
sudah 2 hari Zahra menunggu Adam. namun Adam belum juga sadar.
hari ini hanya Zahra dan Sinta yang masih berada di rumah sakit sebab Hera dan Bramantio telah terlebih dahulu pulang.
Hari ini Zahra dan Sinta berniat untuk kembali ke rumah orang tua Zahra.
Zahra berniat untuk membereskan semua barang-barang orang tuanya. sebab setelah Adam pulih Zahra akan mengajaknya pindah dari rumah tersebut.
Karena rumah itu sudah menjadi hak milik orang lain, padahal sebelum Bramantio pulang ia sempat mengajak Zahra dan Maya untuk mencari tahu siapa pembeli rumah tersebut.
namun sang pembeli enggan mengembalikan rumah itu walau Bramantio akan membayar rumah itu dengan harga 2 kali lipat.
Bramantio tahu bagaimana pun juga rumah tersebut adalah rumah kesayangan orang tua Zahra, begitu juga dengan Zahra ia memiliki ribuan kenangan di dalam rumah tersebut.
namun sayang kini rumah tersebut sudah menjadi milik orang lain. karena Zahira sudah menjualnya.
hal itu yang membuat Zahra terpaksa mengajak sang ayah pindah ke tempat ia bekerja saat ini.
Kini Zahra dan Sinta sudah berada di dalam rumah ia mulai mengemasi semua barang-barang yang berada di dalam rumah tersebut.
tak lupa ia membereskan pakaian peninggalan almarhumah ibunya, walau sebagian sudah ia berikan kepada para tetangga dan saudara namun masih ada baju yang tersisa.
ia juga membereskan baju-baju sang ayah termasuk semua barang-barang milik ayahnya.
Sementara barang-barang Zahira sudah tidak ada lagi yang tertinggal, Zahira sudah membawanya pergi.
Zahra mengamati kamar kedua orang tuanya, ia berdiri di ambang pintu.
kenangan itu terlihat jelas oleh Zahra, bagaimana situasi di rumah ini. banyak kenangan disini bahkan di rumah ini lah Zahra di besarkan.
setiap sudut bangunan rumah ini menyimpan cerita.
Zahra menghapus air matanya yang menetes.
"kamu yang kuat yah nak"
Sinta datang mengelus punggung Zahra.
"kita istirahat dulu yuk"
Sinta menuntun Zahra ke ruang tengah.
Sinta sengaja tidak pulang ia tahu Zahra masih membutuhkannya lagipula ia tidak akan tega meninggalkan Zahra seorang diri
"bu, rumah ini satu-satunya tempat yang memiliki banyak sejarah dan kenangan bagi Zahra"
ucap Zahra sambil memperhatikan setiap sudut rumahnya.
"walau pun di rumah ini Zahra tidak pernah di anggap ada tapi, bagaimana pun juga. disini lah Zahra di lahirkan dan di besarkan"
ucap Zahra, Sinta mengelus tangan Zahra seakan memberikan kekuatan.
"Zahra gak akan menyangka setelah Zahra menemukan keluarga baru yang sangat menyayangi Zahra, justru Zahra harus kehilangan keluarga inti bagi Zahra bu"
"Zahra ga tahu bagaimana cara Zahra menjelaskan ke ayah atas semua ini"
tubuh Zahra bergetar menahan tangis
Sinta memeluk Zahra ia tahu beban hidup Zahra tak mudah.
"yang kuat yah sayang, kami semua selalu ada buat kamu. kamu ga sendiri"
ucap Sinta menahan tangis.
"terimakasih yah bu"
Zahra masih melihat jelas bayangan masa lalu di rumah ini.
"Assalamualaikum,"
terdengar suara seseorang dari luar
"sebentar yah sayang biar ibu yang buka kan pintu"
Sinta beranjak dari duduknya dan membuka kan pintu.
terlihat Bramantio, Bagas serta Eza sudah kembali.
"Zahra"
sapa Bramantio
"papah"
__ADS_1
Zahra menghampiri papannya dan memeluknya.
"sudah yah sayang jangan menangis papah yakin kamu bisa lalui semua ini"
Bramantio mengelus kepala putrinya.
"nak "
panggil Bramantio , membuat Zahra melepaskan pelukannya.
"barang-barang kamu di bawa ke rumah papah aja yah, biar kamu sama ayah bisa tinggal di rumah papa"
Bramantio bermaksud baik, tidak mungkin Zahra dan Adam harus tinggal di kost yang sempit.
"ga usah yah, Zahra bakal cari kontrakan aja. Zahra takut ayah belum siap dengan ke hadiran papah. Zahra tahu ayah masih marah sama papah"
Zahra benar, Adam masih marah dengan Bramantio , bagaimana bisa Adam hidup berdampingan dengan seseorang yang ia benci.
