Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
35 Data diri


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 11 malam namun, mata Zahra enggan untuk terpejam.


setiap malam pikirannya selalu kalut, memikirkan banyak hal.


"kakak anaknya om Bramantio yah? "


"kok wajah kakak mirip banget sama om Bramantio "


Perkataan Kiran siang tadi masih terus menghantui pikirannya. Zahra terheran mengapa jantungnya berdegub kencang saat Kiran melontarkan pertanyaan itu.


Zahra juga merasa ada hal aneh di hatinya saat berdekatan dengan Pak Bramantio, hatinya serasa sejuk.


"aduuuhhh Zahra bisa gak ini kepala mikirnya ga usah ngawur"


Zahra menggelengkan kepalanya.


Zahra beranjak bangkit mengambil buku diary sang ibu, ia membuka lembaran yang terdapat foto lelaki itu.


yang menurut penuturan ibunya itu adalah ayahnya Zahra.


Zahra memperhatikan foto tersebut, foto yang sudah sedikit memudar namun masih bisa di lihat dan di perhatikan wajahnya.


jujur saja saat pertama kali Zahra melihat foto itu, ia merasa sudah mengenalinya.


"sebenarnya wajah ini sedikit mirip dengan Pak Bramantio, hanya saja apa mungkin iyah? "


Zahra berusaha memahami pemukirannya


"Huhh"


ia menghela nafas, dirinya merasa lelah dengan teka-teki di hidupnya.


"siapapun ayah Zahra dan dimana pun sekarang, Zahra berharap bisa bertemu. Zahra cuma mau kasih tahu ke dia atas apa yang dilakukannya ke ibu, itu menjadi masalah besar di hidup Zahra. "


"walaupun Zahra tahu semua ini sudah takdirnya Zahra"


Zahra sungguh menaruh harapan besar untuk bisa menemukan siapa ayahnya.


walaupun belum ada titik terang .


malam semakin larut membuat Zahra sedikit demi sedikit di landa rasa kantuk.


mengingat besok ia harus kembali bekerja. perlahan-lahan matanya terkatup dan tertidur pulas.


………


Sambutan cahaya pagi menyinari, membangunkan kembali rasa semangat.


begitupun dengan Zahra.


Seperti hari-hari biasa Zahra berangkat ke kantor pagi ini bersama Laras, yang pastinya menggunakan angkutan umum untuk sampai ke kantor.


kali ini Zahra mendapat tugas mengepel lantai sementara Laras membersihkan kaca


dengan sedikit rasa kantuk di matanya Zahra pun memaksa kan tangannya untuk menggerakkan pengepelnya.


Mora yang melihat Zahra mengepel pun langsung menghampirinya.


"Hei, kamu bersihin ruangan saya yah. habis itu rapiin berkas yang ada di meja saya"


Zahra tak menyahut sementara mulutnya masih bersenandung lirih sambil menggerakan pengepelnya dengan posisi membelakangi Mora.


Zahra sebenarnya tahu Mora memanggilnya, tapi sengaja pura-pura tak mendengar karena ia kesal Mora menyuruhnya dengan cara tidak sopan.


begitulah sifat Mora yang selalu seenaknya jika merintah bawahan terlebih para Cleanning servis .


Bukan Zahra namanya jika tak muncul ide gila di kepalanya.


ia tak memperdulikan panggilan Mora, ia semakin bersenandung dengan nada suara lebih di keraskan.


"Heii kamu ! , saya bicara sama kamu"

__ADS_1


Mora yang melihat Zahra pun menjadi kesal pasalnya Zahra tak kunjung menyahut apalagi menoleh.


"Woy…kamu tuli yah? "


Mora tak sabar ia pun melangkah mendekati Zahra dan memukul pundak Zahra.


"Ohh ada apa yah buk? "


Jawab Zahra dengan ekspresi tanpa dosa


"kamu tuli yah? saya dari tadi manggil kamu"


wajah Mora terlihat kesal membuat Zahra semakin semangat mengerjainya.


"Masak sih bu, perasaan ibu gak ada manggil saya"


Zahra memanyunkan bibirnya menampilkan wajah seolah sedang mengingat sesuatu.


"Kamu aja yang tuli"


"Haduuuh ibu Mora yang canteeeeekkk, tapi bo'ong hehehe"


Mora membulatkan matanya kesal melihat tingkah Zahra


"woopsss woles buk saya bercanda"


Zahra nyengir melihat ekspresi Mora seperti hendak menelannya bulat-bulat.


"ibu tadi itu manggilnya Heii terus Woy, "


"sini deh bu saya mau tanya"


Zahra melangkah sedikit mendekati Mora


"apa ibu pernah tahu di kantor ini ada Cleanning servis yang namanya si Heii dan si Woy, kalau ada itu bukan nama saya bu"


Zahra terus memancing emosi Mora ia merasa belum puas.


