Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
102.bukan waktunya menyesali


__ADS_3

Untung saja Zahira memiliki teman bernama Chalista, Chalista yang membiayai kepulangan Zahira ke Indonesia.


Zahira memilih untuk kembali daripada ia kehabisan uang dan mati kelaparan di negara orang.


ia berharap ayah dan ibunya masih bisa memaafkannya. Namun saat tiba di rumah ayah dan ibunya ia tak menemukan keduanya. ia berpikir bahwa sang ayah akan membeli kembali rumah itu tapi ternyata tidak.


Zahira berusaha mencari informasi dimana keberadaan orang tuanya namun sayang tak ada yang memberikan informasi yang jelas.


Flashback Of


"Ga bisa kau sedikit saja berubah Zahira"


Ucap Zahra dengan nada tinggi setelah Zahira menceritakan semuanya.


"apa kasih sayang ayah dan ibu selama ini tak cukup kau dapatkan sehingga kau mempersulit hidup mereka bahkan kau sudah membuat ibu me... "


"Zahra sudah! "


tegur Bramantio pada putrinya itu. ia tahu Zahra sedang marah tapi bagaimanapun juga tak pantas rasanya jika ia memarahi Zahira di depan banyak orang.


Zahra terdiam, terlihat deru nafasnya memburu menahan amarah. ia tak habis pikir jika kelakuan Zahira sudah melampaui batas.


"maafkan aku Ra, maafkan aku ayah"


isak Zahira sambil berderai air mata. ntahlah air mata ketulusan atau hanya air mata buaya yang ia keluarkan.


"apakah kamu tak memiliki informasi lebih detail mengenai laki-laki itu? "


tanya Bramantio pada Zahira. Namun Zahira menggeleng


"yang aku tahu, dia anak pengusaha tambang di kota K, seseorang berdarah Jepang"


tutur Zahira


"sudah-sudah, lebih baik Zahira istirahat dulu untuk memulihkan kondisinya. esok setelah keadaanya membaik baru kita tanya pelan-pelan soal lelaki itu"


Ujar Sinta dan semuanya menyetujui.


Adam tak sanggup berbicara .ia menahan sesak dan amarah namun tak bisa ia luapkan. mendengar putri yang ia jaga kini di rusak oleh lelaki yang sekarang tak tahu keberadaannya.


Sementara Zahra telah lebih dulu keluar dari ruangan itu.


ia memilih duduk di bangku panjang yang terdapat di parkiran rumah sakit. kepalanya berdenyut memikirkan masalah yang tiada hentinya hadir.


ia memikirkan bagaimana kondisi anak Zahira jika kelak lahir ke dunia tanpa sosok ayah.


"dasar egois tidak berpikir panjang jika hendak berbuat"


gumamnya kesal.


"Zahra"


"kamu ga apa-apa nak? "


Suara Bramantio membuyarkan lamunan Zahra. ternyata papanya sudah berada di belakangnya bersama mamah dan kakaknya.


Namun Bagas tak terlihat bersama mereka.


"Ehm Zahra ga apa-apa kok pah"


"kenapa kamu ga izin dulu kalau mau pergi ke kota ini? "


tanya Sinta sembari mengelus lembut kepala Zahra.


"bukan kah papah sama mamah selalu sibuk? "

__ADS_1


"dan ga pernah menghubungi Zahra dan kalau di hubungi selalu ga di angkat ga pernah juga kan datang ke restoran Zahra"


"Zahra kesini karena rindu sama ibu"


ekspresi Zahra terlihat sendu


"maafin papah ya sayang, bukan papah ga perduli sama kamu tapi papah beneran sedang sibuk. perusahaan papah sedang bermasalah"


Bramantio berusaha memberi pengertian pada putrinya.


"Iyah nak, papah kamu juga sering pulang larut malam"


timpal Sinta


"Kak Eza juga mentang-mentang mau lamaran adiknya ga di perduliin lagi"


Eza juga mendapat bagian, kebiasaan Zahra jika sedang ngambek semua terkena imbasnya.