"Zahra bakal tinggal sama ayah pah, biarlah Zahra tinggal di kontrakan "
tutur Zahra.
"kamu benar sayang, ayah kamu tidak akan mungkin mudah memaafkan papah atas apa yang sudah papah lakukan"
ucap Bramantio, Zahra memegang tangan Bramantio.
"Zahra yakin kok pah seiring berjalannya waktu ayah bisa maaf in papah"
ucap Zahra berusaha meyakinkan
"nak, papah akan beli kan rumah baru untuk kamu sama ayah kamu"
Bramantio berbinar saat mengucapkan kalimat itu.
"ga perlu papah, Zahra bisa kok cari kontrakan"
tolak Zahra dengan halus
"enggak sayang, kali ini kamu ga boleh nolak"
"tapi pah, papah sudah banyak membantu dari mulai biaya pemakaman ibu bahkan semua biaya rumah sakit ayah"
Zahra merasa tidak enak hati
Bramantio mengelus kepala Zahra.
"dan kamu ga boleh bekerja lagi, kamu di rumah aja jagain ayah kamu. semua biaya hidup kamu itu tanggung jawab papah sepenuhnya "
Bramantio sudah berjanji akan menebus semuanya serta membuat Zahra bahagia.
"terimakasih yah pah, papah udah baik sama Zahra"
"kamu tidak perlu berterimakasih nak, ini sudah ke wajibkan papah"
Bagas yang melihat hal itu pun sedikit legah.
"yasudah mari Ra kami bantu beresin barang-barang kamu"
ucap Bagas.
mereka pun mulai membereskan semua barang yang berada di dalam rumah ini.
sementara Bramantio berjalan keluar ia sedang menelpon seseorang.
"Hallo"
"tolong kamu carikan rumah mewah yang sedang di jual"
"kalau bisa carikan yang dekat dengan pusat kota, nanti kalau kamu sudah mendapatkannya segera hubungi saya"
"soal harga itu urusan saya, yang penting kamu cari dulu"
ternyata Bramantio sedang menelepon sekretarisnya, tidak sulit bagi Bramantio untuk membeli sebuah rumah.
mengingat Bramantio merupakan orang yang tajir.
...……………………...
Pagi ini Zahra kerumah sakit ia di temani Sinta Bagas serta Bramantio.
sementara Eza memilih berada di rumah Zahra untuk menunggu mobil yang akan mengangkut semua barang-barang milik keluarga Zahra.
Zahra duduk di samping Adam yang masih terbaring.
__ADS_1
Sementara Bagas, Sinta dan Bramantio menunggu di luar ruangan.
kini Adam tidak lagi memakai alat bantu pernapasan sebab kondisinya sudah membaik.
sayangnya kaki Adam mengalami patah tulang, hal itu membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkannya.
mungkin Adam harus menggunakan kursi roda. sebab kakinya tidak bisa di gunakan untuk berjalan.
perlahan jari kemari Adam bergerak, terlihat mata Adam mengerjap berusaha membuka lebar pandangannya.
"Ayah"
panggil Zahra saat Adam sudah mulai membuka matanya.
Zahra bangkit dan mendekati Adam
"ayahh"
panggil Zahra
"Zah... Zahira? "
ucap Adam terbata
"ini Zahra yah bukan Zahira"
Ada rasa sedih di hati Zahra saat pertama kali tersadar pun Zahira lah yang di sebut Adam.
"kau? "
"dimana Venti, dimana anakku"
tanya Adam
"yah Zahira sudah pergi ,ib..... ibu sudah tiada yah"
ucap Zahra ragu, membuat Adam mengernyitkan keningnya
"apa maksud kamu? "
"yah, ibu meninggal karena kecelakaan yang kalian alami"
Zahra tak bisa menahan bulir air matanya.
"gak.... ga mungkin"
"kau bohonggg.... kau bohonng"
"istriku masih hidup... kau bohong"
teriak Adam ia tak terima atas penuturan Zahra.
"Yahh... Zahra ga mungkin bohong ke ayah"
isak Zahra
"Venti......"
" ka....kau meninggalkanku "
"kalian semua pergi meninggalkan ku"
Adam menangis, membuat hati Zahra pilu.
"Yahhh.... ayah masih punya Zahra"
Zahra berusaha menguatkan sang ayah.
"ayah ga sendirian, Zahra selalu ada buat ayah"
Zahra menahan bulir air matanya yang hendak kembali jatuh.
"Ventii"
Adam terus memanggil nama Venti membuat hati Zahra semakin tersayat.
...................
Author ngetiknya ikutan nangis..
Oh iyah Terimakasih buat support kalian yah guys.. Author pasti selalu semangat kok.
Terimakasih! 🤗
__ADS_1