
"pah, cegah Vera pah jangan biarkan ia menyerahkan diri"
ujar Zahra gelisah.
"biarkan saja nak, sudah sepantasnya dia menyerahkan diri"
Bramantio mendekati Zahra
"tapi pah, kasihan Vera bahkan bu Yura sedang sakit"
Zahra merasa iba dengan Vera
"semua biaya perobatan Yura biar papa yang nanggung sementara Vera dia harus tetap di tahan"
ucap Bramantio, kini Vera tidak bisa lari sebab orang suruhan Bramantio selalu mengikutinya.
"pah, bukan kah Vera sudah mengakui perbuatannya seharusnya tidak perlu Vera di tahan"
Zahra terus membujuk Bramantio
"Cukup Zahra! "
"cukup! "
bentak Bramantio membuat Zahra terkejut.
"dia sudah sangat keterlaluan padamu Zahra .apa yang di lakukan sudah termasuk tindakan kriminal"
Bramantio sangat kesal dengan Zahra yang terlalu baik pada siapapun.
"dia sudah menyakiti kamu Zahra, Vera sudah sepantasnya mendapatkan hukuman. jangan terlalu baik padanya. dia bisa mencelakai mu kapan saja. pikirkan keselamatanmu papah tidak ingin kamu terluka lagi"
"keputusan papah sudah bulat Zahra "
bibir Bramantio bergetar karena emosi ia pun meninggalkan ruangan dan melangkah pergi.
sementara Zahra hanya bisa terdiam, ia tak menyangka papanya akan semarah itu.
Bagas yang melihat hal itu langsung mendekati Zahra yang sedang terduduk di tempat tidur dengan pandangan menunduk.
perlahan Bagas meraih kedua tangan Zahra yang salah satunya masih tertancap jarum infus.
"Zahra"
panggil Bagas lembut membuat Zahra mengangkat pandangannya.
"apa yang di katakan pak Bramantio itu benar, Vera memang harus di beri pelajaran. orang sepertinya tidak bisa di toleransi. kami semua khawatir dengan keadaan kamu, bagaimana jika Vera melakukan hal yang lebih kejam padamu? "
ucap Bagas lembut memberi kan Zahra pengertian
"tapi kak, karena Zahra Vera dan ibunya jadi menderita"
Zahra memandang manik mata Bagas
"enggak Zahra, Vera menderita itu karena ulahnya sendiri . kalau bukan karena kelakuannya yang keterlaluan tidak akan mungkin pak Bramantio mengusirnya"
Bagas mengelus punggung tangan Zahra
"apa yang di katakan Bagas benar nak"
sahut Sinta
"Vera bisa saja kembali melukaimu. jadi biarkan papa kamu memberikan efek jera padanya "
Sinta mengelus rambut Zahra
"Sudah lah Zahra jangan terlalu baik dengan manusia seperti Vera. jangan memikirkan hidupnya sudah jelas dia mencelakaimu"
Timbal Eza yang kini menyandarkan kepalanya di sofa.
Zahra terdiam, apa yang di katakan mereka benar. bukan kah Vera menderita itu karena ulahnya.
lalu untuk apa Zahra dengan tegas membela Vera yang sudah jelas hampir membunuhnya.
……
hari ini adalah hari ke 3 Zahra di rawat di rumah sakit. bahkan hari ini Zahra sudah di perbolehkan oleh dokter untuk pulang.
kini Zahra di jemput oleh Bagas dan Adam. Zahra hanya tinggal pulang sebab biaya rumah sakit sudah di tanggung oleh papanya.
namun Zahra merasa sedih, sejak kejadian semalam Bramantio tidak lagi menjenguk Zahra di rumah sakit.ia hanya di temani oleh Sinta terkadang oleh Adam.
bahkan saat dirinya di perbolehkan pulang, Bramantio tidak ikut menjemputnya.
"yah, papa kemana? "
tanya Zahra pada Adam yang kini berjalan di sampingnya.
__ADS_1
"papa kamu mungkin sibuk jadi ga bisa jemput kamu. "
tutur Adam, membuat Zahra menghela nafasnya.
mereka pun sampai di parkiran rumah sakit, terlihat Bagas sudah menunggu.
Bagas membuka kan pintu mobil untuk Zahra
"kak, apa papah marah sama Zahra? "
tanya Zahra pada Bagas yang kini berdiri di sampingnya
"kakak yakin pak Bram tidak marah, mungkin dia sedang mengurus proyek baru sehingga tidak menjemput mu"
Bagas berusaha menenangkan hati Zahra padahal ia juga tidak mengetahui dimana Bramantio.
"sudah jangan bersedih, kan sudah ada ayah dan Bagas yang menjemput "
"apa kamu gak senang kalau cuma di jemput ayah dan Bagas"
tanya Adam
"bu…bukan yah, justru Zahra sangat senang"
Zahra tersenyum tipis kemudian ia masuk ke dalam mobil.
di perjalanan pulang Zahra hanya terdiam, sesekali ia memandangi layar ponselnya berharap sang papa menghubunginya.
ingin rasanya ia menelepon Bramantio namun ia takut jika Bramantio masih marah padanya.
…
Bramantio sedang istirahat makan siang. ia baru selesai mengurus pekerjaannya.
termasuk mengurus biaya perawatan Yura, sementara Vera kini mendekam di sel dan di tetapkan sebagai tersangka atas tindakan kriminal yang di lakukannya.
Bramantio sengaja tidak menghubungi Zahra bahkan ia kini tahu Zahra sudah pulang dari rumah sakit.
