Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
114. berharap hanya mimpi


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 9 malam. Namun Zahra tak kunjung keluar kamar.


Adam khawatir , apakah putrinya sudah makan malam atau belum.


 


“tok. ...tok... Tok “


“Zahra”


Panggil Adam


 


“iyah yah”


Teriak Zahra dari dalam kamar tanpa membuka pintu kamarnya


“kamu ga makan malam nak? “


“sudah jam 9 loh”


 


“Zahra sudah makan yah,  Zahra  masih kenyang”


Ucap Zahra


 


“yasudah kalau begitu, jangan lupa vitamin kamu di minum”


Adam mengingatkan,  sebab semenjak Zahra sibuk mengurus resto Adam membelikannya vitamin agar tubuh Zahra tidak kelelahan.


“iyah yah”


Ucap Zahra.


Kini ia berusaha menghubungi Bagas namun telepon darinya tak kunjung di angkat.


Zahra juga sempat menghubungi Kiran  menanyakan dimana Bagas , namun Kiran pun tak mengetahui di mana keberadaan kakaknya.


 


Zahra melempar ponselnya ke kasur, ia kesal saat Bagas tak kunjung mengangkat teleponnya.


 


“Bagaimana jika kak Bagas ninggalin aku? “


“bagaimana  jika dia cari perempuan lain yang bisa di ajak serius? “


Beragam spekulasi muncul di benak Zahra, 


 


“aaaaaa... Hikss. Hikks”


“kenapa aku bisa se bego ini”


Zahra menepuk jidatnya sambil menangis


“Andai saja aku setuju di ajak menikah,  pasti semuanya ga kayak gini”


Zahra menangis,  ia merasa bersalah.


 


Zahra meringkuk di  kasur,  membayangkan Bagas.


 


Ia mengingat perjalanan mereka sampai saat ini.


Zahra memegang kalung miliknya, kalung yang memiliki liontin berinisial Z pemberian Bagas.


 


Mata Zahra terasa lelah karena menangis,  sampai ia terlelap tidur.


 


 


--


Bagas berada di kantor,  ia sengaja tidak pulang.


 


Berkali kali ia melirik ponsel miliknya yang berdering.


Tertera nama My love di layar handphone miliknya yang dapat di pastikan itu Zahra.


Tangannya terulur hendak mengangkat telepon tersebut,  biasanya  sesibuk apapun Bagas pasti akan selalu mengangkat telepon dari Zahra.


Itu bukti Betapa bucinnya Bagas terhadap Zahra


“tahan Bagas,  tahann”


Ucap Bagas mensugesti dirinya sendiri agar tidak mengangkat telepon dari Zahra.


Sampai akhirnya handphone Bagas berhenti berdering.


 


Bagas memilih untuk tidak pulang kerumah karena sudah pasti Zahra akan menelepon Kiran dan menanyakan keberadaan Bagas.


Lagipula ia harus menyelesaikan berkas-berkas yang sudah 3 hari ia tinggalkan,  sekaligus menyusun laporan untuk esok, yang akan ia bawa.


Bagas besok pagi akan segera berangkat ke kota C untuk mengawasi proyek kerja sama antara Bram dan Wijaya beserta rekan bisnis lainnya.


Kemungkinan Bagas akan menetap disana selama 2 minggu,  seharusnya Eza lah yang mendapat bagian mengawasi proyek, namun karena pernikahan Eza di percepat membuat Eza tidak bisa menjalankan tugas.


Mau tidak mau Bagaslah yang akan menggantikan Eza.


Bagas berniat tidak memberi kabar untuk Zahra, Bagas ingin melihat bagaimana jika Zahra tanpa kabar darinya.


Bagas juga telah menyepakati kedua orang tuanya untuk tidak memberikan informasi jika Bagas pergi mengawasi proyek.


Bahkan Eza sendiri juga tidak mengetahui jika yang menggantikan dirinya adalah Bagas.


 


Bagas menyusun berkas-berkas  yang berserakan di meja kerjanya,  ia melirik arloji miliknya.


