
"Jangan marah-marah sama ibu"
ucap Rianda yang baru saja turun dari motor Eza.
kini mereka berada di depan kantor Rianda.
Eza mengantar Rianda terlebih dahulu baru lah ia akan pulang.
"iyah, mas ga kan marah"
Eza mencubit pipi Rianda.
"yaudah mas, Rianda duluan yah"
"bye"
Rianda melangkah pergi sembari melambaikan tangannya.
Eza pun tersenyum membalas lambaian tangan Rianda. ia baru saja hendak menyala kan mesin motornya namun ponselnya berdering.
ia merogoh saku celananya, terlihat nama 'Bagas tengil' yang menghubunginya.
"Hallo"
ucap Eza saat ia mengangkat telepon dari Bagas.
"Kau dimana? "
suara Bagas terdengar
"ini aku masih ada di kantor cabang, ada apa? "
tanya Eza, ia dan Bagas berbicara seperti teman dekat ketika berada di luar kantor.
"hari ini kau masuk kerja ?"
tanya Bagas, Bagas sedikit khawatir dengan Eza apalagi malam tadi pak Bramantio memberikan pesan jika Eza tidak pulang ke rumah.
Pak Bramantio mengira Eza sedang berada di rumahnya.
"aku akan masuk kerja, hanya saja aku meminta izin mungkin aku agak sedikit terlambat"
seru Eza
"Isss kenapa?. apa kau baik-baik saja"
"tidak apa-apa, aku baik-baik saja. yasudah yah aku mau pulang. sampai ketemu di kantor pak boss"
"baiklah"
Bagas memutuskan sambungan teleponnya. sementara Eza ia pun segera pulang.
…
Zahra baru saja sampai di depan rumah papanya. terlihat mobil mewah berwarna hitam milik Bramantio masih terparkir di garasi mobil.
itu artinya Bramantio belum berangkat kerja.
"papa masih dirumah kan pak? "
Zahra membuka helmnya dan bertanya pada pak satpam.
"masih neng, bapak belum berangkat kok"
"Oh gitu. yaudah pak Zahra masuk dulu ya"
Zahra beranjak pergi namun ia menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"ada apa neng? "
tanya pak satpam saat Zahra menghampirinya.
"Zahra punya roti pak, tadi Zahra beli di Minimarket sewaktu jalan kesini"
Zahra membuka ranselnya dan memberikan bungkusan roti yang berukuran cukup besar untuk pak satpam.
Zahra selalu membawa roti ataupun camilan lain di dalam ranselnya. kebetulan ia membeli dua bungkus roti yang sama.
"Wahh makasih yah neng"
terlihat pak satpam nampak senang
"iyah pak, semoga suka sama rotinya. Zahra masuk duluan pak"
Zahra tersenyum dan sedikit berlari menuju pintu utama.
"Assalamualaikum "
"papah"
panggil Zahra saat ia baru masuk ke dalam rumah Bramantio.
"papah"
tak ada jawaban membuat Zahra mencari keberadaan papanya.
"papah"
panggilnya lagi namun tak ada jawaban.
Zahra menaiki anak tangga yang menuju kamar Bramantio. namun Zahra berhenti ketika berada di tengah-tengah puluhan anak tangga tersebut.
__ADS_1
ia selalu begitu tidak pernah berani untuk mendatangi Bramantio di kamarnya. bahkan Zahra tak pernah naik ke lantai dua.
Walaupun ini rumah papanya namun Zahra tetap menjaga etika.
"papah"
panggilnya sedikit keras.
"iya sayang"
terdengar suara Bramantio dari dalam kamar.
tak berapa lama terlihat Bramantio keluar dari kamarnya. ia sudah mengenakan stelan formal.
"kamu ngapain berdiri di tangga? "
tanya Bramantio saat melihat Zahra masih berdiri di tangga.
"nunggu papa, dari tadi di cariin di panggilin papa ga nyahut"
ucap Zahra. membuat Bramantio tertawa.
kebiasaan putrinya jika datang tak pernah mau untuk naik ke lantai 2 rumahnya dengan alasan segan dan tidak enak hati.
"kamu tu yah rumah papanya sendiri masih aja segan, Lagian kalau papa ga ada di bawah kamu cariin di atas. "
Bramantio menuruni anak tangga menghampiri Zahra.
"uh anak papa"
Bramantio mencubit pelan pipi Zahra.
"ih papa"
Zahra merengut tak suka, kebiasaan papanya jika sedang gemas padanya selalu mencubit pipinya yang sedikit gembul.
"Hahah habisnya kamu gembul"
Bramantio tertawa hingga matanya menyipit.
"udah dong pah, "
Zahra semakin kesal
"udah ih jangan ngambek, yuk turun"
Bramantio menggandeng tangan Zahra dengan lembut.
"papah udah sarapan belum? "
tanya Zahra
"belum lah"
Zahra mengikuti langkah papanya, sementara tangannya masih di gandeng.
"bibi masih ke pasar, mungkin dia sudah membuat sarapan cuma papah lebih sering sarapan di kantor"
ucap Bramantio.
"Zahra bawain makanan buat papa, sebenarnya buat bekal makan siang. tapi karena papa belum sarapan yaudah buat sarapan aja"
Zahra menarik tangan Bramantio menuju meja makan, membuat Bramantio hanya menurut.
