
"Ayah? "
Ucap Zahra sambil berdiri dari duduknya saat melihat Adam berada di belakangnya.
"Kamu nangis? "
Adam mendekati Zahra yang masih berusaha menyeka air matanya.
"en.. enggak yah mata Zahra kena debu"
Elak Zahra
"Sampai kapan kamu menyembunyikan hal yang membuat mu sakit?"
Adam menatap lekat wajah Zahra, ia tahu sebenarnya Zahra tengah menyembunyikan sesuatu.
"jangan pura-pura tegar di hadapan ayah, ayah tahu"
Mata Zahra kembali berkaca-kaca, ia tak bisa menahan air matanya.
"Greepppp"
Zahra memeluk Adam dengan erat, ia menumpahkan tangisnya di pelukan laki-laki yang membesarkannya.
"Menangislah sepuasnya, sampai rasa sesak itu hilang. "
Adam mengelus lembut rambut Zahra, ia membiarkan Zahra menangis bahkan sampai membasahi baju yang di pakai Adam.
"Dahulu ayah tidak pernah menenangkan kamu ,jika kamu menangis. Ayah juga tidak pernah mendengarkan keluh kesahmu"
"jadi sekarang lakukan lah yang dahulu belum pernah kamu lakukan terhadap ayah"
Ucapan Adam semakin membuat Zahra menangis.
Hingga beberapa saat kemudian Zahra melepaskan pelukannya dan menatap Adam.
"sudah legah? "
tanya Adam yang di jawab anggukan oleh Zahra.
"jika sudah, mulailah cerita ke ayah. Apa yang membuat anak ayah ini menangis? "
Adam merapikan rambut Zahra
"Kak Bagas"
Ucap Zahra lirih namun masih dapat di dengar oleh Adam
"kenapa dengan Bagas? "
Tanya Adam sambil menuntun Zahra untuk duduk.
Zahra menceritakan semuanya tanpa terkecuali. Menurutnya Adam adalah tempat yang tepat untuk mencurahkan isi hatinya.
Adam hanya tersenyum mendengarkan penuturan putrinya.
"Hanya karena itu putri ayah ini menangis sampai wajahnya memerah seperti tomat"
Adam menarik hidung Zahra, ia mencairkan suasana.
"Ayah, jadi Zahra harus apa? "
Rengek Zahra
"Ayah tidak menyalahkan siapapun disini dan tidak mendukung siapapun"
Zahra mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Adam.
__ADS_1
"kamu tidak salah, memang pernikahan itu harus siap mental jika kamu belum siap maka tidak baik jika harus di paksakan"
"dan Bagas, dia juga tidak salah ia ingin mempercepat niat baiknya karena mungkin dia sudah matang baik mental maupun materi "
Adam menjeda kalimatnya dan menghela nafas.
"kalian hanya kurang komunikasi untuk hal ini, coba lebih dewasa dan saling terbuka. "
"ayah rasa kalian berdua sudah dewasa dan mengerti harus bagaimana, selesaikan lah masalah ini tanpa di iringi emosi sebab keputusan yang di ambil saat emosi akan berakibat fatal"
tutur Adam
"yang pertama perbaiki komunikasi, kurangi egois dan berpikir jernih saat mengambil keputusan . Jika memang semua ini tidak bisa di perbaiki ayah harap kalian bisa mengakhiri secara baik-baik "
Zahra hanya tertunduk mendengar ucapan sang ayah.
"perbaiki jika masih bisa tapi jika itu menyakitkan maka akhiri. Karena kamu mencari bahagia bukan luka apalagi air mata"
Adam mengelus lembut kepala sang putri ia yakin Zahra tipe wanita tangguh yang tidak akan menyerah dengan keadaan.
Jika di lihat dari sorot matanya Zahra menyimpan rasa lelah yang mendalam.
Zahra menghela nafasnya, saat ini ia tahu apa yang harus dilakukan.
__
Sudah hampir dua minggu namun sampai sekarang Bagas tak memberi kabar.
Jam menunjukkan pukul 10 malam dan Zahra masih terjaga .
Perlahan ia berdiri di depan kaca berukuran besar yang berada di kamar miliknya. Ia memperhatikan raut wajahnya.
Manik matanya tertuju pada kalung yang ia kenakan.
Zahra menghela nafas berat. perlahan ia membuka kalung tersebut.
