Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
69.Surprise


__ADS_3

"Happy Birthday to you…Happy Birthday to you…Happy Birthday …Happy Birthday …Happy Birthday to you"


Zahra dan Bagas kompak menyanyikan lagu ulang tahun saat masuk ke dalam Caffe.


membuat Kiran terkejut dan menutup mulutnya


"Happy birthday sayang"


Zahra memeluk Kiran


"terimakasih kak Zahra"


balas Kiran


"maafin kakak sama kak Bagas yah kalau lupa ulang tahun kamu"


ucap Zahra


"iyah kak gak apa-apa, Kiran tahu kemarin kan kakak lagi sibuk"


Kiran tersenyum


"Wah ternyata kiran ulang tahun"


ucap Adam


"Heheheh iyah om"


"ayo dong tiup lilinnya"


Bagas sangat antusias


Kiran pun meniup lilin tersebut


"Yeee sekali lagi selamat Ulang tahun yah sayang"


ucap Bagas memeluk adiknya.


"Terimakasih kakak"


"yaudah yuk kita makan bolunya"


ucap Bagas membuat Kiran tertawa


"Oh iyah ini ada kado dari kakak buat Kiran"


Zahra menyerahkan bingkisan kado yang ia beli tadi pada Kiran


"Wahhh terimakasih kak Zahra "


"iyah sama-sama, semoga suka yah"


Zahra tersenyum.


"kado dari kak Bagas mana? "


Kiran menadahkan telapak tangannya.


"kakak ga beli kado, lagi gak ada uang"


ucap Bagas yang kini sedang asyik memotong kue milik Kiran.


"kakak ih nyebelin"


Kiran merengut membuat Zahra tertawa.


Bagas sengaja tidak memberikan kadonya sekarang ia hanya ingin menjahili sang adik.


"Yaudah sih kan tiap hari udah sering kakak beliin bakso, steak,pizza . kamu mau minta kado apalagi kan semuanya udah punya"


sahut Bagas santai


"ya setidaknya apa gitu kek namanya juga adiknya ulang tahun"


Kiran merasa geram melihat Bagas. ingin rasanya ia mencabik-cabik bibir sang kakak namun ia takut di cap adik durhaka.


"haaaaaaa" ia menghela nafas


Kiran hanya bisa menahan emosi di depan Zahra dan Adam.


"Yaudah jangan ngambek yang penting kan udah di surprise in"


ucap Zahra.


"iyah deh kak, makasih ya kak "


Kiran tersenyum manis hingga mata sipitnya seakan terkatup.


……


Di perjalanan pulang terlihat Kiran hanya diam sambil memandangi ke arah luar jendela.


ia merasa kesal dengan Bagas. Bahkan kini Bagas tidak perhatian lagi padanya seperti dulu.


"Haaaaaaa"


berulang kali Kiran menghela nafasnya membuat Zahra curiga.


"Kiran? "


panggil Zahra


"iyah kak"


"kamu kenapa? "


Zahra menatap Kiran


"enggak kok kak gak apa-apa "


Kiran tersenyum.


"Kiran Kamu ngantuk?"


tanya Bagas yang memperhatikan Kiran lewat kaca spion mobilnya


"enggak kok kak"


Kiran kembali menatap ke luar jendela.


"kamu kakak antar pulang dulu yah, entar baru kakak nganterin kak Zahra sama om Adam pulang"


ucap Bagas.


"hmmm"


Kiran hanya menjawab dengan deheman tanpa menoleh ke arah Bagas.


sekitar 30 menit sampailah Bagas di depan rumahnya.


"aduhhh"


ucap Zahra memegangi kepalanya


"kakak kenapa? "


tanya Kiran panik


"kepala kakak pusing banget "


Zahra sedang berbohong, adegan ini adalah settingan Bagas agar bisa melanjutkan surprisenya.


Bagas dan Adam yang kini sudah turun dari mobil pun saling mengacungkan jempol.


"ayo kak Kiran bantu turun"


Kiran menuntun Zahra untuk turun dari mobil


"hati-hati kak"


Kiran perlahan menuntun Zahra untuk menghampiri Bagas


"kamu kenapa Ra? "


tanya Bagas berpura-pura


"kak Zahra bilang kepalanya pusing kak"


ucap Kiran


tiba-tiba tubuh Zahra terjatuh dan di tangkap oleh Bagas


"Kak Zahra"


teriak Kiran panik saat melihat Zahra pingsan, Adam juga ikut akting ia juga terlihat panik.

__ADS_1


"Kiran…kamu cepat beli obat di supermarket depan"


ucap Bagas


"naik apa kak? "


tanya Kiran dengan raut wajah paniknya


"lari ajah kan dekat. cepetan takutnya Kak Zahra kenapa-kenapa "


Bagas berusaha membuat suasana semakin panik.