Jam menunjukkan pukul 1 dini hari.Matanya terasa berat, ia meraih ponselnya terdapat 20 panggilan tidak terjawab dari Zahra.


“maafin kakak yah Ra,  kakak Cuma ingin kamu sadar bahwa hubungan kita juga penting”


Ucap Bagas mengelus layar ponselnya yang terdapat foto wajah Zahra di walpaper handphonenya.


 


Ia pun beranjak masuk ke dalam ruangan pribadinya untuk beristirahat.


 


 


 


--


Suara kicauan burung telah terdengar,  mentari pagi telah menyelinap masuk ke kamar Zahra.


Zahra menggeliat saat di rasa angin pagi menyentuh lembut pipinya.


 


Perlahan ia membuka kelopak matanya yang sedikit berat sebab, kini mata Zahra tampak sembab karena menangis.


Zahra meraba kasurnya untuk mencari ponsel miliknya  , terlihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 7 pagi.


Ia mengecek aplikasi hijau miliknya namun tidak ada pesan dari Bagas.


Biasanya Bagas selalu mengirim pesan ucapan selamat pagi tapi sekarang tidak ada satupun chat dari Bagas.


Bahkan sekedar riwayat panggilan tak terjawab juga tidak ada. 


Zahra berharap kejadian semalam adalah mimpi dan ketika bangun semua sudah kembali seperti semula, tapi kejadian itu benar nyata.


 


Zahra meletakkan handphonenya di nakas,  ia membereskan tempat tidur miliknya.


Rasanya Zahra enggan terbangun dari tidurnya  mengingat hal itu.


Kini Zahra melangkah ke kamar mandi untuk segera mandi.


 


 Sekitar pukul 7:10 Zahra keluar kamar, ia sudah rapi.


 


Zahira yang berada di ruang makan memperhatikan Zahra.

__ADS_1


 


“Sarapan Ra”


Tawar Zahira yang tengah menyusun sarapan di meja makan bersama bi Darmi


 


“aku sarapan di resto  saja”


“aku berangkat dulu”


Ucap Zahra


“Assalamualaikum, “


Zahra melangkah pergi tanpa brbasa basi seperti biasanya.


 


“neng Zahra kenapa yah mbak? “


Tanya bi Darmi pada Zahira,  tak seperti biasanya Zahra selalu ceria tapi kini raut wajahnya terlihat murung.


 


“saya juga ga tahu bi,  dari kemarin dia begitu”


Zahira memperhatikan Zahra yang sudah melangkah jauh.


 


“apa ada masalah yah mbak,  soalnya ga pernah neng Zahra begitu sifatnya.  Paling enggak setiap pagi pasti ngomel dulu ke dapur buat ingetin sarapan”


 


“saya rasa juga begitu bi,  dia lagi ada masalah”


Ucap Zahira.


 


Sementara Zahra mengendarai sepeda motornya,  pagi ini Zahra langsung ke resto.


Ia harus mengadakan musyawarah   untuk pesanan catering, atau bisa di katakan rapat resto dengan karyawannya.


Terhitung sampai dua minggu ke depan restonya akan di sibukkan dengan banyaknya pesanan catering dalam jumlah besar.


--


Zahra dengan cepat memacu laju kendaraannya.


 


 


sekitar 20 menit akhirnya Zahra sampai. Terlihat para karyawannya sudah mulai bekerja.


Ia memarkirkan sepeda motornya dan melepas helm yang ia kenakan.


 


“Selamat pagi mbak”


Sapa karyawannya


“pagi kembali”


Zahra mengulas senyum, ia melangkah masuk untuk mencari Gracia.


“Gracia”


Panggil Zahra pada karyawan berbadan mungil tersebut


“iyah mbak”


Gracia menghentikan aktivitasnya yang tengah membersihkan penggorengan


 


“tolong informasikan ke semua karyawan yah,  nanti kita ada rapat jam 10”


“kalau bisa pekerjaan harus selesai jam 10 jadi saat makan siang kita tidak terburu-buru “


Ucap Zahra


“baik mbak”


 


Gracia pun melanjutkan pekerjaannya  Sementara Zahra menuju dapur.


