
Seminggu berlalu sejak Zahra di rawat di rumah sakit kini ia sudah bisa beraktivitas kembali.
bahkan ia sudah tinggal di kostnya sendiri dan tidak tinggal di rumah Eza.
walau bu Sinta memintanya untuk tinggal beberapa hari lagi di rumahnya namun Zahra menolak.
mengingat bu Sinta memiliki anak lelaki sementara Zahra seorang wanita, ia hanya tak ingin bu Sinta menjadi bahan gunjingan tetangga.
Zahrapun kembali bekerja di Caffe tempat ia bekerja. untung saja pemilik Caffe tersebut mengerti keadaan Zahra.
Zahra masih di perbolehkan bekerja walau ia libur dalam waktu yang cukup lama padahal statusnya masih karyawan training di caffe tersebut.
Namun Zahra juga tetap membawa surat keterangan dari dokter sebagai bukti bahwa dirinya benar-benar sakit.
kini Zahra sedang mengelap gelas dan menyusunnya. Sementara teman Zahra yang lain sibuk membuat menu serta minuman.
sebab hari ini Caffe mereka di sewa untuk meeting .
"udah kuat belum kalau di suruh antar minuman? "
Rendra nongol dari balik pintu sambil membawa nampan.
"Maksud kamu aku? "
Zahra menunjuk dirinya sendiri.
"Ya ilah kamu"
"katanya habis sakit"
Rendra berdiri di samping Zahra.
"Yeee udah lah, jangankan antar minuman antar kamu keliling dunia aja bisa"
Zahra menaikkan turunkan alisnya.
"serius? "
"gimana tuh caranya? "
Rendra menatap Zahra
"yah pake jasa expedisi"
Zahra tertawa lepas hingga memperlihatkan gigi ginsulnya.
"Yeee kamu pikir aku barang"
Jawab Rendra kesal.
"Ya udah yuk. tuh yang pada meeting udah datang"
Rendra menyusun minuman ke dalam nampan di bantu oleh Zahra.
"ini di antar kemana?"
tanya Zahra ia melihat seisi Caffe masih kosong tidak ada pengunjung.
"Ke Eropa pake jasa expedisi"
jawab Rendra ketus
"Lahh dia ngambek ih, baperan"
Zahra mencolek lengan Rendra membuat Rendra merubah wajah kesalnya menjadi tertawa.
"di antar ke ruangan atas Ra, meetingnya di ruangan "
Zahra baru teringat Caffe tempat ia bekerja menyediakan ruangan yang di sewakan untuk berbagai macam acara.
baik itu ulang tahun, pertunangan, meeting dan acara-acara penting lainnya.
"yahh aku kan lupa Rendra"
"kamu emangnya semalam di rawat karena emnesia yah? "
Rendra bertanya dengan tangan masih menyusun air mineral botol di nampan.
"dihh enak aja ya ga lah"
"nah enggaknya, tapi kenapa kambuhnya jadi amnesia. udah jelas nih Caffe menyediakan ruangan, masih aja di tanya"
Zahra hanya memanyunkan bibirnya.
"Ya udah yuk "
Rendra berjalan membawa minuman serta Zahra mengikutinya.
Zahra masuk ke dalam ruangan yang di sebut Rendra. terlihat meja yang berukuran panjang sudah di penuhi oleh orang yang memakai stelan formal.
__ADS_1
Rendra dan Zahra menyusun minuman di meja tersebut.
"Zahra?"
tiba-tiba ada suara seseorang yang memanggilnya.
"Bagas? "
Zahra membulatkan matanya, ternyata Bagas juga berada disini.
Zahra pun langsung berbalik badan dan pergi dari ruangan tersebut.
Rendra yang melihat hal itu pun terheran sebab Zahra meninggalkan begitu saja nampan yang berisikan minuman di meja.
"saya permisi dulu yah pak"
Bagas pamit pada para klien nya, ia berlari keluar mengejar Zahra.
sementara Zahra terus melangkah pergi, ia tak ingin bertemu Bagas.
"Ra, Zahra"
Panggil Bagas, sementara Zahra tak menghiraukan panggilan Bagas ia tetap berjalan.
"tunggu Ra"
Bagas meraih tangan Zahra membuat Zahra langsung berbalik badan.
"Ra, pliss jangan menghindar"
nafas Bagas terengah-engah karena berlari mengejar Zahra.
"Mau apa lagi sih? "
Zahra melepaskan pegangan tangan Bagas.
"Ra dengarin penjelasan aku dulu "
"apalagi yang mau di jelasin kak , semua sudah jelas kita sudah ga ada hubungan apa-apa lagi"
Zahra berbalik badan dan pergi namun Lagi-lagi Bagas memegang tangan Zahra.
"Ra tolong dengerin aku, "
"Aku masih cinta sama kamu Ra jangan menghindar . "
jujur saja perasaan Zahra tetap sama ia masih mencintai Bagas. saat ia mengatakan bahwa mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. hatinya berdenyut sakit.
