Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
71 kuliah


__ADS_3

sudah 3 bulan Adam menjalani perobatan dengan salah satu dokter ortopedi yang di rekomendasikan oleh Bramantio.


Bramantio juga termasuk donatur terbesar di salah satu rumah sakit besar di kota ini, maka dari itu Bramantio menarik dokter dari luar negri yang di khusus kan untuk mengobati kaki Adam yang mengalami faktur.


Kini Adam tidak lagi menggunakan kursi roda melainkan sudah menggunakan tongkat ketiak sebagai alat bantu jalan.


Zahra juga selalu rutin membantu Adam untuk berlatih berjalan agar otot kakinya tidak tegang.


pagi ini seperti biasa Zahra selalu membantu Adam untuk latihan berjalan


"ayo ayah, Pelan-pelan "


Zahra memegangi tangan kanan Adam yang kini berusaha melangkah kan kaki kanannya.


"ayah belum cukup kuat untuk menapak kan kaki ayah"


Adam mengangkat kaki kanannya yang masih berasa sakit.


"jangan di paksakan yah, Pelan-pelan saja yang terpenting selalu rutin di buat bergerak"


Zahra memegangi kedua tangan ayahnya.


"udah cukup ya, ayah mau istirahat"


ucap Adam


"oke deh kalau ayah sudah lelah"


"ayah pegangan tembok dulu yah, Zahra mau ambilin tongkatnya"


Adam hanya menurut ia berpegangan di tembok, sementara Zahra mengambil tongkat ketiak milik Adam.


"ni yah, Pelan-pelan yah"


Zahra menyerahkan tongkat tersebut pada Adam.


"ayah mau masuk atau mau duduk di teras? "


tanya Zahra pada Adam


"ayah mau di teras dulu deh"


Adam menggeraktongkatnya agar bisa melangkah menuju bangku yang terdapat di teras rumah Zahra.


Zahra pun turut duduk di samping Adam


"kamu ga kuliah sayang? "


tanya Adam


"sebentar lagi yah, "


ucap Zahra


Zahra sudah masuk kuliah sekitar dua bulan yang lalu, kini ia mengambil jurusan manajemen bisnis di salah satu fakultas ternama di kota ini. tentu saja fakultas tersebut pilihan Bramantio papanya.


dahulu ia menginginkan jurusan akuntansi namun dari pengalamannya bekerja kini dirinya tertarik menjadi pengusaha muda.


Zahra sudah mencoba untuk menolak , ia masih tetap teguh untuk bisa kuliah dengan biaya sendiri. namun Bramantio memaksanya dengan alasan Zahra boleh bekerja setelah Adam sembuh.


untuk sementara waktu sebelum Zahra bekerja biaya kuliahnya Bramantio yang menanggung.


"Papa kamu sayang banget ya sama kamu nak, beda sama ayah"


"dia selalu memberikan apa yang kamu mau walaupun kamu tidak memintanya"


ucap Adam


"ayah ngomong apaan sih, ayah juga sayang kan sama Zahra"


Zahra memegang tangan Adam.


"beda dengan ayah, bahkan dahulu ayah tidak pernah menuruti ke mau an mu padahal itu hal sederhana"


mata Adam berkaca-kaca ketika ia mengingat kejadian yang lalu.

__ADS_1


"yah, sudah ya jangan di pikirkan lagi. justru Zahra berterimakasih sama ayah, ayah sudah membesarkan Zahra. walaupun ayah keras mendidik Zahra tapi Zahra bersyukur karena didikan ayah Zahra jadi berani dan bisa mandiri"


Zahra menyandarkan kepalanya di bahu Adam.


"terimakasih ya nak, kamu sudah merawat ayah dengan baik"


ucap Adam sambil mengelus kepala Zahra.


"iya ayah sama-sama "


"udah dong jangan sedih-sedih lagi, "


Zahra memeluk ayahnya, kini Zahra sangat manja dengan Adam. beda dengan dahulu Zahra sangat berjarak dengan Adam.


"iyah sayang"


"Yaudah kamu mandi sana sebentar lagi kuliah"


perintah Adam pada Zahra


"oke siap ayah boss"


Zahra menempelkan tangannya di kepala seakan hormat. membuat Adam tersenyum.


…………


Di sebuah Bandara terlihat seorang gadis dengan stelan celana jeans serta jaket denim sedang menarik kopernya.


