Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
98.ke makam ibu


__ADS_3

Sudah 2 minggu berlalu semenjak pernikahan Bramantio. Sampai saat ini Zahra menunggu janji yang di berikan papahnya untuk mencari keberadaan Zahira.


Semenjak menikah 2 minggu yang lalu, Bramantio terlihat sibuk bahkan sudah tidak pernah menghubungi Zahra lagi.


saat Zahra meneleponnya dan menanyakan perihal Zahira, Bramantio selalu mengatakan ia akan membantu. namun hingga saat ini Bramantio tak kunjung memberi kepastian ,membuat Zahra sedikit kesal.


"Mbak, ikannya gosong mbak"


ucap Gracia membuyarkan lamunan Zahra


"Astaga ! "


Zahra terkejut dan sadar bahwa saat ini ia sedang menggoreng ikan.


Dengan cepat tangannya beralih untuk mematikan kompor.


"mbak, ga apa-apa? "


tanya Gracia memastikan, pasalnya sedari tadi Zahra memasak sambil melamun.


"ga apa-apa kok Grac, "


"mbak kalau capek mending mbak istirahat aja, biar aku yang selesaikan mbak"


tawar Gracia


"Ehmm , yasudah kamu lanjutkan yah mbak mau ke ruangan mbak dulu soalnya mbak sedikit pusing"


tutur Zahra


"iya mbak, mbak istirahat yah"


ucap Gracia


Zahra membuka apron yang menempel di tubuhnya. ia berjalan menuju ruangannya.


di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah kamar tidur yang berukuran kecil.


kamar tidur itu di gunakan Zahra untuk beristirahat atau terkadang jika ia lembur ia tak perlu pulang kerumah.


Zahra merebahkan tubuhnya di ranjang yang berukuran kecil. matanya menatap langit-langit kamar.


"aku ga sabar jika harus menunggu papah"


Gumam Zahra lirih .


ia melihat arloji kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. jam menunjukkan pukul 12 siang.


padahal saat ini Resto masih di penuhi pelanggan sebab sudah masuk jam makan siang.


namun Zahra menyerahkan semuanya kepada karyawannnya. sebab hari ini ia sedang tidak fokus.


Zahra memejamkan matanya , ia hendak beristirahat.



Bagas baru selesai berkutat dengan laptopnya. ia memutar pinggangnya ke kanan dan ke kiri.


ia melirik jam dinding di ruangannya. sudah saatnya jam makan siang.


Bagas pun beranjak dari duduknya. ia hendak makan siang.


Bagas siang ini berniat untuk ke resto Zahra.


dengan langkah cepat ia menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.


tak butuh waktu lama Bagas sudah tiba di depan Resto milik Zahra.


ia segera masuk, terlihat banyak para pelanggan yang sedang makan siang.


Bagas mengedarkan pandangannya mencari Zahra, namun ia tak mendapati Zahra ada disana.


"Gracia, Zahra ada? "


tanya Bagas pada Gracia yang kini sedang mempersiapkan menu pesanan.


"mbak Zahra ada di ruangannya pak"


sahut Gracia


"Oh, terimakasih Grac"


Bagas pun segera berlari menuju ruangan Zahra sekaligus kamar untuk Zahra menginap.


"tok…tok…"


Bagas mengetuk pintu ruangan tersebut namun berkali-kali ia mengetuk tak ada jawaban dari dalam.


Bagas memilih untuk melangkah masuk, terlihat Zahra sedang tertidur .


perlahan Bagas menghampiri Zahra, ia berlutut di samping tempat tidur Zahra.

__ADS_1


wajah Zahra terlihat sedikit pucat dengan keringat yang membasahi dahinya.


Bagas yang curigapun memberanikan diri untuk menempelkan tangannya di kening Zahra.


"panas"


ucap Bagas sedikit panik


"eunghh"


lenguhan kecil dari bibir Zahra saat ia merasakan ada sesuatu yang menempel di keningnya.


"kakak"


ucap Zahra saat pertama kali membuka mata.


"Ra, kamu sakit? "


tanya Bagas


"enggak kak "


"Kok enggak, badan kamu panas loh"


tutur Bagas


"Zahra cuma demam aja kok kak, tadi sudah minum obat"


Zahra berusaha bangun dari tidurnya.


"kita ke dokter aja yuk? "


ajak Bagas sedikit khawatir


"ga usah kak, Zahra ga apa-apa "


"beneran kamu ga apa-apa ? kalau kamu ngerasain ada yang sakit kamu bilang ke kakak yah"


"iyah kak"


sahut Zahra.


"kak? "


panggil Zahra


"iyah"


"Zahra bisa minta tolong ga? "


tanya Zahra


"bisa Ra, selagi kakak bisa "


Bagas tersenyum, jujur saja selama ini ia tak pernah bisa menolak permintaan Zahra.


