukk gigi"
Rendra menyodorkan kain lap dan tusuk gigi pada Zahra.
"nih tusuk gigi buat apaan? "
Zahra memandangi tusuk gigi yang di beri Rendra.
"buat tuh ngeganjel mata kamu biar ga ngantuk"
Rendra berlari keluar takut jika Zahra menelannya karena kesal.
"kamu kira mata aku bisa di ganjal pake beginian"
Zahra mendengus kesal, ia pun beranjak hendak mengelap meja.
selesai mengelap Meja Zahra mengepel lantai ,karena 10 menit lagi Caffe akan buka .
"Zahra"
Panggil Jordan Barista di Caffe ini.
"iyah kak"
Zahra menghentikan acara mengepelnya.
"kamu di panggil pak Budi di ruangannya"
"ohh iyah kak."
Jordan berlalu pergi, barista tampan itu pun kembali ke tempat ia bekerja.
Zahra kemudian menuju ruangan Pak Budi manager Caffe ini sekaligus Owner Caffe tempat ia bekerja.
"tok…tok…tok"
"permisi pak"
Pak Budi terlihat sedang memainkan ponselnya.
"Ouh Zahra, silakan masuk"
Pak Budi mempersilakan Zahra.
"ada apa yah pak? "
Zahra penasaran ada hal apa ia di panggil ke ruangan pak Budi.
"ini gaji kamu"
Pak Budi menyodorkan sebuah amplop cokelat untuk Zahra.
"Hah"
Zahra terheran bukan kah tanggal gajiannya seminggu lagi.
"tapi pak, ini belum tanggalnya saya untuk menerima gaji"
Zahra menolak.
"udah gak apa-apa ambil saja"
Pak Budi memaksa, membuat Zahra mengambil amplop tersebut.
"ya udah kamu boleh lanjut kerja"
Pak Budi tersenyum pada Zahra.
"terimakasih pak"
Zahra pun melangkah keluar.
kini saat ia sudah berada di luar ruangan ia mengintip isi amplop yang di terimanya.
ia penasaran mengapa amplop itu terlihat tebal.
__ADS_1
matanya membulat ketika melihat jumlah uang yang berada di dalam amplop tersebut.
"banyak banget"
Zahra terheran gaji yang di dapatnya seharusnya belum full sebab ia masih dalam masa training.
tapi uang yang di terimanya bahkan dua kali lipat dari gaji karyawan tetap.
"Pak Budi salah hitung nih"
Zahra kembali ke ruangan Pak Budi
"permisi pak " Ucap Zahra
"iyah ada apa Zahra? "
"ini pak, bapak gak salah kasih uang ke saya. ini jumlahnya kebanyak an pak. saya kan masih masa training?"
Zahra ke bingungan.
"saya ga salah kok. itu memang gaji kamu. udah kamu terima aja itu rezeki kamu"
Zahra semakin bingung pak Budi ini bos yang terkesan pelit pada karyawan apalagi menyangkut soal uang.
tapi kenapa kini ia bahkan memberikan gaji yang lebih banyak dari gaji Zahra.
"ya sudah. kamu balik kerja Caffe sebentar lagi buka"
Zahra pun mengangguk keluar ruangan dengan perasaan curiga.
...………………...
Jam sudah menunjukan pukul 12 siang suasana Caffe masih terlihat ramai.
Zahra sedang menyusun gelas, dan pesanan datang silih berganti.
Tiba-tiba Zahra merasakan ada sesuatu yang harus ia keluarkan.
"Elsa, aku nitip gelas-gelas ini yah"
ucap Zahra dengan ekspresi sedikit nyengir seakan menahan sesuatu.
"lah kamu mau kemana? "
jawab Elsa
"ini ga bisa di tahan"
Zahra menunjuk ke arah bagian belakangnya ia pun langsung lari tanpa menunggu jawaban dari Elsa .
beberapa menit kemudian Zahra keluar dari toilet.
"Hah legah"
Zahra memegangi perutnya.
ketika Zahra melewati ruangan pak Budi sayup-sayup terdengar pak Budi sedang menelepon seseorang .
Zahra memperlambat jalannya
"selamat siang pak Bramantio. pesanan bapak sudah saya sampaikan pada Zahra pak"
"iyah pak saya juga terimakasih sama bapak, sudah mau memberikan suntikan dana untuk Caffe saya"
Zahra menghentikan langkahnya saat mendengar pembicaraan pak Budi.
"jadi uang tadi dari pak Bramantio "
Gumam Zahra sambil membulatkan mata
"pantesan aja jumlah uangnya terlalu banyak dari gaji ku"
Zahra masih setia berdiri. ia tak mengerti apa maksud dan tujuan pak Bramantio memberikan uang tersebut untuknya.
…………………
Hadehh sudah 3 part yah guys untuk hari ini.
Author berusaha crazy up. walau tak begitu banyak.
jangan lupa yah vote dan likenya di banyak in.
Sala manis Author
__ADS_1
~EtyRamadhii