
Hari masih gelap, namun Bagas kini sudah mengantar Zahra ke resto.
untuk persiapan Grand opening Resto tersebut. Zahra memilih merayakan secara sederhana. hanya kumpul keluarga beserta teman-temannya saja.
lalu malam harinya ia juga akan membagikan ribuan nasi bungkus untuk anak jalanan, serta orang yang membutuhkan.
Pagi ini Zahra di bantu oleh karyawan serta beberapa karyawan Bagas, yang di minta Bagas utuk membantunya.
Sesampainya di resto, Zahra langsung berkutat di dapur. di sana juga sudah ada Rianda yang akan membantunya.
Zahra belum pernah memasak makanan dengan jumlah banyak. baru kali ini ia akan mencobanya.
untuk dessert serta camilan Zahra memilih untuk menempah di salah satu toko kue. karena restonya belum menyediakan camilan atau makanan ringan.
Zahra terlihat sangat sibuk, badannya yang mungil serta apron yang tak pernah absen di tubuhnya membuat penampilannya menggemaskan.
Rianda dan Zahra membagi tugas. masing-masing dari mereka di bantu oleh 3 karyawan.
tak ada istilah mengobrol semua berkutat dengan kerjaan mereka masing-masing.
bahkan Bagas juga turut membantu menyusun tempat duduk.
sebab sebagian tempat duduk yang baru untuk di resto ini baru saja tiba pagi ini.
Menurut Bagas Bramantio cukup berani menyerahkan tanggung jawab resto ini pada Zahra.
Namun jika di perhatikan Zahra juga memiliki potensi besar dalam mengelola suatu usaha.
tak heran jika Bramantio nekat mengambil langkah ini.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. masih tersisa 2 jam lagi untuk membereskan semuanya.
Semua hidangan sudah tersusun rapi di atas meja. terkecuali nasi bungkus yang akan di bagikan.
nasi bungkus baru akan di packing sore hari dan masih ada lauk tambahan untuk itu.
"Oke Finish !"
ucap Zahra saat di rasa sudah selesai
"Wuuuuuuuuu"
teriak karyawan serta tepuk tangan dari mereka melihat semuanya sudah tersusun rapi.
"Oke kita sekarang bersiap-siap untuk acara siang ini sebelum jam 2 kita sudah harus berada di resto. dan buat kalian yang belum makan siang saya sudah menyediakan di dapur"
ucap Zahra memberi intruksi
semua karyawan berhamburan untuk beristirahat maupun makan siang.
Sementara Bagas sudah duduk di bangku resto dengan sepiring nasi beserta lauknya.
Zahra melangkah menuju depan resto yang di hiasi balon dengan berbagai macam aneka warna .
ia memandang jalanan.
"kak Eza kok ga datang yah? "
Gumam Zahra dalam hati, ia merogoh sakunya berharap ada notifikasi pesan maupun panggilan dari Eza di ponselnya.
Namun layar ponselnya kosong tidak terdapat notifikasi apapun.
"kamu ngapain Ra? "
Rianda tiba-tiba berada di belakangnya.
"ehm ini kak. kak Eza ko ga datang ya? "
tergurat kesedihan di wajahnya.
"Oh kak Eza lagi ada urusan katanya. mungkin sebentar lagi akan datang"
Rianda menepuk pundak Zahra.
"kita makan siang dulu yuk sebelum siap-siap "
ajak Rianda.
Rianda tahu Zahra merasa sedih, Rianda sengaja berbohong agar Zahra tidak kecewa. padahal dirinya sendiri juga tidak mengetahui kemana Eza.
"yaudah yuk kak"
Zahra pun mengikuti langkah Rianda sementara Bagas memperhatikan 2 wanita itu sembari dengan lahap menyantap makanannya.
……………
Terlihat semuanya sudah mulai hadir disini. para karyawan Zahra sudah memakai seragam kaos berwarna biru.
baju itu Zahra beli khusus untuk acara hari ini, bahkan Rianda dan Bagas juga mengenakan baju tersebut.
baju kaos dengan gambar piring besar di bagian punggungnya serta bertuliskan "tim Food" di bagian depannya.
baju itu hanya untuk sekedar lelucon .
untuk baju harian kerja Zahra sudah membelinya sendiri.