"Aku ga tahu, apa yang sebenarnya kakak lakukan. Tapi aku rasa aku sudah berjuang untuk memperbaikinya"
Ia juga sudah menyiapkan sebuah kotak besar, di dalam kotak tersebut ada berbagai macam barang termasuk sepatu high heels pemberian Bagas untuknya.
Zahra meletakkan kotak kecil yang berisikan kalung di atas tumpukkan barang-barang tersebut.
"Mungkin kita butuh waktu untuk sendiri"
Gumam Zahra
Tak lupa ia meninggalkan secarik kertas di dalam kotak tersebut. Kemudian ia melakbannya.
Zahra berencana akan mengembalikan semua ini ke Bagas. Ia rasa jika jodoh semua akan berjalan baik.
Zahra duduk di tepi ranjang, ia mensugesti dirinya sendiri untuk tetap yakin.
Bagas adalah cinta pertamanya, belum pernah ia menyukai laki-laki apalagi sampai menjalin hubungan terkecuali dengan Bagas.
Ia yakin jika Bagas masih menjaga hati dan hubungan mereka, pasti ia akan mencari Zahra.
__
Pagi ini Zahra sudah berada di depan kantor keluarga Wijaya.
Tak lain kantor milik Bagas, suasana kantor masih tampak lengang sebab jam masih menunjukkan pukul setengah 7 pagi.
Zahra sengaja datang ke kantor sepagi ini, ia tak ingin banyak pasang mata melihatnya.
Zahra melangkah masuk dengan membawa kotak di tangannya.
"pagi mbak"
__ADS_1
Sapa Zahra pada karyawan Bagas yang berada di meja loby.
"pagi juga mbak Zahra"
"ada yang bisa saya bantu? "
tanya karyawan bernama Imay tersebut.
"Ehmm begini mbak saya mau ke ruangannya pak Bagas, mau antar barang milik pak Bagas"
Jawab Zahra
"apa mbak sudah bicara pada pak Bagas sebelumnya? "
"sudah mbak, justru pak Bagas yang suruh saya mengantar barangnya"
Ucap Zahra berbohong
"baiklah mbak, kalau begitu mari saya antar "
Zahra pun mengikuti Imay, sukur saja kantor masih terlihat sepi.
Dan tidak ada satupun para Cleaning Servis yang Zahra kenal, mungkin sebagian anggota baru.
"Silahkan mbak"
ucap Imay saat ia sudah membuka pintu ruangannya.
"terimakasih mbak"
"Iyah, saya tinggal dulu ya mbak dan tolong nanti kunci kembali ruangannya dan kuncinya bisa di kembalikan ke saya"
tutur Imay
"baik mbak"
Zahra pun melangkah masuk dan menutup pintu. Ia memperhatikan setiap sudut ruangan.
"dimana yah buka pintunya"
Zahra memperhatikan deretan lemari yang menuju ruangan pribadi Bagas.
Zahra menekan sebuah tombol kecil yang berada di samping figura.
dan benar saja secara otomatis dinding bergeser dan memperlihatkan ruangan pribadi milik Bagas.
Dengan cepat Zahra melangkah masuk, ia meletakkan kotak yang sedari tadi ia bawa di atas nakas di samping tempat tidur Bagas.
"Sudah jangan bersedih Ra, jodoh tak akan kemana"
Zahra memberi semangat pada dirinya sendiri agar tetap tegar.
__
Hari ini adalah hari terakhir Bagas mengawasi proyek, esok hari ia akan kembali.
Bagas merogoh saku miliknya untuk mengambil ponsel.
Ia bingung mengapa Zahra tidak mengirim pesan padanya dari kemarin.
Biasanya Zahra selalu mengirim pesan walaupun tak di balas Bagas.
Bagas sengaja melakukan hal itu agar memberikan efek jera pada Zahra.
Walaupun hari-hari terasa sepi tanpa suara Zahra.
Bagas yang baru selesai makan siang terus melanjutkan pekerjaannya. Setidaknya ia mengawas sambil menyelesaikan tugas kantor.
__ADS_1
Jadi esok jika kembali ke kantor pekerjaan tidak akan menumpuk.
Sepulangnya dari sini Bagas berniatan hendak menemui Zahra dan memberikan kejutan padanya. Bagas ingin melihat ekspresi wanita itu.