Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
73 berkunjung ke kantor


__ADS_3

pagi hari telah menyapa dengan alunan kicauan burung serta pancaran cahaya surya yang menyinari.


Zahra kini tengah membantu bi Darmi menyiapkan sarapan pagi. walaupun kini Zahra sudah memiliki asisten rumah tangga namun hal itu tidak membuat Zahra bermalas-malasan.


Zahra tidak membebankan semua pekerjaan rumah pada bi Darmi, Zahra juga turut membantu ketika ia tidak sibuk.


Zahra sedari kecil sudah terlatih mandiri sehingga ia tidak pernah bisa duduk diam tanpa mengerjakan pekerjaan rumah.


"ayah kita sarapan dulu yuk"


Zahra memanggil Adam yang kini sedang duduk di teras rumah menikmati sejuknya udara pagi.


"iyah nak"


Adam pun bangkit di bantu oleh Zahra.


kini Zahra dan Adam sudah berada di meja makan untuk sarapan.


Zahra menyendokkan nasi goreng ke piring Adam.


"lagi yah? "


tanya Zahra


"udah nak"


Zahra pun menambahkan lauk ke piring Adam. sementara Zahra kembali ke dapur untuk mencari bi Darmi.


ternyata bi Darmi sedang mencuci alat masak yang di gunakan untuk membuat menu sarapan tadi.


"bi, sarapan dulu yuk itu entar aja di lanjutkan. "


ajak Zahra.


Zahra sudah menganggap bi Darmi bagian dari keluarganya bahkan Zahra selalu meminta bi Darmi untuk makan bersama di meja makan.


"nanggung neng, sedikit lagi"


ucap bi Darmi yang masih sibuk mencuci piring.


"Zahra ngambek ya bi"


ancam Zahra ia bersidekap dada.


"Ehh.. jangan neng. iya bibi sarapan"


bi Darmi mencuci tangannya dan menuju meja makan bersama Zahra.


"sarapan bi"


Adam menawari bi Darmi


"iya pak"


bi Darmi pun duduk, bahkan Zahra menyendokkan nasi untuk bi Darmi.


bi Darmi sungguh salut dengan gadis itu, entah bagaimana kedua orang tuanya mendidiknya sehingga bisa menjadi sosok gadis yang memiliki sifat sopan santun yang tinggi.


"bibi mau pake telur apa ayam goreng? "


tanya Zahra


"telur aja neng"


ucap bi Darmi. Zahra pun memberikan dua telur goreng .


"kebanyakan neng"


tolak bi Darmi


"udah bi gak apa-apa, abisin ya bi biar bibi endut"


ucap Zahra sambil menyerahkan piring tersebut secara sopan pada bi Darmi.


Adam bahkan ayahnya sendiri bingung, bagaimana bisa Zahra memiliki sifat seperti ini padahal dahulu ia tidak memberi perhatian pada Zahra.


mereka bertiga pun sarapan bersama.

__ADS_1


"hari ini kamu kuliah Ra? "


tanya Adam.


"enggak yah hari ini Zahra ga ada kelas"


Zahra menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"ehm bi, kemarin bibi udah belanja stok bahan-bahan masakan? "


tanya Zahra pada bi Darmi


"udah neng, semua bibi masukan ke freezer "


"hari ini Zahra aja ya bi yang masak untuk makan siang, sekalian Zahra mau anterin makan siang buat Bagas"


ucap Zahra


"terus bibi ngapain neng?. bibi ikut bantuin ya? "


bi Darmi tidak enak hati saat Zahra mengambil alih tugasnya


"ehm boleh deh bi"


"kamu mau ke kantor Bagas? "


tanya Adam.


"iya yah, sejak Zahra resign dari kantor Bagas Zahra ga pernah lagi kesana. Zahra kangen sama teman-teman Zahra"


Adam sudah mengetahui bahwa Zahra pernah menjadi seorang Cleanning servis sebelum bekerja menjadi witers Caffe.


"Oh Yaudah, kamu hati-hati ya. kamu bawa motor? "


Adam memperhatikan wajah Zahra


"engga yah, Zahra pesan taxi online aja"


Zahra tersenyum ke arah Adam.


..........


Zahra tidak memberitahu Bagas, ia ingin memberikan kejutan pada Bagas.


"neng ini semua biar bibi aja yang beresin"


ucap bi Darmi menunjuk ke arah pantry dan wastafel yang berisikan banyak piring kotor.