Acara pun di mulai namun Zahra masih sibuk mencari keberadaan Eza yang tak kunjung hadir.
"ayo nak di potong pitanya"
ucap Bramantio saat acara pemotongan pita telah tiba.
"ah i…iya pa"
tangannya terus menggunting pita besar yang terbentang di depan pintu Resto. sebagai tanda peresmian resto tersebut.
"alhamdulillah "
sorak semua yang hadir disini.
Rianda melihat wajah Zahra tidak seceriah biasanya. ia tahu Zahra sedang memikirkan Eza.
sebab sedari tadi Zahra selalu menanyakan Eza kepadanya.
"baiklah semua hadirin di persilakan untuk masuk dan mencicipi semua hidangan yang tersedia"
ucap pembawa acara yang tak lain adalah Bagas.
__ADS_1
mereka semua pun masuk ke dalam resto. suasana Resto yang sejuk dengan dekorasi bunga serta balon menghiasi setiap sudutnya.
serta alunan musik yang terdengar lembut mengiringi acara siang ini.
Zahra memilih duduk di sudut ruangan ia tak hentinya mencoba mengecek ponselnya berharap Eza menghubunginya.
bahkan Sinta sendiri mengatakan bahwa Eza sudah pergi yang ia pikir akan menghadiri acara ini.
namun kenyataannya sampai saat ini Eza pun tidak terlihat.
"kakak dimana sih"
Zahra memijat keningnya yang berdenyut memikirkan Eza.
biasanya jika ada acara seperti ini Eza lah yang paling heboh. namun kini acara Zahra berasa sepi tanpa Eza .
Zahra belum berani menghubungi Eza, ia takut Eza masih marah. mengingat bagaimana ekspresinya kemarin malam saat berbicara dengan nada tinggi.
Rianda yang sedari tadi memperhatikan Zahra pun berinisiatif menghubungi Eza.
Bahkan telepon dari Rianda 3 kali tidak di jawab.
Rianda memilih keluar ruangan, ia mencoba menghubungi Eza kembali.
"Hallo"
ucap Rianda saat ponselnya sudah tersambung.
"hallo"
"ada apa sayang? "
sahut Eza di seberang telepon.
"mas kemana aja sih kok belum datang? "
ucap Rianda sedikit marah.
"maaf sayang kayaknya mas ga usah datang yah. mas lagi pengen sendiri soalnya lagi pusing. "
Eza beralasan.
"Mas kok gitu sih?. Mas harus datang dong. mas ga kasihan sama Zahra dari tadi dia nungguin mas"
"bahkan dia gak semangat banget tuh. malah menyendiri di pojokan. dia nungguin mas loh"
Rianda mencoba memberitahu Eza
"nungguin mas? . tapi dia ko ga adatelepon mas?"
tanya Eza keheranan. Eza berpikir Zahra akan lupa padanya. atau mungkin ia marah atas penolakan Eza malam kemarin yang sedikit tidak sopan.
"dia ga berani buat telepon mas .Rianda ga tahu kenapa"
"yaudah pokoknya mas harus kesini titik. Rianda maksa, mas juga kedapatan tugas entar malam bagi nasi bungkus ke jembatan"
paksa Rianda
"Hemm yaudah sebentar lagi mas kesana deh. tapi jangan bilang ke Zahra"
pinta Eza
"yaudah cepetan"
"iya. yaudah bye"
Eza memutuskan sambungan teleponnya.
Rianda kembali masuk ke dalam ruangan dan ikut berbaur dengan Sinta dan yang lainnya.
Zahra menghampiri Bramantio yang sedang menikmati camilan di meja yang sama dengan Wijaya.
"pah, ehm Zahra mau ke atas dulu yah? "
"yaudah jangan lama-lama ya"
Bramantio juga melihat ada hal yang aneh dengan Zahra.
"iyah pah"
"Zahra tinggal sebentar ya pak"
Zahra menganggukkan kepalanya pada Wijaya.
