Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
111. jangan hina keluargaku


__ADS_3

Pagi ini Zahra dan Bagas sudah berada di depan bangunan megah, bangunan yang bergaya Eropa.


Mereka kini bersama Alex ,sebab pagi tadi Alex menjemput Bagas dan Zahra di hotel.


"ini rumah kamu? "


tanya Zahra tanpa mengalihkan pandangannya


"Iyah, ini rumah yang ke 3. rumah yang pertama ada di Indo "


ucap Alex


"yuk masuk"


ajak Alex, sementara Bagas hanya mengikut.


Tidak ada rasa kagum di raut wajah Bagas, ekspresinya biasa saja ketika melihat bangunan rumah milik orang tua Alex.


berbeda dengan Zahra ia terus mengamati bangunan megah ini.


Saat mereka melangkah masuk, ruangan di dalam rumah sukses membuat Zahra terperangah.


"Benar-benar istana"


Gumamnya dalam hati


Sementara Alex memerintahkan salah satu asisten rumah tangganya untuk memanggil kedua orang tuanya.


"silahkan duduk"


Alex mempersilahkan


"kalau rumah kamu ada di Indo kenapa kamu ga pulang? "


ucap Zahra sambil mendaratkan bokongnya di sofa.


"aku sudah tidak pernah kerumah itu, paling hanya kedua orang tuaku"


"aku hanya di perintah kedua orang tuaku untuk menetap dan fokus di bisnis kuliner yang ada di negara ini"


Alex sedikit menampilkan wajah lesu, bagaimana tidak, ia harus menuruti ke inginan kedua orang tuanya.


hampir sepenuhnya hidup Alex di atur orang tuanya. tanpa di beri sedikit kebebasan memilih ataupun berpendapat.


Saat ketiganya tengah mengobrol, terdengar suara langkah kaki yang menuruni anak tangga.


seorang perempuan cantik dengan kulit putih berdampingan dengan lelaki paru baya yang di yakini Zahra adalah orang tua Alex.


Bagas dan Zahra turut bangkit dari duduknya.


"Mami, papi perkenalkan ini teman Alex dari Indo"


ucap Alex, ia menggunakan bahasa Indonesia sebab di dalam keluarganya sudah terbiasa dengan bahasa itu.


"Hai"


sapa Mery Maminya Alex.


"hai tante"


"hai bu.... "


jawab Bagas dan Zahra ketika keduanya tidak kompak.


keduanya saling sikut dan saling berpandangan


"tidak masalah, kalian mau panggil saya apa"


ucap Mery maminya Alex dengan ramah


"Ayo silakan duduk"


ucap Tristan papinya Alex mempersilahkan Zahra dan Bagas.


"terimakasih pak"


Bagas dan Zahra kembali duduk


"Saya sepertinya pernah bertemu dengan kamu"


tanya Tristan pada Bagas, ia menelisik wajah Bagas rasa-rasanya tidak asing baginya.


"maaf pak, dimana yah? "


Bagas heran sebab ia merasa belum pernah bertemu.


"dimana yah saya lupa"


Tristan mengingat-ingat dimana dia bertemu Bagas.


"kalau tidak salah, kamu yang pernah mempresentasikan rancangan proyek perumahan Mega Emas kan. dari Pt Gantara?"


ucap Tristan memastikan


"iyah pak, bagaimana bapak bisa tahu"


Bagas mengerutkan keningnya.


"jelas saya tahu, saya juga turut andil dalam proyek itu"


Tristan tersenyum bangga sebab tebakannya benar.


"proyek yang sangat membanggakan, dalam waktu 2 bulan pemasaran perumahan itu laku keras tanpa sisa"


"apa bapak yang bernama Tristan Chandra? "


ucap Bagas


Sementara Mery, Alex dan Zahra hanya menyimak obrolan keduanya.


"Yupss, itu nama saya"


Tristan membenarkan


"wah saya ingat pak, saya Bagas Dirgantara anak pak Wijaya Dirgantara. dan ini Zahra anak pak Bramantio "


Bagas ingat sebab Bram, Wijaya serta Tristan pernah membangun proyek kerja sama di wilayah kota D.


"wah ternyata kamu putrinya Bramantio, cantik sekali. saya tidak menyangka dia memiliki putri secantik kamu. wajah mu sangat mirip dengan papa mu"


puji Tristan membuat Zahra tertipu malu.