"besok temenin Zahra ke makam ibu sama nenek yah, soalnya Zahra kangen banget kak"


pinta Zahra


"besok yah? "


ulang Bagas


"iyah kak. Soalnya selama satu minggu ini papah sama mamah sibuk terus bahkan ga pernah lagi nelpon Zahra. jadi Zahra ga bisa minta anterin papah"


tutur Zahra dengan pandangan tertunduk karena sedih.


Bagas yang melihat Zahra sedih pun turut merasakan hal yang sama.


awalnya Bagas hendak menolak sebab esok ada meeting penting dengan clientnya. namun, karena melihat Zahra seperti ini ia lebih mementingkan Zahra.


Bagas merasa jika Zahra benar-benar merindukan ibunya. mungkin saja ia demam karena hal itu.


"yasudah besok pagi kita berangkat yah, kamu jangan sedih lagi"


Bagas mengelus lembut kepala Zahra


"terimakasih yah kak. besok kakak jemput Zahra di Resto aja. "


ucap Zahra


"iyah"


"dan 1 lagi yah kak, jangan bilang ke papah ataupun ayah kalau Zahra mau ke makam ibu"


tutur Zahra dengan binar mata yang penuh harap.


"jadi kita ga pamit? "


tanya Bagas.

__ADS_1


"ga kak, Zahra sebelumnya udah bilang ke ayah"


"yasudah kalau gitu"


Bagas tersenyum lembut, membuat Zahra sedikit lebih tenang.


……


Jam menunjukkan pukul 6 pagi ,Bagas kini sudah berada di depan Resto.


malam tadi ia sudah menelepon Mora bahwa ia tidak bisa ikut meeting hari ini dan akan di wakilkan oleh papanya.


untung saja para Client itu tidak keberatan sebab Wijaya lah pemilik perusahaan itu.


tak berapa lama pun Zahra keluar.


"maaf yah kak.Zahra lama, soalnya tadi lagi nyusun stok bahan-bahan dapur"


tutur Zahra


"iyah ga apa-apa. yaudah yuk kita berangkat entar keburu siang"


Zahra dan Bagas pun berangkat menuju kota kelahiran Zahra.


di sepanjang perjalanan Zahra tidak banyak bicara ia memilih diam.


sesekali Bagas mengajaknya mengobrol agar Zahra tak banyak melamun.


Jalanan tak begitu macet, sebab hari ini bukanlah hari weekend. hal itu membuat Bagas bisa lebih cepat memacu laju mobilnya.


jam menunjukkan pukul 1 siang, kini mereka sudah sampai di area pemakaman.


Zahra membeli bunga yang di jual di depan gerbang pemakaman.


Zahra kini memakai selendang serta baju gamis. sementara Bagas mengenakan kemeja panjang yang ia gulung hingga ke siku.


kini Bagas dan Zahra sudah berada di makam ibunya Zahra.


Zahra perlahan membersihkan rumput liar yang tumbuh di makam sang ibu. setelah itu Bagas dan Zahra memanjatkan doa.


tak lupa Zahra menabur bunga di atas makam ibunya. terlihat Zahra meneteskan air mata.


tangannya selalu mengusap batu nisan yang tertulis nama sang ibu.


"Zahra datang bu, maaf jika Zahra sudah terlalu lama tidak mengunjungi ibu"


ucapnya lirih dengan tetesan air mata.


"ibu jangan khawatirin ayah yah, ayah sehat kok bu. Zahra janji akan terus merawat ayah"


Zahra menghapus air matanya. ia pun beranjak menuju makam sang nenek. ia melakukan hal yang sama yaitu memanjatkan doa dan membersihkan makam.


Bagas memperhatikan Zahra, Bagas tahu Zahra benar-benar merindukan ibu dan neneknya.


Bahkan sampai mereka pulang pun, Zahra selalu menoleh untuk melihat makam ibunya.


"kita pulang yuk"


ajak Bagas sambil menuntun Zahra keluar gerbang pemakaman.


Langkah Zahra terhenti membuat Bagas menoleh ke arahnya.


"kenapa Ra? "


tanya Bagas


"kak, boleh ga kita lihat rumah ayah yang dulu? . "


pinta Zahra


"boleh"


ucap Bagas tanpa bertanya kenapa dan untuk apa.


"terimakasih kak"


ucap Zahra dengan nada pelan.


letak pemakaman dengan rumah Zahra yang dulu tidak lah terlalu jauh. hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit.


kini mobil Bagas berhenti di seberang jalan tepat di depan rumah Zahra dulu.


"Ra, lihat deh sekarang sudah ada warung di depan sini "


Bagas menunjuk sebuah warung makan yang cukup besar.


"Iyah ya kak"


"kita turun yuk, makan dulu dari tadikan belum makan siang"


ajak Bagas pada Zahra.

__ADS_1


Zahra hanya menurut sambil sesekali memandangi rumah milik orang tuanya dahulu. bangunannya tidak ada yang berubah. bahkan pohon mangga yang berada di depan rumahnya masih berdiri kokoh.


__ADS_2