
kopi yang di bawa Zahra terjatuh, karena Zahra terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya.
suara pecahan gelas itu mengejutkan kedua orang yang tadinya masih di posisi berpelukan.
Vera melepaskan pelukannya.
"Zahra"
Bagas terkejut melihat kedatangan Zahra, adegan tadi pasti di saksi kan oleh Zahra.
"Ma..... maaf pak sa... saya gak sengaja"
Zahra gugup dan langsung memunguti pecahan gelas yang berserakan di lantai.
"Awwwhhh"
karena terburu-buru jari Zahra tersayat pecahan gelas dan mengeluarkan darah.
Bagas berusaha menghampiri Zahra karena ia melihat tangan Zahra terluka tapi di cegah oleh Vera.
"sudah biarkan saja lagipula itu salahnya karena tak hati-hati "
Vera berucap ketus
"lain kali kalau mau masuk keruangan atasan itu biasakan ketuk pintu, dasar tak sopan! "
Vera berbicara dengan raut wajah sinis ia kesal waktu bermesraannya dengan Bagas menjadi terganggu.
Zahra pun dengan cepat beranjak pergi meninggalkan Vera yang masih terus merutuki kecerobohannya.
"apa maksud kamu? "
"sudah aku bilang jaga sikap ini kantor. kamu yang tak sopan masuk keruangan orang dan bersikap demikian"
Bagas membentak Vera ia emosi melihat Vera memarahi Zahra.
Bagas melangkah pergi mencari Zahra, gadis itu pasti salah paham.
Vera menghentakkan kakinya karena kesal di marahi oleh Bagas.
Zahra pergi ke balkon yang berada di belakang dapur kantor. sambil memegangi tisu ia membersihkan darah yang mengalir di jarinya.
Ia memandangi suasana pagi hari di balkon dapur, cahaya pagi yang masih lembut menghangatkan wajahnya.
pandangan Zahra lurus ke depan lalu tangannya memegangi besi pembatas setinggi pinggang.
"Sadar Zahra siapa dirimu , tak pantas engkau cemburu bahkan terbawa perasaan atas sikap Bagas selama ini"
Zahra sempat merasa bahwa Bagas menyukainya karena sifat lembutnya. wanita mana yang tak hanyut perasaanya saat di perlakukan sedemikian manisnya.
"Lihat Zahra siapa dirimu bahkan keluargamu enggan menerimamu, berbeda dengan Vera dia model anak pengusaha kaya yang jauh lebih pantas bersanding dengan Bagas sementara dirimu ,hanya Cleanning servis bahkan engkau sendiri pun tak tahu siapa ayahmu"
Air matanya kembali jatuh bersamaaan dengan hembusan angin pagi.
Zahra mengira keputusannya untuk masuk kerja di pagi ini akan membuat hatinya membaik , tapi nyatanya hatinya semakin sakit.
"dia bersikap baik mungkin saja karena kasihan pada mu Zahra betapa malangnya hidupmu"
Zahra berbicara seorang diri , entah mengapa hatinya kembali rapuh.
"kenapa tuhan menciptakan aku kalau takdirku hanya terbuang dan tersisihkan. mengapa tak engkau ciptakan 1 saja manusia untuk ku bersandar"
__ADS_1
Disaat seperti ini jelas saja Zahra membutuhkan sandaran, seseorang yang bisa mendengar keluh kesahnya. tapi nyatanya ia harus bertahan sendiri untuk menopang dirinya agar tak jatuh.
Bramantio yang baru selesai dari toilet melihat gadis yang di tabraknya waktu itu di depan lift.
gadis itu terlihat menangis dan berjalan cepat tanpa melihat dirinya.
"apa yang terjadi dengannya?"
nalurinya memaksa dirinya untuk mengikuti gadis itu, ternyata dia berada di balkon dapur.
Bramantio berjalan perlahan menghampiri gadis yang berdiri di ujung balkon, ia berdiri di belakangnya takut jika gadis ini akan melakukan hal yang tak di duga mengingat balkon ini berada di lantai 4.
ia melihat gadis ini sedang mengelap tangannya dengan tisu terlihat jarinya berdarah. ia mendengar perkataan Zahra yang terakhir.