"terimakasih pak"


ucap Zahra

__ADS_1


"dunia ini begitu sempit yah, buktinya saja bisa bertemu kembali"


tutur Mery tersenyum. Alex tidak mengetahui jika Bagas dan Zahra adalah anak rekan bisnis papinya.


Walaupun nama Dirgantara pernah terdengar di telinganya , namun ia tak mencari tahu.


Alex masih berperang dengan pemikirannya sementara Bagas, Zahra beserta orang tuanya tengah mengobrol.


"kamu kenapa Lex? "


tanya Mery saat melihat putranya melamun.


"ah tidak apa-apa mi"


ucap Alex.


Zahra paham Alex sedang memikirkan cara untuk menjelaskan kepada orang tuanya.


Ia berinisiatif membuka pembahasan mengenai hal itu


"maaf pak, buk, sebenarnya kedatangan kami kesini mau meminta izin untuk membawa Alex ke Indo"


ucap Zahra sambil melirik Alex


"biar aku saja yang menjelaskan Ra"


Alex menganggukkan kepalanya memberi isyarat bahwa ia siap mengatakan hal itu.


"sebelumnya Alex minta maaf mi, pi. Alex sudah mengecewakan mami dan papi"


Alex menghela nafasnya dan melanjutkan ucapannya


"Alex harus ke Indo, sebab anak Alex baru saja lahir"


entah benar atau salah cara penyampaian Alex ,tapi menurutnya itu kalimat yang tepat.


"anak? "


Mery dan Tristan saling berpandangan


"anak apa Lex, kamu saja belum menikah kenapa menyebut anak"


Tristan terheran, apa yang di katakan putranya tersebut.


"bercanda kamu yah? "


Timpal Mery


"Alex ga bercanda mi, A... Alex me...menghamili Zahira dan 2 hari yang lalu Zahira baru saja melahirkan "


ucap Alex gugup begitu juga Zahra ia meremas jarinya, ia merasakan jika di posisi Alex.


"hamil? "


"jadi kau menghamilinya? "


Mery bangkit dari duduknya, raut wajahnya memerah.


"sudah berulang kali aku katakan pada mu Alex ,jangan kau mendekati wanita jal*ng itu !"


ucap Mery membuat Zahra mendongakkan pandangannya ia tak terima sang kakak di hina demikian.


"maaf bu, kakak saya bukan wanita murahan"


ucap Zahra


"dan kau datang kesini untuk meminta pertanggung jawaban? "


Mery tersenyum sinis.


"Mi, sudah seharusnya Alex bertanggung jawab .karena Alex yang melakukannya"


Alex berusaha menjelaskan


"apa kau yakin dia itu anakmu, bukankah kau selama ini ada di Desa ?"


tanya Tristan dengan penuh keraguan.


"bisa saja dia mengakui itu anakmu padahal sama sekali bukan"


"dia hanya memanfaatkan mu"


"sudah berulang kali mami katakan jauhi wanita jal*ng itu"


"dia tidak baik untukmu !"


Suara Mery meninggi


"Cukup !"


teriak Zahra


"kakak saya bukan wanita murahan, jika bapak dan ibu meragukan anak itu sebaiknya kita melakukan tes DNA "


"lagipula Alex mengakuinya jika ia yang melakukannya"


Zahra tampak emosi, Bagas mengelus bahu Zahra.


"tenang sayang"


bisik Bagas


" jadi Zahira itu anak Bramantio? "


tanya Tristan sambil menatap Zahra


"Mereka 1 ibu namun beda ayah"


Bagas membenarkan


"lihatlah asal usul keluarganya saja tidak jelas !"


Sahut Mery sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Jika ibu tak mengerti yang sebenarnya jangan menghina keluarga saya"


bentak Zahra lantang


"Hei, apa Bramantio tidak mengajarkan sopan santun padamu"


sergah Tristan


"Sudah Stop! "


teriak Alex, wajahnya memerah.

__ADS_1


"jangan pernah menghina Zahira lagi"


"aku yang melakukannya aku yang menghamilinya dan tentu saja itu anakku"


Mery terdiam melihat anaknya, baru kali ini Alex terlihat emosi di depan kedua orang tuanya.


"apa salah Zahira pada mami dan papi? "


tanya Alex


"dia hanya butuh uang mu Lex"


" sadar itu. !"


"katakan padanya, ia membutuhkan uang berapa."