Bramantio hanya ingin Zahra lebih cerdas dalam bersikap, ia tidak perlu terlalu simpati terhadap orang yang berlaku jahat padanya.
Bramantio tidak marah hanya saja ingin memberikan Zahra pelajaran.
sebenarnya beberapa hari ini Bramantio sedang sibuk selain mengurus perusahaan serta laporan Vera ia juga mengurus berkas usaha.
Bramantio membeli Caffe milik Budi. bos Zahra dahulu sewaktu ia bekerja di caffe ini.
Zahra juga memiliki ke ahlian memasak sekaligus melatih dirinya untuk menjalankan bisnis agar Zahra bisa menerapkan ilmu yang di dapatnya selama di kampus.
Bramantio sengaja tidak memberitahu Zahra agar menjadi kejutan besar bagi Zahra.
Bramantio juga sedikit merubah konsep serta dekorasi yang berada di caffe ini. sebab Bramantio mengubah caffe ini menjadi rumah makan.
bahkan ia mengganti Plang caffe tersebut. serta mengganti nama Caffe itu menjadi "Resto Putri Tunggal"
mengingat Zahra adalah putri satu-satunya . Bramantio sudah memikirkan semuanya sedari jauh-jauh hari.
ia tersenyum puas saat mengetahui semua sudah selesai tinggal memperlihatkan pada Zahra.
…
Sementara malam ini Zahra duduk di teras rumahnya, ia terlihat melamun. Zahra memikirkan papanya yang tak kunjung memberi kabar.
"Nak? "
panggil Adam pada Zahra
"iya yah"
Zahra menoleh ke arah Adam.
"kenapa melamun, hmm"
Adam duduk di samping Zahra dan memperhatikan wajah anaknya yang melamun.
"yah, apa papa Bram marah dengan Zahra? "
tanya Zahra
Adam tersenyum mendengar pertanyaan Zahra. tebtu saja Adam mengetahui apa yang terjadi beberpa hari yang lalu.
Eza sudah bercerita soal itu padanya.
"ga mungkin papa kamu marah sama kamu, bukan kah dia sangat menyayangi mu"
Adam menaikkan kedua alisnya.
"buktinya papa ga ada menghubungi Zahra "
__ADS_1
raut wajah Zahra terlihat khawatir
"mungkin papa kamu hanya kesal, lain kali kamu nurut apapun yang di bilang sama papa kamu. ayah juga kesal sama kamu ,kamu malah belain Vera yang jelas-jelas jahat sama kamu"
tutur Adam
"ayah, Zahra minta maaf. Zahra cuma ga mau ada keributan"
"lain kali kamu nurut sama papa kamu apa yang di lakukan papa kamu itu benar. "
"esok temui papa kamu. minta maaf sama dia"
usul Adam
"Hmmm baik Lahh yah"
ucap Zahra menunduk
"sudah jangan bersedih. ayah punya kabar baik buat kamu"
ucapan Adam membuat Zahra spontan mengangkat pandangannya
"kabar apa yah? "
tanya Zahra penasaran
"cie penasaran ya"
ucap Adam membuat Zahra mencebikkan bibirnya.
"ayah serius dong"
rengek Zahra kesal
"oke oke ayah serius"
"kamu tahu ga, ayah di pindahinya tugas disini"
ucap Adam girang
"serius yah, yeeeeeee"
sorak Zahra kegirangan
"jadi ayah mulai lusa sudah bekerja"
Adam tersenyum . Zahra turut senang namun ia tidak mengatakan bahwa semua ini berkat papanya.
ia tidak ingin ayahnya merasa tidak enak hati.
"jadi ayah ga akan pergi ninggalin Zahra kan? "
tanya Zahra
"enggak sayang, ayah ga akan ninggalin kamu kan ayah sudah bekerja disini. lagipula ayah khawatir kalau kamu jauh dari ayah"
tutur Adam, ia tidak ingin meninggalkan Zahra semenjak kejadian kemarin Adam semakin ingin terus berada di dekat Zahra.
"terimakasih ayah, Zahra senang banget"
Zahra tersenyum hingga memperlihatkan gigi ginsulnya.
"ayah juga senang, akhirnya ayah bisa bekerja lagi"
seru Adam.
"karena ayah lusa mulai kerja. jadi besok ayah traktir Zahra makan-makan dong"
Zahra menaik turun kan alisnya
"Hahaha. siapa takut"
ucap Adam, ia bahagia ketika melihat Zahra ceria dan tertawa. ia sangat bersyukur sebab banyak yang sayang dan perduli dengan Zahra.
Adam tidak ingin kembali jauh dari Zahra, ia sudah berjanji untuk selalu di dekat Zahra. walaupun awalnya Adam berniat pergi untuk kembali ke kota B namun semenjak kejadian kemarin ia mengurungkan ke inginkannya.
terlebih lagi ia sudah di pindahkan bekerja di kota ini.
……………
buat para Readers mohon maaf jika alur ceritanya tidak sesuai dengan ekpektasi. Author juga selalu berusaha menciptakan alur yang membuat para pembaca nyaman dan berharap bisa suka,
Author juga baru belajar membuat karya tulis seperti ini maka dari itu Author masih memiliki banyak kekurangan.
Author tidak memaksa kan para readers untuk tetap setia dan selalu suka. namun Auhtor terus berusaha memberikan alur dan cerita yang menarik setiap Part yang Author sajikan.
Author mohon maaf jika masih banyak kekurangan.
__ADS_1
terimakasih yang masih terus setia dan dukung Author. 😌😌😌