Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
38 Mencari bukti


__ADS_3

Hari ini Zahra kembali bekerja dengan keadaan mata yang masih terlihat sembab membuat semua temannya terheran melihatnya.


"Lahh itu mata kenapa Ra? "


"kamu ngintipin apaan? "


Erma bertanya ia heran melihat mata Zahra yang sangat sembab.


"ngintipin nyamuk lagi dugem"


Sahut Zahra ketus, ia memilih melewati temannya begitu saja dan tak ingin ikut berkumpul bersama teman-temannya.


Zahra malas jika harus menjawab ribuan pertanyaan hanya karena soal mata.


Zahra memilih istirahat di depan kantor, di sebuah tempat duduk yang terletak di samping pos security.


Zahra melihat pak Bramantio yang baru saja keluar dari kantor.


sementara Bramantio juga melihat Zahra yang sedang duduk sendirian di dekat pos security .


ia menghampiri Zahra


"kamu ngapain disini? "


tanya Bramantio


"lagi istirahat pak"


Zahra tersenyum


"Ehmm bisa ikut saya sebentar ga? "


Bramantio ingin mengajak Zahra mengobrol tentang banyak hal.


dirinya sangat penasaran dengan gadis ini, bahkan sekretarisnya sendiri pun mengatakan bahwa gadis ini sangat mirip dengannya.


"kemana yah pak? "


"udah kamu ikut aja"


"tapi pak, ini masih jam kerja? "


Zahra sebenarnya merasa enggan untuk ikut tapi ia harus bisa menjalani kan rencana selanjutnya.


setelah ia mencocokkan data yang ia dapat dengan data yang di tulis sang ibu, ternyata benar banyak kesamaan.


hati Zahra semakin yakin bahwa Bramantio adalah ayahnya. namun ia memilih untuk mencari bukti baru.


"kamu tenang aja Zahra saya jamin kamu ga bakal di marahin atasan kamu"


Zahra pun akhirnya menyetujui ajakan pak Bramantio.


Zahra menghampiri pak Yono seorang security yang bekerja di kantor ini.


"pak saya boleh minta tolong ga? "


"boleh neng, mau minta tolong apa yah? "


"entar kalau ada yang cari saya, tolong bilangan yah pak saya lagi keluar sama pak Bramantio "


"ohh iyah neng nanti saya sampaikan"


pak Yono sudah mengenal Zahra karena ia sering makan siang bersama para Cleaning Servis di dapur kantor.


"terimakasih pak"


Zahra pun beranjak pergi menghampiri pak Bramantio yang sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1



beberapa menit kemudian mobil Bramantio berhenti di sebuah Caffe mewah.


Bramantio mengajak Zahra ke dalam Caffe tersebut, sementara Zahra hanya ikut tanpa ada pertanyaan.


Mereka memilih tempat duduk yang berada di lantai 2 Caffe ini.


Tiba-tiba handphone Bramantio berdering.


"sebentar yah Ra saya mengangkat telepon dulu, kamu pesan saja apa yang kamu mau"


Bramantio segera melangkah menjauh untuk mengangkat telepon yang kelihatannya penting.


Tidak lama datanglah seorang witers caffe sambil membawa daftar menu di Caffe ini.


Zahra bingung tak tahu harus memesan menu apa. seketika ia teringat catatan sang ibu di diary. bahwa ayah kandung Zahra minuman cokelat panas.


"aku coba deh pesan ini siapa tahu benar"


gumam Zahra dalam hati


"saya pesan cokelat panas 2 yah mas"


"itu saja mbak? "


"iyah mas itu saja"


Zahra tersenyum ramah ke arah waiters ini


"baik mbak, sebentar yah"


waiters Caffe tersebut pun pergi.


pandangan Zahra mengarah ke pak Bramantio yang sedang menelepon.


Zahra bergumam


sebenarnya bisa saja Zahra memakai gelang pemberian sang ibu untuk mempermudah mencari tahu bahwa Bramantio itu adalah ayahnya.


tetapi Zahra takut bagaimana jika semua itu benar.


ia takut Bramantio akan menjauhinya dan enggan bertemu dengannya, bahkan jika hanya dengan bukti gelang bisa saja Bramantio berdalih tak mengakui Zahra sebagai anaknya.


