
Zahra sudah berada di teras rumah Bramantio, ia hendak pulang.
"kamu ga nginep disini nak? "
ujar Bramantio
"ga pah, kasian ayah di rumah ga ada temennya"
Zahra kemudian menyalami Bramantio dan memeluknya
"hati-hati loh, jangan ngebut"
"iyah papa, kalau gitu Zahra pamit pulang ya pa"
Zahra kembali memeluk Bramantio.
tanpa mereka sadari dari kejauhan Vera mengamati keduanya dari dalam taksi.
awalnya Vera ingin berkunjung kerumah Bramantio, namun ia mengurungkan niatnya setelah melihat Zahra.
bagaimanapun juga Vera tetap menganggap Bramantio sebagai papinya. sebab ia di besarkan oleh Bramantio.
bukan sebentar kenangan indah yang di rajut di rumah itu, namun kini semua sudah hilang semenjak kehadiran Zahra.
"papi, dulu Vera yang papi sayangi. Vera yang selalu papi manja, selalu papi peluk"
"sekarang papi lupain Vera, bahkan papi ga perduli lagi sama Vera"
air matanya menetes mengingat kenangan indah dahulu.
"kamu berhasil Zahra merebut segalanya dari ku, "
"lihat saja, kamu akan sirna di tanganku"
air matanya kini berubah menjadi senyum sinis. Vera mengambil ponselnya dan mencari nomor seseorang.
"hallo"
"kalian dimana? "
"saya punya tugas untuk kalian "
"temui saya di Caffe Graha dekat taman kota"
Vera mematikan ponselnya.
"kita ke Caffe Graha pak"
ucap Vera pada supir taksi yang ia tumpangi.
sementara Zahra, ia sudah memacu motornya untuk pulang.
…
kini Vera sampai di Caffe , ia langsung menuju tempat duduk di Caffe tersebut.
tak lupa ia memesan beberapa menu, ia meraih ponselnya.
bahkan sampai saat ini walppaper ponselnya masih foto keluarganya.
jemarinya mengusap layar ponselnya.
"Vera ga menyangka mi, pi. kalau keluarga kita akan terpecah belah seperti ini"
Vera memperhatikan foto keluarganya.
"hai"
sapa seseorang pada Vera. membuat Vera mengangkat pandangannya.
"sudah lama menunggu? "
tanya pria tersebut pada Vera
"belum"
"ada kerjaan apa?"
tanya pria berbadan atletis tersebut, sambil menarik kursi yang ada di hadapan Vera.
dan Vera mengirim sesuatu ke ponsel pria tersebut.
"tring !"
"lihat lah ponselmu"
ucap Vera.
pria tersebut membuka pesan yang dikirim oleh Vera.
"siapa wanita ini? "
tanyanya sambil memperhatikan foto yang di kirim diponselnya.
__ADS_1
"namanya Zahra Andriani, dia anak Bramantio pengusaha tajir di kota ini. dia sekarang berkuliah di fakultas bisnis"
ucap Vera santai
"bukan kah itu orang tuamu?"
tanya pria tersebut
"wanita itu merebut orang tuaku"
Vera mengepalkan tangannya erat
"lantas, apa yang harus aku lakukan? "
pria tersebut belum paham maksud dan tujuan Vera.
"aku ingin kau memusnahkannya, tapi dengan cara yang bersih sampai tidak ada jejak yang tertinggal"
"jangan sampai namaku juga ikut terbawa. "
Pandangan Vera menyorot tajam
"ah, masalah itu bisa di atur, asalkan ka…"
belum sempat pria itu melanjutkan kalimatnya Vera sudah meletakkan amplop cokelat yang tebal.
amplop itu berisikan uang.
"aku tahu, ini uang mukanya sisanya akan aku lunas jika kau sudah terbukti bagus menjalankan tugasmu"
ucap Vera
"beres, akan aku selesaikan dengan bersih"
pria itu meraih amplop tersebut dan segera menghitung jumlah dari isi amplop itu.
"ku ingatkan padamu, kau harus berhati-hati karena papi Bramantio bukan orang sembarangan. jadi aku harap kau tidak melayaskan tugasmu"
Vera tahu Bramantio bukan orang yang bisa di sepelekan.
"siapp baby"
ucap pria tersebut.
Vera sudah tak bisa menahan rasa emosi dan dendamnya, ia akan melakukan apapun untuk menyingkirkan Zahra.
…
Ke esokkan harinya Zahra baru pulang dari kampus. ia melewati kantor cabang milik Bagas.
"Behhh bocil kesayangan ku lewat, isengin ah"
Eza pun mengambil motornya untuk mengikuti Zahra.
Zahra tidak mengetahui jika Eza berada tidak jauh dari belakangnya.
