
"Tok, tok, tok"
tangan Zahra mengetuk pintu ruangan Bagas.
"Ya Masuk"
Suara Bagas terdengar mempersilahkan masuk.
Zahra melangkah kan kakinya masuk, seperti biasa di dalam ruangan Bagas selalu ada Mora si makhluk aneh, dengan bibir yang menyunggingkan senyum sinis ke arah Zahra, namun Zahra yang di tatap demikian hanya cuek tak menperdulikan.
"Maaf pak, bapak manggil saya? "
Orang yang di tanya masih sibuk berkutat dengan laptopnya.
lalu Bagas mengangkat pandangannya ke arah Zahra dengan tatapan yang intens, membuat Zahra yang di pandang seserius itu pun menjadi gugup.
"iyah saya manggil kamu"
Bagas paham dengan gerak gerik Zahra yang sedang gugup, Bagas pun melirik Mora yang sedang memandangi Zahra dengan tatapan tak suka.
sebenarnya Bagas mengerti jika Mora menyukainya, Bagas juga paham selama ini Mora berusaha mencari perhatian lebih darinya. namun Bagas tak menyukai wanita agresif dan berpenampilan berlebihan apalagi Bagas tahu sifat Mora yang kasar dan angkuh.
Hanya di depan Bagas lah Mora terlihat lembut dan bersikap manis, namun jika dengan para bawahan dia sama sekali tak memiliki sifat menghargai.
Bukan tanpa alasan Bagas mempertahankan Mora sebagai sekretarisnya, karena kinerjanya yang bagus dan dia selalu disiplin akan hal waktu. sulit untuk mencari sekretaris dengan kinerja yang memadai seperti Mora.
"Mora bisakah kamu antarkan berkas ini ke ruangan staf Produksi"
Bagas menyodorkan Map berwarna biru kepada Mora
"tolong sampaikan kepada Surya kepala Produksi ,berkas ini harus di cek ulang sesuai dengan bahan yang ada di gudang. dan jangan lupa berkas ini di fotocopy sebagai bahan meeting nanti sore"
Bagas sengaja memerintahkan Mora agar dirinya bisa ngobrol berdua dengan Zahra.
raut wajah Mora terlihat kesal. pasalnya dia ingin melihat secara live Cleanning servis rendahan ini di pecat. jelas saja Mora sudah mengadukan perbuatan Zahra yang tidak sopan kepadanya, dengan sedikit ackting agar Bagas mepercayainya.
namun dengan terpaksa Mora mengambil berkas yang ada di tangan Bagas.
__ADS_1
"baik pak"
Mora berjalan melewati Zahra yang masih berdiri di tempat awal dia datang. dengan senyum sinis di bibirnya.
Zahra yang di tatap demikian pun tak kalah menatap Mora mengisaratkan bahwa Zahra tak takut dengan Mora.
sampai Mora menghilang di balik pintu namun Zahra masih tetap memandangi kepergian Mora.
"Eheeeemm"
Bagas berdehem melihat ekspresi galak Zahra.
"ada apa yah pak, bapak manggil saya"
Zahra bertanya untuk menutupi ke gugupannya karena ke tauan melirik Mora dengan ekspresi galak.
"Sini duduk dulu ra"
Bagas berjalan menuju sofa yang ada di ruangannya sambil mempersilahkan Zahra untuk duduk.
"aku mau nannya sesuatu sama kamu? "
"mau nannya apa yah pak? "
Zahra penasaran dengan pertanyaan Bagas.
"atau jangan-jangan nih orang mau interogasi aku gara-gara Si makhluk aneh itu, pasti aku kena teguran nih"
Zahra bertanya-tanya dalam hati dan pandangannya tetap melihat Bagas.
"bisa gak kalau lagi ngobrol berdua begini jangan panggil bapak, aku ga nyaman soalnya"
"tapi pak kitakan lagi ada di kantor masak saya panggil bapak dengan sebutan kakak, kan saya juga harus profesional pak. kalau di kantor saya yah bawahan ba..... "
belum selesai Zahra meneruskan ucapannya, namun terpaksa terhenti sebab Bagas menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir mungil Zahra. sontak mata Zahra membulat karena kaget.
"bisa gak kamu jangan bawel, turutin aja apa kata ku "
__ADS_1
dia pun melepas jarinya dari bibir Zahra.
"i...iyah pak, eh kak"
Bagas tersenyum melihat Zahra, entah mengapa setiap Bagas dekat dengan Zahra perasaannya sulit di artikan, ada rasa nyaman yang tak pernah di dapatnya ketika dia dekat dengan org lain terutama seorang perempuan .
Selama ini Bagas terkesan cuek dengan perempuan, mungkin hanya sekedar menyapa.Tak salah jika tante Erin heran ketika Bagas memperkenalkan Zahra sebagai temannya.
Pasalnya seluru keluarganya tau bahwa Bagas tak pernah dekat dengan perempuan apalagi pacaran.
"kamu kenapa akhir-akhir ini susah banget di temuin,aku setiap pagi ke kost an kamu buat jemput kamu tapi kamunya udah berangkat duluan. setiap sore juga ,aku nungguin kamu buat anterin pulang tapi kamu selalu pulang duluan "
Zahra mengernyitkan dahi mendengar penuturan Bagas.
"lah ini orang kenapa malah mau nganter jemput aku sih, aku kan cuma Cleanning servis di kantornya aneh banget"
hati Zahra bertanya-tanya tak menyangka jika Bagas melakukan hal itu.
"ngapain kakak mau nganter jemput aku? aku kan bisa pulang pergi sendirian. lagian kak aku selalu bareng Laras.kan rumah Laras dekat sama tempat kost ku"
"jadi kamu ga suka kalau aku nganter jemput kamu. aku juga ngerasa kalau kamu ngehindar dari aku"
raut wajah Bagas berubah menjadi muram dan cemberut, seperti anak kecil meminta gulali.
"bu... bukan gitu kak"
"busyett dah punya Boss baperan banget " Zahra meroling matanya jengah.
************
maaf yah guys radak lamaan upnya.
buat yang minta visual maaf yah Author gak mencantumkan Visual tokohnya. takut visualnya tak sesuai ekspektasi para readers šsementara di bayangin sendiri dulu deh.
salam manis Author
~EtyRamadhiiā¤
__ADS_1