Aku Yang Terbuang

Aku Yang Terbuang
68 Kado


__ADS_3

"Mereka mau kemana? "


tanya Adam pada Kiran saat melihat Zahra dan Bagas pergi


"palingan juga mau jalan-jalan om"


"Om gak apa-apa kan sama Kiran? "


tanya Kiran sambil mengerjapkan mata sipitnya


"ya gak apa-apa lah justru om senang Abisnya kamu lucu bawel lagi, jadinya rame walau berdua"


ucap Adam membuat Kiran tertawa lepas.


"permisi kak, maaf meja ini sudah di pesan"


ucap salah satu waiters di caffe ini


"bisa ga kak meja ini saya pakai soalnya kalau saya pindah ke belakang kasihan om saya pakai kursi roda jadi sulit jika mesti naik tangga"


ucap Kiran


pasalnya ruangan Caffe ini lantainya tidak lah rata melainkan kan bertingkat dan memiliki beberapa tangga.


dan Kiran memilih duduk di dekat pintu masuk selain tempatnya yang sedikit luas, tempat ini juga tidak menyulitkan Adam.


"tapi maaf kak, yang pesan sudah datang"


ucap seorang waiters Caffe tersebut


"saya bisa bertemu yang pesan meja ini? "


tanya Kiran


"baik mbak"


waiters tersebut berlalu pergi


"Kiran, kita pindah tempat duduk aja yah kalau enggak kita pindah tempat makan"


ucap Adam


"engga om, Kiran itu maunya Om nyaman. kita disini aja yah biar Kiran yang urus semuanya"


ucap Kiran, ia termasuk gadis kecil yang memiliki sifat dewasa hanya saja jika pada Bagas maupun Zahra sikap kanak-kanak nya tak bisa hilang.


"maaf dek, ini tempat duduk saya yang pesan duluan"


ucap seorang pemuda sedang menggandeng tangan seorang perempuan di sampingnya.


"maaf yah mas, boleh ga tempat duduknya ini saya tempati soalnya om saya kan pakai kursi roda jadi sulit kalau harus ke meja belakang. "


ucap Kiran lembut


"tapi kan kita duluan yang pesan"


wanita yang di gandeng oleh lelaki tersebut terlihat kesal.


"iyah mbak saya tahu, tapi saya minta tolong ke mbak tolong pengertiannya ya om saya lagi sakit kakinya. "


"kalau gak saya bakal bayar tempat duduk ini dua kali lipat "


tawar Kiran


"loh ga bisa gitu dong dek, kan pacar saya duluan yang mesan"


wanita itu tetap ngotot membuat Kiran memutar bola matanya jengah.


"mbak sama mas kan sehat bisa jalan bahkan bisa lompat-lompat, emang ga bisa yah sedikit saja kasih pengertian toh tempat duduknya sama kan"


ucap Kiran kesal


"saya ga mau, saya maunya disini"


"Lagian kamu omnya sakit di bawa-bawa"


ucap wanita itu membuat Kiran emosi


"Cukup yah mbak saya sudah bicara baik-baik loh. ucapan mbak ga sopan banget yah"


Kiran mengepal tangannya.


"Kiran, sudah yah kita pindah aja"


bujuk Adam


"ga om, kita tetap di sini Kiran ga terima sama omongan ini cewek"


tunjuk Kiran pada wanita itu


"santai dong jangan nunjuk-nunjuk"


ucap wanita itu


"mas Pacarnya tengil banget yah ga punya etika lagi"


Kiran tersenyum sinis membuat wanita itu mengernyitkan keningnya sebal


"Mbak…mbak"


panggil Kiran pada salah satu waiters


"ada apa yah mbak? "


tanya waiters tersebut


"saya mau ketemu sama manager Caffe ini"


ucap Kiran


"tapi mbak? "


Waiters tersebut ragu


"saya mau ketemu sekarang mbak"


ucap Kiran dengan nada tinggi membuat waiters itu pun kembali ke dalam Caffe untuk memanggil managernya.


Kiran bersedekap melipatkan tangannya di depan dada.


"susah Ya mbak jalan ke meja itu doank, kakinya juga sehat"


sindir Kiran pada wanita itu


"suka-suka saya lah"


ucap wanita itu tidak mau kalah


"Cek bocah"


rutuk wanita itu


"saya emang bocah tapi saya punya etika ga kayak mbak kurang ajar sama orang"


"Kiran sudah yuk"


bujuk Adam

__ADS_1


"ga Om, kita tetap disini"


ucap Kiran tegas.


"maaf mbak …mas ada apa yah ini kok ribut-ribut? "


tanya seorang pria dengan penampilan rapi. sepertinya ia manager Caffe disini.


