Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
78 ingin kembali


__ADS_3

Siang ini Zahra tengah duduk santai di sebuah bangku panjang di teras belakang rumah.


sambil menikmati segarnya jus jeruk serta camilan yang baru saja ia buat sendiri di dapur.


"lagi apa anak ayah disini? "


tanya Adam


"ayah"


"lagi duduk aja yah, sini yah duduk sama Zahra"


Zahra menggeser duduknya


"Cobain deh yah, tadi Zahra buat sendiri"


Zahra menyodorkan piring yang berisikan kue buatannya


Adam mencopotnya dan langsung mencicipinya.


"Enak "


ucap Adam spontan saat ia merasakan kue trsebut


"anak ayah pintar banget kalau soal masak memasak sama kayak ibu kamu "


puji Adam membuat Zahra salah tingkah


"ah ayah, Zahra malu"


mereka berdua pun tertawa.


"Oh iya Ra"


"sepertinya kaki ayah sudah enak an, mungkin sebentar lagi sembuh"


Adam memperhatikan kakinya


"syukurlah yah, semoga ayah lekas sembuh ya"


"supaya bisa jalan-jalan lagi sama Zahra "


Zahra mengulas senyum


"iya nak"


"Oh iya, kalau kaki ayah sudah sembuh ayah mau balik ke kota B "


ucap Adam sambil terus memperhatikan kakinya yang perlahan ia gerakan


"untuk apa yah? "


Zahra menegakkan posisi duduknya


"ayah harus kembali ke sana nak, kan rumah ayah di sana lagi pula ga mungkin ayah terus-terusan disini ga kerja"


"tapi yah, rumah kita kan sudah di jual ayah mau tinggal dimana? "


tanya Zahra merasa bingung


"ayah bakalan cari kontrakan"


ucap Adam santai, ia tak mungkin terus menerus di rumah Zahra. apalagi biaya hidup Zahra kini di tanggung Bramantio.


Adam sungguh tak enak hati, di bantu biaya perobatan serta di izin kan tinggal disini itu sudah lebih dari cukup.


"enggak, ayah ga boleh pergi. kalau ayah balik kesana Zahra tinggal sama siapa yah. Zahra ga mau tinggal sendiri "


rengek Zahra tidak terima


"sayang, ayah ga mungkin berpangku tangan terus. ayah ga enak sama papa kamu"


Adam berusaha memberi pengertian pada putrinya.


"pokoknya ayah ga boleh balik kesana. kalau ayah merasa tidak enak karena semuanya di tanggung papa. Zahra yang bakal kerja yah"


ucap Zahra tegas.


"enggak Zahra, papa kamu bisa marah kalau kamu bekerja. kamu kan harus fokus kuliah"


Zahra termasuk anak yang keras kepala ia selalu memikirkan keadaan orang lain tanpa mempedulikan kepentingannya.


"pokoknya Zahra ga mau yah, Ayah bilang ayah sayang sama Zahra tapi sekarang ayah malah mau balik ke kota B ninggalin Zahra"


"ayah ga boleh pergi"


mata Zahra berkaca-kaca ia sangat tidak rela jika Adam meninggalkannya.


"sayang dengarin ayah, sampai kapan ayah harus berdiam diri disini. ayah juga harus bisa nafkahin kamu nak."


Adam bingung harus bagaimana menjelaskan pada Zahra.


"pokoknya ayah ga boleh pergi, kalau ayah pergi balik ke kota B Zahra ikut"


Zahra beranjak pergi dari duduknya, dia menangis.


"Zahra "


"dengarin ayah nak"


"Zahra"


panggilan dari Adam tidak di pedulikan oleh Zahra. ia kecewa saat mengetahui sang ayah berniatan pergi.


"Haaaaaa"


Adam menghela nafas berat


"maafkan ayah nak, ayah cuma tidak ingin menjadi beban mu saja, bagaimanapun juga ayah harus bisa menafkahimu "


Adam tertunduk lesu


Sementara Zahra mengambil tas kecil serta helm dan kunci motornya. air matanya masih menetes.


baru saja ia merasakan kedekatan dengan Adam tapi kini Adam hendak kembali ke kota dimana Zahra di lahirkan.


Memang lah kota tersebut masih dalam 1 provinsi dengan kota ini, namun Zahra benar-benar tidak ingin berpisah lagi dengan ayahnya.


Zahra melajukan sepeda motornya, ia menuju rumah papanya.


mungkin papanya bisa memberikan jalan keluar.


……………


sekitar 20 menit Zahra sampai di depan rumah Bramantio.


"siang non"


sapa seorang satpam yang sedang berjaga di depan rumah Bramantio.