Zahra menaiki anak tangga ia menuju ruangan atas. tidak ada siapapun disini hanya tersisa bangku dan meja saja.
tempat ini tidak di gunakan untuk acara grand opening hari ini. karena acara tersebut tidak di hadiri banyak tamu.
Zahra memandang jauh, suasana di atas sini cukup sejuk karena tiupan angin. walaupun matahari masih bersinar dengan semangat.
Saat ini Zahra berdiri di tepi gedung yang memiliki pembatas batu setinggi dada, di samping Resto ini terdapat sebuah perkebunan jagung yang luas.
dahulu Zahra merasa heran saat pertama kali bekerja di Caffe ini. ia baru tahu ternyata di tengah perkotaan yang terkenal padat.
masih tersembunyi kebun jagung yang luas di belakang gedung-gedung tinggi.
kini Ia memikirkan Eza yang tak kunjung memberi kabar.
Matanya berkaca-kaca saat membayangkan jika Eza membencinya atas kejadian malam itu.
Sementara Eza baru saja sampai ia bergegas masuk dan mencari Zahra.
"mas"
panggil Rianda
"Sayang, "
"Zahra mana? "
Eza celingukan mencari Zahra.
"dia lagi di atas mas. kasihan dari pagi tadi nannyain mas terus"
tutur Rianda
"ke atas yuk? "
__ADS_1
ajak Eza pada Rianda
"mas aja yang ke atas. Rianda masih mau beresin nasi buat entar malam"
"yaudah mas ke atas dulu yah"
"Chup"
Eza mencium kening Rianda sekilas membuat Rianda kesal dan mencebikkan bibirnya.
sebab di ruangan ini masih ramai orang.
"Mas Eza kebiasaan "
rutuk Rianda kesal karena menahan malu sementara Eza sudah menaiki anak tangga sambil terkikik geli melihat Rianda.
Eza mengedarkan pandangannya saat berada di atas gedung resto. terlihat Zahra sedang melamun.
"Seharusnya aku bahagia hari ini, "
Gumam Zahra dengan nada pelan.
"seharusnya iya, tapi kenapa malah bengong "
sahut Eza yang kini sudah berdiri di samping Zahra.
"Kak Eza! "
Zahra terkejut saat Eza sudah di sampingnya.
"bukannya hari ini acara buat kamu kenapa malah disini hmm"
tanya Eza.
"Zahra kira kakak ga datang"
Zahra masih menampilkan raut wajah sedih.
"ga mungkin di acara penting adik kakak ini. kakak ga datang"
Eza mengusak pucuk kepala Zahra pelan.
"Greppp"
Zahra memeluk kakak kesayangannya
"kakak jangan marah sama Zahra ya. Zahra juga ga tahu soal rencana papa"
ucap Zahra
"kakak ga marah sama kamu Ra"
"tapi kenapa kakak ga kasih kabar ke Zahra. bahkan baru datang siang ini "
Zahra melepaskan pelukannya
"maafin kakak yah. kakak ada urusan"
Eza mencubit gemas pipi Zahra.
"kak, Zahra minta maaf soal pa.... "
Zahra belum selesai berbicara Eza menempelkan jarinya di depan bibir Zahra
"Sssttt itu urusan orang tua, kita ga perlu ikut campur"
Eza tersenyum
" tapi kan kakak ga setuju? "
Zahra mengerutkan keningnya
"siapa bilang kakak ga setuju. "
Eza bersidekap dada
"jadi kakak setuju? "
tanya Zahra antusisa
Eza hanya menganggukkan kepalanya.
"serius kak? "
"iyah"
ucap Eza
"kakak ga boong"
Wajah Zahra terlihat serius
"kakak ga pernah boong "
Eza menaik turunkan alisnya
"makasih yah kak"
Zahra kembali memeluk Eza
"Zahra pengen punya ibu kak"
ucap Zahra lirih
"iyah sebentar lagi kamu bakal punya ibu kok"
"udah dong jangan sedih, sekarang kita ke bawah yuk. kakak lapar"
Zahra pun mendongakan kepalanya.
"Hayuukk"
jawab Zahra semangat.
.................
Maaf yah guys jika Author sering timbul tenggelam.. Author usahain buat Up kok.
__ADS_1
terimakasih yang masih setia. 😊