“biar saya saja mbak”


Ucap Vina salah satu karyawannya


“terimakasih Vin,  saya bisa sendiri kok”


Tolak Zahra halus,  walaupun ia bos sekaligus pemilik resto  namun Zahra tidak seenaknya  memerintahkan karyawannya.


Selagi ia bisa mengerjakan sendiri maka ia tidak meminta tolong pada karyawannya.


Setelah selesai Zahra membawa sarapannya ke dalam ruangannya. Zahra sarapan sambil bekerja.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 kini Zahra sudah berkumpul dengan karyawannya untuk membahas menu catering minggu depan.


“saya disini mau meminta pendapat pada kalian mengenai menu catering  kita”


“berhubung si customer tidak meriquest menu jadi kita yang akan mengisi menunya sendiri”


Ucap Zahra


Ia berusaha berkonsentrasi padahal kepalanya tidak berhenti  memikirkan Bagas.


 


Biasanya jika Zahra menerima pesanan catering semua menu atas permintaan customer, namun di pesanan kali ini mereka menyerahkan semuanya kepada pihak resto baik menu maupun dessert.


 


Hal itu membuat Zahra dan para karyawan agak kelimpungan sebab ada banyak pesanan catering untuk minggu depan dalam jumlah besar


Setelah semua keputusan di buat,  Zahra membagi tugas pada karyawannya.


Sebagian karyawan akan mengurus catering sementara yang lain tetap mengurus resto beserta menunya.


“maaf mbak,  mbak sakit? “


Tanya Gracia saat melihat Zahra lebih sering melamun.


Dan terlihat raut wajah Zahra sedikit pucat.


Beberapa karyawan Zahra juga saling sikut melihat Zahra.


“aaa,  sa... Saya hanya sedikit pusing”


“maaf jika saya kurang konsentrasi”


Ucap Zahra memegangi kepalanya.


“yasudah mbak istirahat saja,  biar kami semua yang menyusun menu catering”


Ucap Vina


“iyah mbak lagipula kan ada mbak Gracia “


Sahut Ika


“baiklah,  terimakasih yah “


“kalau begitu saya permisi sebentar,  nanti saat makan siang saya kembali lagi”


Zahra meninggalkan karyawannya.


 


Ia berniat hendak ke kantor Bagas mencari Bagas disana.


 


Panas mentari tak menyurutkan niatnya untuk menemui Bagas,  ia harus menjelaskan semuanya sebelum terlambat.


 


Sekitar 15 menit Zahra sudah memasuki area parkiran perusahaan Wijaya.


Kondisi kantor sedikit lengang, mungkin karena belum masuk jam makan siang dan semua karyawan berada di ruangannya masing-masing.


 


Zahra melankah menuju loby ia hendak menanyakan keberadaan Bagas.


“Selamat siang mbak Zahra”


“apa ada yang bisa kami bantu? “


Ucap karyawan yang berada di ruangan tersebut.

__ADS_1


Semua karyawan disini mengenal Zahra,  selain dahulu Zahra juga karyawan disini Zahra juga termasuk anak dari rekan bisnis pemilik kantor ini.


 


Namun demikian Zahra tidak semena mena masuk ke dalam kantor ini,  ia juga harus sopan.


“ehmm saya mau mencari pak Bagas”


“apa pak Bagasnya ada? “


Tanya Zahra


“maaf mbak pak Bagas sedang tidak berada di kantor”


“kemana yah mbak? “


 


Zahra mengerutkan keningnya


“saya tidak mengetahui pak Bagas ada dimana,  yang saya tahu ia ada pekerjaan di luar kota”


Sahut karyawan cantik tersebut


“jika mbak berkenan mbak boleh menanyakan hal ini kepada sekretaris pak Bagas,  mbak Mora”


 


“yasudah mbak biar saya sendiri saja yang akan menghubungi pak Bagas, “


Zahra enggan jika harus bertatap muka apalagi berbicara dengan Mora.