Kiran akhirnya berlari ke supermarket .


setelah Kiran pergi Zahra pun membuka 1 matanya.


"aman kan? "


tanya Zahra, ia membuka 1 matanya


"aman, udah yuk kita masuk"


ucap Bagas, mereka pun masuk ke dalam rumah.



Kiran berhenti sejenak di pinggir jalan nafasnya terengah-engah.


"Haaaaa. "


keringat membanjiri dahinya sesekali ia mengelap keringatnya


Kiran pun kembali berlari dengan membawa bungkusan obat di tangannya.


"ayo cepat Kiran…cepat"


Kiran menyemangati dirinya sendiri.


langkah kakinya sudah berada di depan pintu, ia kembali mengatur nafas.


Tangan mungilnya memegang handle pintu perlahan ia membuka pintu.


"kok gelap"


ucap Kiran saat ia melihat rumahnya gelap gulita.


"kak Bagas"


"mamahh"


panggil Kiran namun tidak ada sahutan


tiba-tiba lampu menyala


"Dorrrrrrrr !"


"SURPRISEEE!!!!! "


teriak semua orang yang ada di dalam rumah membuat Kiran terkejut.


matanya membulat saat di lihat dekorasi ulang tahun menghiasi ruang tamu serta ramai orang.


"Happy birthday anak papah"


ucap Wijaya menghampiri putrinya yang masih berdiam diri dengan kondisi mulut terbuka.


"kak Zahra pah"


ucap Kiran


"kakak disini Kiran"


Zahra menyahut , terlihat Zahra mengenakan topi kerucut.


Wijaya menggandeng Kiran untuk berbaur di tengah.


terlihat semua yang hadir mengenakan topi kerucut tak terkecuali Bramantio, Adam serta Sinta.


Kiran masih tak percaya ia bahkan masih terlihat bingung


"Selamat ulang tahun anak mamah, kaget yah ini semua idenya kakak kamu"


Ucap Hera


"kakak ih, keterlaluan. Mah Kiran lari-lari dari supermarket depan. ga taunya di kerjain kak Bagas"


"hahaha…sudah-sudah sekarang kita mulai acaranya yah"


ucap Wijaya,


acara pun berjalan lancar terlihat semua yang hadir merasa ceria.


Zahra menghampiri Adam yang sedari tadi memilih menjauh


"ayah kenapa kok disini? "


"ayah udah ngantuk? "


tanya Zahra ia mensejajarkan pandangannya dengan Adam


"Ehmm tidak sayang, ayah hanya lelah"


ucap Adam tersenyum


terlihat Sinta dan Bramantio mendekati Zahra dan Adam.


"Adam"


sapa Bramantio


Adam hanya diam ia bingung harus bersikap bagaimana. Zahra pernah bilang padanya agar ia memberikan Bramantio kesempatan untuk meminta maaf.


namun hati Adam sedikit ragu.


"aku ingin meminta maaf padamu"


ucap Bramantio, pandangannya sayu ia takut jika Adam menolak permintaan maaf darinya


"aku tahu aku salah. aku sudah merusak kebahagiaan di rumah tanggamu. aku mohon Adam maafkan aku, jika saat ini kau ingin melaporkan ku ke polisi maka lakukan lah"


Bramantio benar-benar ingin menebus kesalahannya


"ayah"


ucap Zahra yang kini menggenggam tangan Adam


Adam paham arti dari sorot mata Zahra.


"aku tidak akan melaporkan mu ke polisi, lagi pula kejadian itu sudah berlalu sekitar 21 tahun yang lalu."


ucap Adam.


"istriku juga sudah tiada, dan kini Zahra juga sudah mengetahui semuanya. lantas aku harus apa selain memaafkanmu"


Adam benar-benar mantap untuk memaafkan Bramantio.


"boleh kah aku meminta satu permintaan padamu? "


ucap Adam yang kini sudah memandang wajah Bramantio.


"boleh Dam silah kan"


Bramantio akan menuruti semua permintaan Adam.


"aku tahu Zahra juga putri mu, justru kau lah yang lebih berhak atasnya. tapi aku meminta pada mu jangan kau pisah kan lagi aku dengan Zahra"


Zahra yang mendengar ucapan Adam langsung menangis dan mengeratkan genggaman tangannya.


"bukan hanya kau yang bersalah padanya aku juga bersalah pada Zahra, selama ini ke bahagiannya hancur karena kita berdua. bisakah kita membahagiakannya secara bersama-sama? "


mata Adam berkaca-kaca begitupun dengan Bramantio.


"Adam "


"tanpa kau memintanya aku akan melakukannya, kau juga ayahnya kau juga turut andil dalam hidupnya. kita akan tetap bersama-sama membahagiakannya"


ucap Bramantio, ia memeluk tubuh Adam air mata Bramantio berlinang .pelukannya


di balas oleh Adam membuat Zahra turut memeluk kedua ayahnya itu.