"ini pak dia ngambil tempat duduk di sini. padahal ini tempat duduk sudah di booking pacar saya duluan"


ucap Wanita tersebut


"gini ya Pak, om saya kan pakai kursi roda ga mungkin dong kita ke tempat duduk yang di belakang sementara lantai di Caffe ini ga semuanya rata mesti harus naik turun tangga"


Kiran berusaha menjelaskan


"tapi Pak, kan kita duluan yang pesan"


wanita itu terus ngotot


"Yaudah deh pak saya pesan tempat duduk ini, akan saya ganti uang mbak dua kali lipat"


Kiran merasa kesal ia tidak mau kalah


"bapak manager di sini kan? "


tanya Kiran


"iyah mbak saya manager Caffe ini"


"bapak kenal saya? "


tanya Kiran


"engga mbak, maaf mbaknya siapa yah? "


tanya manager Caffe tersebut


"Saya Tannisa Kirania Dirgantara pak anaknya pak Wijaya Dirgantara "


ucap Kiran membuat manager Caffe tersebut membulatkan mata


"oh mbak Kiran maaf mbak saya lupa"


ucap manager itu dengan sedikit canggung bagaimana tidak, siapa yang tidak mengenal Wijaya Dirgantara pengusaha terkaya di kota ini.


bahkan keluarga Wijaya merupakan pelanggan setia Caffe ini jika sedang jalan-jalan ke mall.


bukan hanya tempat duduk saja yang dapat di beli oleh Wijaya bahkan mall ini pun sanggup ia beli.


sementara seorang laki-laki yang memesan tempat duduk tersebut pun turut terkejut saat mengetahui Kiran adalah anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja.


"kita pindah aja yah yank"


bisik lelaki itu pada pacarnya


"kenapa? "


tanya wanita itu


"gadis ini anak dari pemilik perusahaan tempat ku bekerja, jangan mencari masalah dengannya"


ucap lelaki itu membuat sang pacar terdiam tidak berani membantah.


"Yaudah deh mbak, kita pindah ke meja belakang aja gak apa-apa "


laki-laki itu terlihat canggung


"oke mas terimakasih"


ucap Kiran dengan tersenyum penuh kemenangan.


"Oh iyah pak, saya pesan menu yang biasa yah"


ucap Kiran, membuat manager tersebut paham apa menu kesukaan keluarga Wijaya


"baik mbak nanti segera saya antar. kalau begitu permisi mbak. sekali lagi maaf atas ketidak nyamanannya "


"iyah pak, terimakasih "


manager Caffe tersebut pun berlalu pergi.


"Kiran kamu ga perlu lakuin itu, kita kan bisa pindah ke tempat lain atau ga di meja belakang"


ucap Adam


"ga Om, Kiran ga suka kalau ada yang pandang remeh om. Kiran mau om itu makan dengan nyaman. om tenang aja selama om sama Kiran semuanya aman"


ucap Kiran menarik turunkan alisnya membuat Adam tertawa.


tak selang beberapa lama makanan pesanan Kiran datang. terlihat Kiran denga lembut membantu Adam untuk makan sesekali Kiran tidak sungkan menyuapi Adam.


mereka terlihat seperti ayah dan anak.



Sementara Bagas dan Zahra mereka masih berkeliling mall untuk mencari kado serta kue ulang tahun untuk Kiran.


Zahra tidak sungkan bergelayut manja di lengan Bagas membuat Bagas merasa nyaman.


"kita ke toko itu yuk kak"


ajak Zahra menunjuk toko aksesoris khusus wanita


"ayuk"


Bagas hanya menurut saja, Zahra langsung melepaskan gandengan tangannya dan memilih sesuatu barang untuk Kiran.


Bagas juga memilih milih.


"kak, Zahra kasih Kiran kado apa yah. pasti Kiran sudah memiliki semua barang-barang ini"


ucap Zahra bingung


"terserah kamu aja, Lagian dia bakal. senang kalau dapat hadiah dari kamu"


Bagas mengelus lembut kepala Zahra.


mata Zahra tertuju pada sebuah gelang dengan hiasan bintang-bintang.


"wah ini bagus banget. pasti Kiran suka "


Zahra mengambil gelang tersebut, ia mengambil 2 agar Kiran bisa memakai gelang yang sama dengannya.


tak lupa juga Zahra membeli beberapa bando dan penjepit rambut sebab , Kiran suka mengenakan bando dan penjepit rambut.


serta Zahra membeli sebuah jam tangan kecil untuk Kiran.


setelah selesai Zahra pun membawa semua barang tersebut ke kasir tak lupa ia meminta semua barangnya di masukkan ke dalam kotak dan di bungkus kertas kado.


"pasti Kiran suka deh"


Gumam Zahra


"pastilah, dia kan sayang sama kamu pasti kamu kasih apa aja dia bakal suka"


ucap Bagas yang kini berdiri di belakang Zahra.