Apalagi sekarang Bramantio sudah memiliki keluarga yang lengkap dan bahagia sudah pasti ia takut kelakuan kotornya dahulu di ketahui anak dan istrinya.


Biarlah Zahra mencari tahu kebenaran itu sendiri secara diam-diam, di saat waktu yang tepat Zahra akan membongkar semuanya.


Zahra masih bingung dengan perasaannya haruskah Zahra marah, membenci atau memeluk sosok ayah kandungnya di saat semua sudah di ketahuinya.


Di dalam relung hatinya Zahra hanya menginginkan kasih sayang yang selama ini tak pernah ia rasakan. tapi penderitaan yang ia rasakan haruskah di balas kan pada orang yang notabenya ayah kandungnya.


"Silakan mbak"


seorang waiters yang membawa pesanan Zahra pun datang.


membuyarkan lamunan Zahra.


"ohh iya terimakasih mas"


ucap Zahra


Bramantio baru saja selesai mengangkat telepon dan kembali menghampiri Zahra.


"sudah kamu pesan menunya Ra? "


tanya Bramantio

__ADS_1


"sudah pak saya hanya pesan ini, minuman kesukaan bapak"


jawab Zahra sambil tersenyum


"cokelat hangat? "


Zahra yang di tanya hanya mengangguk.


Bramantio terheran bagaimana bisa gadis ini mengetahui minuman kesukaannya.


"dari mana kamu tahu ini minuman kesukaan saya? "


Bramantio mengernyitkan kening.


"Feelingnya saja pak"


Zahra tersenyum tipis


dugaan Zahra benar ini memang minuman kesukaan Pak Bramantio.


Mereka berdua pun menikmati minuman tersebut dan mengobrol tentang banyak hal bahkan sampai kehidupan pribadi..


Zahra tak sungkan menceritakan semua kisah hidupnya.


Bramantio yang mendengar cerita hidup Zahra, merasa bangga dengan Zahra yang mampu bertahan dan kuat atas masalah hidup yang di alaminya.


Ada rasa terkejut sesaat Zahra mengatakan dirinya bukan anak ayahnya melainkan anak dari mantan pacar ibunya.


tetapi Zahra tak mengatakan ibunya adalah korban pemerkosaan.


Hal itu membuat Bramantio teringat sosok Venti mantan Pacarnya, bahkan cinta pertamanya.


Bramantio melakukan kesalahan terbesar di dalam hidupnya. ia melakukan hal kotor yang tak seharusnya ia lakukan


karena amarah dan emosi ketika cintanya berakhir karena perjodohan , hal itu yang membutakan matanya sehingga ia khilaf.


Sampai saat ini Bramantio tidak mengetahui dimana keberadaan Venti . sebab setelah kejadian itu Venti memilih pindah.


dan informasi yang ia dapat Venti sedang hamil, Bramantio yakin anak yang di kandung Venti adalah anaknya.


seandainya ia bisa bertemu Venti ia akan menebus semua kesalahannya. dan ia ingin melihat anak itu.


mungkin usia anak itu tak jauh berbeda dengan gadis yang saat ini ada di depannya.


tak selang lama dari kejadian itu Bramantio juga di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan Yura yang saat ini menjadi istrinya.


saat itu tidak ada rasa cinta di hati Bramantio pada Yura, sampai akhirnya Vera lahir kedunia ini. dan Bramantio mencoba melupakan Venti dan menerima takdir.


satu hal yang membuat ia bingung adalah ia merasa biasa saja saat berdekatan dengan Vera namun saat dengan Zahra hatinya merasa teduh.


Bramantio berperang dengan pemikirannya sendiri.


"pak"


panggil Zahra ketika melihat Bramantio melamun


"Ehh maaf saya melamun yah"


Zahra hanya mengangguk


Bramantio melihat jam di tangannya tidak terasa hari semakin siang, ia dan Zahra memutuskan menyudahi obrolannya.


"Ohh iyah Ra sebelum balik ke kantornya Bagas, saya mau ke Barbershop sbentar mau merapikan rambut"


Bramantio beranjak bangkit dari duduknya


"ohh iyah pak tidak apa-apa "

__ADS_1


Zahra merasa senang mendengar hal itu, itu berarti ada kesempatan Zahra untuk mengambil helai rambut Pak Bramantio untuk di jadikan sampe tes DNA.


__ADS_2