"siang pak"


"papah ada pak? "


tanya Zahra


"ada non di dalam, baru aja balik"

__ADS_1


ucap Satpam tersebut


"terimakasih pak"


"kalau gitu Zahra masuk dulu ya pak"


"silahkan non"


Zahra mempercepat langkahnya, tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk ke dalam rumah Bramantio.


"Assalamualaikum "


"papah"


ucap Zahra sambil melangkah masuk mencari Bramantio.


Bramantio yang sedang makan siang pun bahagia melihat ke datangan putrinya.


"Walaikum salam "


"eh anak papah datang, sini makan siang bareng papa"


seru Bramantio


"Zahra belum lapar pah, papah lanjutin dulu deh makan siangnya Zahra nunggu di ruang tengah aja"


ucap Zahra setelah bersalaman dan mencium tangan Bramantio .


"apa mau makan di ruang tengah aja biar di bawain nasinya sama bibi? "


ucap Bramantio


"ga usah pa, entar kalau Zahra lapar Zahra ambil sendiri kok"


"yaudah kalau gitu papa lanjut makan dulu yah"


"iya pa, Zahra di ruang tengah"


ucap Zahra


Bramantio sedikit curiga ketika melihat Zahra tak seperti biasanya, matanya terlihat sembab seperti habis menangis.


"ada apa dengannya? "


Gumam Bramantio lirih sambil memperhatikan Zahra yang melangkah menuju ruang tengah.


Zahra menuju ruang tengah, ia menghempaskan bokongnya di sofa lembut.


"Trinnggg"


1 notifikasi pesan masuk ke handphonenya


ia membuka tas kecil miliknya terlihat 1 pesan dari Bagas.


"Selamat siang princess, jangan lupa makan siangnya yah. makan yang banyak biar montok "


isi pesan Bagas membuat Zahra tersenyum


"Dasar "


Gumam Zahra. jemarinya membalas pesan Bagas


"iyah my bos, ga mau ah makan banyak entar endut "


terlihat tanda ceklis dua langsung berwarna biru.


seketika tertera kalimat mengetik


"tring"


"Aaa harus makan banyak biar montok. biar kakak ga perlu bobo di kasur (di akhiri dengan emoticon melet-melet)"


Zahra membulatkan matanya saat membaca pesan dari Bagas.


"Dasar bos mesum ! . udah ah kakak makan siang deh. jangan lupa vitaminnya di minum "


Balas Zahra, ia pun memasukkan ponselnya ke dalam tas. jika terus meladeni pesan dari sang pacar bisa-bisa ga akan ada habisnya.


"kalau di kantor aja cueknya kebangetan kalau udah marah kayak singa, eh sekarang kalau dekat malah kayak anak kucing. manja banget"


Gumam Zahra kesal mengingat sikap Bagas padanya.


"kenapa anak papa manyun-manyun? "


tanya Bramantio yang kini berjalan mendekati Zahra


"ah enggak kok pah, itu tadi ada teman yang nelpon"


ucap Zahra sambil menggaruk kepalanya.


"ga kuliah emangnya? "


tanya Bramantio pada putrinya


"ga pah "


sahut Zahra singkat.


Bramantio beralih duduk di samping Zahra.


"ada apa Hmmm. "


"anak papa kayak lagi ada masalah"


Bramantio memperhatikan wajah Zahra


Zahra menunduk


"pah, kaki ayah sudah mulai membaik"


ucap Zahra lirih


"syukurlah kalau begitu. kemarin dokter yang menangani ayah kamu juga memberikan informasi ke papa perihal perkembangan kondisi kaki ayah kamu"


"dokter bilang akan segera sembuh dalam waktu dekat karena perkembangannya semakin membaik"


timpal Bramantio


Namun Zahra masih menatap lurus tidak merespon


"sebenarnya ada apa? "


Bramantio mengelus kepala Zahra


"hmmm"


"ayah tadi bilang kalau sudah sembuh, ayah akan kembali ke kota B untuk bekerja"


Zahra terlihat sedih


"kenapa mesti kembali? "


tanya Bramantio


"ayah bilang ia tidak ingin merepotkan Zahra pa, lagipula ayah tidak enak dengan papa"


Bramantio terdiam sejenak. mungkin Adam benar ia merasa tidak enak hati jika terus menerus tinggal bersama Zahra . sementara kini biaya hidup Zahra di tanggung oleh Bramantio.