Zahra memacu sepeda motornya dengan kecepatan sedang. ia melintasi sebuah bangunan pabrik yang sudah lama tidak beroperasi .
suasana jalanan terlihat sepi, mengingat tempat ini juga jarang di lewati kebanyakan orang. mereka memilih melewati jalan kota yang letaknya cukup jauh.
Zahra sudah terbiasa melintas di jalan ini selain karena jaraknya yang dekat serta suasana jalannya yang sejuk karena sepanjang jalan banyak pepohonan rindang di samping kanan kirinya.
seketika Zahra menurunkan kecepatan motornya saat ada 3 orang pemuda menghalangi jalannya.
Zahra menghentikan motornya saat ke 3 pemuda tersebut enggan menepi.
"maaf mas, saya mau lewat"
ucap Zahra sopan
"kamu Zahra kan"
ucap salah satu pemuda tersebut
"iya mas"
Zahra bingung siapa pemuda ini, bagaimana dia tahu namanya.
"bawa dia! "
perintah salah satu pemuda itu pada kedua temannya .
kedua pemuda itu pun menarik tangan Zahra agar turun dari motornya
"lepasin mas, jangan macem-macem yah atau saya teriak"
ancam Zahra
"teriak lah tidak kan ada yang menolongmu"
pemuda itu terus menarik tangan Zahra.
Zahra yang merupakan mantan atlet beladiri tidak tinggal diam.
__ADS_1
ia melayangkan tendangan secara bergantian tepat di perut kedua pemuda yang memegangi tangannya.
"Bugghhhh "
Pegangan tangan kedua pemuda itu pun terlepas.
"kurang ajar "
ucap pemuda yang memerintahkan kedua temannya. Zahra mengambil langkah mundur di saat pemuda itu berusaha menarik tangannya
"bughh"
satu tendangan mendarat tepat di leher pemuda itu.
"Sial !"
"Uhuk -uhuk"
pekik pemuda itu saat di rasakan tenggorokannya seperti terkena hantaman batu besar.
Zahra mencari kesempatan untuk berlari namun tangannya dapat di cekal oleh salah satu dari mereka.
Zahra kembali melawan.
Eza yang melihat Zahra sedang di hadang pun dengan cepat memacu motornya ke arah Zahra.
Sementara ketika tangan Zahra hendak melayangkan pukulan pemuda tersebut dengan gerakan cepat mengambil belati tajam.
"Jleeeebbbb"
belati tersebut menancapkan di pinggang Zahra. Zahra membulatkan matanya saat di rasakan sesuatu menancapkan di bagian pinggangnya.
seketika tubuhnya terasa lemas dan bergetar, Zahra dapat melihat belati yang kini sudah berdarah di pegang oleh pemuda itu.
"apa yang kau lakukan dia bisa mati"
ucap salah satu pemuda itu
"daripada dia kabur, bisa-bisa kita gagal dan Vera tidak membayar kita"
Zahra mendengar ucapan mereka dan mendengar nama Vera.
namun tubuhnya terhuyung ke belakang, pandangannya mulai gelap.
Zahra memegangi pinggangnya yang terasa amat sakit. perlahan-lahan matanya terkatup.
Zahra jatuh pingsan
"Zahra! "
pekik Eza membuat ketiga pemuda itu masuk ke dalam mobil dan tancap gas.
Eza berusaha mengejar namun ia tertinggal jauh.
dengan cepat Eza memutar balikkan motornya untuk menolong Zahra.
"Ra…Zahraaa"
ucap Eza berusaha membangunkan Zahra.
Eza sempat berhenti ke salah satu pom bensin sehingga ia tidak berada tepat di belakang Zahra.
Mata Eza terbelalak saat di lihat darah segar membasahi baju Zahra.
"Da…darah"
Eza memperhatikan telapak tangannya yang turun terkena darah dari tubuh Zahra.
"Astaga Zahra"
teriak Eza
"mereka menusukmu "
Eza terlihat panik dan kebingungan. Eza dengan cepat merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.
tangan Eza gemetar, perasaannya sudah tidak bisa tenang saat melihat keadaan Zahra sekarang.
Eza menghubungi Bagas untuk meminta bantuan.
"Hallo"
"Bagas, kamu segera ke jalan pandawa dekat pabrik kain"
"jangan banyak bertanya segeralah kemari, Zahra tidak sadarkan diri"
"cepat"
perintah Eza tergesa-gesa.
Eza kembali memperhatikan wajah Zahra yang mulai terlihat pucat. Eza membuka kerjanya.
perlahan-lahan ia mengangkat tubuh Zahra dan mengikat pinggang Zahra dengan kemejanya agar darahnya tidak terus mengalir keluar.
__ADS_1
…………
Kritik saran serta vote and likenya yah.