"terimakasih ayah, papah. Zahra sayang kalian"


ucap Zahra.


Sinta turut meneteskan air mata, ia merasakan ke haruan.

__ADS_1


"Adam"


panggil Bramantio saat ia sudah melepaskan pelukannya.


"izin kan aku membiayai pengobatan kaki mu"


"aku mohon, kau jangan menolaknya"


pinta Bramantio


"ayah, mau ya"


ucap Zahra. Zahra jyga berharap Adam bisa berjalan lagi seperti sediakala.


Adam terdiam sejenak.


"Ehmm baik lah aku mau"


Adam tersenyum ke arah Bramantio


"baik lah aku akan mengusahakan perobatan yang terbaik untukmu"


Bramantio merasa legah saat kata maaf dari Adam di dapat kannya.


"Terimakasih Bram"


ucap Adam.


mereka pun kini saling berbincang-bincang.



"ibu ke sini sama kak Eza? "


tanya Zahra yang kini sudah berada di samping Sinta.


"ibu tadi di jemput sama papa kamu, kakak kamu tadi pergi duluan buat cari kado untuk Kiran"


tutur Sinta


"Cieeeeeee ibu lagi dekat yah sama papa"


goda Zahra membuat Sinta tersipu malu. sejak kepulangan dari rumah Zahra hubungan Sinta dengan Bramantio semakin dekat.


"huss…kamu apa sih"


ucap Sinta membuat Zahra tertawa.


Sementara Bagas kini sedang mendekati Kiran yang sedari tadi enggan melihatnya.


"Kiran? "


sapa Bagas


"hem"


Kiran menjawab dengan raut wajah jutek.


"jangan marah dong, kakak kan berusaha buat kejutan"


ucap Bagas


"Kakak tuh ya ngeselin banget udah buat kejutannya kebangetan sampe Kiran lari-lari "


"capek tahu"


Kiran membuang pandangannya seakan benar-benar marah


" ya namanya juga kejutan kalau ga buat kesel dulu ga asyik"


Bagas mencolek dagu Kiran


Kiran tetap enggan menoleh.


sesaat kemudian mata Kiran membulat ketika Bagas menyerahkan kotak kecil padanya.


"apa ini kak? "


tanya Kiran antusias ia lupa dengan rasa kesalnya


"buka aja"


Bagas tersenyum


perlahan Kiran membuka kotak tersebut. mulutnya terbuka pancaran matanya berbinar saat melihat kilauan kalung yang di berikan Bagas


"Woaaah …ini bagus banget kak. "


"berlian? "


tanya Kiran, Bagas hanya mengangguk


"kamu suka? "


"suka banget kak. terimakasih kakak"


Kiran memeluk Bagas


"mau cium"


rengek Kiran membuat Bagas merendahkan tubuhnya dengan berlutut.


"Chuppp"


Kiran mencium pipi sang kakak.


"sini kakak pakein"


Bagas pun memasangkan kalung tersebut di leher Kiran.


"bagus banget kak. mahal kan? "


tanya Kiran


"jangan tanya harga"


ucap Bagas mengusak lembut kepala adiknya.


Kiran tak hentinya mengucapkan terimakasih dan memeluk tubuh Bagas.


acara malam ini berjalan dengan lancar terlihat semua ceria.


Adam terlihat lelah sorot matanya juga sudah sayu.


"ayah sudah mengantuk? "


tanya Zahra membuat Adam mengangguk.


"kita pulang yah. Zahra pesan taksi dulu"


ucap Zahra


ia mengambil ponselnya di dalam tas.


"kamu mau ngapain Ra? "


tanya Bagas yang kini berada di sampingnya


"mau pesan taksi online kak, ayah sudah mengantuk. kami hendak pulang"


tangan Zahra sibuk dengan ponselnya


"aku saja yang mengantarkan mu"


Bagas mengambil ponsel Zahra, membuat Zahra tidak bisa menolaknya.


"baik lah"


ucap Zahra.


Zahra kini menghampiri Hera dan Wijaya untuk pamit pulang tak lupa berpelukan ria pada Kiran.


"kak Eza, Zahra pulang duluan yah"


teriak Zahra pada Eza yang kini sedang sibuk mencomot makanan di meja.


"iya Ra. hati-hati ya"


Eza melambaikan tangannya.


Zahra pun beranjak pulang dengan Bagas yang kini mendorong kursi roda milik Adam.


………………………


Huy" tak bosan tak jenuh dan tak jera Author mengingatkan untuk like serta vote yah..

__ADS_1


jangan lupa juga mampir ke karya Author yang lainnya.


Terimakasih 😁


__ADS_2