Mora mulai terpancing emosinya ia sudah benar-benar marah.


"Lagian ibu sih nyuruhnya ga jelas, nama saya kan Zahra bu. bukan hei apalagi woy, "


"Zahra loh bu nihh liat Zahra kan? "


Zahra menunjukkan bet nama yang tertempel di dadanya.


"ah sudah-sudah terserah kamu deh, bisa-bisa tua saya disini gara-gara kamu"


Mora tak lagi berani untuk mencoba menampar Zahra, Mora tahu Zahra gadis yang pemberani dan tidak lemah.


bisa-bisa tangannya memar di buat Zahra.


"Lahhh kan emang ibu tua"


jawab Zahra lirih sedikit di dengar oleh Mora


"apa kamu bilang? "


Mora mengernyitkan keningnya,


"gak ada bu saya cuma bilang iyah ibu Mora"


Zahra nyengir dan berlalu pergi meninggalkan Mora yang masih menggerutu kesal.


Belum jauh Zahra melangkah terdengar teriakan dari belakang


"Zahraaaaaaaaaa"


Zahra menoleh ternyata Mora sudah jatuh terduduk di lantai, karena lantai yang di pijak Mora baru saja di pel Zahra.


"Aduuuhhh ibu, hati-hati awas jatuh loh itu lantainya licin baru saya pel"

__ADS_1


Zahra sedikit berteriak tanpa ada niatan membantu Mora yang masih terduduk dengan mengomel.


Dengan santainya Zahra melangkah pergi meninggalkan Mora yang belum bangkit dari acara lesehannya di lantai.


"Ra kok kamu gak nolongin buk Mora sih? "


Runi yang sedari tadi memperhatikan Mora dan Zahra pun bertanya saat Zahra melintas di depannya.


"biarin aja Run, atasan kayak begitu sekali-kali di kerjaan biar sedikit lurus pemikirannya"


Zahra tertawa lepas, sementara Runi menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zahra.


di kantor ini cuma Zahra Cleanning servis yang berani melawan bahkan mengerjai Mora yang terkenal galak.


Bukan Zahra tak memiliki sopan santun pada para atasan hanya saja ia memiliki prinsip , dia akan menghargai seseorang jika seseorang itu bisa menghargainya.


Zahra sudah terlalu kesal dengan Mora, ia juga merasa sakit hati ketika para teman-temannya di marahi Mora dengan kalimat yang kasar.


bagi Zahra atasan seperti Mora tak layak di hormati. Zahra bahkan acuh dengan ancaman yang sering di lontarkan Mora padanya


.…


Zahra melangkah masuk keruangan Mora dengan membawa pengepel dan kemoceng di tangannya.


"Heran deh ini ruangan yang huni cewek apa anak singa sih"


"berantakan banget. pesawat tempur juga ga segini berantakannya"


Zahra menggelengkan kepalanya melihat kondisi ruangan Mora seperti habis kena rudal.


Zahra pun mulai merapikan berkas yang berserakan, kalau bukan karena tugasnya ia tak sudi membereskan ruangan ini.


saat Zahra membereskan lembaran demi lembaran kertas tiba-tiba tangannya terhenti di salah satu berkas yang bertuliskan profil investor.


hatinya tergerak untuk membuka berkas tersebut, entah apa yang mendorongnya untuk membuka lembaran berkas itu.


ia melihat keadaan sekitar dan dirasa cukup aman ia perlahan membalik kertas tersebut.


terlihat ada data diri pak Bramantio di dalamnya.


Zahra melihat tanggal lahir yang tertera di berkas itu bahkan bisa sama dengan tanggal lahir yang di tuliskan sang ibu di diary.


Zahra dengan cepat mengambil handphonenya dan memfoto data tersebut.


ia akan mencocokkan dengan data yang ada di buku diary sang ibu.


hati Zahra seketika kembali berkecamuk, batinnya mengatakan benar atas apa yang selam ini ia duga.


namun Zahra tak ingin gegabah ia belum memiliki banyak bukti yang kuat.


Zahra kembali menutup berkas tersebut dan merapikannya.


"pokoknya aku harus bisa mendekati pak Bramantio untuk mencari informasi lagi, "


gumam Zahra lirih.ia perlahan menyusun cara untuk mencari bukti.


……………………


Author kok pusing sendiri yah padahal yang lagi cari bapaknya itu si Zahra 🤔 apa karena rasa jiwa empati Author tinggi kali yah 🤔


🙄 Ga jelas banget Authornya.


Yaudah deh...


jangan lupa likenya kencengin , votenya di derasin ,dan komentnya di ramein yah guys


tapi jangan komentar kasar yah... ati Author Ra kuat 😁


salam Manis Author


~EtyRamadhii 🤗

__ADS_1


__ADS_2