"Oh iya terimakasih ya bi"


setelah selesai Zahra menyusun nasi beserta lauk dan sayur. Zahrapun bergegas mandi dan bersiap-siap pergi.


..........


Siang ini Vera hendak berkunjung ke kantor Bagas ia sangat merindukan lelaki itu.


Vera baru selesai melakukan sesi pemotretan untuk cover sebuah majalah dewasa di kawasan pusat kota yang letaknya tidak jauh dari kantor Bagas.


kini ia sudah berada di dalam taxi hendak menuju kantor Bagas.


Vera merapikan polesan makeupnya , sebab ia ingin tampil cantik di depan Bagas.


tak berapa lama taxi yang di tumpangi Zahra memasuki kawasan parkir kantor Bagas.


ia pun segera turun dan melangkah masuk ke dalam gedung tersebut. banyak pasang mata memperhatikan Vera.


namun Vera merasa tidak perduli ia yerus berjalan menuju ruangan Bagas.


sama halnya dengan Vera kini Zahra pun baru sampai di kantor Bagas. ia pun turun dan segera masuk.


"Zahra"


panggil mbak Jumi


"mbak Jumi"


Zahra sedikit berlari menghampiri Jumi, ia sangat rindu dengan teman kerjanya ini.

__ADS_1


"mbak, Zahra rindu mbak"


Zahra memeluk erat mbak Jumi


"mbak juga rindu karo sampean"


mereka pun saling berpelukan melepaskan rindu.


"enak yo Ra, sampean wes dadi Wong sugeh"


(enak ya Ra, kamu sudah menjadi orang kaya)


ucap mbak Jumi.


sebab berita bahwa Zahra adalah anak kandung pak Bramantio sudah tersebar luas di kantor ini.


Gosip lebih cepat menyebar luas mengalahkan kuman ganas.


"ah engga ko mbak"


"berasa mimpi yah Ra punya orang tua sekaya pak Bramantio "


Jumi berbicara santai.


"Andai mbak Jumi tahu serumit apa jalan hidupku hingga sampai akhirnya bertemu papa. mungkin ia tidak akan mudah mengatakan hal segembira itu"


Gumam hati Zahra


"Oh iyah Ra. selamat ya akhirnya kamu sama pak Bagas bisa bersatu lagi. kami semua para Cleanning servis disini turut senang. "


Jumi terlihat bahagia. bahkan semua Cleanning servis sudah mengetahui kebenaran perihal Zahra dengan Bagas, Zahra anak Bramantio bahkan sampai berita Vera di usir oleh Bramantio.


"ah... iyah mbak terimakasih ya"


Zahra enggan menanggapi lebih jauh. ia tidak ingin kisah hidupnya menjadi konsumsi orang banyak.


"eh Ra, aku tadi lihat Vera disini. dia Kayaknya masuk ke ruangan pak Bagas"


Jumi tadi melihat Vera yang terlihat jalan terburu-buru menuju ruangan Bagas


Zahra yang mendengar hal itu pun membulatkan matanya.


"terimakasih mbak infonya, aku ke atas dulu yah. sampai nanti"


Zahra berlari menuju ruangan Bagas.


Sementara Vera sudah melangkah masuk ke dalam ruangan Bagas tanpa mengetuk pintu.


"Bagasss aku rindu"


Vera memeluk Bagas erat.membuat Bagas terkejut.


"Vera apa yang kau lakukan lepaskan pelukanmu"


Bagas berusaha melepaskan pelukan Vera namun Vera semakin mengeratkan pelukannya.


"biarkan aku memeluk mu aku rindu"


Vera semakin erat memeluk Bagas membuat Bagas kesulitan bergerak.


dan kini Zahra melihat pintu ruangan Bagas sedikit terbuka.


"aku masuk aja deh kan aku bukan Cleanning servis lagi"


Gumam Zahra


Zahra pun melangkah masuk. seketika matanya membulat melihat Vera sedang memeluk Bagas.


"Bagas ! "


............


Cieee di gantung. 😅


biar pada penasaran apa yang terjadi. akan kah ada perang nuklir? 😅😅 selanjutnya sesaat lagi stay di novel Author 😆😆😆😆


Like dan vote yang banyak yah supaya Author semangat upnya.

__ADS_1


terimakasih.


__ADS_2