__ADS_1


"apa Zahra berhenti kuliah aja ya pah, biar supaya Zahra bisa kembali bekerja. "


ucap Zahra memegangi tangan papanya


"enggak sayang. kamu ga boleh berhenti kuliah. papah akan marah kalau kamu melakukan hal itu"


"tapi pah, Zahra ga mau kalau di tinggalin lagi sama ayah. Zahra mau tinggal sama ayah pa"


mata Zahra berbinar sikapnya yang tegas kini berubah karena situasi ini.


Bramantio mengerti perasaan Zahra, ia sungguh tidak rela jika harus berpisah lagi dengan Adam.


ada rasa iri di hati Bramantio saat melihat Zahra sangat menyayangi Adam. namun Bramantio sadar sedari dulu Zahra memanglah tinggal dengan Adam.


bahkan di besarkan olehnya.


" mungkin ayah kamu bisa bekerja di kantor papa"


ucap Bramantio


"ayah tidak akan mau pa, pasti dia akan menolak. ayah akan beranggapan kalau itu karena bantuan dari papa"


Zahra tahu jika hal itu akan membuat Adam menolaknya.


Bramantio terdiam sejenak memikirkan cara


"lagipula Zahra juga bisa kan pah. bekerja paruh waktu. Zahra juga ingin memiliki kegiatan selain kuliah"


ucap Zahra berusaha membujuk papanya


"nanti kuliah kamu terganggu "


"papa ga mau itu"


Bramantio menegaskan hal itu pada Zahra


"yahhh paa"


Zahra merasa tidak ada pilihan lain selain menuruti papanya.


"sebelumnya ayah kamu bekerja dimana? "


tanya Bramantio


"Ayah bekerja di salah satu bank swasta di sana pa"


ucap Zahra dengan nada memelas.


"kamu tahu nama bank serta alamatnya? "


tanya Bramantio


"tahu pa"


Zahra memperhatikan wajah papanya lalu beralih mengambil ponselnya untuk memberi tahu informasi tentang bank dimana Adam bekerja.


"ini pah nama banknya"


Zahra memberikan ponselnya pada Bramantio


"oke sebentar yah"


Bramantio meraih ponselnya, ia mencari nomor seseorang dan meneleponnya


"halo "


ucap Bramantio pada seseorang di seberang sana


"tolong kamu cari tahu informasi tentang Bank M**** di daerah Kota B. alamat lengkapnya akan saya kirim kan"


"kalau sudah ketemu , segera cari tahu informasi karyawan yang bernama Adam"


"Temui dahulu manager bank tersebut, biar saya yang bicarakan"


"secepatnya saya tunggu informasinya "


Bramantio memutuskan sambungan teleponnya. Zahra hanya mengernyitkan keningnya bingung.


"papah nelpon siapa? "


tanya Zahra keheranan


"Karyawan papa yang ada di kota B"


"karyawan papa ada yang Disana? "


tanya Zahra dengan tampang bego, membuat Bramantio tertawa.


"ya ada lah sayang karyawan papa ada dimana-mana. kan papa punya kantor cabang dimana-mana "


Zahra menyengir ia lupa jika papanya orang tajir yang memiliki berbagai macam perusahaan yang tersebar di negara ini.


"lalu apa yang papa lakukan? "


Zahra terus bertanya sementara Bramantio sedang mengetik alamat yang tertera di ponsel Zahra untuk di kirim kan ke karyawannya .


"papa akan meminta supaya ayah kamu di pindahkan tugas disini. ayah kamu kan belum pensiun, papa akan mencari cara supaya ayah kamu masih bisa bekerja"


ucap Bramantio menjelaskan


"emangnya bisa pa? "


Zahra kembali bingung bukan kah hal itu pasti akan sulit.


"bisa dong. sudah kamu jangan pikirkan hal itu. semuanya akan beres"


ujar Bramantio. bagi Bramantio hal apa saja tidak akan terasa sulit.


"Hmmm yasudah pa, terimakasih yah pa"


Zahra menyandarkan kepalanya di bahu Bramantio. baginya ayah dan papanya sama-sama orang tuanya.


"hanya karena itu mata anak papa sampai sembab hmm"


tanya Bramantio sambil mengusap kepala Zahra.


"iyah pa"


ucapnya lirih.


"Zahra ga ingin kita berjauhan . Zahra ingin kita semua berkumpul di kota ini"


timpal Zahra


"tenang aja sayang kita tetap disini kok"


Bramantio mengecup pucuk kepala putrinya. ia sangat menyayangi Zahra, baginya Zahra adalah jantung hatinya.


……………………


don't forget Kritik saran serta vote and like guys


Suatu kebahagiaan tersendiri bagi Author jika karya Author banyak yang suka.


Salam manis Author


~EtyRamadhi😊

__ADS_1


__ADS_2