__ADS_1


"ini mbak sudah selesai"


ucap salah satu pegawai toko, Bagas membuka dompetnya hendak membayar.


"mau ngapain? "


tanya Zahra heran saat Bagas membuka dompetnya.


"ya mau bayar lah sayang"


ucap Bagas.


"enak aja ini kan kado dari Zahra. ya Zahra yang bayar lah. kakak cari kado sendiri dong buat Kiran"


omel Zahra pada Bagas


"Yaudah sih gak apa-apa, aku yang bayarin"


"enggak-enggak, Zahra bayar sendiri"


Zahra dengan cepat membuka tas kecil miliknya dan mengambil tiga lembar uang kertas berwarna merah.


Bagas hanya menghela nafasnya.


"Yaudah yuk"


Zahra dengan santai menggandeng lengan Bagas membuat dada Bagas berdetak kencang saat lengannya menempel di benda lunak milik Zahra.


"kakak mau cari kado apa? "


tanya Zahra sambil mengedarkan pandangannya sementara Bagas masih berperang dengan pikirannya saat benda itu terus menempel bahkan sesekali tertekan di lengannya.


"kak ihh kok diam aja"


"kakak mau beli kado apa? "


tanya Zahra kesal saat pertanyaannya tidak di jawab oleh Bagas.


"ehmm…eh…iyah. itu ehm Kita ke toko perhiasan aja yah"


ucao Bagas berusaha membuang jauh pikiran kotornya.


mereka pun masuk ke sebuah toko perhiasan yang terdapat di lantai 3 mall ini.


Bagas terlihat sedang nemilih-milih perhiasan untuk Kiran sementara Zahra juga memperhatikan berbagai macam perhiasan cantik.


Mata Zahra tertuju ke sebuah kalung emas dengan liontin berinisial huruf Z serta taburan berlian di pinggirnya.


"bagus banget"


"harganya juga mahal banget"


Gumam Zahra. matanya terus tertuju ke kalung tersebut.


Bagas mendengar Gumam an Zahra ia mengikuti arah pandangan mata Zahra.


"ohh…dia merhatiin kalung itu"


ucap Bagas dalam hati


Bagas tersenyum sinis.


kini Bagas membelikan sebuah kalung untuk Kiran dengan liontin 2 burung merpati sedang membawa hati yang terdapat berlian di tengahnya .


harga kalung yang di berikan Bagas untuk Kiran tak tanggung-tanggung mahalnya.


Bagi Bagas tidak masalah berapa pun harganya asal bisa membuat orang yang di sayangi bisa bahagia.


"Ra"


panggil Bagas membuat Zahra menoleh ke arahnya


"kamu pilihin yah warna kotak serta bungkus kadonya"


"udah dapat emang kak? "


tanya Zahra


"udah kok. kamu ikutin mbak itu yah kamu pilihan kotak yang bagus"


ucap Bagas


"Oh yaudah kak"


Zahra berlalu pergi untuk memilih kotak kado yang bagus.


Sementara Bagas melihat kalung yang sedari tadi di perhatikan oleh Zahra


"mbak, saya mau beli kalung inisial Z itu yah tolong di bungkus yang rapi"


ucap Bagas,


"baik mas"


Ucap pegawai toko tersebut.


setelah Bagas membayar semuanya serta menerima kalung yang di belinya untuk Zahra kini ia pun menghampiri Zahra.


Zahra sama sekali tidak mengetahui Bagas membelikan kalung untuknya.


"udah di bungkus kan? "


tanya Bagas


"udah kak, nih. bagus kan"


Zahra mengacungkan box mungil dengan hiasan pita biru di atasnya.


"oke Good "


"sekarang kita mau kemana?"


tanya Bagas


"kita beli kue ulang tahun kak"


Zahra memasukkan box kecil tadi ke dalam totebag bingkisan kadonya .


"Yaudah yuk"


Bagas kembali menggandeng tangan Zahra.


mereka sampai di salah satu toko kue, terlihat aneka macam kue tart serta berbagai macam kue lainnya.


Zahra dan Bagas membeli kue cokelat serta hiasan lilin angka 15 dan tak lupa tertera nama Kiran di atas kue tersebut.


…………………………


Duhh senangnya yah di beliin kalung sama pacar. Andai semua laki-laki se peka itu


Sisain 1 untuk Author ya allah laki-laki yang peka kaya Bagas…wkwkwkwkwkwk


Author juga pengen ngerasain di kasih kejutan kayak begitu 😂😂😂


Lahhh Author malah curcol. kasian banget dah lu thor ga pernah di hadiah in 😅😅😅


Yaudah deh.. jangan lupa like and vote yah biar Author semangat upnya

__ADS_1


terimakasih.


__ADS_2