"Aaa elah Ra, kakak juga sering ke restoran kamu buat makan siang tapi kamu selalu ga ada. kata karyawan, kamu lagi sibuk di kampus"


"yah Udah kakak makan doang disana. tapi bayar kok"


Eza mengacungkan jari membentuk huru v.


"kakak apaan begitu "


Sungut Zahra


"lah ngambek dia, Udah ah malam-malam jangan ngambek"


"yuk pah kita cari hotel. Udah larut malam banget ini loh"


ajak Eza pada Bramantio


"Yaudah yuk sayang kita cari hotel buat istirahat. kamu pasti juga capekkan"


"mau ikut istirahat di hotel apa mau menginap disini? "


tanya Eza


"kalau mau menginap disini ayo kakak anterin. noh keruangan sebelah kamar mandi"


tunjuk Eza pada lorong rumah sakit ini


"itukah kamar jenazah! "


ucap Zahra dengan nada tinggi


"lah emang iyah, kalau masih ngambek kakak anterin masuk kesana"


"kak Eza ihh, bukannya minta maaf malah ngeselin"


Rengek Zahra sambil memukul pelan lengan Eza.


Bramantio dan Sinta hanya tertawa melihat kelakuan kedua anaknya.


"sudah-sudah, malam-malam kok malah bertengkar "


"ayo ah buruan kita cari hotel Udah larut banget ini ga bagus kena angin malam"


lerai Sinta , sementara Eza masih mengganggu Zahra dengan menarik turunkan alisnya sambil menatap Zahra.


Sambil berjalan Zahra membuka ponselnya untuk menelepon Bagas.


"halo kak"

__ADS_1


"kakak dimana?"


"kakak ga ikut kita? "


"kita lagi mau cari hotel buat istirahat "


"ga ah kak besok pagi aja Zahra kerumah sakit lagi, sekalian bawain sarapan buat ayah"


"jadi kakak tidur dimana malam ini? "


"Oh begitu, yasudah deh kak"


Zahra memutuskan sambungan teleponnya


"kemana Bagas, ga ikut?"


Eza mensejajarkan langkahnya di samping Zahra.


"kak Bagas di rumah sakit kak, dia bilang dia mau nemenin ayah"


ucap Zahra dengan nada pelan


"yaudah dong jangan cemberut gitu, yok ah masuk ke mobil dah di tunggui papan noh"


Eza merangkul pundak Zahra.


Sementara Bagas ia berada di rumah sakit menemani Adam. ia tahu Zahra sedang emosi sehingga tak ingin berada disini.


setelah dari toilet,Bagas menghampiri Adam yang duduk di bangku depan kamar Zahira.


"bapak ga tidur? "


Bagas turut duduk di samping Adam


"belum nak Bagas, bapak belum mengantuk"


ucap Adam


sesaat hening di antar keduanya hanya desiran angin lembut yang menyapa.


"saya salah mendidik Zahira"


ucap Adam lirih namun masih di dengar jelas oleh Bagas.


"bapak tidak sepenuhnya salah, hanya saja Zahira yang tidak bisa mengubah sikapnya"


ucap Bagas menenangkan Adam.


"saya salah Bagas, dahulu saya sangat memanjakan Zahira maka akhirnya jadi seperti ini"


sesal Adam


"sudah pak jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, sekarang yang terpenting Zahira sudah kembali dengan selamat"


"setelah kondisinya membaik kita semua akan sama-sama mencari ayah dari anak yang di kandung Zahira"


"kamu benar nak, bukan waktunya untuk menyesali bahkan sesal pun sudah tidak berguna"


tutur Adam dengan tatapan nanar.


........


Terimakasih buat para reader yang masih setia nungguin up dari Author. mohon maaf jika Author kelamaan up sebab Author juga manusia biasa yang punya masalah hidup dan kesibukan hidup 😁


Dan Author juga menyempatkan diri untuk up walau tidak banyak.

__ADS_1


Terimakasih semuanya


~EtyRamadhii


__ADS_2