Mery kembali menganggap rendah Zahira


"Mi, Zahira tidak sepenuhnya Matrek mi"


"kenapa sih mami dan papi mengatur hidup Alex sampai sebegitunya. apa mami dan papi pernah memberikan satu kesempatan pada Alex untuk memilih apa yang Alex suka? "


"ga pernah mi. hidup Alex selalu saja di atur . mami dan papi memaksakan kehendak tanpa memikirkan Alex"


Alex terlihat kesal, ia meluapkan kekesalannya yang selama ini ia pendam.


"apa ini wujud sayang mami dan papi untuk Alex, mami kira Alex bahagia mi? "


"Semenjak Zahira hadir, dia yang mengerti Alex dia tempat Alex bercerita. bahkan dia yang memaksa Alex untuk kuliah disini mengikuti ke mauan mami"


"Sudah cuku mi, pi. Alex sudah dewasa. bahkan papi sendiri yang selalu mengajarkan tanggung jawab pada Alex"


Mata Alex terlihat memerah, Mery hanya diam ia tak berani menjawab.


"biarkan Alex bertanggung jawab pi, Alex seorang laki-laki. jika Mami dan papi butuh bukti biarkan Alex melakukan tes DNA"


"agar semuanya jelas"


suara Alex perlahan melemah.


"baiklah, papi akan ikut ke Indo. kita pastikan itu anak kamu atau bukan"


"dan jika terbukti bukan, papi tidak sudi membiarkan kamu bertanggung jawab "


tegas Tristan


"sekalipun itu anak kamu, mami tidak mau menerimanya ! "


Mery melangkah pergi, ia menghapus air matanya. hatinya kecewa melihat Alek.


bersusah payah ia menjauhkan dan memisahkan Alex serta Zahira.


justru kini Zahira melahirkan anak yang di duga anak Alex.


"Hari ini juga kita berangkat "


"awas saja jika dugaan papi dan mami benar bahwa itu bukan anak kamu"


"papi tidak segan menuntut wanita itu"


Ancam Tristan dan ia melangkah pergi, menyusul Mery.


"haaaaaaa"


Alex terduduk lemas, nafasnya masih memburu. Ada rasa menyesal di hatinya ketika melihat Maminya meneteskan air mata.


Sebuah pilihan yang berat. memilih Zahira atau menuruti ke inginan orang tuanya untuk yang kesekian kalinya.


"Lex"


panggil Zahra


Alex mengangkat pandangannya


"maafkan kedua orang tua ku, sejak dahulu mereka tak menyukai Zahira"


ucap Alex dengan suara lemah.


"tak mengapa, setidaknya hal yang kau lakukan sudah benar, kau mau mengakui kesalahanmu"


Bagas yang berdiri di samping Alex menepuk pundak Alex seakan memberikan support.


"maafkan aku, sudah berbicara lantang pada ibumu"


"Bagaimanapun juga Zahira tetaplah kakakku"


Zahra merasa menyesal, tapi apa boleh buat ia tidak bisa jika keluarganya di rendahkan.


Ada rasa bersalah pada papanya, sebab cara bicaranya yang tidak sopan membuat orang tua Alex menduga Bramantio tidak mengajarkan sopan santun pada Zahra.


"tidak apa-apa, aku mengerti"


"Yasudah, mari aku antar kita harus segera ke Indonesia "


ucap Alex


"tidak perlu Lex, kami pakai taxi saja ke hotel. "


tolak Bagas


"yasudah, biar aku saja yang memesan tiket. nanti aku kabari jam berapa kita berangkat "


ucap Alex,


"baiklah, "


"Jangan sedih sebagai laki-laki sudah seharusnya bertanggung jawab "


Bagas kembali menepuk bahu Alex


"Iyah, terimakasih kalian sudah mau berusaha menemukanku."


"sama-sama Lex, aku juga tidak mungkin membiarkan Zahira terpuruk, "


ucap Zahra.


Kini Zahra dan Bagas harus kembali ke hotel untuk bersiap-siap pulang.


--


Hai guys, jadi pada banyak yang nanya nih. thor kapan Zahra nikah, thor hubungan Zahra ko gitu-gitu aja, bosen ah thor alur cinta Bagas dan Zahra ga ada kemajuan


eits... eits.. eits..


bukan othor ga mau ribet ngadain hajatan buat Bagas ama Zahra cuma Part ini masih menceritakan tentang Zahira.

__ADS_1


dannnnn Ga afdol dong kalau tiba-tiba auto nikah, othor mau buat penonton kecoa dulu sama alurnya baru Happy ending.


Semoga sabar yah.


__ADS_2