Entah mengapa hatinya berdenyut sakit melihat gadis ini bersedih.
"siapa sebenarnya gadis ini mengapa perasaanku setiap bertemu dengannya berasa aneh"
Bramantio mencoba mendekat dan berdiri di samping Zahra.
"tuhan menciptakan manusia pasti ada tujuannya. setiap manusia memiliki porsi masalah, kebahagian, dan rezeki nya masing-masing. kita tak akan tahu apa yang terjadi di hari esok"
Zahra terkejut melihat kedatangan Bramantio yang tiba-tiba berbicara dengan pandangan lurus ke depan.
"Ehh pak"
Zahra dengan cepat menghapus air matanya
"apa yang terjadi dengan tanganmu"
Bramantio melirik jari Zahra
"apa luka itu sakit sehingga membuat mu menangis? "
Zahra berbicara tanpa melihat Bramantio
"siapa namamu?"
Bramantio mengulurkan tangannya
"nama saya Zahra Andriani pak"
Zahra membalas uluran tangan Bramantio
"kamu Cleanning servis disini"
"iyah pak"
Entah mengapa Bramantio seakan ingin tahu siapa gadis ini dan apa yang terjadi dengannya.
melihat wajahnya yang sendu karena tangis, dan tak ada seulas senyum di wajahnya membuat hati Bramantio turut ngilu.
"apa yang kamu lakukan disini"
tanya Bramantio pada Zahra
"hanya sekedar mencari angin segar pak"
"jangan berbohong, dirimu memiliki masalah yang besar kan? "
Bramantio melirik sekilas wajah Zahra, nampak bulir air mata kembali jatuh di pipinya
__ADS_1
"Ceritakan siapa tahu saya bisa membantumu"
kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya karena rasa penasaran yang tinggi.
"tidak pak terimakasih. Lagipula jika bapak mendengarkan cerita saya itu hanya membuang-buang waktu bapak saja, urusan bapak jauh lebih penting darikan masalah seorang Cleanning servis seperti saya"
Zahra sebenarnya merasa nyaman di dekat pria yang mungkin seumuran dengan ayahnya ini.
tapi ia tak mungkin menceritakan tentang masalah keluarganya pada orang lain bahkan ia belum seutuhnya mengenal laki-laki ini.
"jika saya mengatakan masalahmu jauh lebih penting. bagaimana? "
"saya akan menjawab, itu tidak mungkin pak"
Zahra menatap netra cokelat di mata Bramantio, hatinya merasa teduh dan berasa terlindungi. Hal yang sama pun di rasakan Bramantio.
"baiklah saya akan membuktikan, kalau saya akan menjadi pendengar keluh kesahmu"
Bramantio kecewa Zahra tak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Zahra hanya tersenyum tipis.
Bramantio mengambil plaster di kantong jasnya ia selalu membawa palster kemanapun pergi.
"balut luka mu jangan biarkan ia terbuka terlalu lama, karena itu akan menambah rasa sakit"
ia menyodorkan plaster berwarna biru pada Zahra
Zahra paham atas kalimat yang di katakan pak Bramantio itu, tidak sepenuhnya karena luka di jarinya tapi karena luka di hatinya.
"terimakasih pak"
Zahra mengambil plaster itu dan menempelkan di jarinya.
"saya pergi dulu, semoga di saat kita bertemu kembali kamu mau bercerita"
"saya juga berharap begitu pak"
Zahra tersenyum
dan Bramantio pergi meninggalkan Zahra yang masih berdiri di balkon.
"seandainya aku punya ayah sepertinya mungkin aku bahagia"
Zahra bergumam
"Ayah, Zahra berharap bisa bertemu denganmu. ada rasa yang ingin Zahra luapkan"
Zahra mengusap wajahnya lembut dan beranjak pergi, mengingat ini masih jam kerja.
**************
😠jangan lupa like donk, kasian Zahra gak bersemangat.
Author jadi sedih bukan karena alur ceritanya tapi karena liat likenya ga nambah"😩😩😩.
Atit Ati tu 💔
Yang masih setia terimakasih yah
Salam manis Author
__ADS_1
~EtyRamadhii