"Haaaaa …aku kembali kesini"


Vera baru saja sampai, ia baru datang dari luar negri. setelah perceraian mommy dan papinya Vera memutuskan kembali bekerja di luar negri meneruskan karirnya di dunia modelling.


sementara Yura sang mommy kini berada di luar kota tinggal bersama omanya.


Vera kembali sebab ia merasa rindu dengan kota ini, Vera juga rindu dengan Bramantio .


"aku merindukan kota ini, Haaa biasanya kalau aku kembali selalu di sambut dengan mommy dan papi kalau tidak pasti tante Hera dengan Bagas yang menjemput "


Vera menghela nafasnya berat.


"semua itu gara-gara Zahra"


Vera mengepalkan tangannya.


"lihat saja apa yang aku lakukan padamu Zahra, kau akan membayar semua perbuatanmu "


gerutu Vera kesal, ia pun melangkah keluar dari Bandara untuk mencari taksi.


……


Sementara Zahra, ia baru selesai kelas.


kini ia hendak pulang dan menuju parkiran.


Zahra baru saja di beri motor baru oleh Bramantio sebagai kendaraannya ketika kuliah.


awalnya Zahra akan di beli kan mobil namun mengingat Zahra belum bisa mengendarai mobil maka dari itu Bramantio membelikan sepeda motor untuknya.


tiba-tiba Ponsel Zahra berdering


terlihat Eza yang meneleponnya. Zahra pun menggeser layar benda pipih itu.


"Dimana Ra? "


tanya Eza dari seberang telepon


"lagi di kampus kak, kenapa? "


"kamu malam ini sibuk ga? "


"enggak kok kak"


Eza sudah tahu jika Zahra kini sudah kuliah.


"temenin aku yuk beli sesuatu"

__ADS_1


ucap Eza.


"aku? "


protes Zahra, entah mengapa Zahra tidak suka jika Bagas maupun Eza selalu mengucapkan kata aku jika berbicara dengannya.


Eza sudah tahu jika Zahra akan protes, namun Eza selalu lupa.


"eh maksudnya kakak"


"temenin kakak yah, "


"emangnya mau beli apaan kak? "


Zahra heran tak seperti biasanya Eza meminta temani jika membeli sesuatu.


"ada deh, Yaudah temenin kaka yah"


"Ihh ga mau, ga jelas! "


Zahra kesal ia mematikan ponselnya. Eza akhir-akhir ini sulit untuk di temui.


bu Sinta pernah memberitahu Zahra jika Eza kini sedang dekat dengan seorang wanita.


"Hahh, udah punya pacar sekarang ga perhatian lagi sama adeknya"


gerutu Zahra kesal, ia merasa sedih ketika Eza kini tak lagi sedekat dulu dengannya.


ponsel Zahra kembali berdering, terlihat Eza kembali meneleponnya


"apa lagi sih kak"


tanya Zahra cuek


"kamu ngambek sama kakak? "


tanya Eza


"tau ah, mending kakak minta temenin sama pacar kakak deh jangan sama Zahra"


Zahra merasa cemburu saat Eza tidak lagi perhatian padanya.


"kakak ga punya pacar loh Zahra"


"bohong! "


"ibu bilang kakak punya pacar, pantas saja sekarang ga perduli sama Zahra. bahkan ga pernah ajak Zahra makan sate lagi"


protes Zahra


"kakak bukan ga perduli sama kamu, kakak kan sekarang sibuk. pacar kamu tuh si Bagas menaikkan jabatan kakak tapi menaikkan jam kerja kakak juga"


Eza kini sudah naik jabatan, bukan karena Eza adalah kakak Zahra namun karena kinerjanya yang bagus membuat Bagas menaikkan jabatannya


"Hemm iya lah"


jawab Zahra cuek


"jangan ngambek donk, Yaudah pokoknya entar malam kamu kakak jemput. harus mau"


paksa Eza membuat Zahra hanya menghela nafasnya


"Haaa. iyah kak"


ucap Zahra malas.


"ga boleh nolak. entar malam kakak jemput oke. bye-bye adik manis"


ucap Eza dan langsung mematikan sambungan ponselnya.


Zahra pun memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menuju parkiran hendak mengambil motornya.


.....................


Jangan lupa darat kan like and votenya yah

__ADS_1


terimakasih.


__ADS_2