Namun perasaan Zahra terkalahkan dengan rasa sakit hati dan kecewanya.
"kamu cinta sama aku? "
"kemarin kamu kemana? bahkan kamu ikut ngebentak aku di saat mamah kamu mempermalukan aku di depan semua karyawan. "
"Sampai kamu menerima perjodohan Vera tanpa ada niatan memperjuangkan hubungan kita"
Zahra menarik tangannya dari genggaman Bagas.
"Ra aku minta maaf Ra, aku menerima perjodohan itu karena menyelamatkan perusahaan papah Ra dan soal aku ngebentak kamu aku cuma ga terima kamu marahin mamah aku Ra"
Bagas tertunduk ia berusaha menjelaskan.
"sekarang kamu bilang Cinta ke aku apa karena kamu sudah tahu aku anak pak Bramantio? "
Zahra tidak ingin perasaanya hanya di jadikan bahan taruhan untuk sebuah bisnis.
"Ra aku ga pernah menilai status kamu, dari awal aku udah bilang aku cinta sama kamu aku ga perduli siapa kamu"
"Ra aku menerima perjodohan itu karena ga punya pilihan lain Ra, mamah aku sakit kena serangan jantung dan masuk rumah sakit sementara perusahaan papah di ancam akan di blacklist"
Wajah Bagas terlihat tulus, Bagas mengatakan jujur ia tak sedikit pun berbohong pada Zahra.
Zahra hanya terdiam, ia tahu Bagas jujur ia melihat dari sorot mata Bagas.
namun Zahra masih belum bisa menyembuhkan luka di hatinya.
Zahra ingin beristirahat dari runyamnya masalah ini.
"Ra kasih aku kesempatan, aku bakal buktiin ke kamu Ra kalau aku Cinta sam kamu Ra"
Bagas kembali menggenggam tangan Zahra.
namun Zahra menarik tangannya
"aku ga bisa, aku sudah mencintai orang lain"
ucap Zahra berbohong.
ia melangkah pergi meninggalkan Bagas.
__ADS_1
"aku tahu Ra, kamu berbohong "
"aku bisa lihat dari mata kamu kalau kamu masih mencintai aku"
Zahra menghentikan langkahnya mendengar ucapan Bagas.
namun Zahra tidak menjawab ia kembali melangkah pergi meninggalkan Bagas yang masih terdiam menatap punggung Zahra..
"Ra, aku masih sayang sama kamu"
Bagas bergumam lirih, hatinya sakit di saat Zahra menghindar dan menjauhinya.
…………………
Zahra memilih keluar dari Caffe tersebut
"Brugghhh"
"Awwwhh"
Zahra terjatuh sebab ia menabrak seseorang.
"kamu ga apa-apa? "
ucap seseorang yang di tabrak Zahra.
Zahra pun berdiri
"saya ga ap…"
kalimat Zahra terhenti ketika melihat siapa yang di tabraknya.
"Zahra? "
ucap Bramantio dengan mata berbinar.
Zahra yang melihat itu pun beranjak pergi namun di tahan oleh Bramantio
"Zahra dengerin papah nak"
Bramantio menyebut kalimat papah.
membuat dada Zahra terenyuh.
"jangan pergi izinkan papah menebus kesalahan papah, "
mata Bramantio berkaca-kaca menahan tangis.
Zahra enggan melihat wajah Bramantio.
"kesalahan bapak belum bisa saya maafkan"
"jangan menyebut kata papah karena itu ga pantas di sematkan di diri bapak"
bibir Zahra bergetar mengingat rasa sakitnya selama ini.
"Ra , saya hanya ingin menebus semua kesalahan saya. apapun yang akan kamu minta akan saya berikan ,apa yang kamu mau akan saya lakukan asal kamu memaafkan saya"
Bramantio menangis, begini kah rasa sakitnya di benci oleh darah dagingnya sendiri.
"Saya tidak meminta apapun dari bapak bahkan pengakuan sebagai anak sekalipun".
"Bapak mungkin memiliki harta tapi bapak tidak bisa menebus kesalahan bapak dengan nominal"
"Saya menyesal pak lahir ke dunia ini menyandang status sebagai anak biologis bapak, seandainya mengakhiri hidup itu bukan dosa besar mungkin sudah saya lakukan"
Zahra melangkah pergi meninggalkan Bramantio.
Bramantio menangis saat kalimat Zahra sekan menusuk di relung hatinya.
"ini semua salah ku , bahkan anak kandungku sendiri menderita karena aku"
Bramantio tertunduk berusaha menahan tangisnya.
begitupun Zahra ia melangkah pergi dengan linangan air mata.
………………
Hay guys..
jangan lupa like and vote yah
Ohh iyah jangan lupa juga mampir ke karya Author yang kedua judulnya "Jebakan hidup berujung cinta "
terimakasih
Salam Manis Author
~EtyRamadhii
__ADS_1