Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
103.Tidak merubah sifat buruk


__ADS_3

Sudah 2 minggu setelah


kepulangan Zahira dari rumh sakit. Kini Zahira tinggal bersama Zahra dan Adam.


Tak tega rasanya jika membiarkan Zahira mesti tinggal di rumah sewa sendirian, biarlah ia tinggal


terlebi dahulu disini. Pikir Zahra.


Minggu-minggu ini semua terkesan sibuk, Zahra yang sibuk dengan perkembangan Resto yang dikelolah dan


sibuk utntuk hari kelulusannya. Setelah hari-hari kemarin di padatkan dengan


tugas skripsi.


Tak butuh waktu lama untuk Zahra meraih gelar Sarjana walaupun ia


sibuk mengurus resto namun ia tetap fokus pada kuliahnya sehingga ia lulus di


waktu yang lebih cepat.


Bramantio sibuk dengan proyek barunyaa. setelah permasalahn di kantornya sudah usai ia bereskan.


Dan sama halnya dengan Bagas yang sibuk dengan proyek kerja samanya bersama Bramantio


Sedangkan Eza turut membantu keberhasilan proyek tersebut selain itu ia juga sedang mengurus acara


lamarannya yang akan di adakan 2 hari lagi.


Tubuh Zahra terasa lelah,hari ini ia memutuskan kembali ke rumah lebih awal utuk beristirahat. dan membiarkan restonya di handle oleh karyawannya.


langkahnya telah sampai di dalam rumah miliknya.Ia berjalan perlahan menuju kamarnya ,terlihat rumah masih sepi.


“Prannnkkkk!!!!”


Tiba-tiba terdengar pecahan benda yang di iringi dengan keributan , suaranya berasal dari kamar belakang yang di tempati oleh Zahira.


Membuat Zahra bergegas melihat apa yang sedang terjadi.ia khawatir jika ada maling yang masuk ke dalam rumah.


Ketika ia berada di ambang pintu kamar Zahira ,Ia melihat pecahan gelas beserta susu berserakan di lantai kamar


Zahira


“aku sudah bilang susunya hangat bukan panas”


“ga ngerti banget sih jadi pembantu !”


Ucap Zahira kasar pada bik Darmi. karena tidak terima saat bi Darmi memberikan susu yang airnya sedikit panas.


“ma...maaf Non sa,,saya ga tahu”


Bi Darmi menundukkan kepalanya karena merasa takut.


“Zahira!”


Bentak Zahra saat Zahira berlaku tidak sopan pada bi Darmi


“keterlaluan kamu!”


“Ga sopan kamu yah sama bi Darmi”


Sergah Zahra emosi


“lagian pembantu kamu ga becus Ra , masak aku di buatin susu panas”


Ucap Zahira dengan nada kesal dan wajah cemberut


“emangnya kamu ga bisa buat sendiri?”


“lagian di diemin sebentar tuh susu juga hangat, ga mesti kamu bersikap kayak gini”


“aku kan hamil Ra, wajar lah aku minta buatin”


Sanggah Zahira


“kamu hamil bukan lumpuh!”


“masih bisa berjalan”


Ketus Zahra  ia sangat marah Zahira berlaku tidak sopan


pada bi Darmi


“udah neng, bibik yang salah. Bibik ga tahu kalau non Zahira minta susu hangat”


Darmi mencoba meleri perdebatan kakak beradik yang memiliki sifat berbanding terbalik.


“noh pembantu kamu aja


ngakuin kalau dia salah”


Tunjuk Zahira pada bi Darmi


“tapi bik dia udah ga sopan sama bibik. Zahra ga suka bik”


“udah neng udah gak apa-apa ,biar bibik beresin dan buatin susu yang baru lagi”


Darmi hendak berjongkok mengutip pecahan gelas namun di tahan oleh Zahra.


“udah bik biarin aja, jangan bibik beresin biar dia yang beresin sebab dia yang mecahin”


Cegah Zahra, sorot matanya menatap Zahira tajam


“tapi neng ntar bersemut”


“biarin aja bik biar sekalian dia tidur sama semut”


“ayo bik keluar, dan ingat bibik harus nurut sama perintah Zahra aja oke”


Zahra menarik tangan bik Darmi dan keluar kamar, sementara Zahira mengerutkan kening melihat sifat Zahra yang

__ADS_1


sekarang.


“Ckk, sialan”


Gerutu Zahira kesal.


........................................................................................................


Jam menunjukkan pukul 8 malam danAdam baru saja pulang dari kerja .ia terkejut melihat Zahira sedang mengepel lantai.


“kamu ngapain Zahira”


Tanya Adam


“ini yah, aku di suruh ngepel lantai sama si Zahra padahal kan aku lagi hamil”


Ucap Zahira dengan wajah seakan teraniaya


“Kok bisa sih?”


Tersirat rasa khawatir di raut wajah Adam saat melihat putrinya mengepel lantai


“Ra, Zahra”


Panggil Adam pada Zahra.


Zahra melangkah keluar dari kamar saat terdengar panggilan dari sang ayah


“ada apa yah?”


Zahra membenarkan pengikat rambutnya


“kok kamu suruh Zahira ngepel sih, bi Darmi mana?”