“kalau begitu saya permisi”


“mari mbak”


Zahra kembali melangkah keluar,  ia mencoba menghubungi Bagas untuk yang ke sekian kalinya namun nihil tidak ada jawaban dari Bagas.


 


“kamu kemana sih ka”


Gumam Zahra sambil menggigit bibir bawahnya, ada rasa cemas dan takut berkecamuk di hatinya.


 


 


--


Jam menunjukkan pukul 12 siang, restorant terlihat ramai aktivitas karyawan terlihat sangat sibuk jika sudah masuk jam makan siang.


Tak terkecuali Eza dan Rianda,  mereka berdua juga sudah berada di restio untuk makan siang sekaligus mencari Zahra.


 


“silahkan mas, mau pesan apa? “


Ika karyawan Zahra memberikan daftar menu kepada Eza dan Rianda


“seperti biasa yah,  ikan bakar sama cumi saos padang  “


Ucap Eza


“kamu mau makan apa? “


“aku sama kayak mas deh,  sama pesan sambal tomatnya satu”


 


“baik lah mbak,  minumnya apa yah mbak? “


Tanya Ika sambil mencatat menu


“es jeruk saja 2”


Eza kembali menyodorkan daftar menunya


“oke mas. Di tunggu sebentar yah”


Ika hendak berbalik namun Eza kembali memanggilnya


“Bos kamu mana yah? “


Tanya Eza


“mbak Zahra tadi keluar sebentar mas,  dia bilang akan segera kembali saat jam makan siang”


Tutur Ika


“mm begitu baiklah,  terimakasih “


Ika mengangguk dan pergi .


 


Tak berapa lama,  terlihat Zahra telah kembali.  Ia memarkirkan motornya.


Dengan sedikit berlari ia masuk ke dalam resto mengingat cuaca sangat terik.


“Zahra”


Panggil Eza sembari mengangkat tangannya membuat Zahra menghampirinya


 


“kamu dari mana?”


Tanya Eza saat Zahra sudah berada di sampingnya


“dari luar kak, ada urusan”


Jawab Zahra sambil menarik bangku di samping Eza dan mendaratkan bokongnya.


“kamu kenapa ga bawa mobil  aja,  masa bos bawa motor.  Lagian kan panas Ra”


Ucap Eza


“Zahra ga bisa bawa mobil kak,  lagipula Zahra lebih nyaman naik motor. “


 


“ntar kaka ajarin deh kamu mengemudi”


“iyah kak terimakasih”


“kakak sudah lama disini?


" Sudah pesan makan? “


 


Tanya Zahra


“belum kok Ra,  kami sudah pesan kok tinggal menunggu aja”


Sahut Rianda, membuat Zahra mengangguk.


 


“oh iyah Ra,  kakak bisa minta tolong ga? “


Ucap Eza


“minta tolong apa kak?”


 


“bantu kakak buat sebarin undangan ,soalnya waktunya mepet banget”


Zahra yang mendengar hal itupun menghela nafasnya.


“maaf kak,Zahra ga bisa bantu lagipula kerjaan Zahra banyak. Kebetulan minggu depan pesanan juga banyak “


 


 


Tolak Zahra


“ayolah Ra,  sebentar saja.  Kakak tidak ada yang membantu”


Paksa Eza,  sebab waktu pernikahan mereka tinggal menghitung hari dan undangan belum tersebar  sepenuhnya


 


“kak tolong ngertiin Zahra,  belum cukup kakak repotin Zahra dengan catering yang kakak sendiri tidak merekomendasikan menunya”


“apa Zahra pernah menolak saat kakak meminta tolong? “


“tapi kali ini Zahra tidak bisa kak”


Zahra sedikit meninggikan nada bicaranya,  tanpa menunggu jawaban dari Eza Zahra beranjak pergi ke dalam ruangannya.


Hal itu membuat Eza dan Rianda saling tatap, ada yang berbeda dari Zahra.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2