"silahkan duduk papa"
Zahra menarik bangku meja makan dan mempersilahkan Bramantio untuk duduk.
"kamu ini"
Bramantio tersenyum.
Zahra beralih mengambil piring dan sendok.
ia pun membuka bekal yang di bawanya tadi.
"wihhh aromanya enak banget"
Bramantio mengayunkan tangannya untuk dapat menghirup aroma masakan Zahra.
"nih buat papa, cobain yah. Zahra mau ambil air minum dulu buat papa"
ia kembali beralih ke dapur dan mengambil segelas air minum.
"enak banget Ra"
ucap Bramantio sedikit teriak.
"serius pa"
Zahra menghampiri papanya dengan membawa minum
"iyah enak banget, ini ada di menu resto kamu ga? "
tanya Bramantio sambil kembali menyuapkan nasinya ke mulut.
"ada kok pah, Zahra ga masukin daftar menu makanan luar. Zahra cuma masukin daftar makanan lokal aja"
"Oh iya ayah mau Zahra buatin kopi atau susu atau teh? "
tanya Zahra
__ADS_1
"ga usah deh entar papa ga berangkat kerja kalau kekenyangan "
"gak apa-apa pah, boss ga masuk juga ga ada yang marah kok"
Zahra tertawa membuat Bramantio menggelengkan kepalanya.
"yaudah papa tunggu dulu yah Zahra buatin kopi. "
"iyah terimakasih sayang"
Bramantio tersenyum .
tak berapa lama Zahra kembali dengan membawa segelas kopi untuk papanya.
"ini pa "
Zahra turut duduk di depan Bramantio.
"pah, Ehmm Zahra boleh ngomong sesuatu ga? "
ucap Zahra
"mau ngomong apa? "
tanya Bramantio sembari menyeruput kopi buatan Zahra.
"papah serius mau menikah sama bu Sinta? "
Zahra memperhatikan ekspresi papanya.
"iyah "
"tap…tapi bagaimana dengan kak Eza? "
tanya Zahra ragu
"itu yang sedang papa pikirkan .sepertinya Eza tidak menyetujui "
ekspresi wajah Bramantio seperti sedang menahan kecewa.
"kenapa papah sama bu Sinta ga bicarakan masalah ini secara keluarga dulu sebelum di umumkan? "
Zahra merasa heran.
"awalnya papa sudah mengatakan hal itu berulang kali, papa ingin membicarakan perihal ini terlebih dahulu pada Eza. tapi bu Sinta selalu mengatakan Eza pasti setuju "
Bramantio merasa bersalah. Eza pasti menganggap dirinya tidak bertanggung jawab.
"Zahra juga heran pa, Zahra tidak tahu jika papah memiliki niatan untuk menikah. papa juga tak mengatakan hal itu pada Zahra"
Zahra menopang dagunya.
"maafkan papah. apa kamu juga tidak setuju jika papa menikah dengan bu Sinta? "
Bramantio tampak ragu menanyakan hal itu.
"pah. Zahra setuju apapun keputusan di hidup papah asal itu baik dan bisa buat papah bahagia. apalagi papa memilih menikah dengan bu Sinta yang notabenya menganggap Zahra adalah anaknya"
tutur Zahra
"tapi Zahra juga kecewa dengan keputusan papa dan bu Sinta yang memilih merahasiakan semua ini dari anak-anaknya. mungkin Zahra bisa memaklumi Tapi bagaimana dengan kak Eza pah. "
Zahra masih memikirkan hal itu. bahkan sampai pagi ini Eza tak membalas pesannya.
"maafkan papah nak, papah seceroboh ini sampai menganggap semuanya mudah"
Bramantio menghela nafasnya
"apa yang akan papah lakukan selanjutnya. apa papa akan membatalkan semua itu? "
tanya Zahra
"tidak nak. apapun keadaannya papa harus bisa menikah dengan bu Sinta. papah akan mencoba mengambil hati dan mendapatkan restu dari Eza. "
"papa ga ingin kehilangan wanita yang sangat berharga di hidup papa untuk yang kesekian kalinya"
Bramantio menerawang jauh mengingat kisahnya dengan ibunya Zahra.
Zahra paham apa yang di maksud oleh papahnya.
"papa harus bisa jadi lelaki yang bertanggung jawab. papa sudah mengatakan akan menikahi bu Sinta pantang bagi papa untuk mundur. papa akan buktikan ke Eza kalau papa bisa membahagiakan ibunya"
Zahra mengulas senyuman melihat semangat sang papa. ia yakin papanya sangat mencintai bu Sinta.
"Zahra bakal bantu papa"
ucap Zahra sambil tersenyum.
"Zahra juga ingin punya keluarga yang lengkap yah. Zahra ingin papah bahagia"
gumamnya dalam hati.
"terimakasih sayang. papah tahu kamu juga menyayangi bu Sinta maka dari itu papa tidak ragu dengan pilihan papa "
Bramantio memilih Sinta karena Zahra lah sebagai alasan utamanya.
ia melihat Zahra begitu dekat dengan Sinta bahkan Zahra tak sungkan untuk bermanja pada wanita itu.
……………
Setiap pilihan pasti terletak sebuah pengorbanan dan perjuangan 😌
__ADS_1
Jangan lupa like and votenya
terimakasih