“kan dia lagi hamil”


Tegur Adam pada Zahra namun dengan nada lembut


“oh ngadu yah”


Ucap Zahra sinis sambil menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Zahira


“Zlagian dia sendiri yah yang mecahin gelas berisi susu di dalam kamarnya,  dia ga sopan marah-marahin bi Darmi hanya gara-gara susunya panas yah.”


“lagian Zahra ga suruh dia ngepel”


Sahut Zahra santai sambil memperhatikan kuku-kuku tangannya


“tapikan kotor Ra entar banyak semut”


Protes Zahira


“yah siapa suruh mecahin gelas susu di kamar tidur”


“kalau ga mau di semutin yah bersihin sendiri lah”


“bereskan, gtu ajah pake ngadu ke ayah”


Zahra berbalik badan


meninggalkan Zahira yang masih cemberut. Zahra sudah terlanjur kesal dengan


kakaknya ini.


Manusia berwajah tembok sudah


mengalami kejadian memalukan tapi masih saja sikap buruknya tak berubah. Ini


rumah Zahra bahkan atas namanya tak berhak Zahira mengatur siapapun dirumah ini


termasuk bi Darmi.


Zahra saja tak pernah bersikap kasar pada bi Darmi, ia menghargai wanita tersebut dan memperlakukannya


dengan baik. Walaupun bi Darmi adalah asisten rumah tangga disini namun ia juga


orang tus ysng wajib di hargai.


Pagi menyapa, mentari masi malu-malu memancarkan sinarnya hembusan angin di sertai buliran embun masih


terasa menerpa kulit.


Pagi-pagi Zahra sudah berada di rumah Bramantio sang papa sebab hari ini adalah hari petunangan Eza, yang akan di lakukan di sebuah gedung mewah yang tentunya sudah di pesan oleh Eza.


Sementara untuk jasa catering, Eza membebankan Zahra. Membuat Zahra kesal sebab ia tak di beri waktuluang untuk bersantai di hari bahaganya Eza.


“Mah”


Panggil Zahra saat kakinya sudah memasuki rumah megah sang papa


“iyah sayang,”


Sinta masih mengenakan daster


dan apron ayng melekat di tubhnya


“mamah lagi ngapain?”


“lagi buat sarapan”


“oh iyah kamu sudah mandi


belum?”


Tanya sinta pada Zahra


“sudah mah”


“yasudah sebentar lagi

__ADS_1


karyawan salon datang buat make up kamu”


“tapi kamu sarapan dulu”


Sinta terlihat sibuk


“ada yang bisa Zahra bantu


mah?”


Tawar Zahra sambil


menghampiri Sinta yang sedang memindahkan nasi goreng buatannya ke dalam wadah


“ga perlu sayang mamag bisa


kok, lagian sudah selesai”


Sinta merapikan meja makan


yang sudah tersusun rapi dengan piring dan gelas di atasnya


Zahra memilih menuju lemari


pendingin hendak mengambil susu


“Emang papah kemana mah?”


“kak Eza juga ga keliatan?”


Zahra menuang susu ke dalam gelas dan menyeduhnya dengan air hangat


“papah lagi mandi, kalau kakak kamu masih dirumahnya ntar juga kesini mamah udah telepon tadi”


Ucap Sinta


Zahra duduk di kursi meja makan sambil menikmati susu hangat buatannya.


Sekitar pukul 9 pagi semua keluarga Bramantio telah selesai dan kan menuju gedung karena acara akan di


mulai pukul 10 pagi.


“cakep ni yee”


Ledek Eza pada Zahra yang terlihat anggun mengenakan kebaya dan polesn makeup di wajahnya


“apaansih kak”


Sungut Zahra


Ketika semua sudah berkumpul mereka menuju gedung yang akan di jadikan saksi pengikat Cinta Eza dan Rianda.


Acara berlangsung lancar tanpa kendala.keluarga Bagas turut hadir di acara tersebut.begitu juga dengan teman-teman Eza.


Sementara Zahra sesekali mengontrol hidangan agar tidak ada yang terlupa maupun kurang.


“sibuk banget ibu koki”


Bagas tiba-tiba berada dibelakang Zahra , membat Zahra sedikit berjengit kaget


“kakak ih, buat Zahra kaget”


“lagian sudah caakep masih aja sibuk urusin hidangan”


Ledek Bagas


“Zahra takut kak ada yang kurang, kan ga lucu di acara seperti ini harus kekurangan hidangan”


“masa iyah tamunya diminta buat nunggu kita masak”


Ucap Zahra membuat Bagas tertawa


“Ra”


Panggilnya pada Zahra


“hmmm”


“kakak lapar?”


Bgaas memegangi perutnya


“yah makan dong kak”


“suapin yah”


Bagas memasang wajah imut , ia sangat manja bila di dekta gadis ini


“manja banget”


“heran deh kok ada bos


semanja ini”


Gerutu Zahra sambil tangannya mengambil piring dan beberapa menu


“kita duduk disitu “


Bagas menggandeng tangan Zahra menuju tangga ke arah lantai atas.


“lah kok duduk di tangga sih kak, kayak gdak tempat saja”


Zahra turut duduk di samping Bagas


“kita cari tempat langka “


“terserah kakak deh”


Zahra mulai menyuapi Bagas

__ADS_1


sesekali kdeuanya mengobrol membuat Bramantio dan Sinta diam-diam mengamati


putrinya.


__ADS_2